
Tak hanya menampar dan memakinya saja Laras juga menarik rambut Riana dan mendorong tubuhnya itu ke dinding dengan sangat kuat.
"Mi, tolong lepaskan aku Mi," pinta Riana lirih karena rasanya begitu sangat sakit.
"Aku tidak akan melepaskanmu! Dasar wanita tidak tahu diuntung. Kau tahu bahwa perusahaan suamimu itu sedang bermasalah tapi kau hanya diam saja, kau tidak melakukan apapun untuk menolongnya hah!" Teriak Laras.
Sesuai dengan dugaan Riana, bahwa ibu mertuanya itu pasti akan sangat marah jika mengetahui apa yang sedang terjadi sedangkan ia tidak bisa melakukan apapun untuk membantu suaminya itu.
"Memangnya apa yang harus aku lakukan Mi, tolong beritahu aku," ucap Riana yang membuat ibu mertuanya itu semakin murka dan menarik rambutnya lebih kuat lagi.
"Akh … lepaskan aku Mi, lepaskan … !" Teriak Riana, sehingga di saat itu pun Susi, ART yang bekerja di rumah itu bersama Alana datang menghampiri mereka.
"Oma … lepaskan Mama Oma, kasihan Mama!" Teriak Alana diiringi tangisannya.
"Jangan mendekat! Kalian berdua jangan mendekatiku dan aku tidak akan melepaskan wanita ini karena dia telah membuat kesialan dalam keluargaku," tegas Laras yang menatap tajam ke arah keduanya.
Alana benar-benar merasa ketakutan, ia tak menyangka jika neneknya bisa menjadi sekejam itu, terlihat bukan seperti sifat asli sang nenek atau mungkin memang sifat aslinya yang belum diketahui oleh Alana. Di mata Alana, Laras saat ini terlihat seperti monster atau orang yang sedang kesetanan. Akan tetapi Alana juga tidak bisa diam saja melihat ibunya yang disakiti oleh neneknya seperti itu.
"Oma, kasihan Mama Oma. Mama … !" Teriak Alana yang hendak berlari mendekati mereka. Tetapi Bi Susi mencegahnya lalu memeluk Alana.
"Dengar ya Riana, jika kau berani mengadu tentang perbuatanku ini kepada suamimu, maka aku pastikan aku akan membuatmu lebih menderita lagi. Terserah kau bagaimana caranya kau membuat cucuku dan ART ini juga tidak membicarakan hal ini kepada Anakku, jika sampai Steve tahu masalah ini sudah pasti itu semua adalah karena kesalahanmu. Jangan kau pikir aku tidak berani berbuat macam-macam denganmu meskipun selama ini aku membiarkanmu menjadi istri dari Anakku. Kau sendiri tahu aku sangat tidak menyukaimu," tukas Laras kemudian menghentakkan tangannya dengan sangat kuat lalu melepaskannya.
"Akh … !" Teriak Riana karena merasa kesakitan, seakan rambutnya itu terasa ingin lepas dari kepalanya.
__ADS_1
Riana menangis, selain merasa sakit karena ibu mertuanya menarik rambutnya, ia juga merasa sedih karena tidak menyangka jika Laras akan bersikap kasar seperti itu kepadanya. Jika yang selama ini yang ia rasakan selalu siksaan lewat batin, saat ini Laras telah menyiksanya melalui fisik juga.
Setelah puas menghina dan menyakiti menantunya itu, Laras pun segera saja pergi meninggalkan kediaman anaknya tanpa merasa bersalah sedikitpun. Sedangkan Alana setelah melihat neneknya pergi, ia pun langsung berlari menghampiri ibunya.
"Mama," ucap Alana yang menghamburkan pelukannya diiringi tangis sesenggukan.
"Sayang, jangan menangis lagi ya. Mama tidak apa-apa Sayang, Mama baik-baik saja," ucap Riana yang meyakinkan anaknya itu. "Oh iya Alana sayang 'kan sama Mama?" Tanyanya sembari melerai pelukan mereka.
Alana menganggukkan kepalanya dan menjawab, "Iya Ma, aku sayang sama Mama."
"Kalau begitu, Mama minta tolong jangan beritahu ke Papa tentang apa yang tadi baru saja terjadi. Mama yakin Oma hanya sedang diliputi rasa amarah saja, sebenarnya Oma tidak seperti itu kok Sayang. Kau juga tahu 'kan bagaimana Oma, Oma itu adalah orang yang baik, jadi Mama sangat yakin Oma hanya salah paham terhadap Mama," ucap Riana yang berusaha untuk membujuk anaknya itu. Ia juga tidak mau jika Alana akan menilai sikap neneknya buruk, apalagi sampai merasa trauma dengan kejadian yang dilihat di depan matanya.
"Bi Susi juga, aku minta tolong jangan beritahukan ini kepada suamiku ya Bi. Bibi juga dengar sendiri 'kan apa yang akan terjadi jika Mas Steve tahu. Aku mohon biar masalah ini cepat selesai dan aku tidak mau menambah masalah lagi, kasihan suamiku yang saat ini sedang banyak pikiran," pinta Riana kepada ART-nya pula.
Begitu juga dengan Bi Susi yang mengangguk dan mengerti. Meskipun sebenarnya ia sangat kasihan terhadap nyonyanya tersebut, tetapi ia juga hanyalah seorang pembantu yang tidak bisa berbuat banyak. Apalagi ia masih sangat membutuhkan pekerjaan, jika mengadu sudah pasti pekerjaannya juga akan sangat terancam.
*****
"Mas, akhirnya kau pulang juga. Bagaimana, apa sudah ada kemajuan?" Tanya Riana yang melihat suaminya itu baru saja pulang dari perusahaan.
"Belum Sayang, Tuan Dante juga tidak bisa dihubungi. Aku tidak tahu di mana keberadaan Tuan Dante sekarang, karena satu-satunya harapan hanya Tuan Dante. Beliau tidak mungkin membiarkan perusahaan milik mendiang Ayahku hancur begitu saja, apalagi karena anaknya yang berbuat kecurangan. Bagaimanapun juga Ayahku merupakan partner bisnisnya dulu, bahkan Ayah juga pernah menolong Tuan Dante di saat perusahaannya hampir bangkrut dan membutuhkan banyak uang. Tapi sepertinya Pras sengaja menyembunyikan ayahnya supaya dia bisa menghancurkanku," terang Steve yang terlihat sangat lesu.
"Mas, kau yang sabar ya. Mudah-mudahan masalah ini akan cepat selesai," ucap Riana.
__ADS_1
"Iya Sayang, terimakasih ya doanya. Kau kenapa belum tidur?" Tanya Steve.
Padahal ini sudah pukul 00.30 WIB, tetapi istrinya itu masih belum juga tidur dan tampak melamun. Biasanya Riana akan tidur terlebih dahulu jika Steve pulang hingga larut malam seperti ini.
"Iya Mas, aku belum mengantuk jadi aku menunggumu pulang saja seperti biasa," jawab Riana berbohong.
Alasan sebenarnya itu karena Riana terus saja mengingat siksaan dari ibu mertuanya yang terjadi beberapa hari yang berlalu. Begitu juga dengan rencana apa yang akan ia lakukan untuk membantu suaminya tersebut.
"Kau yakin tidak terjadi sesuatu? Aku lihat beberapa hari ini kau seperti sedang menyimpan sesuatu dariku, ada masalah apa?" Tanya Steve yang mendekati istrinya itu, lalu membelai rambutnya dengan sangat lembut.
"Tidak ada apa-apa Mas, lebih baik kau membersihkan tubuhmu dulu. Kau juga pasti sudah terasa sangat lelah. Apa kau sudah makan?" Jawab Riana yang berupaya untuk menyembunyikan masalahnya dari Steve, ia tidak mau menambah beban suaminya itu.
"Sudah, tadi aku makan makanan yang kau kirimkan itu," jawab Steve.
Memang Riana selalu mengirim makan malam ke perusahaan jika suaminya itu terlambat pulang atau bahkan Riana sendiri yang mengantarnya.
"Syukurlah, ya sudah lebih baik kau mandi saja dulu Mas, supaya tubuhmu lebih segar," ujar Riana, sehingga Steve pun bergegas menuju ke kamar mandi.
"Aku tidak bisa diam begini terus, kasihan Mas Steve. Sepertinya upaya yang dia lakukan sama sekali tidak berhasil dan aku yakin Pras seperti sedang bermain-main dengannya, Pras sengaja ingin membuat Mas Steve merasa sangat lelah terlebih dulu sebelum dia menghancurkan suamiku. Aku harus segera bertindak, aku tidak tega melihat Mas Steve dalam keadaan seperti ini," batin Riana di dalam kesedihannya.
Bersambung …
__ADS_1