Istri Yang Terlupakan

Istri Yang Terlupakan
BAB 71 Darah daging ku


__ADS_3

Setelah Intan keluar dari halaman sekolah, Al langsung turun untuk menemui Nino, Al berjalan cepat masuk ke dalam halaman sekolah, Nino yang melihat Al masuk ke halaman sekolah, Sontak Nino berlari menghampiri Al dan memeluknya.


"Papa...!! panggil Nino sambil berlari dan memeluk Al.


Al mengusap kepala Nino dan berjongkok di hadapannya, "Papa kangen Nino ya?" tanya Nino polos.


Al tersenyum lalu mengangguk, setelah nya Al mengajak Nino untuk duduk di bangku taman sekolah.


"Ayo sayang, kita duduk di bangku itu", ajak Al pada Nino.


"Kenapa papa tidak pulang ke rumah? Nino sama mama kangen sama papa, kasihan mama pa, setiap malam mama selalu menangis sambil memeluk photo papa", ucap Nino sendu.


"Photo?" tanya Al heran.


"Iya pa, mama sering menangis jika melihat photo papa, bahkan mama sering mengigau memanggil-manggil nama papa", jelas Nino sambil menatap wajah papanya penuh harap.


"Siapa nama kamu sayang?" tanya Al lembut.


"Kok papa gak tau nama anak sendiri?"tanya Nino heran, "Nama ku Nino arya bagaskara pa", jelas Nino antusias.


"Deg"


Jantung Al berpacu begitu cepat mendengar nama belakang Nino.


"Siapa nama mama kamu sayang?" tanya Al lagi, hatinya mulai menduga-duga jika Nino adalah anak nya.


"Masak papa gak tau sama mama Zahra?"


Al bagai tersambar petir saat Nino menyebut nama seorang wanita yang sangat ia cintai, "Apakah kamu anak mama Zahra?" tanya Al dengan suara tercekat di tenggoro kannya.


"Iya pa, mama sering manggil nama papa saat sedang tidur, Apa benar papa adalah papa Al?" tanya Nino memastikan.


"Iya sayang", ucap Al, seraya memeluk Nino, Al sudah tak bisa lagi menahan laju air matanya, ia menangis karna terlalu bahagia.


"Papa sayang sama kamu Nak, papa gak akan pernah ninggalin kamu lagi,papa janji", ucap Al sambil mencium puncak kepala Nino, Al sudah sangat yakin jika Nino adalah anak nya dengan Zahra, karna sebelum Zahra pergi dia sempat melihat tanda2 bahwa Zahra sedang hamil.


"Maaf, apa anda ayah Nino?" tanya seorang wanita yang tak lain adalah ibu guru Nino.


"Iya buk, saya Ayah Nino", jawab Al sopan, Al mengusap air matanya agar tidak di lihat oleh ibu guru Nino.


"Baru pulang ya pak?" tanya ibu itu lagi.


"Iya buk", jawb Al kikuk.

__ADS_1


"Kata bak Zahra bapak ada di luar negeri, bapak beruntung punya anak dan istri seperti mereka, bak Zahra yang cantik dan baik, sedangkan Nino anak yang sangat tampan dan cerdas", ucap ibu itu.


"Iya buk".


"Kalau begitu saya permisi dulu pak", pamit ibu itu.


"Iya silahkan Buk".


Setelah ibu itu pergi Nino kembali bersuara, "Pa, empat hari lagi, ada lomba memasak di sini, kata ibu guru semua murid harus ikut dan harus di temani sama papa dan mama nya, papa datang ya", ucap Nino dengan wajah penuh harap.


"Iya sayang, papa pasti datang", ucap Al meyakinkan Nino.


Tiba2 bel sekolah berbunyi, "Pa,Nino masuk dulu ya", Pamit Nino sebelum meninggalkan papa nya.


"Iya sayang", jawab Al sambil mencium puncak kepala Nino.


Nino langsung berlari masuk ke dalam kelasnya.


"Kamu adalah darah daging ku sayang", ucap Al sambil melihat Nino masuk kedalam kelasnya.


Setelah Nino tak terlihat, Al berdiri dan melangkahkan kakinya menuju mobilnya yang terparkir di luar halaman sekolah, Al berniat untuk menemui Zahra di rumahnya.


Al masuk ke dalam mobil, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata2, Al sungguh tidak sabar untuk bertemu dengan Zahra.


"Assalamu alaikum"


Cukup lama Al menunggu namun tak ada jawaban dari dalam, tiba2 ada seorang ibu2 datang menghampiri Al yang masih berdiri di depan pintu.


"Maaf cari siapa ya?" tanya ibu itu pada Al.


"Oh, maaf buk, saya cari Zahra".


"Oh...! kalau bak Zahra sedang kerja dan bak Intan juga kerja, nanti sore mereka baru pulang", jelas ibu itu sambil menatap Al tak berkedip.


"Kalau begitu saya permisi dulubuk", pamit Al sopan.


Setelah berpamitan Al langsung meninggalkan kontrakan Zahra, Al berpikir dengan siapa Nino pulang sekolah dan dengan siapa pula Nino tinggal di rumah kalau seharian Zahra bekerja.


Al mengusap wajahnya kasar, dia tidak bisa membayangkan kehidupan Zahra selama ini, Zahra yang harus mengurus anaknya dan harus bekerja pula untuk memenuhi kebutuhan hidup se lama 6 tahun.


Al menepikan mobilnya di pinggir jalan, perasaan bersalah kembali menyelimuti hatinya, Al memukul setir mobilnya dengan sedikit keras seraya berucap.


"Aku laki2 yang tidak berguna, maaf kan aku karna tidak bisa menemani mu di saat kamu dalam kesulitan, maaf kan aku karna tidak bisa menemani mu di saat kamu berjuang untuk melahirkan anak kita", ucap Al, tubuh nya bergetar ia tergugu sambil terus memukul setir mobilnya berulang kali.

__ADS_1


Setelah cukup lama Al menghabiskan waktu dengan merutuki rasa bersalahnya, Al kembali melajukan mobil nya menuju sekolah Nino, karna Al berniat untuk menjemput sekali gus mengajak Nino jalan2.


Setelah cukup lama Al menunggu di halaman sekolah, ahirnya Nino keluar dan boleh pulang sekolah, beberapa ibu2 yang juga menjemput anak nya, terlihat mereka saling berbisik karna merasa kagum dengan ke tampanan yang Al miliki.


"Gila ternya ayah Nino sangat tampat", ucap seorang ibu bertubuh gemuk.


"Iya, pantes aja Nino sangat tampan", sahut yang lainnya.


Al melewati ibu2 yang sedang bergosib tentangnya, Al tersenyum saat melewati merekan.


"Permisi ibu", ucap Al sopan, sambil berjalan melewati mereka.


Seketika mereka semua berteriak girang karna Al menyapa mereka dengan sopan.


Al geleng2 kepala melihat tingkah ibu2 itu, lalu segera pergi meninggalkan mereka.


Setelah sampai di dalam mobil Al bertanya, "Nino mau langsung pulang apa mau jala2 dulu?"


"Mau jala2 pa", jawab Nino berbinar.


"Okey, setelah jalan2, nanti papa antar kamu pulang".


Nino begitu senang mendengar papa nya akan mengajak dia jalan2.


Setelah mobil Al keluar dari parkiran sekolah, Zahra datang ingin menjemput Nino, Zahra sudah terbiasa menjemput Nino saat jam pulang sekolah karna Adit telah memberi izin untuk Zahra agar menjemput Nino.


"Bu, apa ibu melihat anak saya Nino?" tanya Zahra pada ibu guru Nino, karna Zahra tidak mendapati anak nya, biasanya Nino selalu duduk di bangku halaman sekolah menunggu Zahra datang , namun sekarang Zahra tidak melihat Nino di mana2.


"Tadi Nino sudah di jemput sama papa nya, bak", jelas ibu guru Nino.


"Papa", tanya Zahra heran.


"Iya bak, papa nya Nino, bahkan tadi pagi dia juga datang menemui Nino, Dia bilang baru datang dari luar negeri", ujar ibu guru Nino.


Zahra mengelengkan kepalanya tidak percaya, seketika air mata nya luruh begitu saja, "Tidak bu, papa nya Nino belum datang dari luar negeri", ucap Zahra di sela tangis nya.


Ibu guru Nino terlihat panik, "Maaf kan saya bak, seandainya saya tau kalau dia bukan papa nya Nino, pasti saya tidak akan mengijinkan Nino pulang dengan dia", sesal ibu guru Nino.


"Apa Ibu masih ingat ciri2 orang yang telah membawa anak saya?"


"Iya saya ingat, orang nya tinggi kulit nya putih dan rambutnya agak gondrong tapi orang nya agak kurus", jelas ibu itu sambil mengingat-ingat fisik Al.


Mendengar bertubuh tinggi dan berkulit putih, Zahra sempat berpikir kalau itu suaminya Al, namun setelah ibu itu berkata rambut gondrong dan orang nya kurus, Zahra yakin itu bukan Al suaminya.

__ADS_1


__ADS_2