
"Gimana kalau kita susul saja Zahra ke terminal di bangkalan, bapak takut Zahra tidak dapat angkutan karna sekarang jarang ada angkutan yang bisa ngantar kesini karna orang pada suka menggunakan sepeda motor dan mobil pribadi, bahkan di desa ini sudah jarang sekali angkutan umum yang ada hanya di pagi hari sampai siang", ucap pak Lukman.
"Iya pak, tapi kita naik apa untuk pergi ke terminal?" tanya Al, karna pak Lukman bilang bahwa di desa ini sudah jarang angkutan umum.
"Kita pakai mobil bapak saja, tapi mobilnya cuma mobil pik up", jelas pak Lukman.
"Gak apa2 pak, yang penting kita sampai di terminal".
Tanpa menunggu waktu Al dan pak Lukman sudah berangkat menuju terminal, sesampainya di sana Al mencari Zahra di seluruh penjuru terminal bahkan menghampiri bus yang baru sampai untuk melihat apakah Zahra ada di bus tersebut.
Namun sampai siang Al tetap tak menemukan Zahra, ahirnya Al dan pak Lukman memilih untuk kembali pulang takutnya Zahra sudah pulang dan ada di rumah, namun Al lagi2 kecewa setelah sampai di rumah Zahra ia mendapati rumah Zahra masih sepi.
"Nak kamu harus sabar, mungkin Zahra tidak pulang kesini, apa mungkin dia tidak jadi dan ahirnya kembali ke rumah mu di jakarta?" ucap Pak Lukman sambil menepuk pundak Al.
"Mungkin aku harus kembali ke jakarta, dan mencari Zahra di sana siapa tau dia mengurungkan niatnya untuk pergi dari rumah".
Ahinya Al memilih kembali ke jakarta dia ingin mencari Zahra di jakarta, sesampainya di jakarta Al langsung menemui Irfan untuk mengerahkan orang untuk mencari Zahra.
"Aku ingin secepatnya Zahra di temukan, kau urus semuanya kerahkan semua orang2 mu untuk mencari Zahra, dan bagai mana kabar Serli saat ini?"
"Semua perusahaan sudah saya hubungi dan mereka tidak keberatan untuk memecat Serli, dan saya sudah mengusir Serli dari apartemennya, dia sempat menolah tapi ahirnya dia mengalah karna saya mengancam akan melapurkannya ke kantor polisi", jelas Irfan.
"Bagus, awasi dia terus dan pastikan dia tidak akan mendapatkan pekerjaan di manapun, aku ingin melihat dia menderita dan tinggal di jalanan", ucap Al, dengan kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celananya, Al menap keluar jendela besar di ruangan kantornya.
Hatinya benar sakit karna Zahra tak kunjung di temukan.
******
Keesokan harinya Zahra akan pergi untuk periksa keadaannya yang semakin mual dan pusing, Zahra di antar oleh Intan menggunakan mobil Intan sendiri.
"Selamat, Anda akan segera menjadi ibu", ucap dokter itu sambil menjabat tangan Zahra.
Seketika Zahra tersenyum, dan berterima kasih.
__ADS_1
"Iya terima kasih dok",
"Anda harus jaga kesehatan, perbanyak makan buah dan sayur agar janin yang ibu kandung bisa sehat, dan ingat jangan angkat yang berat2, karna janin yang ibu kandung masih lemah", ujar dokter itu.
"Terima kasih Dok, kalau begitu saya permisi pulang", pamit Zahra sambil menjabat tangan sang dokter tersebut.
"Iya silahkan buk"
"Bagaimana Ra?" tanya Intan setelah Zahra keluar.
"Alhamdulillah aku hamil Tan", jawab Zahra merasa bahagia sekaligus sedih.
"Selamat ya Ra, tapi ingat kamu tidak boleh sedih", ujar Intan sambil memeluk Zahra.
Zahra dan Intan ahirnya pulang ke kontrakan mereka. Setelah keadaan Zahra membaik dan sehat Intan mulai mencarikan pekerjaan di tempat ia bekerja, bukan hal yang sulit bagi Zahra untuk melamar pekerjaan apalagi sebagai kariawan biasa.
Denga nilai Zahra sebagai lulusan terbaik di kampusnya dulu bahkan Zahra tak perlu di interview, bagian HRD sudah percaya akan kemampuan Zahra dalam bekerja, apalagi Zahra mengaku pernah bekerja selama 1 tahun, tapi Zahra tidak mengaku sebagai direktur utama di perusahaan nya sendiri.
******
6 bulan kemudian
Kandungan Zahra mulai masuk 8 bulan Zahra berniat untuk segera resing dari pekerjaannya karna dia mulai kesulitan dalam bergerak apa lagi kakinya mulai bengkak.
Hari ini Zahra akan mengajukan surat pengunduran dirinya, tapi sebelum itu Zahra harus menghadiri rapat tahunan karna akan di hadiri oleh direktur utama pemilik perusahaan.
Sebelum rapat di mulai Zahra sudah duduk di ruang rapat bersama rekan2 nya, Zahra di kenal dengan kariawan baru yang sangat berprestasi dia mampu mengerjakan yang tidak bisa rekannya kerjakan, apalagi presentasi yang Zahra sampaikan selalu membuat orang yang hadir dalam rapat selalu terpukau dan kagum dengan pembawaan Zahra yang cerdas dan tenang.
Zahra sedang sibuk membaca laporan saat direktur utama masuk kedalam ruang rapat, Zahra menoleh setelah bapak direktur itu memberikan sambutan.
Betapa terkejutnya Zahra saat melihat orang yang berada di hadapannya.
"Adit", gumam Zahra terkejut, seketika membuat semua orang menoleh ke arahnya, karna mendengar Zahra menyebut bos besar mereka tanpa embel2 bapak.
__ADS_1
Adit tak kalah terkejut melihat Zahra duduk di antara deretan kariawannya, Adit menatap Zahra cukup lama hingga asistennya memberi tau jika Zahra lah kariawan baru yang berprestasi di kantor cabang ini.
"Dia adalah Zahra, kariawan baru yang sangat berprestasi yang saya ceritakan pada anda tempo hari", jelas asisten Adit.
Adit tak bisa membendung rasa penasarannya meskipun banyak orang Adit langsung bertanya di depan kariawan yang lain.
"Kenapa kamu ada di sini,Ra?" tanya adit heran.
"Dit ini sedang rapat, kita bicara nanti saja", tolak Zahra karna tidak mungkin Zahra memberi tau Adit tentang pernikahannya dengan Al di depan banyak orang.
Adit mengangguk seraya berucap, "Setelah rapat selesai temui aku di ruanganku", pinta Adit yang langsung di anggukin leh Zahra.
Semua kariawan saling bisik dan bertanya2 ada hubungan apa bos mereka dengan Zahra, apalagi panggilan mereka seperti sangat akrab.
Setelah rapat selesai Zahra langsung menemui Adit di ruangannya
"Kenapa kamu berada di kota ini, Ra?" tanya Adit heran.
"Aku pergi dari rumah Dit"
Lalu Zahra menceritakan semua tentang rumah tangganya pada Adit, Adit sangat heran dengan kelakuan Al yang tak pernah berubah.
"Apa dia tau jika kamu sedang hamil?" tanya Adit lagi.
"Tidak Dit, dia tidak tau, dan aku harap kamu tidak memberi taunya, karna aku tidak mau dia datang menemui ku di sini, aku merasa lebih bahagia tanpa dia", ucap Zahra tenang, namun Adit tau bahwa tersirat sebuah kerinduan dalam setiap ucapan Zahra yang mengatakan jika dia bahagia tanpa Al.
"Apa kamu sudah tidak mencintainya?"
Zahra tidak menjawab, dia hanya menunduk dengan mata yang mulai mengembun, pertanyaan Adit benar2 membuat Zahra tak mampu berkata2, Zahra tidak bisa mengelak jika cintanya masih utuh pada Al apalagi sekarang ia mengandung anak Al.
"Aku tau kamu masih sangat mencintai Al, kalau boleh aku memberi saran, pulanglah jangan siksa dirimu dengan berada jauh dengan orang yang kamu cintai", ucap Adit. memberi saran agar Zahra pulang.
"Tidak Dit, hatiku terlanjur sakit, aku tau, aku masih sangat mencintainya tapi aku belum siap untuk bertemu dengan dia, hatiku begitu sakit jika mengingat kejadian itu", jelas Zahra dengan air mata berlinang.
__ADS_1