
"Ra, aku ajak Nino keluar dulu ya", pamit Intan seraya mengambil kunci mobilnya yang berada di meja dekat tv.
"Iya, tapi ingat jangan ajari Nino yang aneh2",ucap Zahra karna ia sempat mendengar obrolan antara Intan dan Nino.
"Maksud aneh2, itu apa Ra?" tanya Intan sambil mengerutkan keningnya heran dengan ucapan Zahra.
"Aku cuma gak mau Nino melihat adegan dewasa antara kamu sama pacar kamu", jelas Zahra sambil mengiris wortel untuk ia masak.
"Kata siapa aku mau ketemuan"? tanya Intan heran.
Zahra tersenyum mendengar Intan justru balik bertanya, "Ingat tembok aja punya kuping lo", ucap Zahra sambil tersenyum jahil.
"Jangan bilang kamu nguping pembicaraan aku sama Nino", tanya Intan menyelidik.
"Kalau iya emang kenapa?"
"Udah ah, aku mau berangkat, bicara sama kamu cuma menyita waktu aja", ucap Intan pura2 kesal.
"Ingat hati2 di jalan", ucap Zahra sambil tersenyum.
*******
Kediaman keluarga Bagaskara.
"Apakah Al tak pernah datang kerumah ini?" tanya tuan Ilham.
"Aku bingung Ham, Al menutup dirinya dari dunia luar, bahkan ia tak perduli lagi dengan kadua orang tuanya, sampai saat ini aku sudah berusaha mencari keberadaan Zahra namun semua itu tidak ada hasil sama sekali", ucap Tuan Fatih merasa putus asa.
"Aku juga bingung sudah 6 tahun Zahra pergi tapi tak ada satupun orang2 kita yang berhasil menemukan dia, bahkan setiap bulan aku mengirim uang ke nomer rekening nya, akuberharap dia akan menari uang itu agar aku bisa menemukan keberadaan dia", ucap Tuan Ilham.
"Entahlah aku juga heran, kemana sebenarnya Zahra pergi, aku berharap dia segera pulang dan bersama kita lagi".
"Bagaimana keadaan Al saat ini?" tanya Tuan Ilham.
"Aku sudah tidak memikirkan dia, biarlah dia menanggung semua penderitaan nya, mungkin itu semua teguran dari yang maha kuasa, aku hanya tidak habis pikir kenapa di kembali terjerat dengan wanita murahan itu, seandainya itu tidak terjadi mungkin Zahra masih bersama kita", ucap Tuan Fatih dengan tangan terkepal kuat, mengingat foto2 Al dan Serli di kamar hotel 6 tahun yang lalu.
"Apa kamu tau kabar wanita itu?" tanya Tuan Ilham.
__ADS_1
"Terahir kali aku dengar dari orang suruhanku, dia menjadi pembantu rumah tangga di rumah Burhan, dan dengan mudahnya Burhan terjerat dengan wanita itu, tapi itu tidak berlangsung lama karna istri Burhan sudah mengetahui semuanya, dia mengancam Burhan, akan mengusir dia dari rumahnya jika berani bermain api dengan seorang pembantu.
"Dan Burhan pun patuh dengan ucapan istrinya karna harta yang ia miliki ternya semua milik istrinya, tentunya Burhan tidak mau jadi gembel di jalanan", jelas Tuan Fatih sambil tersenyum sinis.
"Lalu kemana Serli sekarang?" apa dia masih bekerja di sana atau sudah di usir?".
"Yang aku dengar dia sudah di usir, dan menurut orang2 ku mereka sempat melihat Serli duduk di emperan toko".
Di dapur nyonya Anita sedang membantu Bu Siska menyiapkan makan siang untuk suami mereka berdua, nyonya Anita dan Tuan Ilham sengaja datang sekedar bersilaturahmi agar hubungan keluarga mereka tetap terjaga dengan m keluarga bagaskara meskipun Zahra pergi gara2 Al, tapi sedikitpun Tuan Ilham tidak pernah menyimpan dendam pada keluarga bagaskara.
"Bagaimana kondisi kamu sekarang Ta?" tanya bu Siska sambil merapikan makanan di meja makan.
"Alhamdulillah setelah menjalani operasi jantungku berangsur membaik, dan kini aku sudah sehat kembali", ucap nyonya Anita dengan menampilkan senyum manisnya.
"Sukurlah kalau begitu", ungkap Bu Siska.
******
"Assalamu alaikum"
"Waalaikum salam", jawab Zahra sambil membuka pintu kontrakannya.
"Ayo silahkan duduk", ajak Zahra, seperti tidak sabar untuk mendengar kabar yang akan Adit sampaikan.
"Nino kemana Ra?" tanya Adit karna tidak melihat Nino bersama Zahra.
"Nino lagi keluar sama Intan"
"Dit, bagai mana kabar mama sama papa?" tanya Zahra.
"Alhamdulillah mereka baik2 saja Ra", ucap Adit dengan menampilkan senyum tulusnya.
"Sukur kalau begitu Dit".
"Aku mau ngomong sesuatu sama kamu Ra"
"Emang mau ngomong apa? kayak serius amat?"tanya Zahra merasa heran dengan tatapan Adit yang begitu serius.
__ADS_1
Seketika Adit berdiri dan menghampiri Zahra yang diduk di sofa, Adit duduk bersimpuh di hadapan Zahra lalu mengeluarkan kotak kecil.
"Apa ini Dit", tanya Zahra merasa heran.
"Maukah kamu menikah dengan ku?"
Zahra begitu terkejut, Adit tiba2 melamarnya, "Apa maksud kamu Dit?" tanya Zahra semakin heran dengan tingkah Adit.
"Aku memendam perasaan ini sejak 7 tahun yang lalu, aku mencintaimu sejak pandangan pertama, dan baru kali ini aku berani melamarmu karna sekarang kamu sudah bukan milik siapapun", jelas Adit dengan tatapan penuh harap.
"Tapi aku masih sah sebagai istri mas Al, aku tidak mungkin menerima lamaranmu di kala aku masih menyandang status seorang istri", ucap Zahra menolak dengan halus lamaran Adit, Meskipun Zahra sudah lama berpisah dengan Al tapi sedikitpun tak pernah berkurang rasa cinta Zahra untuk suaminya.
"Tapi Ra, kamu bukan lagi istri sah dari Aldi, karna dia sudah menceraikanmu, dan ini buktinya", ucap Adit sambil memperlihat kan sebuah poto surat cerai dari ponselnya.
Zahra segera mengambil ponsel yang di pegang Adit dan membacanya dengan teliti, cukup lama Zahra tertengung dia bagaikan di sambar petir di siang bolong hatinya begitu hancur melihat poto surat cerai meskipun hanya dari ponsel Adit.
"Kamu tidak bohong kan Dit?" tanya Zahra memastikan.
"Tidak Ra, buat apa aku bohong sama kamu, bahkan aku sudah bilang sama kamu bahwa Al akan bahagia meski tanpa kamu, dan satu bulan lagi Al akan melangsungkan pernikahan dengan Serli", ucap Al membohongi Zahra.
Sejak 6 tahun lalu Zahra selalu percaya dengan kabar yang Adit bawa tanpa sedikitpun Zahra curinga bahwa Adit berbohong.
Zahra tak mampu lagi menahan laju air matanya hatinya begitu hancur menerima kenyataan ini, namu Zahra tak bisa berbuat apa2, cinta yang selama ini ia jaga dengan baik ternyata sia2.
"Bisakah tinggalkan aku sendiri Dit", pinta Zahra tanpa melihat Adit sedikitpun.
"Baiklah aku akan pergi, tapi ingat jangan lakukan apapun yang bisa membahayakan dirimu", ucap Adit mengingatkan Zahra, dia merasa kawatir jika Zahra akan nikat melukai dirinya.
Zahra tersenyum getir mendengar ucapan Adit, Zahra pikir untuk apa menyakiti darinya sendiri, toh hidupnya sudah hancur dan buat apa pula menyakiti diri sendiri.
"Aku pulang Ra"
Zahra tak menjawab, pikirannya begitu kacau, tadinya dia sempat berpikir untuk menghubungi Al demi Nino namun sekarang Zahra harus menerima kenyataan yang selama ini ia takuti yaitu perceraian.
Zahra masuk kedalam kamar ia duduk di tepi ranjang lalu mengambil poto Al yang ia simpan dalam laci dekat tempat tidurnya.
"Kenapa kamu tega lakukan ini padaku mas", ucap Zahra di sela tangisnya.
__ADS_1
"Birtahun-tahun aku mencoba menghubungimu namun kenyataan pahit yang selalu aku dapatkan, sudah sekian lama aku menata hati untuk memaaf kanmu namun lagi2 aku harus menerima kenyataan pahit karna kamu telah mencerikan aku, aku doa kan semoga kamu bahagia dengan Serli", ucap Zahra sambil terus mendekap poto Al di dadanya.