
Leo menatap wajah Alana, memberi isyarat agar jangan mengganggu Riana untuk saat ini. Sehingga ia mengajak keponakannya itu untuk meninggalkan dapur lalu keduanya menuju ke taman belakang rumah untuk bermain.
"Om, Mama Riana kenapa? Sepertinya Mama sangat sedih, Mama sedang ada masalah ya?" Tanya Alana. Meskipun ia tadi sempat mendengar percakapan Riana dan lily, tetapi tentu saja Alana tidak mengerti maksud akan hal itu secara detailnya.
"Sayang, sebenarnya Om juga tidak mengerti apa masalah Mama Riana. Tapi seperti yang kau katakan tadi kalau Mama sedang sedih, jadi lebih baik sekarang kita tidak usah mengganggu Mamamu dulu ya, biar saja Mama tenang bersama dengan Oma. Menurut Om lebih baik kita tadi pura-pura tidak melihat dan mendengarnya saja bagaimana, apa kau setuju?" Uja Steve.
"Aku setuju Om," jawab Alana mengangguk mengerti.
"Anak pintar, sekarang kau mau main apa? Biar Om temani ya," kata Leo.
"Bagaimana kalau kita main petak umpet aja Om," usul Alana.
"Boleh, siap takut. Kalau begitu Om yang jadi dan kau yang sembunyi dulu ya," kata Steve.
"Oke Om," jawab Alana yang langsung saja bermain dengan Omnya tersebut.
------
"Ya sudah sekarang jangan sedih-sedih lagi ya, lebih baik lanjutkan saja masaknya, sebentar lagi sudah waktunya makan siang," kata Lily sembari mengusap air mata Riana.
"Iya Ma, terimakasih banyak ya Ma. Kalau begitu aku mau melanjutkan masak dulu," ucap Riana.
"Mama bantu ya Sayang, supaya cepat selesai masaknya," ujar Lily.
"Iya Ma boleh," jawab Riana menyetujui. "Oh iya Mama ada melihat Alana atau tidak?" Tanyanya.
"Tadi sih yang Mama lihat Alana ada di ruang TV sama Leo, sepetinya nonton kartun. Kamu tenang saja Riana, Alana dan Leo itu 'kan sudah cukup akrab dari dulu meskipun waktu itu Leo datang Alana masih kecil," tukas Lily.
__ADS_1
"Iya Ma, syukurlah. Ya sudah yuk Ma kita masak," ucap Riana, lalu keduanya pun melanjutkan masak bersama.
------
Selesai memasak dan semua makanan telah tersaji di atas meja, kini Riana, Lily, Leo, Alana, termasuk Cakra yang saat ini berada di rumah karena hari libur, telah berkumpul di ruang makan untuk menikmati makan siang bersama.
Ting … tung …
Tiba-tiba terdengar suara bel pintu rumah di saat mereka sedang lahap menikmati makanan lezat yang telah di masak oleh Riana dan Lily. Sehingga segera saja ART membukakan pintu untuk tamu yang datang dan tidak berapa lama kemudian seorang pria tampan kini sudah berada di hadapan mereka. Membuat Riana merasa sangat terkejut akan kedatangan pria tersebut, siapa lagi kalau bukan Steve suaminya yang datang untuk menjemput istri dan anaknya itu.
"Papa … !" Teriak Alana yang langsung saja berlari dan memeluk sang ayah.
Namanya anak kecil, semarah apapun Alana terhadap Steve tetap saja ia merindukan sosok ayahnya. Apalagi ayah merupakan cinta pertama anak perempuannya, membuat Alana benar-benar sangat senang melihat kehadiran ayahnya tersebut.
Begitu pula dengan Steve, mendapat sambutan yang begitu hangat dari anaknya tentu saja membuat Steve merasa sangat senang dan langsung saja membalas pelukan anaknya tersebut serta menciumi rambutnya, meluapkan rasa rindunya terhadap buah hatinya itu.
"Maaf semuanya aku mengganggu," ucap Steve setelah ia melerai pelukannya bersama Alana.
"Iya Pa," jawab Steve yang langsung saja melangkahkan kakinya menuju ke meja makan.
"Pa, Ma, aku ke kamar dulu ya. Aku sudah kenyang, lebih baik kalian lanjutkan saja makannya," ucap Riana yang beranjak dari tempat duduk dan hendak pergi.
"Riana duduk!" Titah Cakra membuat Riana pun kembali duduk, tidak berani untuk membantah ucapan ayah angkatnya tersebut.
Lantas bagaimana dengan Leo? Meskipun sebenarnya ia sangat muak melihat kedatangan Steve, tetapi tentunya ia tidak mau meninggalkan momen yang menurutnya ini sangat penting. Karena apapun yang terjadi ia pasti akan langsung memberi kabar kepada Pras sahabatnya, yang saat ini sedang menggilai adik angkatnya tersebut.
"Riana, lebih baik habiskan dulu makananmu, jangan pergi begitu saja," tukas Cakra dengan wajah serius.
__ADS_1
"Iya Pa," jawab Riana dan kembali duduk, menikmati makan siang bersama dengan Steve, meskipun rasanya ia masih sangat marah terhadap pria tersebut.
Setelah selesai makan, Riana langsung mengemasi piring-piring yang ada di atas meja dan membawanya ke dapur meskipun ada pelayan di sana. Selain karena Riana yang memang terkenal sangat rajin, ia juga sengaja ingin menghindari steve.
"Steve lebih baik kau dan Riana membicarakan masalah kalian saat ini juga. Mama sudah membicarakannya kepada Riana, sepertinya Riana masih marah karena tidak mau Mama membahas mengenaimu di depannya. Tetapi Mama yakin jika kau yang langsung mengajak Riana bicara baik-baik dari hati ke hati, dia pasti akan mengerti dan mau pulang ke rumah," ujar Lily.
"Iya Ma, nanti aku akan berbicara dengan Riana. Terimakasih ya Ma, Pa," ucap Steve.
*****
"Kau mau apa lagi sih Mas, kenapa kau harus datang ke sini untuk menjemputku. Seharusnya kau senang karena tidak ada yang mengganggu hidupmu, kau juga bebas melakukan apapun di rumah tanpa ada yang mengatur dan mengomelimu," hardik Riana di saat Steve menghampirinya dan mengajaknya untuk berbicara di taman belakang, tepi kolam renang.
"Justru aku merindukan omelanmu Ri, hidupku benar-benar hampa tanpa kalian ada di rumah. Kenapa kau berbicara seperti itu, kau itu masih sah istriku, jadi aku berhak untuk mengajakmu kembali ke rumah," ucap Steve.
"Oh ya? Jika aku ini istrimu, kenapa waktu itu kau membela wanita lain Mas. Kau jelas-jelas menyudutkanku di depan banyak orang, apa itu yang namanya sikap seorang suami hah!" Cecar Riana.
"Soal itu aku benar-benar minta maaf, aku hanya bingung saja malam itu Ri. Maafkan aku sudah menjadi suami yang plin-plan, bahkan aku sudah berjanji untuk memperbaiki hubungan kita tetapi lagi-lagi aku yang menyakitimu, aku menghancurkan segalanya. Maafkan aku Riana, tolong beri aku kesempatan lagi," pinta Steve dengan tatapan mendamba.
"Jika bukan karena aku mencintaimu dan juga karena pesan dari Devina, mungkin aku sudah lama meninggalkanmu Mas. Aku hanya manusia biasa, aku sama seperti wanita lain yang bisa merasakan sakit, kecewa, tetapi aku mencoba untuk bertahan dan itu semua juga demi Alana yang sudah aku anggap seperti anak kandungku sendiri. Tapi jangan salahkan aku Mas jika suatu saat nanti aku benar-benar pergi dan itu artinya aku benar-benar sudah tidak sanggup lagi hidup bersamamu," ucap Riana dengan tatapan sendu.
"Jadi apakah kau sekarang masih mencintaiku, apakah kau masih bersedia memberikanku kesempatan?" Tanya Steve.
Riana menganggukkan kepalanya, "Iya Mas aku akan memberikanmu kesempatan terakhir, tetapi jika kau mengingkarinya lagi, aku tidak tahu apa yang akan terjadi dengan hubungan kita," ucapnya.
Steve tersenyum merasa begitu bahagia, lalu ia meraih tubuh Riana ke dalam dekapannya serta memeluknya dengan erat. Leo yang sedari tadi diam-diam mendengar pembicaraan mereka dan melihat apa yang terjadi di depan matanya itu pun merasa sangat kesal, padahal ia berharap hubungan Steve dan Riana akan berakhir tetapi pada kenyataannya mereka malah berbaikan. Sungguh benar-benar di luar dugaan Leo.
Prang …
__ADS_1
tiba-tiba terdengar suara benda yang terjatuh, membuat Riana dan Steve pun merasa terkejut dan langsung melepaskan pelukan mereka.
Bersambung.