
"Aku mohon jangan tinggalkan aku lagi Sayang. Aku benar-benar tidak bisa hidup tanpamu, aku mencintaimu Riana. Aku janji, aku tidak akan bersikap kasar lagi padamu," ucap Steve yang semakin mengeratkan pelukannya.
Akan tetapi semakin lama tubuh Riana semakin menghilang hingga lenyap begitu saja. Sehingga Steve menyadari jika itu hanyalah khayalannya saja. Ia yang terlalu merindukan sang istri sampai terbayang jika saat ini Riana berada di dalam kamar tersebut dan menunggu kepulangannya seperti biasa.
Steve meringkuk di sudut kamarnya itu, ia benar-benar merasa hidupnya sangat hancur. Perusahaannya yang sebentar lagi sudah pasti akan menjadi milik orang lain dan sekarang istrinya pun telah pergi meninggalkannya. Mungkin saja Riana benar-benar memilih untuk menikah dengan pria yang juga mencintainya.
"Ke mana aku harus mencari Riana sekarang? Riana benar-benar sudah tak lagi menginginkanku, dia benar-benar sudah pergi meninggalkanku. Apa mungkin ini semua adalah balasan karena aku dulu telah menyia-nyiakan Riana, aku tidak pernah mengakuinya sebagai istriku sehingga sekarang setelah aku benar-benar mencintainya, Riana malah pergi meninggalkanku dan membuat aku sadar jika wanita tersebut begitu berarti dalam hidupku," gumam Steve yang menangis tersedu-sedu.
Di saat itu pun ponselnya berdering ada panggilan masuk dari nomor yang tak dikenal, sehingga membuat Steve pun membanting ponsel tersebut, enggan untuk menjawabnya. Tetapi nomor itu pun kembali menghubunginya, yang membuat Steve merasa jika mungkin saja ada sesuatu yang penting atau mungkin juga itu adalah kabar tentang istrinya. Hingga Steve meraih ponsel yang tadi ia campakkan di atas tempat tidur dan menjawab telepon tersebut.
"Mas, tolong aku Mas … !"
Terdengar suara seorang wanita yang sangat tidak asing di telinga Steve dan tentunya membuat ia merasa sangat terkejut.
"Riana, Sayang kau kenapa? Kau ada di mana Sayang?" Tanya Steve yang merasa panik.
"Halo Tuan Steve. Jika kau ingin istrimu selamat, sekarang juga kau harus datang ke Jalan X dan membawa uang sebesar 500 juta untuk menebusnya. Jika kau bisa membawa uang itu dengan tepat waktu dan tidak membawa siapapun, apalagi polisi maka aku akan menukarkannya dengan istri tercintamu ini," ucap seorang pria dari seberang telepon dan sama sekali tidak Steve kenali.
"Brengsek, siapa kau! Apa yang kau lakukan pada istriku, kenapa kau menculiknya? Katakan siapa yang menyuruhmu bedebah!" Teriak Steve dengan sangat emosi.
"Sudahlah, jika kau ingin melihat istrimu selamat cepat datang ke sini seperti apa yang aku perintahkan tadi. Ingat jangan lupa uang 500 juta itu," kata orang tersebut lalu memutuskan panggilan telepon.
"Halo … halo … !" Pekik Steve, pada kenyataannya nomor itu sudah tak lagi tersambung.
------
Tak mau menunda dan demi keselamatan istrinya, Steve pun langsung saja bersiap hendak pergi ke lokasi yang ditentukan oleh si penelepon tadi. Akan tetapi di saat itu tiba-tiba ia teringat jika saat ini ia sudah tak lagi memiliki uang dengan jumlah sebanyak itu. Uang yang paling banyak di dalam rekeningnya saat ini hanyalah senilai 100 juta dan itu pun untuk membayar gaji pegawainya dan memang sengaja ia simpan untuk membantu menstabilkan perusahaannya nanti.
__ADS_1
Lalu bagaimana ia harus mendapatkan uang itu sekarang? Sementara nyawa Riana sudah sangat terancam. Tidak ada pilihan lain ia pun segera saja menelepon ibunya dan meminta bantuan. Akan tetapi seperti dugaan Steve, Laras tidak akan mungkin mau membantunya apalagi alasannya itu adalah untuk Riana. malah Laras mengatakan kepada Steve untuk meminta bantuan Bella, tentu saja ia tidak mau. Sudah pasti wanita itu akan meminta syarat yang bukan-bukan jika ia meminta bantuannya.
Sehingga pilihan terakhirnya saat ini adalah menghubungi orang tua Devina yang merupakan orang tua angkat istrinya itu. Setelah menghubungi Derry dan mengatakan tujuannya meminjam uang, tentu saja Derry pun langsung bersedia untuk membantunya. Bahkan Derry dan juga Leo meminta untuk ikut Steve ke lokasi tersebut untuk berjaga-jaga dengan membawa uang yang diminta oleh penculik tadi.
Lalu Steve pun mampir ke rumah orang tua mendiang istrinya itu untuk menjemput Derry dan Leo agar tidak terlalu ketahuan jika mereka datang bertiga karena menggunakan 1 mobil. Karena memang tadi Steve sudah diingatkan agar tidak membawa orang lain, apalagi polisi.
*****
"Kau ini bagaimana sih, menjaga istrimu saja tidak becus seperti itu! Bisa-bisanya Riana sampai diculik. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengannya, apa kau mau bertanggung jawab hah!" Bentak Leo saat mereka sedang dalam perjalanan.
"Diam! Aku minta kau diam atau aku akan menurunkanmu di sini!" Bentak Steve.
"Tutup mulutmu Leo! Kau tahu 'kan keadaannya sekarang sedang seperti apa dan bahkan kau juga tahu jika Riana itu istri Steve, jadi sudahlah jangan membuat keadaan semakin memburuk," tukas Derry.
"Iya Om, aku minta maaf," ucap Leo dan akhirnya ia pun memilih diam.
Jika ia terus saja berbicara, sudah pasti bukan hanya Steve yang akan memarahinya tetapi juga dengan Derry seperti saat ini.
------
"Steve, apa kau yakin tempatnya di sini?" Tanya Derry yang melihat tempat tersebut seperti tidak meyakinkan.
"Iya, aku yakin Pa. Aku akan turun dulu, Papa dan Leo tunggu saja di sini dan jangan sampai ada preman yang melihat kalian," ucap Steve.
"Ya, kau hati-hati Steve. Kami akan mengawasimu dari sini," ucap Derry.
Steve menggangguk, lalu ia pun turun dari mobil dan berjalan mendekati bangunan tersebut. Tiba-tiba saja terlihat seorang preman berbadan besar yang berjalan mendekatinya.
__ADS_1
"Apa kau adalah Steve?" Tanya preman tersebut.
"Ya, di mana istriku? Aku sudah membawa uang yang kalian minta," ucap Steve menunjukkan koper yang ditentengnya.
"Bagus, kalau begitu buka kopernya. Aku ingin memastikan jika itu benar-benar uang," titah preman itu.
"Tunjukkan dulu di mana istriku, baru aku akan memperlihatkannya. Apa kau pikir aku juga percaya jika istriku berada di tangan kalian tanpa bukti," ucap Steve yang membalikkan ucapan tersebut.
"Oke!"
Plok … plok … plok …
Jawab preman tersebut lalu menepuk tangannya sebanyak 3 kali. Hingga di saat itu pun terlihat 2 orang yang keluar dengan membawa seseorang yang kepalanya ditutupi oleh kantong plastik.
Meskipun lampu di sana tidak terlalu terang, apalagi posisinya di malam hari, lalu wajah orang yang bersama dengan preman itu juga ditutupi, tetapi Steve bisa melihat jika wanita itu adalah istrinya. Ia sangat yakin karena pernah melihat flatshoes yang digunakan oleh wanita tersebut. Begitu juga dengan dress yang saat ini digunakannya memang benar adalah milik Riana.
"Sekarang cepat serahkan uang itu!" Titah preman tersebut.
"Tidak bisa, aku tidak percaya. Bisa saja kalian mengelabuiku, jadi aku minta buka dulu kantong plastiknya baru aku akan percaya," ucap Steve.
"Banyak bacot! Cepat serahkan uang itu atau aku akan membunuh wanita ini," kata preman yang menyodorkan pisau tepat di samping leher tawanannya itu.
"Jangan, aku mohon jangan kau apa-apakan istriku," pinta Steve.
"Sekarang kau percaya jika ini adalah istrimu, lalu kenapa kau menunda-nundanya," tukas preman.
"Oke aku akan meletakkan uang ini di sini, tetapi kalian juga serahkan istriku," ucap Steve lalu ia pun meletakkan koper yang berisi uang itu tepat di depan preman.
__ADS_1
Preman tersebut juga mencampakkan wanita yang sedari tadi mereka tahan ke pelukan Steve. Lalu mengambil koper yang berisi uang dan membawanya pergi. Begitu juga dengan Steve yang langsung membuka kantong plastik yang menutupi wajah istrinya itu. Akan tetapi di saat kantong itu terbuka, Steve merasa sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya saat ini.
Bersambung …