
Al sangat jarang pergi ke kantor dia memilih untuk menemani Zahra yang semakin manja dan cengeng, Al hanya perlu bersabar dan terus bersabar.
Entah kenapa semenjak Zahra hamil dia mudah sekali menangis dan manja padahal sebelum hamil Zahra sangat adalah wanita yang mandiri dan tidak cengeng.
Hingga hari yang di tunggu Al dan Zahra tiba, di mana Zahra mulai merasa kontraksi.
"Mas," panggil Zahra sambil memegangi perutnya yang terasa sakit.
"Ada apa sayang?" tanya Al panik.
"Perutku sakit Mas,"
Zahra meringis sambil terus memegangi perutnya yang semakin terasa sakit.
"Kita ke rumah sakit sekarang sayang," ucap Al segera menggendong Zahra dan membawanya masuk kedalam mobil.
Al melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, karna Al tidak mau terjadi apa2 pada Zahra yang terus meringis menahan sakit di perutnya.
"Kamu sabar ya sayang, sebentar lagi kita sampai," ucap Al sambil mengusap kepala Zahra untuk memberi kekuatan padanya.
Sampai ahirnya mobil yang Al kendarai sampai di depan rumsh sakit, Al langsung keluar dan menggendong Zahra kedalam rumah sakit.
"Bapak mohon tunggu di luar," seorang suster melarang Al untuk ikut masuk.
Al menurut dan duduk di kursi di depan ruang persalinan, Al mengusap wajahnya dengan kasar, dari luar ruangan Al bisa mendengan suara Zahra yang berusaha untuk melahirkan anaknya ke dunia.
Seketika buliran bening mengalir dari sudut mata Al, sunggu Al tak tega mendengan suara perjuangan istrinya di dalam sana.
Al hanya mondar-mandir di depan ruangan persalinan, hingga sebuah tangisan bayi membuat langkah kakinya terhenti untuk terus mondar-mandir.
Al tersenyum mendengar tangisan itu semakin kencang, hingga seorang dokter keluar dengan senyum mengembang di wajahnya.
"Selamat pak Al, istri anda telah melahirkan dengan selamat, dan bayi nya berjenis kelamin perempuan," jelas sang dokter sambil tersenyum.
"Terima kasih dok, apaboleh saya menemui istri saya?"
"Tentu, silahkan."
Al langsung masuk menemui Zahra yang masih terbaring di atas brangkar rumah sakit.
Al mendekat dan mencium kening Zahra cukup lama, air mata terus mengalir di pipi Al tanpa bisa di bendung.
"Terima kasih sayang, kamu telah berjuang untuk melahirkan anak kita," ucap Al sambil mengelus pipi Zahra.
"Kenap mas menangis?"
__ADS_1
"Ini adalah tangisan bahagia sayang," ucap Al, dia kembali mencium puncak kepala Zahra.
******
2 tahun kemudian
"Mama," panggil seorang anak kecil sambil berlari dan memeluk kaki Zahra.
"Ada apa sayang?" tanya Zahra lembut sambil mengusap pipi gembil putrinya.
"Kakak Nino jahat ma," adu nya pada Zahra.
"Enggak ma, dia bohong," ucap Nino tidak terima di katakan jahat sama adiknya sendiri.
"Emang kak Nino jahat apa sama Dira?"
"Kak Nino tidak mau main bonika sama Dira ma."
Zahra tersenyum mendengarkan aduan dari putri kecilnya.
"Kak Nino kan laki2 sayang, dia gak mungkin main boneka," jelas Zahra dengan lembut.
Nino hanya menatap dingin keduanya, sifatnya yang menurun dari sang papa memang sangat kentara, dari sikapnya yang dingin dan jarang bicara membuat ia benar Al fersi mini, dulu waktu kecil dia memang banyak bicara dan bertanya tapi seiring bertambahnya usia dia semaki irit bicara.
Namu di balik sifatnya yang dingin dia sangat penyayang pada adik dan kedua orang tuanya, namun dia akan begitu cuek dengan orang baru apalagi dengan orang yang tidak dia kenal.
"Kakak Nino jahat pa," adunya pada Al.
"Jahat kenapa sayang?" tanya Al lembut.
"Aku gak ngapa-ngapai dia pa," Nino mendengus kesal lalu pergi meninggalkan mama dan papanya begitu saja.
"Lihatlah mas, sifatnya sama persis seperti kamu."
Al tertawa mendengar perkataan Zahra, "Iya tapi itu dulu sebelum aku bertemu sama kamu sayang, kini aku telah berubah sejak ada kamu di dalam hidupku, aku sudah tidak seperti es batu lagi , dan sekarang aku juga udah banyak bicara seperti kamu, aku yakin Nino juga akan berubah setelah menemukan wanita yang tepat dalam hidupnya."
"Iya Mas, aku harap juga begitu."
"Oh, ya mas, besok aku mau ajak anak2 ke panti asuhan KASIH BUNDA."
"Iya sayang, tapi maaf aku gak bisa ikut karna aku ada rapat penting besok."
"Gak apa2 mas, aku kesana juga sama Intan dan anaknya."
"Iya, tapi kamu hati2 di jalan."
__ADS_1
"Iya mas."
******
"Assalamu alaikum, buk," ucap Zahra dan Intan bersamaan.
"Waalaikum salam," jawab ibu panti dengan sopan.
"Ayo silahkan masuk," ajak ibu panti pada Zahra dan Intan.
Zahra melihat ibu panti yang sedang menggendong seorang anak kecil seumuran dengan Nadira anaknya dia terlihat sangat manis dan cantik.
"Ini siapa namanya buk?" tanya Zahra sambil membelai pipi anak kecil itu.
"Ini namanya Anisa, dua tahun yang lalu ada seseorang yang menaruhnya di depan panti lengkap dengan namanya juga," jelas ibu panti sambil mengusap kepala Anisa dengan sangat lembut.
"Kasian ya buk, kenapa orang tuanya tega membuang anak secantik dia," ucap Intan tak habis pikir dengan kelakuan orang tua Anisa.
Sedangkan Nino hanya memandang Anisa dengan wajah datarnya, dia seperti tidak tertarik sama sekali untuk kenal apalagi bermain dengan Anisa, lain halnya dengan Nadira yang langsung tertarik untuk berkenalan dan mengajak Anisa untuk bermain, sepertinya Nadira sangat menyukai Anisa.
Setelah cukup lama berbincang dengan ibu panti, Zahra dan Intan berpamitan pada ibu panti.
Setelah berpamitan mereka langsung pulang ke rumah masing2.
******
"Bagaimana tadi siang di panti sayang? apa anak tidak merepotkan kamu?" tanya Al sambil berbaring di samping Zahra.
"Tidak mas, bahkan Nadira sangat senang bermain bersama anak panti, tapi kalau Nino dia tetap cuek dan gak mau main sama sekali," jelas Zahra.
Al terkekeh mendengar penjelasan tentang putranya yang dingin dan cuek terutama pada orang yang tidak ia kenal.
"Bagaimana kalau kita buat adek untuk Nino dan Nadira?"
Zahra langsung mencubit lengan Al yang menurut Zahra tetap tidak berubah meskipun sudah punya anak dua, namu Al selalu saja mesum, dan hasratnya selalu menggebu-gebu seperti pengantin baru padahal usia pernikahan mereka hampir sepuluh tahun.
"Kamu ini mas, masih saja mesum padahal usia kita udah gak muda lagi, anak kita juga udah dua."
"Emang kenapa kalau anak kita udah dua, yang penting semangat ku untuk membuat kamu terbang ke angkasa dan membuatmu mendesah itu tetap menggebu-gebu sayang."
Dengat cepat Al membungkap bibir Zahra dengan sebuah ciuman yang membuat dia tak mampu menolak.
Keduanya larut dalam indah bercinta, meskipu umur pernikahan sudah hampir sepuluh tahun namun bagi Al dan Zahra mereka tetap seperti sepasang pengantin baru, karna sedikitpun rasa cinta mereka berdua tak berkurang sedikitpun.
TAMAT
__ADS_1
Terima kasih tetap setia membaca karya author yang receh ini, dan jangan lupa untuk membaca kelanjutan tentang kisah Nino dan Anisa. yang berjudul PENYESALAN.