Istri Tak Diakui

Istri Tak Diakui
Menemui Carlos.


__ADS_3

Pria tersebut terlihat semakin mendekati Sonia dan Laras, membuat kedua wanita itu pun benar-benar tidak tahu lagi harus berbuat apa. Bahkan mereka sudah menjerit meminta pertolongan dan meminta pria itu untuk menjauh tetapi sama sekali tak ada hasilnya. Hingga di saat pria itu hendak menancapkan pisau diantara salah satunya, tiba-tiba saja …


Bugh!


Ada seseorang dari belakang yang memukul pria itu dengan kayu sehingga senjata yang dipegangnya terlepas dari tangan, lalu pria itu juga jatuh tersungkur. Membuat Laras dan Sonia merasa sangat lega dan langsung menatap ke arah seseorang yang telah menolong mereka.


"Pak Satpam, terima kasih ya Pak. Untung saja Bapak datang tepat waktu, kalau tidak entah bagaimana nasib nyawa kami Pak," ucap Sonia.


"Iya sama-sama Nyonya. Penjaga di depan kamar ini juga sudah diserang olehnya, beliau tertusuk dan sudah ditangani oleh dokter. Untungnya ada Suster yang cepat melapor kepada saya, jadi saya segera ke sini. Saya tidak tahu kenapa saat ini banyak sekali kejahatan yang bertebaran di rumah sakit. Penjaga tadi bisa diserang karena awalnya si penjahat berpura-pura menanyakan sebuah kamar pasien, tapi tiba-tiba saja orang itu menusuknya," terang satpam.


"Iya Pak, sekali lagi terima kasih banyak ya," ucap Sonia yang sangat bergidik mendengar cerita satpam tersebut.


"Sama-sama Nyonya. Tetap berhati-hati di dalam, jika ada orang asing yang masuk berteriaklah sekuat mungkin seperti tadi. Kami akan berusaha untuk menjaga keamanan yang ketat di luar karena saat ini benar-benar sudah tidak aman. Baiklah Nyonya, saya akan segera membawa orang ini pergi," ucap satpam yang langsung saja menyeret penjahat tersebut.


Polisi juga akan segera datang ke rumah sakit untuk menangkap pria yang diduga termasuk salah satu anak buah dari Carlos.


*****


Ponsel Riana berdering, ada panggilan dari nomor yang tak dikenalnya. Riana pun segera saja menjauh dari siapapun yang berada di sana untuk menjawab telepon tersebut.


"Halo, ini siapa?" Tanya Riana.


"Halo Anak Ayah tersayang. Bagaimana kabarmu dan kabar orang-orang itu? Apakah mereka semua baik-baik saja?" Tanya seseorang dari seberang telepon.

__ADS_1


Riana sangat terkejut karena ia tahu betul siapa yang menelpon, apalagi orang tersebut sudah menyebutnya dengan sebutan anak.


"Kau? Apakah kau orang yang telah mencelakai orang-orang terdekatku dengan alasan ingin melindungiku? Kau juga orang yang telah mengaku sebagai Ayahku?" Tanya Riana dengan emosi.


"Ya kau benar sekali Sayang, aku adalah Ayahmu. Sudah aku katakan aku melakukan itu semua demi melindungimu, kenapa kau tidak mengerti juga? Seharusnya kau bersyukur mempunyai Ayah sepertiku yang begitu menyayangimu Riana," ucap Carlos.


"Tidak! Aku tidak mau mempunyai ayah sepertimu. Kau sama sekali tidak bersikap seperti seorang ayah, kau adalah seorang iblis yang begitu kejam," ucap Riana.


"Heh anak durhaka. Tega sekali kau mengatakan Ayahmu sendiri seperti itu setelah apa yang aku lakukan untukmu. Sudahlah Riana, sebenarnya aku meneleponmu saat ini karena ada sesuatu yang sangat penting. Aku ingin kau menemuiku sekarang juga di jalan Xxx, jika kau tidak datang maka nyawa mertua dan Kakak iparmu yang berada di rumah sakit akan menjadi taruhannya. Perlu kau tahu jika saat ini Bodyguard yang berada di sana sudah tertusuk karena ulah orang suruhanku. Kau jangan bermain-main denganku Riana!" Tegas Carlos memperingatkan.


"Jangan pernah bermimpi, karena aku tidak akan pernah datang untuk menemuimu. Aku tidak peduli apa katamu dan aku pastikan aku akan melindungi orang-orang yang aku sayang," ucap Riana lalu menutup telepon begitu saja.


Di saat Riana sedang menstabilkan emosi dan perasaannya untuk bersikap biasa saja karena akan menemui ibu dan ibu kandungnya, di saat itu pula ia mendapatkan telepon dari Sonia yang memberitahu tentang apa yang baru saja terjadi di rumah sakit. Sehingga membuat Riana pun merasa ketakutan dan ia langsung saja mengirim pesan untuk ayahnya bahwa ia akan segera datang menemuinya. Riana tak menyangka ternyata ucapan ayahnya tersebut memanglah tidak main-main.


"Riana, kau itu dari mana saja Sayang?" Tanya Adelia disaat Riana menghampiri ibunya kembali, sedangkan Lily sudah masuk ke dalam ruangan tempat suaminya berada.


"Riana, kau mau ke mana Nak? Di luar sana sangat berbahaya, jangan pergi sendirian Nak," ucap Adelia.


"Mam, aku mohon percaya sama aku Mam. Aku akan baik-baik saja dan ini semua demi keselamatan bersama. Aku juga sudah meminta Bodyguard untuk menjemput Baby dan membawanya ke rumah Mas Steve, nanti Bodyguard itu juga akan membawa Baby dan Alana ke sini. Aku benar-benar tidak tenang Mam, akan lebih aman jika mereka ada di sini bersama kita, jadi aku juga titip mereka ya Mam. Mami doakan saja yang terbaik untukku," ucap Riana.


"Tapi Riana, Mami benar-benar khawatir. Mami takut terjadi sesuatu denganmu," ucap Adelia.


"Mam, sudah aku katakan doakan saja. Aku pasti akan baik-baik saja. Sekarang aku pergi dulu ya Mam, sudah tidak ada waktu lagi," ucap Riana yang langsung saja membalikkan badannya dan pergi meninggalkan ibunya tersebut.

__ADS_1


"Riana … !" Panggil Adelia tetapi Riana sama sekali tak menoleh, ia tetap kekeh pergi untuk menemui Carlos tanpa diketahui oleh siapapun.


*****


Steve yang baru saja sadar dan keadaannya juga sudah jauh lebih baik, tampak melihat sekeliling mencari keberadaan istrinya.


"Steve, syukurlah kau sudah bangun," ucap Adelia yang sedang menjaganya.


"Mi, di mana Riana Mi. Kenapa Riana tidak ada di sini?" Tanya Steve.


"Riana ada keperluan dan dia hanya pergi sebentar, nanti dia akan kembali lagi," jawab Adelia.


"Kenapa Riana pergi sendiri sedangkan keadaan sedang seperti ini Mi, kenapa Mami tidak mencegahnya? Bagaimana kalau nanti terjadi sesuatu dengan Riana," ujar Steve yang merasa sangat cemas.


"Mami sudah mencegah Riana, Mami juga khawatir. Tapi kau tahu sendiri bagaimana Riana, dia tetap kekeh ingin pergi. Lebih baik kita berdoa saja ya semoga Riana tidak kenapa-napa," ucap Adelia.


"Aku tidak bisa tenang apalagi tinggal diam di sini Mi. Aku harus mencari keberadaan Riana," tukas Steve yang langsung saja mencabut selang infus di tangannya.


"Steve, apa yang kau lakukan?" Pekik Adelia yang merasa sangat terkejut melihat ulah menantunya itu.


"Aku akan mencari keberadaan Riana, aku tidak mungkin bisa tinggal diam di sini Mi. Aku harus tahu di mana keberadaan Riana dan bagaimana keadaannya sekarang," ucap Steve yang berusaha sekuat tenaga untuk beranjak dari brankar.


Setelah itu ia pun keluar dari ruang rawat inap tersebut. Tak peduli disaat Adelia, dokter dan suster melarangnya, Steve tetap pergi karena ia benar-benar merasa sangat khawatir dengan istrinya tersebut.

__ADS_1


Bersambung …



__ADS_2