Istri Tak Diakui

Istri Tak Diakui
Mendapat Petunjuk.


__ADS_3

Karena tak ingin ketahuan menguping, sehingga Steve dan Riana pun kini kembali melanjutkan langkah kaki mereka dan terburu-buru keluar dari rumah sakit.


"Sayang, kau dengar tadi pria di dalam ruangan tersebut itu adalah tawanan. Apa mungkin dia adalah Pras yang selama ini kita cari?" Tukas Riana.


"Iya Sayang, itu bisa saja benar. Aku harus mencari tahu siapa yang ada di dalam ruangan tersebut," ujar Steve.


"Tapi bukankah kau ada rapat penting pagi ini. Kau tidak bisa mencari tahu sekarang Mas," ujar Riana mengingatkan.


"Tapi jika aku menundanya, bagaimana jika pria itu sudah dibawa pergi, bagaimana kalau kita tidak akan bisa menemukannya lagi," tukas Steve yang membuat Riana tampak berpikir.


"Begini saja Mas, bagaimana kalau kau menghubungi Kak Leo dan minta Kak Leo untuk menyelidikinya," usul Riana.


"Oh iya, kau benar juga. Mudah-mudahan saja Leo sedang tidak ada pekerjaan," ujar Steve menyetujui.


Sambil mengemudi, Steve pun mencoba untuk menghubungi Leo dan langsung saja dijawab oleh pria tersebut. Steve langsung menyampaikan kepada Leo apa yang tadi telah didengarnya dan Riana saat di rumah sakit, lalu meminta Leo untuk menyelidikinya. Leo sangat setuju karena ia juga sangat ingin menangkap dalang dibalik kerusuhan yang saat ini sedang terjadi.


"Bagaimana Sayang, apa Kak Leo setuju?" Tanya Riana.


"Iya Sayang, Leo setuju dan dia langsung menuju ke rumah sakit saat ini juga," jawab Steve lalu melajukan mobilnya tersebut menuju ke kediamannya.


*****


Setibanya di rumah, Steve langsung saja mandi dan bersiap-siap, setelah itu ia langsung pergi ke kantor tanpa sempat untuk sarapan terlebih dulu karena memang ia ada rapat di pagi hari.


Sedangkan Riana yang belum sempat mandi itu pun segera saja menyiapkan sarapan untuk ibu dan juga anaknya yang di saat ini masih berada di dalam kamar. Alana sedang libur sekolah karena akan memasuki tahun ajaran baru, sedangkan Adelia memang saat ini berada di rumah untuk menemani cucunya tersebut.


Sehingga setelah sarapan selesai dan juga sudah tersaji di atas meja, kini Riana pun menuju ke kamar Alana untuk membangunkannya dan ternyata di situ ia melihat ibunya yang tidur bersama dengan sang cucu.


"Selamat pagi sayang-sayangnya Mama," ucap Riana sembari membuka gorden jendela, sehingga sinar mentari pagi masuk dan menerpa wajah kedua wanita yang di saat itu langsung saja terbangun.


"Pagi Mama, Mama sudah pulang? Oma Laras bagaimana keadaannya Ma?" Tanya Alana.

__ADS_1


"Iya Sayang, Mama pulang sebentar mau mandi, ganti baju dan juga mau masak untuk Oma Laras. Keadaan Oma sudah jauh lebih baik dan hari ini Oma akan menjalankan terapi, kita doakan semoga saja Oma bisa berjalan lagi ya," ucap Riana.


"Iya Ma, Aku pasti akan mendoakan Oma," ucap Alana.


"Syukurlah jika memang seperti itu," ucap Adelia.


"Iya Mam, Mami kenapa tidur sama Alana?" Tanya Riana.


"Iya Sayang, tadi malam Alana minta dibacakan dongeng karena sudah beberapa hari ini 'kan kau dan Steve tidak pernah mendongengkan Alana, jadi karena Mami yang mendongengkannya dan Mami sudah mengantuk juga, ya tidak ada salahnya 'kan kalau Mami tidur sama cucu Mami," ujar Adelia.


"Iya Mami benar dan memang tidak ada salahnya sama sekali. Terima kasih ya Mi sudah menemani Alana disaat aku dan Mas Steve sibuk bolak-balik ke rumah sakit," sahut Riana.


"Iya a sama-sama Sayang, Mami senang kok bisa bermain dengan Alana," jawab Adelia.


Akan tetapi di saat itu Riana dapat melihat bagaimana perubahan wajah ibunya secara tiba-tiba, seperti sedang menyimpan masalah.


"Alana, Sayang, cepat kau bangun dan mandi yang bersih. Mama tunggu di sini sekalian menyiapkan pakaianmu ya. Kalau ada yang tidak bisa jangan lupa teriak untuk memanggil Mama," ucap Riana.


"Mam, ada apa? Ada sesuatu yang Mami disembunyikan dariku?" Tanya Riana.


"Kenapa kau bertanya seperti itu, memangnya ada yang aneh dengan Mami?" Adelia bertanya balik.


"Aku sangat mengenal Mami. Meskipun kita sudah lama tidak bertemu, tetapi aku masih hafal dengan sifat Mami yang suka menyimpan masalah. Ada apa Mam, ceritakan ke aku. Apa Mami diancam lagi?" Tanya Riana.


"Mami tidak diancam, hanya saja Mami memang sering merasakan jika selalu ada yang mengawasi Mami. Meskipun Mami berada di dalam rumah tetap aja Mami terkadang suka merasa parno sendiri dan ketakutan," ucap Adelia.


"Itu pasti karena Mami masih suka terbayang-bayang dengan pesan ancaman yang dikirim waktu itu 'kan? Apa sampai sekarang masih ada yang suka mengirimi Mami pesan teror?" Tanya Riana.


Adelia menggelengkan kepalanya, berusaha semaksimal mungkin untuk menutupi masalah tersebut dari anaknya.


"Syukurlah jika memang tidak ada. Mam, menurutku lebih baik Mami segera pulang ke Jerman secepatnya supaya Mami lebih aman. Aku tidak mau Mami malah kenapa-napa di sini Mi," ujar Riana.

__ADS_1


"Tidak Riana, Mami tidak akan pulang. Mami akan lebih tenang jika berada di sini dan menjagamu, justru Mami tidak tenang jika Mami berada di sana. Kau tahu sendiri 'kan bagaimana susahnya Mami untuk pulang ke Indonesia, bertemu denganmu. Dan sekarang di saat Mami sudah berada di Indonesia, Mami tidak akan pulang begitu saja. Terserah apa mau yang dikatakan oleh suami Mami, bahkan jika harus berpisah dengannya pun Mami tidak peduli, yang penting Mami bisa bersama denganmu saat ini," ucap Adelia dengan sangat yakin.


Adelia justru takut jika Riana nantinya akan disakiti oleh mantan suaminya itu jika lengah dari pengawasannya, sehingga ia sudah memutuskan akan selalu berada di samping Riana apapun resikonya dan akan selalu menjaga anaknya tersebut.


"Mam, apa Mami yakin? Bagaimana kalau suami Mami nanti akan benar-benar marah?" Tanya Riana yang tampak khawatir.


"Biarkan saja, sudah Mami katakan jika Mami tidak peduli. Jika memang nanti dia datang ke sini untuk menyusul Mami, Mami akan jelaskan semuanya," tukas Adelia yang membuat Riana merasa sangat terharu, tanpa menaruh rasa curiga sedikitpun.


"Ya sudah kalau memang itu sudah menjadi keputusan Mami. Sekarang Mami mandi saja dulu, nanti kita sarapan sama-sama ya. Aku sudah menyiapkan sarapan untuk kita dan aku juga mau mandi setelah Alana selesai," ucap Riana.


Adelia mengangguk menyetujuinya, lalu ia pun keluar dari kamar cucunya itu dan menuju ke kamarnya.


*****


Setelah selesai dengan kegiatannya di rumah, serta sudah mandi dan rapi juga memaksakan masakan untuk mertuanya sesuai yang ia janjikan tadi, kini Riana pun sedang di dalam perjalanan menuju ke mobil menuju ke rumah sakit dengan di antar oleh sang supir.


Saat di dalam perjalanan, tiba-tiba saja supir merasakan jika ada sesuatu yang tidak beres dengan ban mobilnya tersebut, sehingga sang supir pun menepikan mobil untuk memeriksa keadaannya.


"Ada apa Pak?" Tanya Riana.


"Sepertinya ban mobilnya bocor Nyonya," jawab supir.


"Oh begitu, ya sudah kalau begitu diganti aja dulu Pak," tukas Riana. "Bawa ban serepnya 'kan Pak?" Tanyanya.


"Iya Nyonya. Kalau begitu saya ganti dulu ya Nyonya," ucap supir.


Sambil menunggu supir mengganti ban mobil tersebut, Riana pun menunggu di tepi jalan sambil memainkan ponselnya. Di saat itu tanpa sengaja ia melihat sebuah mobil Avanza dengan plat yang ditutup sedang terparkir di depan sebuah toko sebrang jalan tersebut dan Riana sangat yakin jika mobil itu adalah mobil yang waktu itu digunakan untuk menabrak Laras dengan sengaja. Sehingga dengan cepat ia pun memotretnya lalu mengirimkan foto tersebut kepada Steve.


Di saat itu pula Riana melihat seseorang yang baru saja keluar dari toko dan hendak masuk ke dalam mobil tersebut, tanpa sengaja ia menangkap mata Riana yang sedang menatapnya dan kini berbalik ikut menatap ke arah Riana. Sehingga membuat Riana pun tampak membuang muka dan berpura-pura sedang bermain ponsel kembali. Riana merasa gugup dan juga ketakutan karena melihat pria itu melangkahkan kakinya hendak menghampirinya.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2