Istri Tak Diakui

Istri Tak Diakui
Penyemangat Pagi


__ADS_3

"Kau sudah bangun Sayang?" Tanya Steve saat Riana membuka matanya. Di saat itu Steve sedang memandangi wajah istrinya dengan posisi mereka yang masih saling berpelukan dan juga tanpa sehelai benang pun, sehingga terasa kulit keduanya yang saling menyentuh.


"Morning Mas," ucap Riana tersenyum karena melihat wajah tampan suaminya itu.


"Morning too," balas Steve yang mengecup sekilas bibir sang istri, membuat Riana benar-benar merasa sangat bahagia.


"Mas ini apa?" Riana merasa sangat terkejut karena merasakan sesuatu yang tampak mengeras dan menyentuh tubuhnya itu.


"Kau tidak perlu terkejut seperti itu, tadi malam kau juga sudah merasakannya dengan puas. Apa sekarang kau mau lagi? Sepertinya sekarang ini dia sedang mencari sarangnya," ucap Steve tersenyum.


"Mas, aku serius. Sudah ah aku mau mandi dulu, aku mau membersihkan diri. Tapi tubuhku rasanya sakit semua Mas," rengek Riana.


"Aku juga serius Sayang. Itu karena kau belum terbiasa, kalau setiap malam kita melakukannya dan berulang kali seperti tadi malam, aku yakin pasti kau tidak akan merasakan sakit lagi," ujar Steve yang mengerlingkan matanya, menggoda sang istri.


"Kenapa pikiranmu menjadi mesum terus seperti ini sih Mas," kata Riana.


"Tapi kau suka 'kan?" Goda Steve lagi.


"Ya aku memang lebih menyukaimu yang seperti ini daripada sifat dinginmu itu, tapi juga tidak setiap malam lah Mas. Memangnya kau tidak lelah?" Tanya Riana.


"Untuk yang ini aku tidak akan lelah," sahut Steve yang langsung saja mengubah posisinya hingga berada di atas Riana.


"Mas, kau mau apa?" Pekik Riana karena tiba-tiba Steve menciumi lehernya.


"Berikan aku penyemangat pagi, please sekali saja," pinta Steve.


"Mas apa kau belum puas? Tadi malam saja aku sampai tidak sadar lagi berapa kali kau melakukannya, aku benar-benar lelah Mas," ungkap Riana.


"Please sekali saja, jika kau lelah kau diam saja dan biar aku yang melakukannya. Aku janji setelah itu kita langsung mandi," ucap Steve sehingga Riana pun tak tega untuk menolak permintaan suaminya itu.


Steve merasa sangat senang karena pada akhirnya Riana pun menganggukkan kepala menyetujuinya, sehingga ia pun langsung saja melakukan penyatuan sembari memberikan sentuhan-sentuhan hangat hingga tidak membutuhkan waktu lama keduanya telah mencapai puncak kenikmatan.

__ADS_1


"Terimakasih Sayang," ucap Steve sembari mengecup kening Riana dengan sangat mesra.


"Iya Mas sama-sama. Ya sudah kalau begitu aku mau mandi dulu ya," ucap Riana.


"Mandi sama-sama ya," celetuk Steve.


"Tidak Mas, lebih baik kita mandi masing-masing saja," tolak Riana yang sudah tahu akal bulus suaminya itu, pastinya nanti akan meminta lagi jika mereka mandi bersama.


"Ya sudah kalau begitu kau mandi saja dulu," tukas Steve tersenyum gemas melihat istrinya itu.


"Akh," rintih Riana saat hendak melangkahkan kakinya, merasakan sesuatu yang perih di bawah sana.


"Kenapa Sayang? Pasti karena ulahku tadi malam yang membuatmu kesakitan ya?" Tanya Steve yang merasa cemas.


"Hanya sedikit perih Mas," sahut Riana.


"Aku minta maaf ya, tapi aku yakin nanti pasti akan sembuh dengan sendirinya. Apalagi jika nanti sudah terbiasa pasti tidak akan perih lagi," ucap Steve yang sudah beberapa kali terdengar di telinga Riana.


*****


"Argh … ini tidak bisa dibiarkan Tante. Aku tidak terima melihat Riana dan Steve semakin lama semakin mesra bukannya semakin menjauh. Aku tidak mau tahu Tante harus pikirkan gimana caranya supaya Steve menceraikan Riana dan cepat menikahi aku," hardik Bella yang terlihat sangat emosi.


"Kau harus sabar Bella, karena tidak bisa semudah itu. Kau 'kan tahu sendiri jika Steve itu orangnya keras kepala, Tante harus benar-benar mencari cara yang matang, tidak bisa sembarang. Lagipula Tante heran apa sih yang wanita itu lakukan sampai Steve bisa berubah pikiran dan menuruti apa katanya seperti itu," ucap Laras yang tak habis pikir.


"Sampai kapan lagi aku harus bersabar Tante. Aku rasa wanita itu melakukan suatu cara yang tidak benar Tan, bisa saja 'kan waktu itu dia menjebak Steve atau bisa saja dia menggunakan pelet untuk membuat Steve mencintainya," ujar Bella asal.


"Kau ini bicara apa Bella, memangnya ini zaman apa masih ada hal seperti itu," bantah Laras.


"Apapun bisa saja dilakukan seseorang untuk mendapatkan apa yang diinginkannya Tante. Aku yakin pasti Riana sudah melakukan cara licik itu, kalau tidak mana mungkin Steve bisa secepat itu takluk dengan Riana. Bahkan aku saja yang sudah lama dekat dengan Steve, Steve sama sekali tidak melirikku. Padahal apa kurangnya aku Tante, aku lebih cantik, lebih seksi dan aku lebih baik dari wanita itu. Hubunganku dengan Steve dari dulu juga sudah dekat, berbeda dengan Riana dan Steve 'kan? Pokoknya aku tidak terima Tante, lihat saja aku pasti akan melakukan suatu cara supaya mereka berpisah." Bella terus saja mempengaruhi Laras agar wanita paruh baya itu semakin membenci Riana dan mendukung hubungannya dengan Steve.


"Ya sudah terserah kau saja, Tante percayakan padamu yang penting mereka berdua bisa berpisah dan setelah itu kau akan menjadi menantu Tante secepatnya," ucap Laras mengulas senyum tipis.

__ADS_1


"Oke Tante kalau memang seperti itu, kalau memang Tante percaya denganku, aku akan melakukannya. Tante tenang saja, Tante tidak akan pernah rugi jika aku menjadi menantu Tante," tukas Bella.


"Ya dari awal juga Tante sudah percaya denganmu Bella. Tante sama sekali tidak pernah menyukai menantu Tante itu, maka itu Tante selalu berusaha untuk membuat Steve berpisah dengan Riana," ucap Laras.


"Terimakasih Tante," ucap Bella.


"Sama-sama Sayang. Oh ya jadi bagaimana, apa kau sudah mendapatkan tas branded yang kau janjikan itu?" Tanya Laras mengingat janji Bella yang ingin membelikannya tas branded dari luar negeri.


"Oh ya soal itu Tante tenang saja, aku sudah memesannya khusus untuk Tante. Jadi aku yakin Tante pasti akan segera memilikinya," ucap Bella yang memang sudah menghabiskan banyak uang hanya demi ibu dari pria yang dicintainya itu.


"Dasar wanita tua bangka, jika nanti aku sudah menjadi menantumu aku pastikan kau harus membayar ini semua. Ya anggap saja saat ini kau telah berhutang padaku," batin Bella yang sebenarnya sangat tidak menyukai Laras karena sifatnya begitu matre dan terlihat sangat memanfaatkannya.


*****


Steve memijat-mijat keningnya sendiri karena merasa sangat pusing dengan apa yang tiba-tiba saja terjadi di perusahaannya. Pasalnya investor yang sudah menanamkan saham besar di perusahaannya, tiba-tiba menarik sahamnya kembali tanpa tahu jelas apa masalahnya. Tentu saja hal itu akan membuat Steve mengalami kerugian besar karena proyek sudah berjalan. Padahal baru saja ia merasakan bahagia karena mendapatkan penyemangat pagi dari sang istri, tapi setelah tiba di kantor ia malah dikejutkan dengan kejadian yang yang benar-benar tak pernah di duga sebelumnya. Selama Steve bekerjasama dengan perusahaan lain, baru kali ini ada kejadian buruk seperti saat ini yang membuat otaknya terasa mau pecah.


"Tuan, setelah aku selidiki ternyata ada seseorang yang menyabotase Perusahaan X lalu memberikan laporan palsu kepada perusahaan Y, sehingga perusahaan itu pun langsung saja mencabut seluruh sahamnya di Perusahaan X," terang Dev yang merupakan asisten Steve.


"Siapa dia? Kenapa dia bisa dengan sangat mudah menyabotase perusahaan yang sudah jelas-jelas sangat kita jaga keamanannya?" Tanya Steve tak habis pikir dan merasa kebingungan.


"Aku rasa ada orang dalam Tuan dan saat ini aku sedang menyelidikinya," ujar Dev.


"Ya kau benar, aku juga sempat berpikiran seperti itu. Cepat selidiki dan tangkap orangnya, jangan sampai dia melarikan diri!" Titah Steve.


"Baik Tuan, akan segera aku lakukan dan ini Tuan laporannya. Tuan bisa memeriksanya dulu untuk saat ini," ucap Dev yang menyerahkan berkas kepada tuannya itu.


Setelah Steve menerima berkas tersebut, Dev pun langsung saja keluar dari ruang CEO meninggalkan Steve yang tidak mau diganggu karena sangat stres memikirkan masalah perusahaannya saat ini.


"Apa?"


Steve sangat terkejut setelah melihat siapa nama investor Perusahaan Y yang sudah menarik sahamnya itu.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2