
Dokter menjelaskan bahwa Laras mengalami kelumpuhan pada kakinya akibat kecelakaan tersebut, karena kakinya sempat terbentur keras oleh mobil. Itulah yang menyebabkan Laras tidak bisa menggerakkan kakinya saat ini.
Laras merasa sangat syok, ia berteriak terus-menerus karena tak bisa menerima apa yang terjadi dengan dirinya saat ini. Baik Lily, Adelia maupun Riana mereka juga ikut terkejut dan juga merasa sangat kasihan melihat keadaan Laras.
"Mi, sabar Mi. Mami harus kuat, aku yakin Mami pasti bisa sembuh," ucap Riana yang langsung memeluk ibu mertuanya itu.
"Lepas … lepaskan aku … ! Pasti Kau senang 'kan mendengar kabar ini? Kenapa ini bisa terjadi padaku, tidak … aku tidak terima, aku tidak mau lumpuh, akh … !" Laras terus saja berteriak histeris, tak bisa menerima kondisi kakinya.
"Dok, apakah kelumpuhan ini bersifat sementara atau permanen?" Tanya Lily.
"Saya tidak bisa memastikan jika kelumpuhan ini bersikap permanen, tapi untuk kesembuhannya juga sangat sulit. Kita berdoa saja, dengan rutin mengikuti pengobatan seperti terapi, semoga ada keajaiban Nyonya Laras akan sembuh," ucap dokter.
Karena Laras terus saja berteriak, bahkan ia meronta-ronta dan tidak bisa ditenangkan oleh Riana maupun dokter, pada akhirnya dokter pun menyuntikkan obat penenang dan saat ini Laras terlihat sedang beristirahat. Sedangkan Riana menemani wanita tersebut dengan setia di sampingnya.
"Ma, Mami ada di mana?" Tanya Riana yang baru menyadarinya, karena sedari tadi ia hanya fokus terhadap Laras.
"Tadi sewaktu mendengar Ibu mertuamu berteriak histeris, Ibumu tiba-tiba saja menutup telinganya dan keluar. Mama melihat Ibumu seperti ketakutan, pasti ini semua ada hubungannya dengan pesan ancaman yang dikirim oleh orang misterius itu," ucap Lily.
"Iya Ma, aku jadi kasihan terhadap Mami. Aku harus mencari cara bagaimana supaya Mami pulang ke Jerman. Pasti Mami akan lebih aman di sana dengan suaminya," tukas Riana.
"Ya sudah, nanti coba kau bicarakan saja baik-baik dengan Ibumu atau kau hubungi saja Ayah tirimu itu, siapa tahu dia bisa meluangkan waktu untuk menjemput Ibumu," usul Lily.
"Iya Mi, nanti aku coba," jawab Riana.
"Lalu apa Steve sudah memberikanmu kabar. Di mana dia sekarang dan apa kau sudah memberikan kabar tentang kondisi ibunya?" Tanya Lily.
Riana menggelengkan kepalanya, "Sampai sekarang Mas Steve belum memberiku kabar Ma, aku juga sudah menanyakan di mana keberadaannya tetapi Mas Steve belum menjawab. Aku takut kalau aku memberikan kabar tentang kondisi ibunya saat ini dia malah kepikiran. Aku juga tidak tahu sekarang Mas Steve ada di mana, dia sedang apa dan bagaimana kondisinya," ucapnya yang terlihat sangat cemas.
__ADS_1
Membuat Lily merasa sangat iba dan juga kasihan terhadap anak angkatnya itu. Karena selama ia mengenal Riana, wanita tersebut selalu saja mengalami penderitaan dari penyiksaan yang ia dapatkan dari suami pertama, berlanjut sebagai istri tak diakui oleh Steve, sampai pada akhirnya mereka sudah saling mencintai malah mendapatkan cobaan-cobaan yang begitu berat seperti saat ini. Lalu ini pun meraih tubuh Riana kedalaman dekapannya, memberikannya pelukan hangat serta menenangkan anaknya itu. Riana yang sudah terbiasa berada di dalam pelukan ibu angkatnya itu pun merasa lebih tenang dibandingkan berada di dalam pelukan ibu kandungnya sendiri.
"Ma, boleh aku minta tolong untuk menjaga Mami Laras sebentar. Aku ingin melihat kondisi Mami di luar," ucap Riana.
"Lebih baik kau saja yang menjaga mertuamu di sini, biar Mama yang menghampiri Ibumu," ujar Lily.
"Ya sudah, terima kasih ya Ma," ucap Riana.
Lily menganggukkan kepalanya, lalu ia pun keluar dari ruangan tersebut.
*****
Saat ini Steve dan Leo sedang berada di dalam perjalanan, sesuai dengan petunjuk yang mereka dapatkan untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Karena kejadian yang sedang menimpa keluarga mereka saat ini, membuat Leo dan Steve pun kini bersatu, meskipun terkadang mereka berdua sering bertengkar hanya karena hal-hal yang tidak terlalu penting. Apalagi setelah mengetahui jika Pras adalah dalang dibalik penculikan Riana, membuat Leo menjadi murka dan membenci sahabatnya itu, serta ingin membasminya dengan bekerja sama dengan Steve.
"Sudah hampir setengah hari kita mencari tetapi sama sekali tidak menemukan apapun, sebenarnya kau ini tahu atau tidak di mana keberadaan orang yang sudah menyebabkan kekacauan ini? Jangan bermain-main seperti ini," Tukas Leo.
"Dasar bodoh, orang yang melewati jalan ini banyak dan belum pasti arah tujuannya ke mana. Kau ini benar-benar goblok atau bagaimana. Dan 1 lagi apa kau sudah memeriksa CCTV di rumahmu sendiri untuk mengetahui siapa yang mencelakai Ibumu itu?" Tanya Leo.
"Belum," jawab Steve karena memang dia tidak terpikir masalah itu sama sekali.
"Ya ampun Steve, aku sudah menduganya. Lalu apa gunanya CCTV di rumahmu itu, kenapa kau jadi orang gobloknya minta ampun. Harusnya itu yang kau lakukan terlebih dulu," hardik Leo yang merasa sangat kesal terhadap suami dari adik angkatnya itu.
"Diam kau bang sat! Kau tahu sendiri 'kan bagaimana keadaanku, aku panik, aku tidak bisa berpikir sampai ke situ," tukas Steve yang tak terima terus di salahkan.
"Sekarang kau sudah tahu 'kan, jadi tunggu apa lagi," ujar Leo.
Sehingga Steve pun langsung saja membelokkan setir mobilnya itu dan langsung menuju ke kediamannya.
__ADS_1
Setibanya di kediaman Steve, segera saja mereka menuju ke pos keamanan untuk melihat CCTV di mana saat kecelakaan itu terjadi. Pengemudi yang menggunakan mobil Avanza berwarna hitam itu memang sengaja menabrak Laras, dapat dilihat jika plat mobil tersebut sengaja ditutupi agar tidak ketahuan identitasnya.
"Aku sudah menduganya, ini pasti kecelakaan yang disengaja, sudah sangat jelas buktinya. Apalagi dengan pesan yang dikirim ke Mami Adelia yang mengatakan jika saat ini Ibuku sudah celaka lalu orang itu juga mengancam akan mencelakai Mami Adelia selanjutnya," ucap Steve yang mengepal erat kedua tangannya, serta tatapannya yang begitu tajam karena merasa sangat emosi.
"Lalu siapa mereka? Sekarang Ibumu dan juga Tante Adelia berada dalam kondisi yang berbahaya setelah kemarin Riana yang menjadi korbannya. Bisa saja setelah ini keluarga Om Derry dan yang aku dengar Pras juga sudah menghilang selama seminggu, apa mungkin ini ada hubungannya dengan ini semua," ujar Leo.
"Tentu saja ada hubungannya dengan ini semua, Pras menghilang karena dia dalang dibalik Ini semua. Bukan berarti dia adalah korbannya jugq, karena hanya dia lah manusia paling kejam yang sudah dengan keji menculik Riana dan sudah pasti ini semua ulahnya juga," sahut Steve.
"Ya mungkin kau benar, tapi sampai sekarang kita belum menemukan bukti yang lain selain pengakuan dari Riana," ucap Leo.
"Dan itu tugas kita sekarang," sahut Steve.
Lalu keduanya pun pergi meninggalkan kediaman Steve dan mencoba untuk mencari petunjuk lain.
*****
Derry yang berdiri di depan pintu ruang IGD, merasa sangat kasihan melihat Adelia yang terus saja menangis dan ketakutan duduk di sudut depan ruangan tersebut. Derry sudah tahu jelas apa masalahnya, hingga pada akhirnya ia pun menghampiri wanita itu berniat ingin menenangkannya.
"Adelia, apa kau masih merasa ketakutan gara-gara pesan itu. Kau tenang saja, tidak akan ada yang bisa menyakitimu. Di sini ada orang-orang yang selalu melindungimu, kau lihat Riana, Steve dan aku di sini juga ada untuk melindungi kalian semua. Jadi kau tidak perlu merasa ketakutan seperti itu," ucap Derry yang saat ini sudah duduk di samping ibu dari anak angkatnya itu.
Tanpa mengatakan apapun, tiba-tiba saja Adelia menyandarkan kepalanya itu ke pundak Derry yang membuat pria tersebut merasa sangat terkejut. Akan tetapi ia yang sangat mengerti bagaimana perasaan Adelia saat ini pun membiarkan saja apa yang dilakukan wanita tersebut, dengan harapan Adelia akan merasa lebih tenang. Derry sama sekali tak bermaksud apapun, ia hanya menganggap Adelia sebagai saudaranya karena ia juga sudah menganggap Riana sebagai anak kandungnya sendiri.
"Ehem."
Hingga terdengar suara deheman seseorang yang membuat Adelia dan Derry merasa sangat terkejut, lalu menatap ke arah sumber suara.
__ADS_1
Bersambung …