Istri Tak Diakui

Istri Tak Diakui
Memilih Diam


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju pulang ke rumah, tak ada percakapan antara Steve dan Riana. Riana seakan sangat marah terhadap apa yang baru saja dilakukan oleh suaminya itu. Suasana benar-benar hening sehingga membuat Alana pun memutar otaknya mencari cara agar kedua orang tuanya itu berbicara, seakan tahu jika mereka sedang memiliki masalah.


"Mama, Papa," panggil Alana.


"Iya Sayang," jawab Steve dan Riana secara bersamaan.


"Tolong ambilkan minuman Alana dong," pinta Alana sehingga membuat Riana pun langsung saja mengambil minuman anaknya yang berada di samping kursi pengemudi, lalu disusul oleh Steve hingga tanpa sengaja ia pun memegang tangan Riana, membuat Alana tertawa cekikikan dengan menutup mulutnya itu. Akan tetapi dengan cepat Steve tersadar dan mengalihkan tangannya.


"Sayang, kamu jahil ya," kata Riana sembari menggelitik anak tirinya itu.


"Ha … ha … Ha … ampun Ma, geli Ma, ha … ha … ha … Ma geli," tawa Alana seraya menggerakkan tubuhnya, sehingga membuat mobil pun sedikit bergoyang.


Chit …


Tiba-tiba saja Steve mengerem mobilnya itu secara mendadak. Untung saja jalanan tampak sepi, sehingga tidak ada kendaraan lain yang ikut berhenti mendadak dan akan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Seketika membuat Riana dan Alana pun menjadi terkejut dan terdiam. Apalagi setelah menyadari jika saat ini Steve sedang menatap mereka dengan sangat tajam.


"Kalian berdua ini apa-apaan sih. Tidak tahu kita sedang berada di jalan ya, kenapa malah bercanda? Kamu juga Alana kamu kalau mau bercanda itu ya tahu tempat, kenapa kamu malah mengerjai orang tua seperti itu. Papa ini sedang fokus menyetir, kamu ini sudah besar semakin ada-ada saja kelakuan kamu!" Bentak Steve tanpa sadar telah membuat anaknya itu merasa sedih dan menjadi takut mendengar suara bentakan Steve.


"Maaf Pa," ucap Alana lirih, lalu membalikkan tubuhnya dan memeluk sang ibu sembari menangis.


"Sayang, jangan nangis ya," pujuk Riana.


"Kau juga Riana, sebagai orang tua seharusnya kau itu mengajarkan anak hal yang baik, bukan malah ikut-ikutan bercanda di jalanan, itu sangat berbahaya. Bagaimana jika aku tidak fokus menyetir dan menyebabkan kecelakaan? Apa kau mau terjadi sesuatu yang tidak baik dengan kita." Kini Steve beralih memarahi sang istri. Akan tetapi Riana yang sangat enggan untuk berdebat dengan suaminya saat ini hanya geleng-geleng kepala saja dan fokus memeluk anaknya dengan erat seraya mengusap pundaknya dengan lembut, memberikannya ketenangan agar tidak lagi merasa takut.


Lalu Steve pun kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi seolah melampiaskan rasa amarahnya. Entah karena perbuatan Alana dan Riana tadi yang sebenarnya sama sekali tidak lagi menjadi masalah, toh mereka juga baik-baik saja atau karena Riana yang tak menanggapi ucapannya. Riana hanya mampu mengucap di dalam hati merasakan lajunya mobil yang dikemudikan oleh Steve tanpa berani untuk protes. Sedangkan Alana yang merasa ketakutan pun tak dapat berbicara apapun, ia hanya mencari perlindungan dengan memeluk ibunya semakin erat.


------


Tidak membutuhkan waktu lama, kini mereka pun telah tiba di rumah. Riana langsung saja turun dari mobil menggendong Alana yang masih memeluknya.

__ADS_1


"Ma, aku mau muntah," rengek Riana.


"Iya Sayang, sebentar ya Mama bawa kamu ke sana," kata Riana yang langsung saja membawa anaknya ke tempat dimana ada air kerannya, sehingga nanti mudah untuk membersihkan apa yang terjadi.


Setibanya di samping rumah, bukan hanya Alana saja tetapi juga Riana yang ikut mengeluarkan seluruh isi perutnya yang sedari tadi seakan terasa diaduk-aduk. Kini keduanya pun tampak lemah setelah melakukan aktivitas itu, membuat Steve mendekati keduanya dan merasa khawatir.


"Alana, kamu tidak apa-apa Sayang?" Tanya Steve sembari menepuk pelan pundak sang anak, meskipun tadi Riana sudah melakukannya.


"Aku tidak apa-apa Pa, tadi aku hanya mual aja, tapi sekarang udah enak karena udah muntah," jawab Alana.


"Maafkan Papa ya Sayang, pasti karena Papa terlalu laju ya bawa mobilnya. Ayo sekarang kita masuk," ucap Steve.


"Nggak apa-apa kok Pa, Mama juga muntah tadi. Aku mau masuk sama Mama aja ya Pa," jawab Alana.


"Riana, apa kau baik-baik saja?" Tanya Steve tanpa jawaban sama sekali dari Riana. Wanita itu malah menggendong Alana dan membawanya masuk ke dalam rumah.


Steve terdiam sejenak menatap punggung kepergian Riana, lalu mengikuti anak dan istrinya itu masuk ke dalam rumah.


"Sayang, bagaimana mualnya, apa sudah hilang?" Tanya Riana yang terlihat sangat cemas.


"Sudah Ma, terimakasih ya Ma. Mama sendiri gimana?" Jawab Alana dan bertanya balik, karena ia juga melihat bagaimana ibunya itu memuntahkan isi perutnya.


"Mama juga sudah enakan kok," jawab Riana.


"Mama juga pakai minyak anginnya dong, sini biar aku yang pakaikan," kata Alana yang tadi dalam posisi berbaring kini sudah duduk di samping Riana.


"Boleh," jawab Riana yang sangat menyetujui, lalu ia pun berbaring di tempat tidur dan Alana mulai mengoleskan minyak angin tersebut pada perut dan juga punggung Riana seperti apa yang dilakukan oleh ibunya tadi kepadanya.


Steve yang melihat dari celah pintu itu pun merasa bersalah terhadap keduanya, apalagi melihat Riana yang hanya diam tak menggubrisnya sama sekali. Padahal biasanya Riana selalu saja membantah setiap ucapannya itu. Lalu terlihat Riana dan Alana yang berbaring, sehingga ia pun meninggalkan kamar Alana, membiarkan mereka berdua beristirahat.

__ADS_1


*****


Riana mengerjap-ngerjapkan matanya yang masih terasa sangat berat, hingga di saat itu pun matanya terbuka lebar dan menyadari jika saat ini ia masih berada di kamar Alana dengan Alana yang masih tidur dengan memeluknya.


"Jam berapa ini, gumam Riana lalu melirik jam weker yang ada di atas nakas samping tempat tidur anaknya itu.


"Hah jam 17.00 WIB, berarti lumayan lama juga aku dan Alana tidur," gumam Riana yang mengingat jika tadi mereka tiba di rumah pukul 14.00 WIB.


Riana mencoba mengangkat tangan mungil Alana karena ia ingin segera bangun, akan tetapi karena Riana menggerakkan tubuhnya malah membuat Alana pun juga ikut terbangun.


"Mama mau kemana?" Tanya Alana.


"Sayang, maaf ya Mama mengganggu tidur kamu. Ini udah jam 17.00 WIB Sayang, Mama mau bangun dulu, mau mandi terus siapkan makan malam kita," kata Riana yang tak pernah lupa dengan kewajibannya sebagai seorang istri, meskipun saat ini ia memilih diam untuk tak meladeni Steve agar suaminya itu juga tidak selalu marah-marah dan menjadikan Alana sebagai pelampiasannya.


"Ya sudah Ma kalau begitu Alana juga mau mandi ya. Aku mandi sendiri aja, jadi Mama juga bisa langsung mandi," kata Alana.


"Anak pintar, ya sudah Mama keluar dulu nanti Mama minta Bibi yang bantu untuk menyiapkan pakaian kamu ya," tutur Riana.


"Nggak usah Ma. Aku 'kan udah besar, jadi aku bisa sendiri kok," tolak Alana.


"Tetap saja Mama akan meminta Bibi untuk mengawasi kamu," ucap Riana kekeh.


"Iya Ma," jawab Alana diiringi anggukan kepalanya, membuat Riana merasa lega dan memberikan senyuman terbaik untuk anaknya itu. Lalu ia pun keluar dari kamar Alana dan menuju ke kamarnya sendiri.


------


Saat berada di kamar, Riana yang melihat Steve berada di kamar sedang membaca buku di atas tempat tidur, berpura-pura tidak melihat suaminya itu.


"Kau sudah bangun? Bagaimana keadaan Alana?" Tanya Steve dan lagi-lagi Riana tak menjawabnya, ia tetap memilih diam dengan melangkahkan kakinya hendak masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


"Riana, apa sekarang kau itu budek ya atau bisu? Aku sedang berbicara denganmu!" Bentak Steve dan tiba-tiba saja bangkit dari tempat tidur dan menarik tangan Riana dengan kasar, lalu mendorong tubuh Riana hingga menempel ke dinding serta menatapnya dengan tajam, membuat Riana benar-benar sangat terkejut atas perlakuan suaminya itu.


Bersambung …


__ADS_2