
Mendapat perlakuan yang tidak mengenakkan dari sang istri, membuat Steve rasanya ingin marah, ingin melampiaskan rasa kekesalannya terhadap Riana di saat itu juga. Bagaimana tidak? Padahal ia sudah mencoba untuk bersikap baik, tetapi Riana masih juga belum bisa memaafkannya. Akan tetapi tiba-tiba Steve teringat jika Alana memintanya agar tidak memarahi Riana lagi, sehingga ia mengurungkan niatnya dan berusaha mencoba untuk menahan emosinya itu.
Lalu Steve mengambil selembar roti dan mengoleskan selai nanas pada roti tersebut seperti yang yang dikatakan oleh Riana tadi. Riana melihat suaminya sejenak, sesungguhnya ia merasa tidak tega mengacuhkan Steve seperti itu. Akan tetapi ia hanya ingin melihat apakah dengan ia bersikap acuh Steve akan merindukan sosoknya atau malah sebaliknya, Steve akan merasa sangat senang karena sudah tak ada lagi pengganggu dalam hidupnya.
Setelah itupun Steve duduk di kursi seberang Riana dan Alana, tanpa mengucap sepatah kata pun Steve terlihat asik mengunyah rotinya sambil sesekali menatap ke arah anak dan istrinya tersebut. Meskipun Riana tampak cuek, tetapi sesekali ia juga tampak mencuri-curi pandang menatap ke arah Steve, tanpa diketahui oleh suaminya itu.
"Mama, aku sudah siap. Yuk Ma sekarang kita pergi. Papa, aku pergi sekolah dulu ya," ucap Alana yang berpamitan dengan sang ayah.
"Sayang, kamu hari ini perginya sama Papa ya. Kebetulan Papa tidak buru-buru, jadi Papa bisa antar kamu ke sekolah dulu. Kamu senang 'kan kalau Papa antar ke sekolah," ucap Steve yang membuat wajah Alana terlihat begitu ceria.
"Hore … Iya Pa aku senang kalau Papa antar aku ke sekolah. Tapi Mama boleh ikut 'kan Pa," kata Alana yang bersorak gembira lalu menoleh ke arah sang ibu.
"Sayang, kalau Papa bisa antar kamu perginya berdua sama Papa aja ya. Mama nggak bisa ikut, nanti kalau sehabis antar Alana Papa langsung ke kantor, Mama pulangnya sama siapa dong. Jadi Alana perginya sama Papa aja ya," kata Riana yang langsung saja menolak.
"Oh iya juga ya Ma. Padahal aku ingin banget diantar sama Mama dan Papa ke sekolah," ucap Alana yang tampak kecewa.
"Riana, lebih baik kau ikuti saja apa kata Alana. Nanti setelah mengantar Alana, kau akan aku antar pulang. Hari ini aku memang sedang tidak ada pekerjaan, hanya nanti siang saja aku ada meeting dengan klien di luar. Lagipula kau juga sudah siap 'kan untuk mengantar Alana, jadi apa salahnya jika kali ini kita berdua yang sama-sama mengantar Alana," ujar Steve.
"Nah itu Papa bisa antar Mama pulang, ayo Ma antar aku ke sekolah sama Papa, aku mohon, please!" Pinta Alana penuh harap.
Hingga pada akhirnya Riana pun menyetujuinya, bukan karena bujukan dari Steve tetapi semuanya hanya semata-mata demi Alana. Jika harus pulang menggunakan taksi pun sama sekali tidak masalah buat Riana, tentu saja alasan sebenarnya ia tidak ingin satu mobil dengan Steve saat mengantar Alana pergi ke sekolah. Akan tetapi lagi-lagi ini semua demi Alana, sehingga ia pun mencoba untuk membuang rasa egonya saat ini.
Lalu mereka pun segera keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobil, setelah itu Steve melajukan mobilnya menuju ke sekolah Alana. Sama seperti biasa, masih tidak ada percakapan antara Riana dan Steve di dalam mobil, hanya terdengar suara Alana yang sesekali mengajak kedua orang tuanya itu berbicara. Terkadang ia juga menyanyi untuk menghilangkan rasa bosan di dalam mobil yang menghabiskan waktu kurang lebih setengah jam di dalam perjalanan, apalagi jika terkena macetnya lalu lintas di pagi hari.
------
"Sayang, kamu harus belajar yang benar ya, harus belajar yang rajin, harus jadi anak pintar. Ingat cita-cita Alana mau jadi apa?" Kata Riana yang mengantar anaknya tersebut sampai di depan pagar sekolahnya.
"Mau jadi Dokter Ma," jawab Alana dengan antusias.
__ADS_1
"Nah kalau mau jadi Dokter, Alana harus rajin dan pintar, tidak boleh ma-"
"Las," ucap Alana yang menyambung ucapan ibunya.
"Anak Mama, pintar banget sih," ucap Riana sembari mencubit gemas pipi sang anak.
"Iya dong Ma, tenang aja aku pasti akan rajin belajar kok. Aku pasti akan jadi Dokter dan nantinya aku yang akan merawat Mama dan Papa," kata Alana yang membuat Riana merasa sangat terharu, lalu ia pun mencium pipi anaknya itu serta memeluknya sejenak.
"Alana, nanti kalau sudah pulang dan supir belum jemput, kamu jangan kemana-mana ya. Ingat pesan Papa, kamu harus tetap bersama dengan Bu guru," ucap Steve.
"Iya Pa, aku ingat kok," ucap Alana lalu menyalami kedua orang tuanya, setelah itu ia melangkahkan kaki menuju ke kelasnya.
"Aku antar kau pulang," kata Steve yang mengajak Riana.
"Nggak usah Mas, kau langsung ke kantor saja. Aku bisa pulang naik taksi," tolak Riana datar.
"Aku tidak mau Mas. Lagipula aku tidak langsung pulang ke rumah, aku masih ada urusan," kata Riana ketus.
"Kau mau kemana? Biar aku yang mengantarmu ke sana?" Tukas Steve.
"Aku mau kemana pun itu bukan urusanmu. Bukankah kau sama sekali tidak peduli tentang diriku," hardi Riana.
"Kau tidak boleh pergi, kau harus pulang bersamaku!" sergah Steve.
"Aku tidak mau Mas," tolak Riana lagi.
"Aku bilang pulang ya pulang!" Bentak Steve yang menarik tangan Riana, menyeretnya untuk masuk ke dalam mobil.
"Lepas Mas, aku tidak mau ikut kau pulang, kenapa kau harus memaksaku," kata Riana yang terlihat sangat kesal.
__ADS_1
Steve tak menggubrisnya, ia seakan menulikan telinganya, tetap menarik tangan Riana hingga istrinya itu masuk ke dalam mobil. Lalu Steve mengunci pintu mobil rapat-rapat dan segera saja menjalankan mobilnya itu.
Riana tampak kesal, ia pun memalingkan wajahnya menghadap ke arah jalan, sangat enggan untuk melihat wajah pria yang sedang mengemudikan mobil dan tak tahu hendak membawanya kemana.
*****
Tiba-tiba saja Steve memberhentikan mobilnya di suatu tempat yang terlihat tidak terlalu ramai dan tidak juga sepi, membuat Riana merasa kebingungan.
"Kenapa berhenti di sini? Bukankah kau mengatakan kita akan pulang," tukas Riana.
"Ayo kita turun," ajak Steve.
"Turun? Memangnya ada apa?" Tanya Riana yang semakin merasa bingung.
"Kita harus bicara, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu." Sehingga Riana pun keluar dari mobil dan mengikuti Steve yang mengajaknya untuk duduk di sebuah kursi panjang tepi danau.
Alangkah bahagianya perasaan Riana jika di saat ini ia dan Steve adalah sepasang suami istri pada umumnya yang sedang duduk bersama untuk menikmati udara di pagi hari di tepi danau dan ditemani kicauan burung di atas pohon. Akan tetapi pada kenyataannya mereka hanyalah sepasang suami istri yang tidak pernah hidup bahagia, meskipun Riana sudah berusaha untuk menerima kehadiran suaminya, tetapi berbeda dengan Steve yang seolah tak pernah menginginkan istrinya.
"Riana, aku tahu jika perlakuanku kepadamu selama ini sudah sangat menyakitimu. Aku sadar bahwa aku sudah sangat keterlaluan, aku sama sekali tidak pernah menghargaimu. Maafkan aku Riana, aku berjanji akan merubah sikapku untuk menjadi selayaknya bagaimana seorang suami. Aku akan mencoba untuk menerima kehadiranmu sebagai istriku," ucap Steve yang menatap Riana dengan serius.
"Cih, apa kau pikir aku percaya dengan kata-katamu itu Mas," cibir Riana yang langsung mengalihkan pandangannya, tak sanggup untuk melihat mata Steve yang baginya terlihat begitu indah tetapi tidak bisa ia nikmati setiap saat meskipun pria tersebut adalah suaminya sendiri.
"Riana, tatap aku Riana, aku mohon tatap aku," pinta Steve yang memegang pundak Riana dan memaksanya untuk segera menoleh, sehingga Riana pun kembali menatap wajah suaminya itu.
"Kau mau apalagi Mas? Apa maksudmu berkata seperti ini. Apakah kau punya rencana lain lagi?" Tanya Riana yang tak bisa mempercayainya begitu saja.
"Ya memang aku mempunyai rencana, aku ingin kita memulainya dari awal. Aku sadar di saat kau mendiamiku, aku merasa kehilanganmu Riana, aku tidak ingin kau bersikap seperti itu lagi padaku. Aku mohon kembalilah menjadi Riana yang biasanya, aku mohon Riana," ucap Steve yang tiba-tiba saja memeluk Riana dengan sangat erat, seakan mengatakan jika ia benar-benar menyesal dengan perbuatannya selama ini. Membuat Riana merasa sangat terkejut, karena selama menikah baru kali ini Steve memeluknya terlebih dahulu.
Bersambung …
__ADS_1