
Karena sosok yang dicarinya telah menghilang, kini Steve pun kembali menghampiri istri dan mertuanya tersebut.
"Mas, kau dari mana? Kau mengejar siapa?" Tanya Riana kebingungan.
"Tadi ada orang yang memperhatikan kita dari jarak jauh. Sosoknya begitu misterius karena dia menggunakan topi dan juga masker. Aku sangat yakin jika orang itu ada hubungannya dengan pesan ancaman yang dikirim ke Mami tadi dan ini sudah pasti ada kaitannya juga dengan kecelakaan Mamiku. Aku tidak bisa tinggal diam, aku pasti akan mencari orang itu sampai ketemu. Sayang, aku titip Mami ya," terang Steve.
"Kau mau pergi ke mana Mas? Kau mau menyusul orang itu yang tidak tahu sekarang keberadaannya di mana. Itu akan sangat berbahaya Mas," ucap Riana yang tampak cemas.
"Sayang, aku mohon kau percaya padaku. Kau hanya perlu mendoakanku, aku bisa menjaga diriku dan aku pasti akan baik-baik saja. Yang penting kau di sini juga selalu menjaga dirimu, nanti aku akan telepon Papa untuk menemani kalian di sini," ucap Steve sehingga Riana pun menggangguk menyetujuinya.
"Tapi aku mohon kau harus selalu mengabariku ya Mas dan aku minta kau jangan pergi sendiri, minta tolong Kak Leo atau siapapun yang penting kau jangan sendiri," pinta Riana.
"Iya Sayang, kau tidak perlu mengkhawatirkan soal itu," ucap Steve seraya mencium kening istrinya tersebut dan tak lupa pula ia berpamitan dengan ibu mertuanya, lalu pergi meninggalkan rumah sakit.
Bertepatan di saat Steve baru saja melangkahkan kakinya keluar dari Rumah Sakit, di saat itu ia melihat lagi sosok misterius yang tadi telah menghilang saat dikejar olehnya. Akan tetapi ketika Steve kembali mengejarnya, orang tersebut sudah duluan masuk ke dalam mobil lalu melaju dengan kecepatan tinggi. Tak ingin kehilangan jejak, Steve pun langsung masuk ke dalam mobilnya dan mengejar sosok misterius itu.
Semakin Steve melajukan mobilnya, semakin laju pula sosok misterius tersebut melarikan diri dan sepertinya orang itu sengaja mempermainkan Steve dengan membelok-belokkan mobilnya tersebut, tak peduli dengan jalanan yang di saat itu terlihat cukup ramai.
Chit …
Tiba-tiba Steve memberhentikan mobilnya secara mendadak karena ia terkena lampu merah. Sedangkan sosok misterius itu telah lolos terlebih dahulu dan melaju kencang hingga Steve telah kehilangan jejaknya.
"Syit! Ke mana larinya mobil itu, bisa-bisanya aku tertipu," umpat Steve sembari membanting setir mobilnya dan terlihat sangat murka.
__ADS_1
*****
"Lepaskan aku bang sat! Mau sampai kapan kau menjadikanku tawanan di sini, apa yang sebenarnya kalian inginkan hah!" Bentak Pras dan terus saja berteriak meminta untuk dilepas.
"Ha … ha … ha … apa hanya segini saja kemampuanmu. Bukankah yang aku tahu kau itu adalah seorang ba ji ngan yang sangat kejam? Kau bisa melakukan apapun yang kau mau, bahkan terhadap wanita saja kau bisa berlaku kejam tanpa memberinya ampun. Tapi kenapa sepertinya saat ini kau lemah tak berdaya, kau sama sekali tak bisa melawan. Padahal ini belum apa-apa brother, siksaan yang sebenarnya belum berlaku," kata pria berbadan besar.
"Cuih … ."
Pras tak menjawab apapun, ia hanya membuang ludahnya, lalu menatap pria itu dengan sangat tajam. Sehingga membuat pria yang ada di hadapannya saat ini pun menjadi emosi dan memukulnya.
Sudah seminggu lamanya Pras berada di gudang kumuh dengan kondisinya yang saat ini benar-benar sangat memprihatinkan. Ia yang pada mulanya hanya diikat dengan tali di sebuah kursi, saat ini pun terikat dengan rantai besi di sebuah tiang yang begitu kokoh. Sehingga membuatnya tak bisa melakukan apapun. Sepertinya orang yang menyuruh para pria tersebut bukanlah orang sembarangan, dia sengaja ingin Pras di tahan dan disiksa secara perlahan terlebih dulu hingga nantinya ia akan mati dengan sendirinya.
"Kenapa kau diam, bukankah tadi kau sudah merasa sok jagoan. Oh ya apa kau merasa sendirian di sini? Jika iya aku akan memberikanmu teman, sebentar lagi akan ada seseorang yang menemanimu di sini," ujar pria tersebut yang membuat Pras merasa kebingungan tetapi juga tak mau bertanya, karena ia sudah merasa sangat muak dengan permainan pria tersebut.
Pras sangat terkejut melihat wanita yang dikenalinya saat ini dibawa mendekat ke arahnya adalah Bella. Sama halnya dengan Pras, Bella juga merasa sangat terkejut karena ternyata selama ini Pras menghilang karena ia disandera di dalam gudang kumuh dengan kondisinya yang sangat memprihatinkan. Bella juga tak menyangka jika ancaman seseorang lewat pesan waktu itu adalah benar adanya. Setelah Pras menjadi tawanan, kini gilirannya pula yang pastinya akan bernasib sama dengan suaminya itu. Membuat Bella benar-benar merasa ketakutan.
*****
Setelah ditangani oleh dokter dan beberapa jam berada di ruang IGD, saat ini pun Laras terlihat telah siuman dan di saat itu ia terlihat sangat murka melihat Riana, Adelia dan Lily yang berada di sekitarnya.
"Ma, syukurlah Mama sudah bangun. Bagaimana keadaan Mama sekarang?" Tanya Riana seraya menggenggam tangan mertuanya itu dengan perasaan yang sangat lega.
"Lepaskan tanganku! Untuk apa kalian berada di sini? Pasti kalian senang 'kan melihat keadaanku saat ini, apa kalian sengaja ada di sini untuk memastikan bagaimana keadaanku, masih hidup atau sudah mati," tuding Laras.
"Anda ini kenapa ya selalu saja berpikir negatif tentang kami. Kami ada di sini menemani Anda, menjaga Anda karena Steve sedang memiliki urusan penting. Tapi kenapa Anda malah menuduh kami yang bukan-bukan," tukas Lily tak terima.
__ADS_1
"Lalu Anda membentak Anak saya padahal dia yang selalu setia menjaga Anda di sini, dia merasa sangat khawatir dan tak henti-hentinya berdoa untuk kesembuhan Anda. Anda ini benar-benar manusia yang tidak tahu diri dan tidak diuntung ya, padahal saat ini Anda sedang sakit dan Anda membutuhkan orang lain, tetapi kenapa Anda sama sekali tidak bisa menjaga sikap," sambung Adelia yang terlihat sangat emosi.
"Mami, Mama aku mohon kalian sabar, mungkin saat ini Mami Laras masih dalam keadaan syok karena baru saja kecelakaan," ucap Riana yang tak ingin membuat suasana semakin memburuk.
"Riana … Riana … kau ini masih saja bersikap baik terhadap wanita ini. Apa kau tidak sadar juga bagaimana sikap buruk Ibu mertuamu ini. Padahal kita sudah berusaha untuk baik dan berada di sini menjaganya, tetapi dia malah menuduh kita yang bukan-bukan. Hanya membuang-buang waktu saja," ucap Adelia, berharap agar anaknya itu sadar.
"Aku juga sama sekali tidak membutuhkan kalian di sini. Aku bisa berada di sini sendiri dan aku hanya membutuhkan Steve untuk menemaniku," ucap Laras dengan angkuhnya.
Kemudian Laras mencoba untuk membangunkan tubuhnya tanpa meminta bantuan siapapun, untuk membuktikan bahwa dirinya bisa sendiri. Di saat Riana hendak membantunya, Lily dan Adelia pun melarang. Akan tetapi di saat itu Laras merasa sangat terkejut karena tiba-tiba saja kakinya tidak bisa digerakkan.
"Ada apa dengan kakiku, ada apa ini?" Ucap Laras yang terlihat ketakutan.
Membuat Riana, Lily maupun Adelia ikut merasa terkejut dan langsung mendekatinya.
"Ma, ada apa Ma?" Tanya Riana yang merasa sangat cemas.
"Kakiku tidak bisa bergerak, ada apa ini, apa yang terjadi denganku?" Teriak Laras.
Derry yang berjaga di luar dan mendengar suara teriakan itu pun segera saja memanggil dokter. Hingga tidak membutuhkan waktu lama dokter telah tiba dan langsung saja masuk ke dalam ruang IGD.
"Dokter, apa yang terjadi dengan ibu mertua saya? Kenapa kakinya tidak bisa digerakkan?" Tanya Riana.
Lalu dokter menjelaskan kepada mereka tentang kondisi Laras saat ini dan membuat mereka semua merasa sangat terkejut. Terutama Laras merasa sangat syok dan tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya itu.
Bersambung …
__ADS_1