Istri Tak Diakui

Istri Tak Diakui
Acuh Tak Acuh


__ADS_3

Riana benar-benar tak percaya, Steve yang selama ini tidak pernah bersikap kasar dan menyakitinya secara fisik, tetapi kali ini suaminya itu dengan sangat brutal telah mendorongnya dan tak bisa dipungkiri jika ia merasakan sakit karena kepalanya yang terbentur ke dinding. Tetapi Riana menahannya sekuat tenaga dan malah membalas tatapan Steve dengan tak kalah tajamnya.


"Apa sekarang ini kau benar-benar sudah tidak menganggapku sebagai suami? Berani sekali kau mengabaikanku dan tak menganggapku ada. Dari tadi kau hanya diam saja di saat aku mengajakmu untuk berbicara, maumu apa Riana?" Tanya Steve dengan suara yang begitu lantang sehingga mengisi seluruh ruangan.


"Apa kau tidak salah bertanya apa mauku? Seharusnya aku yang bertanya apa maumu Mas? Bukankah kau sangat tidak suka aku berbicara, setiap ucapan yang keluar dari mulutku dan apa yang aku lakukan semuanya salah. Dan bukankah kau yang selama ini menganggapku tidak ada, jadi kenapa kau malah marah di saat aku tidak meladenimu? Anggap saja aku ini hanyalah hantu yang bisa kau lihat tetapi sama sekali tidak bisa untuk diajak bicara. Aku tidak menyangka Mas, sekarang kau bukan hanya menyakiti batinku saja tapi kau juga sudah bersikap kasar padaku, kenapa Mas? Kenapa? Apa karena aku ini istri yang tidak kau inginkan, jadi kau bisa bersikap sesuka hatimu padaku. Kalau kau memang sama sekali tidak bisa membuka hatimu untukku, kenapa kau tidak menceraikanku Mas?" Teriak Riana dengan tubuhnya yang bergetar.


Lalu Steve pun melepaskan Riana dan menjauhinya. Sedangkan Riana terlihat menangis, tak kuat lagi membendung air matanya untuk tidak jatuh.


"Aku minta maaf Riana, aku juga tidak tahu kenapa aku malah bersikap kasar seperti ini padamu," ucap Steve tanpa berani memandang wajah istrinya itu.


"Sudah lah Mas, kau tidak perlu minta maaf. Lupakan saja, aku juga sudah terbiasa merasakan sakit hati karena ulahmu," tukas Riana yang langsung saja masuk ke dalam kamar mandi.


Riana menangis sejadi-jadinya di bawah guyuran air shower, meskipun air tersebut terdengar deras tetapi tetap saja Steve bisa mendengar jika di saat ini Riana sedang menangis untuk melampiaskan rasa sakit hati dan amarahnya. Steve benar-benar merasa sangat bersalah atas apa yang telah ia lakukan terhadap Riana tadi, sehingga ia pun memutuskan untuk berbicara dengan istrinya secara baik-baik nantinya.


"Aku benar-benar sudah keterlaluan, aku tidak hanya menyakiti batinnya saja tapi aku juga sudah menyakiti fisiknya. Kenapa denganku? Kenapa akhir-akhir ini aku menjadi beringas seperti ini?" Tanya Steve yang mulai tidak mengerti dengan dirinya sendiri.


------


Karena Steve membiarkan Riana untuk menenangkan dirinya terlebih dulu sebelum nantinya ia akan mengajaknya untuk berbicara, Steve pun memutuskan untuk ke kamar Alana. Melihat keadaan Alana, mengingat tadi ia juga sudah membentak anaknya itu.


"Sayang, kamu sedang apa?" Tanya Steve yang menghampiri Alana di meja belajar dalam kamarnya itu.

__ADS_1


"Aku lagi belajar nih Pa, ada PR," jawab Alana.


"Anak Papa, sudah pintar, rajin lagi. Papa bangga sama kamu," ucap Steve seraya mengusap lembut rambut sang anak, lalu menciumnya.


"Iya dong Pa, aku harus rajin dan menjadi anak pintar seperti pesan Mama. Aku harus menjadi kebanggaan Mama dan Papa," ucap Alana begitu antusias.


"Oh ya, memang itu pesannya Mama Devina atau Mama Riana?" Tanya Steve.


"Dua-duanya Pa. Waktu itu Mama Devina pernah berpesan seperti itu dan Mama Riana juga mengatakan hal yang sama. Maka itu Pa aku juga sangat menyayangi Mama Riana karena Mama Riana Sama persis dengan Mama Devina, aku seneng Pa karena saat ini ada Mama Riana yang selalu menemani aku. Tapi aku nggak akan pernah melupakan Mama Devina kok, Mama selalu ada di hati aku. Papa janji ya Papa jangan marah-marah terus sama Mama Riana, kasian Mama Pa. Apalagi itu gara-gara aku, aku juga ikut sedih Pa," ucap Alana yang sangat pintar berbicara, tidak seperti pembicaraan anak kecil pada umumnya. Membuat Steve pun merasa sangat tertampar dengan ucapan anaknya tersebut.


"Iya Sayang, Papa minta maaf ya. Papa juga minta maaf karena sudah marah-marah sama kamu. Akhir-akhir ini Papa pusing karena terlalu banyak masalah pekerjaan di kantor, sampai kamu jadi pelampiasannya," ucap Steve.


"Iya Pa, aku juga minta maaf ya Pa kalau aku selalu bikin Papa marah," ucap Alana pula.


"Oh iya Pa, Mama mana? Apa Mama udah menyiapkan makan malam kita?" Tanya Alana seraya melepaskan pelukannya.


"Sepertinya belum, kamu sudah lapar ya?" Tanya Steve.


"Iya Pa, kata Mama tadi siang Mama membeli makanan kesukaan kita, tapi karena pulang ke rumah aku dan Mama ketiduran jadi makanannya belum dimakan deh. Terus kata Mama makanannya mau dipanaskan untuk kita makan malam aja," terang Alana.


"Oh … tadi sih Mama masih mandi. Bagaimana kalau Papa suruh Bibi aja yang memanaskan, jadi nanti kalau Mama sudah selesai mandi dan kamu juga sudah selesai mengerjakan PR, kita tinggal makan aja," usul Steve.

__ADS_1


"Ide Bagus Pa. Ya udah kalau gitu aku mau lanjut buat PR dulu ya Pa, sedikit lagi selesai kok," kata Alana.


"Ya sudah, nanti Papa akan ke sini lagi menemani kamu setelah memberitahu Bibi," kata Steve.


"Iya Pa," jawab Alana.


*****


3 hari telah berlalu, Steve yang sudah berusaha untuk berbicara dengan Riana secara baik-baik pada kenyataannya Riana selalu menghindar. Ia masih membutuhkan waktu untuk sendiri dan tidak ingin diganggu oleh Steve terlebih dahulu. Steve tak menolak permintaan Riana, hingga di saat ini mereka benar-benar terlihat bagaikan 2 orang asing yang tinggal bersama di 1 atap, tidak ada pembicaraan sama sekali seperti orang yang tidak saling mengenal.


Akan tetapi berbeda halnya di saat Steve yang bersikap dingin kepada Riana. Riana masih tetap bersikap seperti selayaknya seorang istri dengan menyiapkan pakaian Steve, menyiapkan makanan untuk suaminya itu, melakukan kewajibannya sebagai istri meskipun Steve selalu saja menolaknya dan bahkan sama sekali tak menghargai apapun yang ia lakukan. Tetapi kali ini berbeda, Riana tampak acuh tak acuh, ia membiarkan Steve untuk melakukannya semua sendiri seperti permintaan Steve sebelumnya. Jika Steve lapar dan ingin makan di rumah, maka ART-nya lah yang selalu menyiapkan untuk tuannya. Riana terlihat sangat cuek, bahkan kali ini, sudah tiga malam Riana memilih untuk tidur di kamar Alana. Rasanya sangat malas untuk bertemu dengan Steve.


-----


Hingga di hari ke-4 tepatnya di pagi hari, Steve yang hendak pergi bekerja menghampiri Riana yang sedang membuatkan sarapan untuk Alana.


"Sarapanku mana?" Tanya Steve yang menatap ke arah Riana.


"Itu ada roti dan itu juga ada selainya, kau bisa mengambilnya sendiri 'kan," tukas Riana ketus tanpa melihat ke arah suaminya sedikitpun, sehingga membuat Steve merasa sangat terkejut.


Memang sudah dua hari Steve langsung pergi bekerja begitu saja tanpa memperdulikan Riana yang di saat itu tidak menggubrisnya, tapi entah kenapa kali ini ia sangat ingin menikmati sarapan bersama dengan anak dan istrinya tetapi malah ditanggapi seperti itu, membuat Steve benar-benar merasa sangat kecewa.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2