
Riana dan Steve langsung membawa Alana ke rumah sakit saat melihat anak kecil tersebut pingsan dan begitu lemah tak berdaya. Sedangkan Pras memilih untuk pergi karena tidak mau mengganggu urusan mereka saat ini. Meskipun sebenarnya Riana masih sangat marah terhadap Steve, tetapi ia mencoba untuk membuang rasa egonya demi Alana yang pastinya sangat membutuhkan dirinya.
Setibanya di rumah sakit, Steve pun langsung saja menggendong tubuh Alana dan berlarian untuk mencari keberadaan dokter. Setelah menemukannya Alana langsung dibawa ke ruang pemeriksaan, sedangkan Steve dan Riana diminta untuk menunggu di luar ruangan.
"Alana, mudah-mudahan kau baik-baik saja Nak," ucap Riana di dalam doanya.
Begitu juga Steve, tak henti-hentinya ia berdoa untuk kebaikan anaknya dan juga menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian ini.
"Devina, jika terjadi sesuatu dengan Alana aku tidak akan memaafkan diriku sendiri. Maafkan aku Sayang," batin Steve yang menangis menahan kesedihan.
Riana yang melihat Steve tampak terpukul itu pun langsung saja ia mendekati suaminya itu.
"Mas, kau yang sabar ya. Alana itu anak yang kuat, aku yakin dia akan baik-baik saja. Sebenarnya apa yang terjadi Mas? Kenapa Alana bisa sampai seperti ini?" Tanya Riana yang membuat Steve menatap tajam ke arahnya.
"Kau masih bertanya apa yang terjadi? Sudah jelas ini semua gara-gara kau Riana! Jika kau tadi tidak pergi dengan pria itu, aku tidak akan kebut-kebutan di jalanan mengejarmu. Alana ketakutan sampai dia pingsan seperti ini!" Bentak Steve, terasa sangat sakit menembus ke relung hati Riana. Padahal ia berusaha untuk mencoba berbicara baik-baik di atas rasa kekecewaannya, tetapi Steve malah memarahi dan menyalahkannya seperti itu.
Hingga Riana memilih diam, lalu duduk di sudut kursi yang terdapat di depan ruang pemeriksaan tersebut. Sedangkan Steve masih tampak mondar-mandir menunggu dokter memberi kabar tentang anaknya yang saat ini sedang ditangani.
------
"Riana, bagaimana kabar Alana Sayang? Apa yang terjadi dengan Alana?" Tanya Lily yang baru saja tiba di rumah sakit bersama suami dan keponakannya.
Riana lah yang langsung mengabari tentang keadaan cucunya itu kepada Lily, begitu juga dengan Steve yang memberi kabar kepada Siska. Akan tetapi hanya Lily saja yang tampak hadir saat ini, mungkin Siska sudah beristirahat sehingga ia tidak membaca pesan dari Steve.
"Ma … ." Tangis Riana pecah begitu saja di dalam pelukan sang ibu.
"Iya Sayang, Mama di sini," ucap Lily seraya mengusap pundak Riana dengan lembut.
"Alana masih ditangani Dokter Ma. Kenapa Mama cepat sekali sudah sampai di sini?" Tanya Riana sembari melerai pelukannya.
"Kebetulan Mama, Papa dan Leo baru saja pulang sehabis makan malam dengan klien Papa di restoran yang tidak jauh dari sini, jadi setelah mendapat kabar darimu kami langsung ke sini untuk melihat keadaan Alana," terang Lily.
"Terimakasih Ma, Pa, Kak Leo karena kalian sudah datang ke sini," ucap Riana, lalu menyalami Derry ayah angkatnya itu.
"Iya Riana sama-sama. Kau harus sabar ya Nak, Alana pasti baik-baik saja," ucap Derry.
__ADS_1
"Iya Pa," jawab Riana diiringi anggukkan kepalanya.
Steve yang melihat kehadiran orang tua mendiang istrinya itu pun langsung saja mendekati mereka.
"Ma, Pa," sapa Steve yang menyalami keduanya tanpa memperdulikan Leo sama sekali.
"Steve, apa kabar?" Tanya Derry.
"Aku baik-baik saja Pa. Papa dan Mama juga baik-baik saja 'kan? Maaf jika aku sudah lama tidak mengunjungi kalian, akhir-akhir ini aku sedang banyak pekerjaan," ucap Steve.
"Iya kami baik-baik saja. Tidak masalah Steve, kami juga mengerti," jawab Derry.
"Steve apa yang terjadi? Kenapa Alana bisa seperti ini?" Tanya Lily yang sedari tadi belum mendapatkan jawabannya.
"Jika Mama ingin tahu apa masalahnya, lebih baik Mama tanyakan langsung dengan wanita ini. Dia tiba-tiba saja pergi meninggalkan kami di lokasi pesta bersama pria lain Ma, jadi aku kebut-kebutan mengejarnya," terang Steve sembari menunjuk ke arah Riana.
"Riana, apa benar yang dikatakan Steve?" Tanya Lily yang juga menatap ke arah anak angkatnya itu.
"Bukan seperti itu Ma. Ya aku memang terpaksa pergi dengan pria itu, tapi aku punya alasannya. Itu semua karena aku merasa kecewa dengan Mas Steve, Mas Steve terang-terangan membela wanita lain yang salah di depan banyak orang. Maka itu aku pergi meninggalkan mereka di lokasi pesta, aku ingin menenangkan diriku dan kebetulan pria itu menawarkan tumpangannya," jelas Riana membela diri.
"Heh kenapa kau malah menyalahkan Riana? Seharusnya kau itu sadar diri kenapa Riana bisa pergi," kata Leo yang kini ikut angkat bicara.
"Aku tidak sedang berbicara denganmu, jadi lebih baik kau diam saja. Lagipula kau itu siapa? Kau bukan siapa-siapanya Riana, kau tidak perlu membelanya," ujar Steve tak terima.
"Riana ini sudah aku anggap sebagai Adikku sendiri karena dia adalah sahabat Devina, apa kau melupakan itu?" Ucap Leo mengingatkan.
"Sudah, sudah, stop! Steve, Leo, kenapa kalian jadi bertengkar. Kita sedang berada di rumah sakit, jangan membuat keributan di sini," sergah Derry.
------
Beberapa menit kemudian pintu ruangan pemeriksaan terbuka dan terlihat dokter yang keluar dari sana, membuat mereka langsung saja bergegas mendekati dokter tersebut.
"Dokter, bagaimana keadaan Anak saya Dokter?" Tanya Steve mewakili.
"Alhamdulillah Alana baik-baik saja, Alana hanya sedikit trauma tetapi saat ini dia sudah sadar dan jika keadaannya sudah lebih tenang, kalian boleh membawanya langsung pulang. Sekarang Nyonya dan Tuan boleh masuk untuk menemui Alana," kata dokter, sehingga semuanya pun tampak bersyukur dan bernafas lega. Lalu mereka masuk ke dalam untuk menemui Alana.
__ADS_1
"Alana, syukurlah kau baik-baik saja Nak. Papa sangat mengkhawatirkan keadaanmu, maafkan Papa ya," ucap Steve yang langsung saja memeluk anaknya itu. Tetapi Alana menolak dengan tangan kecilnya.
"Aku tidak mau dengan Papa!" Pekik Alana yang terlihat sangat marah terhadap ayahnya. Sehingga membuat Steve merasa sangat terkejut, lalu melepaskan pelukannya dan menjauh dari Alana.
Dengan langkah ragu, kini Riana berjalan, melangkahkan kakinya mendekati Alana. Ia takut akan mendapatkan penolakan yang sama dengan Steve. Akan tetapi pada kenyataanya …
"Mama … Alana takut Ma," rengek Alana yang langsung saja memeluknya, membuat Riana benar-benar sangat senang dan membalas pelukan tersebut.
"Sayang, kau tidak perlu takut ya. Di sini ada Mama, Papa, Oma, Opa ada Om Leo juga. Apa yang kau takutkan Sayang?" Tanya Riana.
"Aku takut karena tadi Papa bawa mobilnya kebut-kebutan, aku takut Ma," ungkap Alana.
"Alana, seharusnya kau mengerti Papa tadi ngebut seperti itu karena mengejar Mamamu. Kau juga 'kan yang memintanya. Seharusnya kalau mau marah kau marah terhadap Mamamu ini bukan terhadap Papa," cecar Steve.
"Sudah aku katakan kau jangan menyalahkan Riana dan sekarang kau malah membentak Alana. Kau ini benar-benar tidak punya pemikiran atau bagaimana," kata Leo yang menatap Steve dengan tajam.
"Banyak bacot! Sudah aku katakan kau tidak usah ikut campur bangs*t!" Cecar Steve yang langsung saja melayangkan pukulannya ke wajah Leo hingga tubuh Leo terhuyung dan hampir saja terjatuh.
Kali ini Leo tak mau tinggal diam, ia pun membalas memukul Steve dengan satu pukulan dan membuat Steve juga terhuyung karena ulahnya.
"Kak Leo, Mas Steve, aku mohon hentikan!" Pekik Riana sembari memeluk Alana yang terlihat ketakutan melihat perkelahian itu.
"Leo, Steve apa-apaan kalian ini. Jika kalian berdua ingin bertengkar jangan di sini, pergi keluar selesaikan masalah kalian!" Bentak Derry.
Karena terkenal sebagai pria yang sama-sama keras kepala, Leo dan Steve sama sekali tak memperdulikan ucapan Riana maupun Derry sebagai orang yang paling tua dan harusnya mereka hormati. Keduanya seperti sedang diselimuti emosi yang menggebu, sehingga kembali saling memukul.
Riana yang melihat akan hal itu pun tak bisa tinggal diam. Karena mencegah dengan ucapan sama sekali tak ada gunanya, membuat Riana langsung saja berlari di tengah-tengah mereka untuk menghentikannya secara langsung. Hingga di saat itu pun …
Bugh …
Sebuah pukulan keras mengenai pipi Riana yang menyebabkan wanita tersebut pingsan.
"Riana … !" Teriak Leo dan Steve secara bersamaan.
Bersambung …
__ADS_1