
"Alana … jangan sayang," teriak Adelia yang langsung saja berlari dan merampas kertas tersebut, lalu meremas dan mencampakkannya ke dalam tong sampah.
"Itu apa Oma? Kenapa oma membuangnya?" Tanya Alana.
"Oh itu hanya kertas yang tidak penting Sayang. Yuk sekarang kita main lagi, Alana masih mau main bola atau kita main yang lain?" Tanya Adelia yang mengalihkan ke pembicaraan lain.
"Kita main di dalam aja yuk Oma, main boneka," ajak Alana.
Adelia tampak bernafas lega, karena sejujurnya ia sudah merasa tidak nyaman berada di luar rumah. Lalu keduanya pun melangkahkan kaki masuk ke dalam sambil sesekali Adelia melihat sekelilingnya untuk mencari seseorang yang diyakini telah mengawasinya.
------
Saat ini Adelia dan Alana telah berada di ruang keluarga. Meskipun raganya tampak menemani cucunya itu bermain, tetapi pikiran Adelia seakan tidak berada di tempat. Membuat Alana pun merasa kebingungan.
"Oma kenapa?" Tanya Alana yang menyadarkan Adelia dari lamunannya itu.
"Oma tidak apa-apa Sayang, Oma hanya sedikit lelah," jawab Adelia berbohong.
"Kalau begitu Oma baring aja di sofa, biar aku main sendiri. Tidak apa-apa kok, yang penting Oma temani aku di sini," ujar Alana yang begitu pintar.
"Benar tidak apa-apa?" Tanya Adelia.
"Benar Oma," jawab Alana diiringi anggukan kepalanya.
"Kalau begitu Oma mau ambil ponsel dulu ya di kamar, nanti Oma akan ke sini lagi," ucap Adelia.
"Iya Oma," jawab Alana.
Lalu segera saja Adelia pergi ke kamarnya dan mengambil ponsel yang ia letakkan di atas tempat tidur. Ternyata di saat itu ada sebuah pesan masuk, sehingga langsung saja dibaca oleh Adelia.
"Bagaimana Adelia? Apakah kau sudah menyampaikan salamku untuk cucumu itu? Pasti akan sangat manis jika aku ikut bergabung dengan kalian, kita akan menjadi pasangan yang bahagia karena bisa bermain dengan cucu kita."
Adelia benar-benar tidak mengerti akan maksud orang itu, tetapi dari perkataannya entah kenapa ia jadi terpikir oleh mantan suami yang sudah lama tidak ditemuinya itu. Hingga pada akhirnya Adelia pun memberanikan diri untuk menekan nomor tersebut dan menghubunginya.
"Halo Adelia, apa kabar? Aku tidak menyangka jika kau akan meneleponku terlebih dulu," ucap seorang pria dari seberang telepon, yang suaranya itu sangat tidak asing di telinga Adelia.
__ADS_1
"Carlos? Ternyata kau benar-benar Carlos? Jadi kau yang selama ini sudah mengancamku dan apakah kau juga yang sudah mencelakai orang tua Steve, hah!" Bentak Adelia tak mempercayainya.
"Ya, kau benar. Aku akan menghancurkan siapapun yang sudah menyakiti Anakku, Riana. Jangan Kau pikir aku tidak tahu di mana keberadaan Riana meskipun selama ini kau sudah menyembunyikannya dariku dan aku juga tahu bagaimana sikapmu terhadap Riana, Adelia. Kau lebih mementingkan suamimu itu daripada Anakmu sendiri sampai kau menyerahkan Anakku kepada mertuanya yang sangat kejam itu dan diangkat oleh orang lain yang sama sekali tidak memiliki hubungan darah, tetapi juga sama sekali tidak bisa melindunginya. Suami yang tidak mengakuinya sebagai istri dan itu semua adalah salah kau! Kau hanya tinggal menunggu gilirannya saja, Adelia," ucap Carlos tersenyum smirk.
"Tidak, itu tidak benar Carlos. Kau tidak boleh menyakiti siapapun. Bagaimana jika Riana tahu bahwa kau adalah dalang dibalik ini semua," tukas Adelia.
"Riana tidak akan mengetahuinya jika kau tidak mengatakannya Sayang," ujar Carlos.
"Sakit jiwa, aku pasti akan mengatakan tentang hal ini semua kepada Riana," kata Adelia.
"Sebelum kau mengatakannya, aku akan membungkam mulutmu terlebih dulu. Jadi jika kau masih tetap ingin hidup, pastikan jika mulutmu itu masih bisa terkunci. Jangan lupa Adelia, selama 24 jam selalu ada yang mengawasimu. Bahkan saat ini aku tahu kau berada di kamar dan kau sedang apa aku mengetahuinya," ucap Carlos.
Mendengar ucapan mantan suaminya itu, membuat Adelia pun menatap ke arah jendela dan tidak melihat siapapun di sana, tetapi cukup membuatnya merasa ketakutan. Lalu ia pun memutuskan panggilan telepon begitu saja dan mencampakkan ponselnya itu di atas tempat tidur.
"Tidak … ini benar-benar gila. Jadi ternyata Carlos yang sudah menyebabkan kekacauan ini semua? Apa yang harus aku lakukan sekarang, apa aku akan tetap diam saja?" Gumam Adelia yang benar-benar merasa kebingungan.
Kini ia pun mencoba untuk menetralisir perasaannya agar Alana tidak merasa curiga, ia kembali ke ruang keluarga untuk menemani cucunya tersebut bermain.
*****
Pras mengerjap-mengerjapkan matanya di pagi hari, melihat di sekelilingnya dan menyadari jika saat ini ia berada di tempat yang tidak asing baginya. Pras tahu betul jika saat ini ia sedang berada di rumah sakit karena tadi malam ia sempat drop sehabis disiksa oleh pria kejam yang tidak dikenalnya itu. Lalu Pras pun menatap jempolnya yang saat itu terlihat diperban sehingga membuatnya pun sangat murka dan berjanji akan membalas perbuatan orang tersebut.
Lalu Pras pun melepas selang infus pada tangannya dan berusaha untuk beranjak dari brankarnya, berniat akan kabur dari sana. Akan tetapi di saat ia mengintip dari celah pintu, di saat itu terlihat seorang penjaga yang menjaga di depan kamarnya tersebut. Sehingga membuat Pras mengurungkan niatnya.
"Sial! Ternyata aku juga dijaga. Aku tidak bisa tinggal diam, aku harus mencari cara supaya bisa kabur dari sini," gumam Pras.
Karena kondisinya saat ini juga masih lemah, pada akhirnya Pras memilih kembali ke brankarnya untuk beristirahat, sambil memikirkan strategi apa yang akan ia lakukan untuk melarikan diri.
------
Sementara itu Steve yang hendak pulang ke rumah sebentar untuk mandi dan berganti pakaian karena ia harus bekerja, segera saja berpamitan kepada istri, kakak dan juga ibunya.
"Steve, apa kau tidak bisa menemani Mami saja di sini. Mami itu sudah hampir mati Steve, tiba-tiba saja ada orang yang menutup wajah Mami dengan bantal dan dia ingin membunuh Mami," kata Laras ketakutan.
"Tapi aku ada meeting penting hari ini Mi. Aku janji setelah meeting aku akan langsung kembali dan aku pastikan Mami tidak akan kenapa-napa. Aku juga sudah mencari Bodyguard untuk berjaga di luar dan hari ini juga dia akan bekerja," ucap Steve.
__ADS_1
"Iya Mi, Mami tidak perlu khawatir. Di sini juga ada aku dan Riana yang akan menemani Mami," kata Sonia.
"Aku tidak mau ditemani oleh wanita ini, aku minta dia pergi sekarang dari ruanganku," kata Laras yang mengusir menantunya.
"Ma jangan seperti itu Ma. Dari tadi malam Riana sudah ada di sini menemani Mami dan Riana juga yang tadi malam sudah menyelamatkan Mami dengan tidak sengaja. Jika Riana tidak datang tepat waktu mungkin sekarang nyawa Mami sudah tidak ada lagi," kata Sonia yang merasa sangat geram.
"Benar apa yang dikatakan oleh Kak Sonia Mi. Mami seharusnya bersyukur karena Riana sudah menyelamatkan Mami," ucap Steve.
"Ck, belum tentu. Bisa saja sebenarnya dia yang ingin mencelakai Mami, tapi dia hanya berpura-pura saja menyelamatkan Mami," tuding Laras dengan kejinya.
"Mi cukup Mi, jangan menyalahkan Riana terus seperti itu," bentak Steve
"Mas sudah Mas, tidak apa-apa. Aku memang mau pulang dulu untuk melihat keadaan Mamiku, mandi dan berganti pakaian. Aku juga mau membuatkan makanan untuk Mami, pasti Mami sudah sangat bosan makan makanan dari rumah sakit. Nanti aku akan datang ke sini lagi," ucap Riana.
"Pasti kau senang 'kan Riana karena kedua Anakku ini berani melawanku hanya karena untuk membelamu. Dan kau tidak perlu memasak apapun untukku atau datang ke sini lagi, lebih baik kau temani saja Ibumu itu," tukas Laras dengan angkuhnya tetapi sama sekali tak digubris oleh Riana.
Bukan karena ia tak peduli, tetapi ia sangat enggan untuk berdebat dengan sang mertua yang sudah pasti tidak akan pernah ada habisnya.
"Kak Sonia, Mami, aku pulang dulu ya," ucap Riana.
Lalu ia dan Steve pun keluar dari ruang rawat inap dan jalan beriringan hendak keluar dari rumah sakit dan akan pulang ke rumah bersama juga.
------
Saat melewati sebuah ruang rawat inap pasien, di saat itu Steve dan Riana melihat seorang penjaga yang menjaga kamar tersebut, sehingga membuat keduanya pun bertanya-tanya dan tampak curiga.
"Kenapa ya ruangan itu dijaga oleh Bodyguard? Apakah pasien di dalam itu seorang tawanan atau nyawa pasien tersebut terancam?" Bisik Riana.
"Aku juga berpikiran yang sama denganmu Sayang. Ini sangat mencurigakan, pasti ada sesuatu yang tidak beres. Sama dengan Mami yang nyawanya terancam dan harus dijaga oleh Bodyguard. Ini pasti salah satunya seperti itu, jika bukan tawanan ya pasti nyawanya terancam," ujar Steve.
Lalu di saat itu pun terlihat seseorang yang baru saja tiba menghampiri penjaga ruangan tersebut. Sehingga membuat Riana dan Steve menghentikan langkah kaki mereka dan berpura-pura melakukan sesuatu di sana karena ingin mencari tahu informasi.
"Bagaimana, apakah pria itu sudah sadar? Tanya pria tersebut.
"Aku tidak tahu sepertinya tadi dia masih tertidur," jawab penjaga.
__ADS_1
"Oke, Tuan Carlos mengatakan jika pria itu telah sadar harus segera dibawa kembali ke gudang. Pastikan jika tawanan tersebut tidak akan kabur," kata pria tersebut, yang membuat Riana dan Steve sangat terkejut dan saling bertatapan.
Bersambung …