
Semua tampak mencari keberadaan Alana ke sana kemari menanyakan kepada orang-orang yang berada di sekitaran Mall. Tetapi dari mereka tidak ada yang melihat keberadaan Alana, membuat Steve dan Riana benar-benar begitu panik. Berbeda halnya dengan Laras dan Bella, Meskipun mereka ikut mencari, tetapi keduanya terlihat biasa saja atau mungkin hanya sekedar berpura-pura di depan Steve.
Hingga pada akhirnya mereka yang tadi berpencar mencari Alana, kini telah kembali berkumpul di titik awal dimana pertama kali mereka bersama.
"Bagaimana, apakah di antara kalian ada yang menemukan Alana?" Tanya Steve dan tidak ada satupun diantara mereka yang menjawab iya.
"Syit! Alana, dimana kamu Sayang, kenapa tiba-tiba kamu menghilang?" Gumam Steve yang sangat mengkhawatirkan anaknya.
"Mas, lebih baik sekarang kita ke ruang informasi saja, mungkin mereka bisa membantu kita untuk mencari keberadaan Alana. Mungkin juga 'kan Alana saat ini sudah ditemukan orang lain dan masih kebingungan mencari kita," usul Riana.
"Bagaimana bisa Alana ditemukan orang lain? Walaupun Alana keluar dari tempat bermain itu pasti karena dia mencarimu. Ini semua gara-gara kau saja yang lalai menjaganya sampai dia pergi entah kemana. Atau jangan-jangan Alana diculik," ujar Steve yang semakin ngeri membayangkannya.
"Benar apa yang kau katakan Steve, pasti karena wanita ini tidak becus menjaga Alana sehingga dia tidak melihat saat ada penculik datang dan membawa Alana pergi," tukas Laras yang memanasi anaknya itu.
"Aku benar-benar minta maaf Steve, Tante, aku tidak tahu Alana tadi ada dimana karena perutku sangat sakit sehingga tidak fokus terhadap Alana. Aku hanya melihat Riana pergi tetapi tidak tahu bahwa Riana akan pergi selama itu dan menjadikan sakit perutku ini sebagai alasan untuk membelikan sesuatu, padahal aku sama sekali tidak memintanya," ucap Bella yang ikut memanas-manasi layaknya kompor meleduk.
"Sudahlah Bella, ini bukan kesalahanmu. Ini sudah jelas kesalahan wanita ini," hardik Laras.
Steve tak menanggapinya, begitu juga dengan Riana hanya terlihat diam saja karena membantah pun sama sekali tak ada gunanya. Apalagi Steve terlihat sangat marah padanya saat ini.
"Mas aku minta maaf, ini memang salahku tapi lebih baik sekarang kita ke ruang informasi saja Mas, mudah-mudahan kita bisa segera menemukan Alana," ucap Riana hingga pada akhirnya Steve pun menyetujui dan kini mereka berempat segera menuju ke ruangan yang dimaksud oleh Riana.
Sementara itu Alana yang baru saja kembali entah dari mana terlihat sedang menangis dan kebingungan mencari keberadaan orang tuanya di sekitar tempat bermain, bahkan tempat dimana tadi Oma dan ayahnya berada tetapi tidak juga menemukan keberadaan mereka.
"Mama … Papa … kalian dimana? Alana sendirian," ucap Alana yang kini pun menunduk seraya menangis di dalam keputusasaannya.
"Anak manis, kau kenapa? Kenapa kau bisa ada di sini?" Tanya seorang pria muda yang di saat itu menghampirinya.
"Om, aku kehilangan Mama dan Papa. Tadi aku sedang bermain di sini Om bersama Mama, tapi setelah aku pergi sebentar Mama sudah tidak ada. Papa, Oma dan Tante juga tidak ada di sini, aku kehilangan mereka Om. Bagaimana ini?" Ucap Alana.
"Anak pintar, kau tidak boleh menangis seperti itu. Bagaimana kalau sekarang kita cari orang tuamu, Om yakin mereka tidak mungkin pulang meninggalkanmu, pasti mereka masih ada di sekitar sini mencarimu juga. Atau supaya lebih cepat bagaimana jika kita pergi ke ruang informasi, mungkin saja orang tuamu saat ini berada di sana untuk mencari keberadaanmu," kata pria muda itu.
__ADS_1
Saat ia baru saja mengatakan hal tersebut, tiba-tiba terdengar suara pengumuman sehingga membuat pria itu dan Alana pun tampak serius mendengarkannya.
"Mohon perhatiannya, dicari seorang anak kecil dengan ciri-ciri, berjenis kelamin perempuan, memiliki rambut panjang sepundak, berkulit putih, hidung mancung, bermata bulat, beralis tebal, memiliki tinggi badan kurang lebih 110 cm dan bernama Alana. Jika ada yang menemukan anak tersebut silahkan mengntar ke ruangan informasi. Ditunggu 15 menit dari sekarang karena orang tuanya berada di ruang informasi ini. Terimakasih."
"Om, itu namaku Om," ucap Alana setelah mendengar pengumuman tersebut.
Benar saja setelah pria muda tersebut melihat ciri-ciri yang dimaksud, ternyata memang itu adalah Alana. Sehingga ia pun langsung saja mengantar anak kecil tersebut ke ruang informasi tempat dimana pengumuman tadi berasal.
"Mama … Papa … !" Teriak Alana saat pintu ruangan informasi terbuka.
Betapa senangnya Steve dan Riana karena pada akhirnya bisa menemukan Alana dalam keadaan baik-baik saja dan saat ini berada di pelukan mereka.
"Sial! Kenapa anak ini bisa ditemukan sih," batin Bella yang terlihat begitu kesal.
Pria yang mengantar Alana ke ruang informasi cukup terkejut melihat seseorang yang ia kenal berada di ruangan tersebut. Tetapi ia berusaha untuk bersikap tenang karena yang ia lihat orang itu seperti tidak mengenalinya.
"Sayang, kau dari mana saja, kenapa kau bisa tidak ada di tempat bermain?" Tanya Steve.
"Maafkan aku Pa, Ma, sudah membuat kalian khawatir. Tadi aku melihat seekor kucing, aku kasihan sama kucingnya, tapi aku kejar kucingnya semakin jauh sampai aku tidak menemukannya lagi. Dan saat aku kembali lagi ke tempat bermain aku tidak menemukan Mama, untung ada Om baik ini yang menolongku," kata Alana seraya menunjuk pria muda yang tadi telah menolongnya, sehingga Steve dan Riana pun menatap ke arahnya lalu berjalan mendekati pria tersebut.
"Aku Steve dan ini istriku Riana, terimakasih kau telah menolong Anakku," ucap Steve sembari menjulurkan tangannya.
"Aku Pras. Iya sama-sama Tuan, kebetulan saja tadi aku lewat dan menemukan Anak kalian. Kebetulan juga kami mendengar pengumumannya, maka itu aku langsung mengantarnya ke sini," ucap Pras yang menyambut juluran tangan Steve.
"Terimakasih banyak Tuan Pras," ucap Riana mengulas senyum tipis.
"Iya sama-sama Nyonya Riana," jawab Pras membalas senyuman tersebut dan juga menatap Riana sejenak, membuat Steve merasa tidak nyaman.
"Om, terimakasih banyak ya sudah menolong Alana. Mudah-mudahan Om baik selalu diberikan kesehatan," ucap Alana.
"Amin, terimakasih banyak Anak manis," ucap Pras, lalu berpamitan dan pergi meninggalkan keluarga Steve.
__ADS_1
"Alana, untung saja kau ditemukan. Apa kau tahu Oma dan ayahmu itu sudah seperti orang gila mencarimu," ucap Laras.
"Maafkan aku ya Oma," ucap Alana dengan tatapan sendu.
"Kau tidak salah Sayang, tapi Mama Riana yang tidak becus menjagamu. Jika dia tidak meninggalkanmu, pasti kau tidak akan keluar dari tempat bermain itu karena ada yang terus mengawasimu," tukas Laras yang lagi-lagi menyalahkan menantunya.
"Oma, ini bukan salah Mama kok. Tadi Mama menghampiri Tante Bella, aku yang pergi tiba-tiba pergi tanpa memberitahu Mama maupun Tante Bella. Jadi yang salah itu aku," tutur Alana.
"Sudahlah Alana, kau itu tidak perlu membela Mama Riana terus. Dari dulu Mama Riana ini memang tidak pernah benar melakukan apapun, buktinya baru dititipkan untuk menjagamu sebentar saja dia sudah lalai seperti itu," hardik Laras.
"Tapi Oma, Mama Riana yang selama ini sudah menjagaku, Mama Riana yang sudah mengurus Alana dengan baik. Jadi ini bukan kesalahan Mama Riana," bantah Alana yang sangat tidak ingin melihat ibunya disalahkan terus menerus.
"Sudahlah Mi, kenapa sih Mami terus menyalahkan Riana? Sudah Mi, yang penting sekarang Alana sudah ketemu dan dia baik-baik saja. Ayo sekarang kita pulang, ini juga sudah malam," kata Steve.
"Mami dan Bella boleh ikut mobil kamu 'kan?" Tanya Laras.
"Mami dan Bella tadi bisa ke sini sendiri 'kan, jadi sekarang kalian juga harus pulang sendiri karena aku harus langsung pulang dengan Anak dan istriku," kata Steve.
"Kau kenapa tega sekali terhadap Mami dan Bella Steve. Oke Mami bisa pulang bersama supir, tapi supir Mami sekarang belum datang dan Mami harus menelponnya dulu. Terus Bella, Bella harus pulang naik taksi malam-malam seperti ini, memangnya kamu tidak bisa mengantar Bella dulu?" Kata Laras.
"Tidak bisa Mi aku buru-buru, lebih baik Mami saja yang mengantar Bella. Kami pulang duluan ya Mi," ucap Steve yang langsung saja mengajak anak dan istrinya itu pergi meninggalkan Laras dan Bella.
"Ih … Tante lihat tuh bagaimana kelakuan Anak Tante, ini benar-benar keterlaluan! Tante bilang mau mendekatkan aku dengan Steve, tapi kenapa malah jadi seperti ini sih," ucap Bella tak terima, ia sangat kesal diperlakukan tidak baik oleh Steve.
"Bella kau bisa sabar sedikit tidak, saat ini Steve itu masih memiliki istri, jadi harus secara perlahan. Tapi kenapa kau malah marah-marah seperti itu terhadap Tante," ucap Laras yang juga kesal terhadap Bella, membuat wanita itu pun merasa takut. Jika tidak melalui Laras, bagaimana ia bisa mendekati Steve.
"Ya sudah Tante, aku minta maaf ya, tadi aku sedikit emosi Tante. Tenang saja Tante, kalau masalah sabar aku bisa sabar kok. Buktinya selama ini aku sudah bersabar 'kan menunggu Steve," ucap Bella.
"Begitu 'kan enak. Kau memang benar-benar calon menantu idaman Tante," ucap Laras yang membuat Bella tersenyum senang.
*****
"Riana … tak disangka akhirnya kita bertemu lagi. Meskipun kau melupakanku, tapi aku tidak akan pernah melupakan hari itu Riana. Dulu aku sudah mengikhlaskanmu bersama Roy sampai pada akhirnya Roy pun menyia-nyiakanmu, Tapi kali ini aku tidak perduli meskipun kau sudah memiliki suami dan anak, aku pasti akan merebutmu darinya. Apalagi pria itu adalah pria angkuh yang sama sekali tidak pantas untukmu," batin Pras saat sedang di dalam perjalanan pulang.
__ADS_1
Bersambung …