Istri Yang Terlupakan

Istri Yang Terlupakan
BAB 47 Adam pergi


__ADS_3

"Begitu kawatirkah, Kamu terhadap ku?" tanya Al, membuat Zahra seketika terkejut


"Anda pura2 tidur?" tanya Zahra, karna Al tiba2 bicara


"Aku merindukanmu,Ra" Tolong temanilah aku sebentar", pinta Al lirih, yang langsung di anggukin oleh Zahra


Al berusaha untuk duduk, dengan cepat Zahra membantu Al agar bisa duduk dan bersandar di kepala ranjang, setelahnya Zahra duduk di samping Al


"Apa Bapak perlu sesuatu?"


"Aku tidak butuh apapun, Aku hanya butuh kamu agar selalu berada di dekatku", ucapnya dengan suara lemah, seketika pandangan mereka bertemu menyiratkan betapa keduanya saling membutuhkan.


" Ra, maukah kamu menikah denganku?", tanya Al sambil meraih tangan Zahra lalu mengusapnya dengan lembut.


Al tak sabar menunggu jawaban Zahra, tapi Zahra tetap diam dia tidak tau harus menjawab apa, Zahra menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan Al.


"Iya aku mau", lirihnya, Dia tertunduk malu di hadapan Al.


Al tersenyum bahagia mendengar Zahra mau menikah dengannya, rasa bahagia memuncah di hatinya.


"Aku janji akan membahagiakanmu dan tidak akan pernah menyakiti hatimu", ucapnya lagi yang sukses membuat Zahra menoleh lalu menatap manik mata Al dia menelisik mencari kebohongan dari ucapan Al barusan, tapi Zahra tidak menemukan kebohongan itu, hanya ketulusan yang Zahra liat.


Di pandangnya wajah cantik pujaan hatinya dengan lekat, tak ada yang bisa menggambarkan perasaan Al saat ini ada rasa cinta yang memuncah antara keduanya hingga Zahra terlena dan lupa diri jika sebenarnya berpandangan dengan laki2 yang bukan muhrim apa lagi dengan jarak yang begitu dekat, akan membuat dirinya berada dalam sebuah kubangan dosa.


Hingga bu Siska datang mengejutkan mereka berdua


"Ekhmm!!


Bu Siska berdehem saat masuk kekamar Al dan melihat anak dan calon menantunya saling pandang dengan jarak yang begitu dekat, dia hanya takut jika mereka berdua tidak bisa mengendalikan diri dan ahirnya terjerumus pada kubangan dosa yang nantinya akan mereka sesali.


Al merengut melihat mamanya masuk di waktu yang tidak tepat, karna dia masih belum puas memandang wajah Zahra yang membuat candu baginya.


"Eh, Tante", ujar Zahra kikuk karna kepergok sedang berpandangan dengan jarak yang begitu dekat dengan Al.


Bu Siska tersenyum melihat Zahra yang salah tingkah, dia ikut senang jika Zahra sudah mulai menerima Al.

__ADS_1


"Kamu gak kerja sayang?" tanya Bu Siska lembut.


"Aku kerja Tante, nanti setelah dari sini aku langsung ke kantor", ujar Zahra malu2.


Al semakin kesal dengan mamanya karna mengingatkan Zahra tentang pekerjaan, karna Al tidak mau jika Zahra akan berangkat ke kantor.


"Ya udah Tante, Aku pamit dulu mau ke kantor", ucap Zahra sambil melihat jam di ponselnya.


"Loh, kok buru2 sayang", tanya Bu Siska merasa bersalah karna telah menyinggung perihal pekerjaan.


"Iya Tante, ini sudah jam 9, aku belum sempat memberi kabar pada sekretaris di kantor", jelas Zahra.


Bu Siska mengangguk tanda ia mengerti, Tapi berbeda dengan Al yang wajahnya di tekuk di sangat kesal dengan mamanya karna membuat Zahra harus segera berangkat ke kantor.


"Aku pamit dulu Tante", pamit Zahra seraya mengulurkan tangannya untuk mencium punggung tangan calon mertuanya.


"Iya sayang, Kamu hati2 di jalan", ucap Bu Siska sambil mengelus punggung Zahra.


Sebelum keluar Zahra sempat melihat Al sesaat lalu tersenyum manis padanya, dia segera keluar dengan hati berdebar, begitu juga Al ia tak kalah berdebar melihat senyum Zahra yang menjadi candu baginya.


*****


"Tok..tok...tok...!!


sebuah ketukan pintu di ruangan Al yang mampu membuat ia berhenti dari lamunannya tentang Zahra, ia menghela nafas panjang sebelum menyuruh masuk siapa yang datang.


"Masuk!"


Adam masuk dengan hati2 dia merasa bersalah karna berusaha melecehkan Zahra.


"Bagaimana keadaan lho Dam?" tanya Al, Dia merasa heran karna Adam tiba2 menemuinya.


"Alhamdulillah, gue baik Al",


"Apa yang membawa lho datang kesini menemui gue?"

__ADS_1


"Gue hanya mau balikin ini", jelas Adam sambil menaruh kunci mobil dan kunci rumah di atas meja kerja Al.


Al mengerutkan keningnya dia belum paham apa maksud Adam, "Apa maksud lho Dam", tanya Al karna tidak mengerti dengan maksud Adam


"Gue balikin ini semua karna gue mau pergi jauh dari kehidupan lho dan Zahra, gue tidak mau menjadi pengganggu hubungan lho dan Zahra, gue harap lho gak keberatan dengan keputusan gue, gue hanya ingin lho bisa membahagiakan Zahra karna gue tidak bisa memberikan kebahagiaan padanya", ujar Adam dengan penuh harap


Al tidak bisa mencegah keputusan Adam dia juga tidak bisa berbuat apa2 jika harus mencegah Adam agar tetap tinggal, karna Al pikir ini akan lebih baik.


Al berdiri dari kursi kerjanya lalu menghampiri Adam yang sekarang juga sudah berdiri, Al memeluk sahabatnya dengan erat, kejadian tentang Zahra membuat keduanya sempat merasa canggung.


"Lho hati2 di manapun lho berada, jangan sungkan jika lho mau balik kesini lagi", ucap Al masih terus memeluk Adam


"Gue akan selalu ingat lho dan kebaikan lho", ucap Adam setelah melepaskan pelukannya dari Zahra


"Apa lho gak mau nunggu pernihan gue sama Zahra dulu", tanya Al


"Pesta pernikahan lho, adalah derita buat gue Al", ucap Adam sambil tersenyum, Membuat keduanya seketika tertawa renyah mendengan lelucon Adam, tapi dalam hati yang sebenarnya memang itulah yang terjadi tapi dia tidak mau menunjukkannya pada Al.


"Ya udah Gue pergi, jaga Zahra dan cintai dia, jangan sampai lho sakitin dia atau gue bakalan ambil dia dari lho", canda Adam, yang sukses membuat hati Al merasa kawatir jika itu benar terjadi.


"Iya lho hati2"


"Assalamualaikum"


"Waalaikum salam", jawab Al masih dengan perasaan kawatir, dia sangat tau sifat Adam yang tidak akan mungkin dengan segampang itu merelakan Zahra untuknya, tapi Al lega karna Adam akan pergi jauh dari kehidupan dia dan Zahra.


*****


Orang tua Al bersiap-siap untuk kerumah keluarga wijaya mereka berniat untuk membicarakan perihal pernikahan Al dan Zahra karna hubungan Al dan Zahra sudah sangat baik dan mereka kawatir Al dan Zahra tidak bisa mengendalikan diri mengingat mereka sering keluar bersama.


Tuan Fatih berencana untuk mempercepat pernikahan mereka, karna dia sendiri sudah tidak sabar ingin memiliki cucu dari Zahra.


"Ayo ma, kita pasti sudah di tunggu", ajak tuan Fatih pada istrinya.


"Iya pa, sebentar lagi mama selesai, emang Al nya udah turun?" tanya Bu Siska masih sibuk dengan riasannya

__ADS_1


Tuan Fatih geleng kepala melihat istri nya tak kunjung selesai.


Di dalam kamar Al sibuk memilih baju yang harus ia pakai, dia ingin terlihat tampan di depan calon istrinya, beberapa baju berserakan di atas tempat tidurnya, karna tak ada satupun yang cocok menurutnya.


__ADS_2