
Kini keduanya pun benar-benar yakin jika memang sebelum Riana masuk ke dalam ruangan tersebut, sudah ada orang lain yang masuk terlebih dulu dan mencoba untuk mencelakai Laras. Sehingga Sonia pun langsung saja keluar mencari dokter yang langsung memeriksa kondisi Laras.
Setelah diperiksa, benar saja jika di saat ini Laras bukan tidur melainkan pingsan karena ia sempat kesulitan bernafas. Sudah sangat jelas memang ada seseorang yang tadi sudah membuatnya seperti saat ini dan sudah pasti orang tersebut dengan sengaja untuk mencelakai Laras.
Sonia benar-benar merasa sangat khawatir, begitu juga dengan Riana yang merasa sedih melihat kondisi mertuanya saat ini.
"Siapa sebenarnya orang yang ingin mencelakai Mami, apa motif orang itu?" Ucap Sonia diiringi tangisannya.
"Sampai sekarang belum ada yang berhasil menemukannya Kak. Orang itu juga sudah mengancam ibuku sampai ibuku sekarang sangat ketakutan untuk keluar. Karena dia merasa selalu ada orang yang mengawasinya," ucap Riana.
"Benar-benar keterlaluan! Tapi kenapa aku dan kau sama sekali tidak diancam atau memang belum, hanya tinggal menunggu giliran saja," ujar Sonia.
"Jangan berkata seperti itu Kak, mudah-mudahan sudah cukup orang itu menyakiti keluarga kita. Jangan sampai ada lagi yang disakiti," ucap Riana.
Hingga di saat itu pun terlihat Steve yang baru saja tiba dan menghampiri kedua wanita yang sangat dicintainya itu.
"Sayang, Kak Sonia. Kenapa kalian berdua ada di sini? Apa yang terjadi dengan Mami?" Tanya Steve yang memang belum mendapatkan kabar tentang sang ibu.
Riana sengaja tidak mengabari Steve karena suaminya itu mengatakan akan segera menuju ke rumah sakit, sehingga ia pun berniat akan memberitahu Steve secara langsung saat pria tersebut sudah berada di rumah sakit. Lalu segera saja Riana menceritakan kepada suaminya itu tentang apa yang terjadi dan tentang kondisi Laras saat ini.
"Brengsek! Apalagi yang orang itu inginkan, apa dia tidak puas melihat Mami sudah lumpuh karena ulahnya? Kenapa sekarang dia ingin mencelakai Mami lagi? Aku benar-benar harus mencari tahu siapa orang itu dan aku sangat yakin jika Pras adalah dalang di balik ini semua. Buktinya tiba-tiba saja dia menghilang dan dia telah melakukan ini semua di belakang kita, dia sengaja tidak mau menampakkan dirinya secara langsung, sehingga memakai cara licik seperti ini," ujar Steve.
"Apa kau yakin Mas, sementara kau belum menemukan bukti apapun," ujar Riana.
"Aku akan mencarinya sampai dapat. Saat ini Leo juga sedang membantuku, aku yakin cepat atau lambat aku akan menemukan bukti jika memang Pras lah dalang dibalik ini semua," ucap Steve.
"Dokter, pasien di ruang rawat inap Dahlia tiba-tiba saja kolaps," ucap suster yang menghampiri dokter di saat baru saja keluar dari ruang rawat inap Laras dan menangani pasiennya itu.
__ADS_1
"Apakah itu Tuan Pras?" Tanya dokter.
"Iya, benar Dokter," jawab suster.
"Maaf Tuan Steve, Nyonya Riana dan nyonya Sonia, saat ini Nyonya Laras sudah saya tangani dan beliau sedang beristirahat. Jangan khawatir paling lambat besok pagi beliau akan bangun. Saya permisi dulu," ucap dokter tergesa-gesa.
"Apa tadi aku tidak salah dengar, suster menyebut nama Pras?" Ujar Steve.
"Iya Mas aku juga mendengarnya, tapi yang namanya Pras itu kan banyak, tidak hanya 1 orang saja. Mungkin hanya kebetulan saja nama pasien tersebut adalah Pras tetapi bukan Pras yang kita cari," ucap Riana, sehingga Steve mengiyakannya saja.
Lalu mereka bertiga segera masuk ke dalam ruang rawat inap Laras untuk melihat keadaannya.
------
Steve mendekati ibunya itu, lalu menggenggam erat tangannya serta menciumnya dengan perasaan yang sangat sedih.
"Steve, kau jangan berkata seperti itu. Ini semua juga salahku karena tadi aku keluar sebentar mengambilkan obat untuk Mami, karena stok obat Mami sudah habis sedangkan Mami harus minum obat," ucap Sonia yang merangkul tubuh adiknya itu.
"Kak, kau tidak salah. Bukankah kau melakukan itu juga untuk kebaikan Mami, ya mana kita tahu jika akan ada orang yang memang mau masuk untuk mencelakai Mami lagi. Berarti orang itu memang benar-benar mengawasi kita selama 24 jam dan aku yakin saat ini juga pasti orang itu ada di sekitar kita," ujar Steve.
"Kau benar Mas, aku juga sangat yakin jika orang itu selalu ada di dekat kita. Hanya saja kita tidak menyadarinya," ucap Riana.
"Ya gerak-gerik kita selalu diawasi oleh mereka dan setelah itu bisa saja kita yang akan menjadi sasaran berikutnya," ujar Sonia.
"Jangan berkata seperti itu Kak dan aku mohon kalian harus menjaga diri baik-baik, kalian harus berhati-hati di manapun kalian mau pergi dan harus selalu mengabariku. Aku tidak mungkin bisa selama 24 jam berada di dekat kalian, tapi aku percaya kalian bisa menjaga diri," ucap Steve.
"Kau tenang saja Steve, aku pasti akan menjaga diri dan memastikan akan selalu berada di tempat ramai," ucap Sonia.
__ADS_1
"Iya aku juga seperti itu," sahut Riana.
Sehingga mereka bertiga malam ini memutuskan untuk menginap di rumah sakit, menemani Laras.
*****
"Oma, Oma, ayo tangkap Oma," ucap Alana yang hendak memberikan bola kepada Adelia.
"Iya Sayang, ayo sini oper ke Oma bolanya," sahut Adelia.
Adelia yang di saat itu sedang menemani Alana bermain di taman depan rumah, tiba-tiba saja dihampiri oleh satpam yang memberikannya sebuah amplop yang dititipkan untuknya.
"Ini dari siapa Pak?" Tanya Adelia.
"Saya tidak tahu Nyonya. Tadi ada kurir yang datang ke sini mengantar amplop ini dan mengatakan jika ini untuk Nyonya Adelia," ucap satpam.
"Oh begitu. Terima kasih ya Pak," ucap Adelia.
"Sama-sama Nyonya," jawab satpam dan kembali ke pos keamanan.
"Sayang, kau main sebentar dulu ya. Oma mau istirahat sebentar," ucap Adelia lalu duduk di kursi taman tersebut.
Dengan sangat penasaran, segera saja Adelia membuka isi dalam amplop tersebut dan betapa terkejutnya Adelia melihat selembar kertas yang berdarah-darah dan berisi sebuah ancaman, bisa dikatakan dengan sebuah teror.
"Adelia, sekarang kau masih baik-baik saja, 'kan? Tapi jangan kau pikir dengan kau bersembunyi di rumah itu kau akan terus selamat. Aku masih berbaik hati membiarkanmu bernafas dengan lega, hanya tinggal menunggu waktunya saja. Dan aku melihat jika saat ini kau begitu bahagia bermain dengan cucu yang sama sekali tidak ada hubungannya denganmu. Kirim salam ya untuk anak itu."
Setelah membaca surat teror tersebut benar-benar membuat Adelia merasa sangat syok dan ketakutan, sehingga dengan reflek ia mencampakkan kertas tersebut di sembarang tempat. Alana yang melihat kertas tersebut pun segera memungut kertas yang di saat itu masih dalam kondisi telungkup, membuat Adelia merasa sangat panik, jika Alana akan melihat dan membaca apa isi dari surat itu.
__ADS_1
Bersambung …