
Riana masih tampak mondar-mandir di dalam kamar tersebut, ia bingung harus melakukan apa saat ini karena untuk melarikan diri melalui jendela sudah sangat tidak mungkin. Mencoba mencari celah di kamar mandi pun sama sekali tidak menemuinya. Ia benar-benar sudah seperti berada di dalam penjara yang membuatnya sama sekali tak bisa berkutik.
Hingga di saat itu terdengar suara langkah kaki seseorang, karena saat ini sudah menjelang pagi sudah pasti itu adalah penjaga yang akan memberikannya sarapan seperti biasa. Lalu Riana pun berpura-pura kembali mengikat kaki dan juga tangannya yang ia letakan di belakang tubuhnya itu. Seperti dugaannya, kini penjaga tersebut pun masuk dengan membawa nampan yang berisi makanan serta minuman untuknya.
"Makan, jika kau tidak makan dan kau sakit maka aku yang akan dimarahi oleh Tuan Pras," titah salah satu yang menjaga Riana di Villa tersebut.
"Aku tidak mau makan, biarkan saja aku mati," tolak Riana.
"Kau ini keras kepala sekali ya. Kau harus makan jika tidak maka kami yang akan dimarahi oleh Bos, apa kau mengerti!" Bentak penjaga yang menyuapkan makanan tersebut karena tangan Riana dalam posisi yang terikat.
Akan tetapi Riana sama sekali tak mau, sehingga membuat penjaga itu pun murka lalu menyuapkan sesendok nasi secara paksa agar Riana mau membuka mulut dan memakannya. Semakin lama penjaga ikut semakin mendekat dan semakin pula Riana menolaknya. Hingga di saat itu …
Jleb …
Riana menancapkan gunting kecil yang sedari dipegangnya tepat di lengan penjaga, sehingga penjaga itu pun merasa sangat terkejut dan mengeluarkan darah dari lengannya tersebut.
"Argh … !" Teriak penjaga lalu tubuhnya pun tampak terhuyung.
Sehingga Riana segera saja melepaskan tali yang tadi hanya diikat pura-pura di kakinya, lalu menendang penjaga tersebut tepat di bagian kepemilikannya, membuat penjaga tersebut merasakan sakit yang luar biasa lalu tersungkur di atas lantai.
Hal ini tentunya dijadikan Riana sebagai kesempatan untuk melarikan diri. Ia keluar dari kamar dan tak melihat siapapun di sana yang itu artinya penjaga yang satu lagi entah berada di mana saat ini. Tetapi ia tetap berjaga-jaga dengan mengendap-endap untuk keluar dari sana. Sementara itu penjaga yang tadi ditusuk olehnya itu pun mencabut gunting yang tertancap di lengannya itu, lalu berjalan tertatih mengejar Riana dengan darah yang bercucuran.
"Hei wanita brengsek! Mau ke mana kau?" Teriak penjaga yang melihat Riana berlarian menuruni tangga.
Hingga akhirnya ia pun tiba di lantai dasar dan melihat pelayan yang di saat itu sedang membersihkan lantai.
"Aku mohon Bi, tolong lepaskan aku. Aku mohon jangan tangkap aku," ucap Riana mengiba.
Sedangkan sang Bibi terlihat planga-plongo ke lantai atas untuk mencari keberadaan penjaga yang di saat itu terlihat masih sangat jauh karena tubuhnya terasa semakin lemah dan kehilangan banyak darah.
"Iya Nyonya, lebih baik sekarang Nyonya pergi saja dari sini," ucap Bibi yang membiarkan Riana keluar dari Villa.
"Nyonya, ayo segera pergi dari sini sebelum ada yang kembali ke sini lagi," ucap Satpam yang sama halnya dengan pelayan tadi membiarkan Riana pergi.
Kebetulan di saat itu penjaga yang lainnya juga sedang tidak berada di villa itu, sehingga Riana pun bisa membebaskan dirinya.
"Terima kasih Bi, Pak, saya tidak akan melupakan kebaikan kalian," ucap Riana.
__ADS_1
"Iya Nyonya, lebih baik Nyonya pergi saja sekarang sebelum ada penjaga atau Tuan Pras kembali ke sini," kata satpam.
Riana menganggukkan kepalanya, lalu ia pun segera berlari meninggalkan Villa tersebut. Sedangkan Bibi kembali masuk ke dalam dan sangat terkejut melihat penjaga di saat itu sudah tergeletak di atas lantai yang diyakini ia jatuh dari tangga tersebut. Sehingga Bibi pun mendekati penjaga tersebut untuk memeriksa keadaannya.
"Syukurlah Tuan ini hanya pingsan saja. Maafkan saya Tuan, bukan saya tidak mau menolong Anda, tapi sekarang nasib saya juga masih dipertanyakan," ucap Bibi.
Bibi yang sangat takut jika nantinya ia malah ditanya hal yang macam-macam mengenai Riana, sehingga ia pun memilih pergi ke dapur dan melakukan aktivitasnya di sana.
Tidak berapa lama kemudian, Pras telah kembali ke Villa tersebut dan melihat keadaan Villa yang begitu berantakan serta menemukan penjaga yang di saat itu sudah pingsan dalam kondisi darah yang masih saja terus mengalir.
"Brengsek!" Umpat Pras di saat ia teringat akan Riana.
Sehingga bukannya memperdulikan penjaga itu, ia malah langsung berlari ke lantai atas untuk melihat Riana. Betapa terkejutnya Pras karena ia sama sekali tak menemukan wanita tersebut, yang membuatnya begitu murka lalu kembali ke lantai bawah untuk mencari keberadaan sanderanya itu tetapi sama sekali tak menemukannya.
Pras menemui Bibi di dapur dan pelayannya itu juga mengatakan jika ia tidak tahu apa-apa karena sedang memasak. Lalu Pras pun keluar menuju ke pos penjagaan, beralih bertanya kepada satpam.
"Cepat katakan di mana wanita itu. Pasti kau yang sudah membebaskannya 'kan?" Tanya Pras.
"Saya benar-benar tidak tahu Tuan. Tadi saya sedang ke toilet sebentar," jawab satpam berbohong dan berusaha untuk tidak gugup.
"Tidak Tuan, saya sudah lama bekerja di sini, mana mungkin saya berani membohongi Tuan," jawab satpam sehingga Pras pun mencoba untuk mempercayainya.
"Lalu di mana Bejo, kenapa dia tidak berada di sini?" Pras menanyakan keberadaan penjaga yang satunya lagi.
"Saya juga tidak tahu Tuan. 1 jam yang lalu dia keluar dan hanya meninggalkan temannya saja di sini," jawab satpam.
"Brengsek! Berani sekali dia pergi tanpa izinku. Sekarang kau masuk ke dalam urusi Bejo dan minta istrimu untuk mengobatinya!" Titah Pras, karena tentunya di sana tidak ada dokter terdekat.
"Baik Tuan," jawab satpam yang mengerti dan langsung saja masuk ke dalam.
Sedangkan Pras bergegas menaiki mobilnya dan mencari keberadaan Riana yang ia yakini tidak mungkin wanita tersebut pergi jauh dari Villa, karena Villa tersebut juga sangat jauh dari keramaian dan juga jalanannya yang dipenuhi dengan hutan belantara.
"Bu … Bu … , tolong bantu Tuan ini Bu … !"
__ADS_1
Mendengar suara teriakan tersebut, Bibi yang sedang memasak langsung saja menghampiri suaminya. Lalu keduanya pun langsung saja memindahkan penjaga tersebut ke sofa terdekat, karena tubuhnya lumayan cukup berat jika harus dibawa masuk ke dalam kamar. Bibi pun langsung saja membersihkan darah pada lengan penjaga tersebut dan memberikannya obat seadanya sambil menunggu kedatangan dokter.
"Pak, Bapak tidak diapa-apakan oleh Tuan Pras 'kan?" Tanya Bibi.
"Tidak Bu, Bapak baik-baik saja," jawab Satpam.
"Syukurlah Pak dan untunglah Nyonya Riana sudah berhasil kabur," ucap Bibi.
"Iya Bu, Bapak juga kasihan melihat Nyonya Riana disekap seperti itu. Untung saja tadi Bapak berhasil mengelabui Bejo sehingga dia pergi dari Villa ini. Mudah-mudahan dia tidak mengetahui jika Bapak yang sudah membuatnya pergi," ucap satpam.
Ternyata pasangan suami istri ini memang telah merencanakan semuanya untuk membebaskan Riana. Mereka sangat kasihan melihat Riana, karena pelayan tersebut melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Riana diperlakukan tidak senonoh oleh Tuan mereka itu.
Siapa yang menyangka jika niat hati pelayan dan satpam yang ingin membebaskan Riana di hari itu dengan mengelabui salah satu penjaga untuk meninggalkan Villa, ternyata Riana juga sudah merencanakan untuk melarikan diri. Sehingga semuanya pun berjalan dengan lancar.
*****
Sementara itu Steve, Leo dan Derry masih berada di perjalanan untuk mencari keberadaan Riana. Meskipun saat ini keadaan Steve benar-benar sudah tidak stabil, tetapi ia tetap nekat ingin mencari istrinya dan tidak mau dibawa ke rumah sakit selagi ia masih sadar. Sehingga Derry dan Leo pun tetap membiarkannya saja, mungkin dia tidak bisa tenang sampai menemukan istrinya itu. Mereka pun tetap mencari keberadaan Riana dari malam hari hingga pagi menjelang tanpa rasa lelah.
"Leo, apa kau yakin jika dengan jalanan seperti ini akan membawa kita menuju ke sebuah Villa?" Tanya Derry saat mereka melewati jalan setapak yang dikelilingi hutan belantara.
"Menurut info yang aku dapat memang melewati jalan ini Om untuk kita menuju ke sebuh Villa. Bahkan jumlahnya tidak hanya 1 Villa saja dan Villa tersebut merupakan Villa pribadi atau juga disewakan. Mungkin saja salah satu Villa di sana adalah tempat di mana Riana di sekap seperti kata preman tadi," jawab Leo.
"Kita sudah hampir 2 jam berada di perjalanan menuju ke sini. Jika aku tidak menemukan Riana maka aku akan membunuhmu Leo," ucap Steve lirih.
"Sebelum kau mati, lebih baik kau diam saja dan nikmati hidupmu itu," tukas Leo.
Sedangkan Derry hanya menatap keduanya secara bergantian, rasanya sudah sangat bosan memberitahu mereka untuk tidak bertengkar, karena pada kenyataannya mereka akan mengulanginya lagi.
Riana masih tampak berlarian melewati jalanan yang cukup sepi, tak tahu arah tujuannya. Ia hanya mengikuti langkah kakinya yang sudah terlihat semakin lemah. Akan tetapi Riana tak mau menyerah walaupun ia sudah terlihat semakin menjauh dari Villa.
Meskipun saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 07.00 WIB, tetapi jalannya masih terlihat gelap karena banyaknya pohon yang begitu rindang sehingga menutupi jalan. Riana yang merasa tubuhnya semakin terasa lelah, kakinya juga sudah tak kuat lagi untuk melangkah dan juga ingin menyerah, hingga tanpa sadar ia menghentikan langkah kakinya itu di tengah jalan. Hingga tiba-tiba saja …
Din …
Suara klakson mobil mengejutkannya, tetapi langkah kakinya terasa sangat berat untuk menghindar. Sehingga ia pun pasrah berada di tengah jalan tersebut menunggu apa yang akan terjadi pada dirinya.
__ADS_1
"Akh … !"
Bersambung …