
"Mami … !"
"Oma … !"
Semuanya pun telah terlambat, Steve yang di saat itu belum sempat untuk menolong ibunya malah melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa kecelakaan pun tak bisa terelakkan. Laras mengalami kecelakaan tabrak lari yang menyebabkan tubuhnya tercampak jauh, sedangkan pengendara mobil itu telah menghilang entah ke mana.
"Woy berhenti kau bang sat!" Steve meneriaki pengendara mobil yang menabrak ibunya, tetapi sama sekali tak ada gunanya.
Kini baik Steve maupun Riana, Adelia, Alana dan juga Bi Susi langsung saja menghampiri Laras yang di saat itu sudah tak sadarkan diri. Dari kepalanya mengeluarkan banyak darah akibat terantuk pembatas jalan.
'Mami … bangun Mami, aku mohon bangun," ucap Steve sembari mengguncang tubuh Laras.
"Mami … ! Mas, ayo kita bawa Mami ke rumah sakit sekarang juga," ucap Riana yang tak kalah cemasnya dengan Steve. Bahkan terlihat air mata Riana yang mengalir deras sama dengan suaminya itu.
Meskipun Adelia sangat tidak menyukai besannya tersebut, tetapi tak bisa dipungkiri jika ia juga merasa kasihan dan prihatin dengan apa yang terjadi dengan Laras saat ini.
Sehingga langsung saja mereka pun membawa Laras ke rumah sakit dengan meninggalkan Alana di rumah bersama Bi Susi untuk sementara waktu. Karena Alana merupakan anak yang baik dan pengertian, sehingga ia pun mengikuti perintah orang tuanya meskipun ia juga merasa sedih dan khawatir melihat keadaan omanya itu.
"Oma … aku mau lihat Oma Bi," ucap Alana ya terus saja menangis.
"Sayang, kita berdoa saja ya untuk Oma. Bukankah kau anak yang pintar? Apa kau tadi lupa dengan pesan Mama bahwa rumah sakit itu bukan tempat Anak-Anak, kalau nanti sudah memungkinkan kita ke sana ya," ucap Susi yang mencoba membujuk Alana.
"Iya Bi," jawab Alana, lalu keduanya pun masuk ke dalam rumah.
------
Sementara itu orang yang tadi telah menabrak Laras dengan sengaja tampak tersenyum puas karena rencananya itu berhasil. Lalu tiba-tiba saja ponselnya berdering, sehingga langsung saja ia mengurangi kecepatan mobilnya dan menjawab telepon tersebut.
__ADS_1
"Halo Tuan."
"Ya semuanya berjalan dengan sangat lancar. Saya pastikan wanita itu tidak mati, kemungkinan dia akan mengalami kelumpuhan seperti yang Tuan inginkan.
"Baik Tuan."
Lalu panggilan telepon pun berakhir dan kini pengendara mobil tersebut kembali melajukan mobilnya menuju ke suatu tempat.
*****
Setibanya di rumah sakit, Laras langsung saja ditangani oleh dokter dan saat ini sedang berada di ruang IGD.
"Mami, maafkan aku Mi. Seandainya saja tadi aku tidak bertengkar dengan Mami, pasti ini semua tidak akan terjadi. Seandainya terjadi sesuatu dengan Mami, aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri. Maafkan aku Mi," ucap Steve yang terus saja menangis, merasa sangat terpuruk dan juga bersalah atas apa yang terjadi dengan ibunya.
Riana juga merasakan hal yang sama dengan apa yang Steve rasakan, yaitu merasakan kesedihan yang amat mendalam dengan apa yang telah menimpa ibu mertuanya itu.
"Sepertinya aku melihat orang tadi sengaja memang mau menabrak Mami, siapa sebenarnya orang itu?" Ujar Steve.
"Kenapa kau bisa berpikiran seperti itu Mas?" Tanya Riana.
"Jika dia memang tidak sengaja menabrak Mami, kenapa dia sama sekali tidak ada upaya untuk memberhentikan mobilnya, padahal Mami sudah berteriak dan aku sangat yakin jika dia juga sudah melihat Mami. 1 lagi kenapa sewaktu dia sudah menabrak Mami, dia sama sekali tidak berhenti, dia malah melaju kencang dan melarikan diri," ujar Steve yang membuat Riana tampak berpikir jika apa yang dikatakan suaminya ada benarnya juga.
Meskipun tadinya mereka berpikir jika orang tersebut melarikan diri karena takut, tetapi tetap saja ada kejanggalan-kejanggalan yang terjadi saat kecelakaan itu.
Ting …
Adelia merogoh ponsel yang ada di dalam tasnya karena ada pesan WhatsApp masuk pada ponselnya tersebut, lalu segera saja ia membaca pesan yang dikirim oleh nomor tidak dikenal.
__ADS_1
"Apa kabar Adelia? Bagaimana, apakah kecelakaan yang terjadi pada besanmu itu sangat mengenaskan atau mengesankan? Kau hanya tinggal menunggu gilirannya saja."
Adelia membelalakkan matanya setelah membaca pesan tersebut. Ia juga merasa ketakutan dan tubuhnya merinding, tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Tubuhnya juga mendadak lemas dan hampir saja terjatuh. Untungnya Adelia masih bisa menyeimbangkan tubuhnya tersebut, lalu duduk di kursi depan ruang IGD tersebut.
Sehingga Riana yang melihat akan hal itu pun langsung saja menghampiri ibunya dan merasa sangat khawatir.
"Mami, ada apa Mami? Mami sakit?" Tanya Riana, begitu juga dengan Steve yang ikut menghampiri ibu mertuanya.
"Mami kenapa? Jika Mami kurang enak badan lebih baik Mami pulang saja ya dengan Riana. Biar aku yang tetap berada di sini," ucap Steve.
"Bukan, bukan masalah itu. Tapi coba kalian lihat ini," ucap Adelia yang memberikan ponselnya serta menunjukkan pesan tersebut kepada anak dan menantunya itu.
"Kurang ajar, ba ji ngan! Jadi benar dugaanku jika kecelakaan ini adalah disengaja dan sekarang dia malah mengancam Mami. Siapa sebenarnya orang ini," ucap Steve yang merasa sangat murka setelah membaca pesan tersebut.
Berbeda dengan Riana yang merasa ketakutan dan tubuhnya juga mendadak lemas seperti apa yang dirasakan Adelia. Tentunya ia merasa sangat khawatir karena ibunya juga diancam akan celaka sama seperti yang sudah dialami oleh ibu mertuanya saat ini.
"Mami, Riana, aku harap kalian tenang ya. Bisa saja ini hanya orang iseng yang ingin menakut-nakuti kita," ucap Steve di saat istri dan ibu mertuanya itu saling berpelukan.
"Orang iseng bagaimana sih Mas, sudah jelas dia sudah mencelakai Mami dengan sengaja dan sekarang kau mengatakan ini orang iseng? Bisa saja setelah ini benar-benar Mamiku yang dibuat celaka," ucap Riana siapa habis pikir dengan suaminya itu.
Sedangkan Adelia hanya terlihat diam saja karena masih merasa sangat syok.
"Aku minta maaf, aku hanya tidak ingin kalian merasa khawatir. Aku kanji jika aku tidak akan diam saja, aku pasti akan mencari tahu siapa yang sudah berani mengancam keluarga kita seperti ini," ucap Steve
Tanpa sengaja ia melihat seseorang yang begitu misterius dengan menggunakan topi dan wajahnya juga di tutupi masker sedang memperhatikan mereka, membuat Steve merasa curiga dan langsung saja mengejar orang tersebut. Akan tetapi sayangnya tiba-tiba saja orang itu menghilang, membuat Steve menjadi murka.
"Argh … sialan! Aku pastikan jika kau akan tertangkap dan aku tidak akan melepaskanmu. Aku yakin kau pasti ada sangkut pautnya dengan ini semua," umpat Steve dengan tatapan tajam, seperti harimau lapar yang ingin menerkam mangsanya.
__ADS_1
Bersambung …