
"Ada apa sayang?" Al bertanya sambil menuruni tangga.
"Papa kemana aja?"
"Maaf sayang tadi papa lagi sibuk".
"Sibuk apa sih? kok sampai gak nemanin Nino main, papa udah gak sayang Nino ya?" rajuk Nino dengan suara manjanya.
"Enggak sayang papa sangat sayang sama Nino, tapi tadi papa ada urusan yang sangat penting, yang gak bisa papa tinggalkan begitu saja", jelas Al untuk meyakinkan Nino yang sedang kesal padanya.
Zahra tersenyum mendengar perdebatan antara dua orang yang sangat ia cintai.
"Nino sayang, yuk mandi dulu, mama mandiin ya", ajak Zahra dengan lembut.
"Gak mau, Nino cuma mau mandi sama papa".
"Ya udah ayo papa mandiin", ahirnya Al menglah, mungkin ini hukuman Al karna telah meninggalkan anaknya hanya untuk menyalurkan hasrat nya yang sudah tak tertahan.
Al menggendong Nino masuk ke kamarnya, dia memandikan Nino dengan sepenuh hati, Al merasa senang bisa di berikan kesempatan untuk memandikan Nino meskipun Nino sudah besar, setidak nya Al masih bisa mersakan yang namanya merawat anak kecil.
"seperti inikah rasanya jadi seorang ayah, terima kasih tuhan... aku masih diberi kesempatan untuk bisa merasakan kebahagian ini". ucap Al dalam hati dengan perasaan bahagia yang memuncah.
Tanpa terasa Al menitakan air mata, mungkin terlalu bahagia, Zahra yang melihat Al penghapus air matanya, Sontak Zahra menghampiri Al dan memandang wajah suaminya penuh tanya.
"Kenapa Mas menangis? apa Mas terpaksa memandikan Nino?" tanya Zahra setelah Nino keluar dengan pakaian yang sudah rapi.
"Enggak sayang, justru aku sangat senang bisa merawat anak ku sendiri, aku menangis karna terlalu bahagia, andaikan dulu aku tau kamu sedang hamil saat pergi dari rumah mungkin aku tidak akan membiarkan kamu pergi jauh dariku, maaf kan aku karna aku tidak bisa menemani mu untuk merawat Nino saat dia belajar bejalan dan belajar berbicara, aku sungguh minta maaf".
Zahra tak bisa berkata-kata ucapan Al benar membuat dia merasa bersalah, Zahra segera memeluk Al dengan erat.
"Aku juga minta maaf Mas, karna telah memisahkan Mas dan Nino begitu lama", Zahra semakin mengeratkan pelukannya saat merasakan tubuh Al bergetar karna menangis.
__ADS_1
"Biar kan aku menangis, ini semua adalah tangisan bahagia, aku bersukur punya kesempatan bisa bertemu lagi dengan mu dan Nino, kalian berdua adalah anugerah terindah dalam hidup ku".
"Aku juga beruntung punya kamu Mas".
Setelah cukup lama keduanya saling berpelukan, keduanya beranjak keluar karna sudah semakin sore dan sebentar lagi malam menjelang, setelah melaksanakan Sholat magrib berjemaah mereka makan malam bersama di iringi dengan tawa Zahra dan Al karna pertanyaan Nino yang tanpa henti.
"Mas, kapan aku kerumah mama", tanya Zahra terlihat serius.
"Besok pagi kita kerumah mama Anita dan malam hari kita kerumah mama Siska,gimana?"
Zahra tersenyum sumringah dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan orang tua dan mertuanya.
"Iya Mas", jawab Zahra berbinar.
Setelah makan malam selesai mereka memilih duduk santai di ruang keluarga sambil menonton tv, sedangkan Nino sudah tertidur pulas di kamarnya, dia merasa capek karna dari siang dia belum tidur apalagi sehabis perjalan jauh.
"Sayang, ayo kita ke kamar".
"Emang kenapa kalau masih jam 8 malam? Aku kangen kamu sayang, aku ingin menghabiskan malam indah ini sampai pagi", ucap Al berbisik di telinga Zahra.
Sontak Zahra mencubit perut Al.
"Sakit sayang", ucap Al sambil mengusap perut nya yang terasa panas.
"Ayolah aku sudah tidak sabar", rengek Al seperti anak kecil.
"Iya,iya! Mas duluan, aku mau bicara sama bibik dulu, aku akan meminta dia tidur di kamar Nino".
"Cepat ya aku tunggu".
Dengan tidak sabar Al menuju kamar dengan senyum yang mengembang di wajah nya, Bik Inah sangat senang saat Zahra meminta untuk menemani Nino di kamar nya karna bik Inah sangat suka pada anak2 apalagi Nino sangat tampan dan menggemaskan.
__ADS_1
"Zahra menuju kamar nya dengan perasaan dan detak jantung sudah menggila, entah kenapa jantung nya selalu berdentum bigitu cepat seperti suara gendang dalam peperangan.
Dengan perlahan Zahra membuka pintu ia tersenyum saat melihat suaminya sudah duduk bersandar di atas ranjang dengan bertelanjang dada.
"Sini sayang". panggil Al dengan suara parau, sepertinya dia sudah tidak tahan untuk segera menyalurkan hasrat nya yang sudah di ubun2.
Zahra menurut apa yang di katakan suaminya, ia berjalan menghampiri suami nya, kali ini sudah tak ada lagi rasa canggung, Zahra melepas sendiri hijab dan membuang nya sembarang.
Diapun mulai membuka baju yang ia kenakan tanpa Al suruh, Sungguh Zahra sangat aggresif malam ini.
Al tersenyum melihat betapa tidak sabar istrinya malam ini hingga tanpa ia suruh Zahra sudah membuka sendiri pakaian, tanpa malu Zahra naik ke atas ranjang dan mulai mencium Al dengan lembut.
"Sepertinya aku akan di pe*k*sa malam ini", ucap Al menggoda Zahra yang sudah tidak mengenakan sehelai benangpun.
Namun Al masih terus diam hanya sibuk dengan ponselnya, dia pura2 tidak perduli pada Zahra yang sudah terbakar gairah, namun sesungguh nya Al juga sudah tidak sabar karna sejak tadi sesuatu di dalam bokser nya sudah menegang dengan sempurna.
Zahra terus melanjutkan aksinya tanpa memperdulikan Al yang seakan tidak perduli dan masih fokus pada ponsel nya.
"Kalau Mas gak mau, aku tidur aja", ucap Zahra merasa kesal karna Al terus fokus pada ponsel nya tanpa membalas sedikitpun ciuman nya.
Lalu Zahra mengambil selimut dan menutupi tubuh nya yang polos, "Kata siapa aku tidak mau, aku hanya ngetes kamu, hanya segitukah caramu untuk menyenangkan suami mu ini", ucap Al sambil menyusuri lekuk tubuh Istrinya yang tertutup selimut.
Al membuka celana boxer nya dengan cepat dan masuk kedalam selimut yang Zahra kenakan untuk menutup tubuh nya.
Al memeluk tubuk Zahra dengan erat namun Zahra masih memunggungi Al dia masih kesal karna di permain kan oleh suaminya, "Ayolah sayang, kamu jangan marah maaf kanlah aku, aku tidak berniat membuat kamu kesal", bujuk Al karna Zahra tak kunjung menghadapnya.
Zahra lalu berbalik menghadap Al dia merasa kasihan jika mendiami Al terlalu lama, tanpa menunggu waktu Al mencium Zahra dengan gairah yang memuncah ciuman yang begitu lembut namun menuntut.
Sampai2 Zahra meleguh tak tertahan, bukan hanya itu kini Al beralih ke leher jenjang milik Zahra disana Al meninggalkan banyak tanda merah, keduanya benar2 menggila, hasrat yang selama ini mereka tahan ahirnya tesalurkan.
******* memenuhi kamar yang berukuran sangat luas itu, Al benar2 membuat Zahra melayang sampai langit ke tujuh, Al terus memacu tubuh nya untuk mencari pelepasan hingga erangan panjang keluar dari mulut keduanya, yang artinya mereka berdua sudah mencapai pelepasan.
__ADS_1
Al terkulai lemas di atas tubuh Zahra dengan nafas yang masih memburu.