Istri Tak Diakui

Istri Tak Diakui
Mati Perlahan.


__ADS_3

Di saat itu tiba-tiba saja Pras terlihat lemah tak berdaya karena ia sudah kehilangan banyak darah.


"Bos bagaimana ini, apa kita harus membawanya ke rumah sakit?" Tanya preman.


"Tidak perlu, biarkan saja dia mati perlahan," ucap pria itu.


Sedangkan Bella yang merasa sangat kasihan melihat keadaan Pras saat ini benar-benar sangat tidak tega jika nantinya Pras akan mati, apalagi di hadapannya. Sehingga ia pun membuka matanya dan mencoba untuk berbicara dengan 2 pria kejam yang ada di hadapannya saat ini.


"Tuan aku mohon Tuan, tolong selamatkan Pras. Tolong bawa Pras ke rumah sakit. Aku mohon Tuan, tolong kasihani Pras," ucap Bella yang yang terus saja memohon.


"Ck, sepertinya kau sangat kasihan dan peduli terhadap suamimu ini. Bukankah suamimu ini sama sekali tidak pernah menganggapmu sebagai istri? Bukankah pernikahan kalian hanyalah pernikahan rahasia karena bisnis dan bukankah kalian berdua sekongkol untuk menyakiti Anakku? Sekarang dengan semudah itu kau memohon untuk melepaskan suamimu ini, hah!" Bentak pria tersebut yang membuat Bella sangat terkejut.


Bukan hanya karena bentakannya, Bella terkejut juga karena pria itu bisa mengetahui semua rahasia mereka dan tentang kalimat terakhirnya yang membuat Bella benar-benar tak mengerti. Sedangkan Pras sudah tidak bisa lagi menyimak apapun ucapan pria tersebut, karena memang ia sudah sangat tidak berdaya hingga pada akhirnya pingsan begitu saja.


"Pras … !" Teriak Bella yang melihat akan hal itu.


"Bos, apa kau yakin akan mengakhiri penderitaan pria ini?" Tanya preman.


"Tentu saja tidak. Bawa dia ke rumah sakit," titah pria itu.


Lalu kepala preman memanggil anak buahnya untuk melepaskan rantai yang mengikat kaki dan tangan Pras, lalu membawanya ke rumah sakit. Sedangkan Bella tetap berada di dalam gudang tersebut karena ia memang belum dikenakan hukuman berat apapun selain hanya diikat saja.


Bella tampak menangis sejadi-jadinya, ia terlihat sangat syok dan ketakutan dengan apa yang terjadi pada Pras di depan matanya langsung.


"Siapa pria itu, kenapa dia menyebut anaknya? Bukankah selama ini aku hanya jahat terhadap Riana, apakah dia orang tua Riana?" Batin Bella yang benar-benar tidak mengerti akan hal ini dan hanya bisa menebak-nebak sendiri.


*****


Sudah seminggu lamanya Laras berada di rumah sakit. Dengan kondisinya saat ini sama sekali tak merubah sifatnya menjadi lebih baik, ia tetap saja kekeh tidak mau bersama dengan Riana maupun yang lain yang menurutnya adalah musuh. Sehingga kakak Steve yang berada di luar negeri pun pulang ke Indonesia untuk menjaga ibunya yang keras kepala itu. Karena Steve sendiri tidak bisa menjaga sang ibu selama 24 jam, ia harus bekerja keras dan masih tetap berusaha untuk memperbaiki perusahaannya yang hampir saja bangkrut. Apalagi saat ini Pras juga sudah lama tidak muncul, sehingga ia pun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk memperbaiki perusahaannya sendiri tanpa gangguan dari musuhnya itu.

__ADS_1


"Di mana Adikmu, Sonia? Kenapa dia belum juga muncul sampai sekarang, ini sudah jam 18.00 WIB," tukas Laras kepada anak perempuannya.


"Steve masih di perusahaan Mi. Mami 'kan tahu sendiri bagaimana kondisi perusahaannya sekarang, tidak mungkin dong Steve ada di sini terus," ujar Sonia.


"Kau jangan membohongi Mami, Sonia. Mami yakin Steve pasti sudah tidak di perusahaan lagi, dia sudah pulang tapi saat ini dia menemui istrinya itu 'kan? Padahal sudah Mami katakan, Mami ingin mereka segera berpisah, tetapi Steve masih mempertahankan istri yang selalu membawa sial di kelurga kita. Mami juga bisa celaka seperti ini karena wanita itu. Seandainya saja Steve mengikuti kata Mama untuk menikah dengan sahabatmu, Bella, pasti saat ini keluarga kita akan baik-baik saja, Mami tidak akan seperti ini," ucap Laras.


"Loh kenapa Mami jadi menyalahkan Riana Mi. Mami kecelakaan bukan karena Riana, ini sudah takdir. Cobalah Mi untuk menerima kenyataan. Kenapa sih Mami selalu saja meminta mereka untuk berpisah, memang apa salahnya Riana? Riana itu baik, dia juga selalu menemani Mami di sini meskipun Mami tidak pernah menerima keberadaannya. Siapa yang Mami harapkan? Bella? Ke mana Bella sekarang? Dia menghilang begitu saja, bahkan sama sekali tidak muncul di saat Mami celaka seperti ini. Dan satu lagi Mi Bella itu bukan sahabat aku, hanya teman biasa yang mengaku-ngaku sebagai sahabat aku," tukas Sonia.


"Alah itu hanya akal-akalan Riana saja untuk mencari perhatian Steve, Mami tahu bagaimana sifat aslinya. Kau itu tidak mengenal Riana," tuding Laras.


"Aku mengenalnya Mi. Riana itu wanita yang yang sangat baik, wajar jika dia bisa membuat Steve jatuh cinta padanya. Riana itu sangat sabar, aku sendiri saja jika mempunyai mertua seperti Mami, aku pasti sudah kabur meninggalkan suamiku. Tapi Mami beruntung mempunyai menantu seperti Riana, Mami seharusnya bersyukur. Mami tidak boleh memisahkan mereka," kata Sonia, berharap ibunya itu akan sadar.


"Sudahlah, jika kau ada di sini hanya untuk membela wanita itu lebih baik sekarang kau pergi saja, jangan temani Mama," tukas Laras lalu membuang muka, enggan melihat anaknya.


"Sudahlah Mi, tidak usah egois. Mami sekarang dalam kondisi seperti ini, Mami tidak bisa sendirian. Siapa lagi yang mau menemani Mami kalau bukan aku. Aku bahkan meninggalkan suamiku di sana itu semua demi Mami, Anakku juga saat ini ada di rumah bersama Mbak. Aku tidak bisa lama-lama berada di Indonesia karena Baby harus sekolah Mi. Aku bela-belain datang ke sini karena aku sayang sama Mami, aku mau menemani Mami, aku ingin memberi Mami Semangat. Tetapi kalau sifat Mami terus seperti ini lebih baik aku tidak pulang," ucap Sonia, sehingga membuat Laras pun langsung menatapnya kembali.


"Sudahlah Mi, aku tidak ingin berdebat lagi. Lebih baik sekarang Mami minum obat dan istirahat," ucap Sonia.


Akan tetapi di saat hendak memberikan obat, ternyata di saat itu obatnya telah habis.


"Ya ampun ini Susternya bagaimana sih, bisa-bisanya sampai lupa memberikan obat, padahal ini sudah malam," gumam Sonia. "Mi, aku keluar sebentar ya, mau minta obat Mami dulu. Pasti Susternya lupa," ucapnya tetapi sama sekali tak ditanggapi oleh ibunya itu.


Sehingga Sonia pun langsung saja keluar, mencari dokter atau suster untuk meminta obat ibunya.


------


2 menit setelah kepergian Laras, di saat itu terlihat seseorang yang sangat misterius menggunakan topi dan masker, masuk ke dalam ruang rawat inap Laras yang membuat wanita paruh baya itu pun merasa ketakutan.


"Siapa kau, kenapa kau masuk ke dalam ruanganku?" Tanya Laras menahan rasa takutnya itu.

__ADS_1


Orang itu tak mengatakan apapun, tetapi ia mengambil bantal dan memegangnya tepat di atas wajah Laras, bersiap untuk menyakiti wanita tersebut.


"Kau mau apa? Jangan, ku mohon jangan lakukan itu padaku, to-"


Ucapan Laras terhenti karena orang itu langsung menutup wajahnya dengan bantal, sehingga membuatnya terus pemberontak mencoba untuk melepaskannya karena ia kesulitan bernafas, hingga akhirnya pun pingsan.


Di saat itu pun terdengar langkah seseorang yang membuat orang tersebut langsung saja berlari dan bersembunyi dibalik pintu. Ternyata yang masuk ke dalam ruangan tersebut adalah Riana yang baru saja tiba dan ingin menjenguk ibu mertuanya itu. Saat Riana lengah dan tak memperhatikannya, pria misterius itu pun diam-diam keluar dari ruangan tersebut.


Riana yang melihat ibunya terpejam menganggap jika Laras hanya sedang tidur. Tetapi ia juga cukup kebingungan melihat tempat tidur Laras yang sedikit berantakan dan tidak ada satupun orang di dalam ruangan tersebut.


"Mami, kenapa bantalnya berserakan di lantai seperti ini," gumam Riana sembari mengambil bantal yang biasa dipeluk oleh Laras.


Lalu Riana pun duduk di samping Laras dan menemaninya, hingga di saat itu pun Sonia telah kembali dengan membawa obat.


"Riana, kau ada di sini?" Tanya Sonia.


"Iya Kak aku baru saja tiba dan melihat Mami sedang tidur," ucap Riana tanpa merasa ada sesuatu yang mencurigakan.


"Tapi tadi waktu aku pergi Mami tidak tidur, mata Mami masih segar karena baru bangun," ujar Sonia.


"Oh ya? Tapi tadi waktu aku baru masuk Mami sudah dalam keadaan seperti ini Kak. Aku juga melihat bantal yang terjatuh di bawah dan tempat tidur Mami yang sedikit berantakan seperti sudah tertidur lama," ucap Riana yang membuat Sonia tampak curiga.


"Jam berapa kau masuk ke dalam ruangan ini?" Tanya Sonia.


"Jam 18.30 WIB Kak," jawab Riana.


"Itu artinya kau masuk selang 7 menit Kakak keluar dari ruangan ini, tidak mungkin Mami bisa tidur secepat itu. Apalagi dalam kondisi bantalnya yang terjatuh dan tempat tidurnya yang berantakan. Pasti ada yang seseorang yang masuk ke dalam sini sebelum kau Riana," ujar Sonia yang membuat Riana pun tersentak dan juga berpikir apa yang dikatakan oleh kakak iparnya itu ada sebenarnya.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2