Istri Tak Diakui

Istri Tak Diakui
Permainan Baru Dimulai.


__ADS_3

Derry dan Adelia sangat terkejut karena ternyata yang menegur mereka itu adalah Lily yang saat ini menatap keduanya dengan tatapan tidak suka. Sehingga membuat keduanya pun langsung saja menjauh.


"Mama, ini tidak seperti yang Mama pikirkan Ma," ucap Derry yang mendekati istrinya tersebut.


"Mbak Lily maaf. Aku tadi hanya terbawa suasana saja, sama sekali tidak ada maksud apapun," ucap Adelia yang merasa tidak enak dengan ibu angkat anaknya itu.


"Sudahlah, aku datang ke sini hanya ingin memastikan keadaanmu apakah kau baik-baik saja atau tidak. Karena Riana di dalam sangat mencemaskanmu," ucap Lily.


"Aku baik-baik saja Mbak, ya sudah kalau begitu aku masuk ke dalam dulu ya menghampiri Riana," ucap Adelia yang langsung saja beranjak dari tempat duduknya dan masuk ke dalam ruang IGD.


Sementara itu, terlihat Lily yang masih tampak memasang wajah cemberut serta enggan untuk menatap ke arah suaminya.


"Ma, ayo kita duduk dulu Ma," ajak Derry tetapi sama sekali tak digubris oleh Lily.


"Ma," ucap Derry yang kini merangkul tubuh istrinya itu serta mendudukkannya di kursi tepat di sampingnya.


"Ma, Papa minta maaf ya. Tadi itu tidak seperti yang Mama bayangkan kok," ucap Derry.


"Memangnya apa yang Mama bayangkan?" Lily bertanya balik.


"Ya Papa tahu pasti istri Papa ini tidak mungkin berpikiran macam-macam, tapi Papa hanya mau menjelaskan kalau tadi Papa sama sekali tidak ada maksud apa-apa. Papa hanya mencoba untuk menenangkannya dan untuk meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja, agar dia tidak merasa ketakutan. Tapi tiba-tiba saja Adelia menyandarkan kepalanya, ya Papa hanya menganggap jika Adelia itu 'kan adalah orang tua kandung Riana, itu artinya dia juga sudah seperti saudara kita. Jadi apa salahnya jika Papa hanya memberi kesempatannya sebentar saja agar dia merasa lebih tenang. Dan itu hanya untuk pertama dan terakhir kali Ma," terang Derry.


"Ya, ya, buktinya tadi Adelia sudah jauh lebih tenang dan langsung saja menghampiri Riana 'kan. Tidak seperti tadi yang hanya di luar saja. Mama jadi curiga atau mungkin dia memang sengaja berada di luar karena sudah tahu ada Papa, jadi betah deh sampai Papa menghampirinya sesuai dengan keinginannya," ujar Lily.


"Mama jangan berpikiran seperti itu lah, Mama cemburu ya," goda Derry.


"Siapa juga yang cemburu, jangan kegeeran deh Pa," tukas Lily, yang membuat Derry pun tersenyum gemas lalu memeluk istrinya tersebut.


*****


Drt … drt … drt …


Leo meraih ponselnya yang bergetar di dalam saku celananya dan ternyata ada panggilan masuk dari Riana. Karena Steve sama sekali tidak menjawab teleponnya bahkan mengabaikan pesannya tersebut, sehingga membuat Riana pun menghubungi Leo untuk menanyakan keberadaan suaminya itu.


"Halo Riana, ada apa?"


Chit …


Tiba-tiba saja Steve memberhentikan mobilnya secara mendadak karena mendengar Leo menyebut nama istrinya.

__ADS_1


"Apa kau ini sudah gila, kau sengaja mau mencari mati atau bagaimana!" Bentak Leo.


Steve sama sekali tak menggubrisnya. Ia langsung merebut ponsel Leo, sehingga membuat Leo pun merasa sangat kesal tetapi tak bisa berbuat apa-apa di saat Steve langsung berbicara dengan Riana.


"Halo Sayang," ucap Steve.


"Halo Mas, ini benar-benar kau Mas?" Tanya Riana dari seberang telepon.


"Iya Riana, aku Steve. Kau kenapa menghubungi Leo, apa kau mencariku?" Tanya Steve.


"Iyalah Mas, apa kau pikir sedari tadi aku tidak khawatir menunggu kabarmu. Aku telepon kau tidak menjawabnya, aku kirim pesan WA kau juga tidak membaca, apalagi membalasnya. Aku khawatir Mas, sekarang kau ada di mana?" Tanya Riana.


"Aku minta maaf Sayang, ponselku tertekan mode silent dan sama sekali tidak ada getarnya. Jadi aku tidak tahu jika kau menghubungi dan mengirimiku pesan, aku benar-benar minta maaf ya. Aku juga sama sekali tidak sempat untuk memegang ponsel hari ini," ucap Steve yang memang langsung melihat ponselnya tersebut.


"Alah, alasan," cibir Leo.


"Diam kau! Memangnya sedari tadi kau ada melihatku menggunakan ponsel? Aku sama sekali tidak memperdulikan ponselku karena sibuk mencari orang-orang itu 'kan, kau juga tahu itu," tukas Steve yang lagi-lagi berdebat dengan Leo, sehingga didengar oleh Riana.


"Mas sudah Mas, sudah kalian tidak usah bertengkar. Aku hanya ingin tahu kau ada di mana sekarang? Apa kau tidak bisa ke rumah sakit, apa kau sudah tidak peduli lagi dengan ibumu?" Tanya Riana.


"Astaga, aku sampai melupakannya. Bagaimana keadaan Mami sekarang?" Tanya Steve.


"Oke, aku akan ke sana sekarang. Tunggu aku ya," ucap Steve.


"Ya sudah Mas, kau hati-hati ya," pesan Riana.


"Iya Sayang," jawab Steve mengakhiri telepon tersebut.


"Sekarang aku mau ke RS, kau mau pulang atau ikut ke rumah sakit?" Tanya Steve.


"Tentu saja ke rumah sakit, keluargaku juga berada di sana," jawab Leo, lalu segera saja Steve melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit.


*****


"Tuan, saat ini 2 target sudah berada di dalam gudang. Yang satu sudah tampak babak belur dan yang satunya lagi belum diapa-apakan, baru di ikat saja. 1 target di luar sudah celaka dan 1 target lagi masih dalam proses. Kau ingin aku melakukan apa terhadap 2 tawanan di dalam gudang itu?" Tanya kepala preman yang merupakan anak buah dari seorang pria yang merupakan dalang di balik ini semua ancaman dan kekacauan yang terjadi pada keluarga Steve maupun Riana.


"Tentu saja kita harus memulai permainannya," jawab pria tersebut.


"Baiklah, apakah sekarang Tuan akan ikut ke gudang itu untuk melihatnya secara langsung?" Tanya preman.

__ADS_1


"Ya tentu saja. Aku ingin menyaksikannya secara langsung," jawab pria tersebut tersenyum smirk.


Lalu keduanya pun langsung saja menuju ke gudang tempat di mana Pras dan Bella di disandera.


------


Setibanya di gudang tua itu. Kepala preman itu pun langsung saja membuka pintu gudang dengan sangat kasar sehingga membuat Bella dan Pras tersentak. Bella merasa ketakutan, sedangkan Pras meskipun keadaannya saat ini sudah begitu memprihatinkan, tetapi ia berusaha tetap kuat di depan orang-orang tersebut. Ia berniat tidak akan menyerah sampai di titik darah penghabisan.


"Bagaimana keadaan kalian berdua? Apakah masih sangat menyenangkan?" Tanya kepala preman.


"Bang sat! Beraninya hanya main keroyokan seperti ini. Hadapi aku satu lawan satu kalau berani," umpat Pras yang menatap tajam.


"Pras, apa kau itu tidak bisa melihat situasi saat ini. Kau masih saja berani melawan mereka dalam keadaan kau yang sama sekali tak bisa berbuat apa-apa," ujar Bella.


"Kau diam saja, mereka ini hanya para sampah yang sama sekali tidak ada gunanya," hina Pras


"Kau bilang apa? Sepertinya kau sengaja ingin bermain-main denganku ya," tukas preman sembari mencengkram dagu Pras dengan erat.


Plok … plok … plok


Hingga tiba-tiba saja terlihat seseorang masuk ke dalam gudang tersebut dengan menggunakan topi dan masker. Sehingga Pras dan Bella tidak bisa melihat jelas siapa orang tersebut.


"Siapa kau? Apa kau yang meminta anak buahmu melakukan ini semua untuk menangkap dan menyiksaku di sini?" Tanya Pras yang terlihat sangat emosi.


Pria tersebut hanya menatapnya, tanpa menjawab apapun pria itu pun memberi gestur kepada anak buahnya untuk segera melakukan tugasnya. Lalu terlihat preman itu membawa gunting besar dan tajam, berjalan mendekati Pras yang di saat itu posisi tangannya dalam kondisi tergantung.


"Apa yang ingin kalian lakukan hah!" Teriak Pras


yang terus saja memberontak, apalagi di saat preman itu menyentuhkan gunting pada jarinya.


Sedangkan Bella terlihat sangat ngeri dan juga ketakutan. Ia sudah yakin bahwa preman-preman itu datang pasti untuk menyiksa Pras dan sebentar lagi pasti ia akan terkena gilirannya.


"Akh … !" Teriak Bella.


"Argh … sakit An jing. Sakit … !" Teriak Pras sembari menahan sakit yang luar biasa di saat preman itu tiba-tiba saja memotong jari jempolnya.


"Permainan baru dimulai, setelah ini kau akan merasakan sakit yang lebih luar biasa lagi seperti apa yang sudah kau lakukan terhadap orang yang aku cintai," ucap pria tersebut yang akhirnya angkat bicara.


Pras yang di saat itu terlihat kesakitan sama sekali tak memperdulikannya, sedangkan Bella merasa sangat syok, tubuhnya bergetar karena merasa ketakutan saat melihat darah yang terus mengalir dari jari Pras. Sampai ia tidak bisa mengeluarkan sepatah apapun yang keluar dari mulutnya, lalu tiba-tiba saja ia menutup matanya, takut jika preman itu akan melakukan hal yang lebih kejam dan menyakitkan kepadanya pula.

__ADS_1


bersambung …


__ADS_2