
Ijab qabul yang di laksanakan di rumah kontrakan Intan berjalan dengan lancar, hanya beberapa tamu yang di undang dan juga RT setempat.
Al yang tampil dengan rambut barunya terlihat begitu tampan namun Zahra sedikit kecewa karna Al membiarkan bulu2 halus di wajahnya, "Mas, kenapa jambang nya gak di cukur?" tanya Zahra sedikit kecewa.
"Ini sengaja sayang, biar nanti di malam pertama kita kamu bisa merasakan sedikit geli saat aku mencium leher kamu".
Zahra menyikut perut Al dari samping, tidak sakit, namun sukses membuat Al geli sekaligus kaget.
"Kamu udah gak sabar ya, kok udah mulai nyikut2 segala", goda Al.
Sontak Zahra menoleh dan mencubit Al tepat di perut ratanya, "Sayang jangan cubit2 dong, gimana kalau dedek ku nanti bangun, kamu harus tanggung jawab", bisik Al, karna masih ada tamu yang belum pulang.
"Emang aku perkosa mas, kok pakek tanggung jawab segala", jawab Zahra dengan berbisik pula.
Al tersenyu geli dengan jawaban Zahra, "Aku sih dengan senang hati mau jika kamu perkosa aku, bahkan sekarang aku sangat siap", ucap Al berbinar.
"Dasar mesum".
"Ha..ha..ha..", tawa Al menggelegar, sampai2 orang yang ada di ruangan itu menoleh dan menatap Al heran.
Setelah acara selesai Al dan Zahra beserta Nino sudah bersiap untuk berangkat ke bandara, sedangkan Irfan dan Intan akan menyusul karna Irfan berencana untuk memperkenalkan Intan pada keluarga besarnya yang ada di surabaya.
Irfan sudah berniat untuk melamar Intan setelah memperkenalkan pada kedua orang tua nya.
"Maaf ya Ra, aku gak bisa ikut kamu sekarang, karna setelah bertemu dengan keluarga Mas Irfan aku juga harus pulang ke madura untuk pamit dan memperkenalkan Mas Irfan pada kedua orang tua ku".
"Iya gak apa2 Tan, tapi setelah urusan kamu selesai, kamu harus cepat berangkat ke jakarta sama Irfan".
Zahra lalu memeluk Intan, "Aku berangkat dulu ya Tan, ingat cepat berangkat jangan lama2".
"Oke bos, hati2 di jalan".
Setelah memeluk Zahra kini giliran Nino yang Intan peluk, "Tante gak mau ikut Nino?" tanya Nino sedih.
"Nanti tante nyusul sayang, tante masih ada urusan, nanti kalau urusan tante selesai, tante pasti berangkat dan tinggal sama Nino di jakarta".
"Tante gak bohong kan?"
"Enggak sayang, tante gak bohong", ucap Zahra sambil mencium pipi Nino.
__ADS_1
Setelah berpamitan Zahra dan Al beserta Nino, sudah berangkat menuju jakarta, sedangkan Intan di ajak Irfan untuk berkenalan dengan kedua orang tuanya.
******
Jakarta
Setelah beberapa jam ahirnya keluarga kecil Aldi bagaskara kini telah sampai di kediaman nya.
"Ayo sayang kita masuk", ajak Al dengan memegang erat tangan Zahra dan tangan yang satunya lagi untuk menggendong Nino.
Beberapa pembantu sudah berjejer rapi untuk menyambut kedatangan majikan nya, "Selamat datang Nyonya", ucap salah satu dari mereka, sambil ketiganya membungkuk secara bersamaan.
"Bagaimana kabar kalian semua?" tanya Zahra sambil bersalaman pada mereka bertiga.
"Alhamdulillah kami semua baik2 saja, Nyonya".
Zahra tersenyum jika pembantu di rumah nya baik dan tetap setia bekerja meskipun di sudah pergi dari rumah.
"Aku minta maaf, karna dulu telah pergi dari rumah ini tanpa pamit pada kalian semua, dan terima kasih kalian semua telah menjaga suami ku dengan baik".
"Anda tidak perlu berterima kasih pada kami nyonya, karna itu sudah menjadi tanggu jawab kami selaku pembantu di rumah ini, kami semua sangat senang nyonya bisa kembali ke rumah ini lagi",
"Kalau begitu kami undur diri karna kami akan memasak untuk makan malam",
"Silahkan bik".
Setelah itu Zahra langgsung masuk kedalam kamar menyusul suami dan anaknya, Mata Zahra berkaca-kaca saat tiba di kamar yang sudah lama ia tingkalkan, seketika ia terkejut karna Al memeluknya dari belakang.
"Sayang kamu kok lama sekali di bawah?" tanya Al sambil terus melancarkan aksinya untuk membuka hijab yang Zahra kenakan.
"Aku masih ngobrol sama bibik Mas".
Dengan sangan cepat Al sudah membuang hijab Zahra ke sembarang arah, diapun mulai mencium Zahra dengan sangat buas, persis seperti hewan buas yang sedang memangsa buruan nya.
"Mas, a..aku.. mau mandi dulu", ucap Zahra terbata karna sejak tadi Al tak membiarkan Zahra bernafas apalagi bersuara.
"Kita akan mandi bersama sayang", rajau Al sambil terus mencium Zahra tanpa ampun.
Al membopong tubuh Zahra yang sudah pasrah tanpa penolakan, keduanya masuk kedalam kamar mandi lalu menguncinya agar tidak ada orang yang bisa mengganggu kegiatan mereka berdua.
__ADS_1
Al tak kuasa menahan hasrat yang selama enam tahun ia tahan, kini di hadapan nya sudah berdiri Zahra tanpa sehelai benangpun di tubuhnya begitu pula dengan Al.
Al membaringkan Zahra di dalam bathtub yang sudah di isi air hangat, dan mulai mencumbunya dengan lembut, Keduanya menikmati pemainan yang selama ini mereka rindukan.
6 tahun Al berpuasa dan sekaranglah ia berbuka.
"Nino kemana Mas?" tanya Zahra di sela kegiatan nya.
"Kamu jangan kawatir sayang dia sedang bermain di kamarnya sama mang ujang", jawab Al namu tetap terus melanjutkan aksinya tanpa jeda sedikut pun.
Hampir satu jam Al dan Zahra menghabiskan waktu di dalam kamar mandi.
"Nanti malam kita ulangi lagi sayang dan aku mau kita lakukan di atas ranjang saja", ucap Al setelah mencapai pelepasan untuk yang kesekian kalinya.
Zahra tersenyu seraya berkata, "bagaimana kalau Nino mau tidur sama kita?"
Al menelan ludahnya dengan kasar mendengar jika Nino mau tidur dengan mereka karna Al sudah berniat tidak akan membiarka Zahra tidur semalam suntuk.
"Carilah alasan supaya Nino tidak mau tidur sama kita, aku tidak mau terganggu saat kita melakukan kegiatan kita yang tertunda selama enam tahun, sudah lama aku menunggu saat seperti ini, dan haruskah aku kembali kecewa karna Nino anak kita", ucap Al dengan sorot mata penuh harap.
"Iya Mas nanti aku usahakan biar Nino tidur sama bik Inah".
"Terima kasih sayang", ucap Al sambil mengecup bibir Zahra sekilas, Setelah itu mereka berdua mandi besar setelah melakukan penyatuan.
Hari semakin sore Al dan Zahra melaksanakan sholat asyar berjemaah, setelah selesai sholat Zahra keluar dari kamar ia mencari keberadaan Nino yang sejak tadi dia tinggalkan karna harus melayani hasrat sang suami yang sudah tidak bisa ia tahan sampai nanti malam.
"Mama...!" panggil Nino sambil berlari memeluk Zahra.
"Mama kemana aja, dari tadi Nino cari kok gak ada?" tanya Nino kesal.
"Mama tadi istrahar di kamar sayang", jawab Zahra terpaksa berbohong karna tidak mungkin dia bilang yang sebenarnya sama Nino.
"Terus papa kemana?" tanya nya lagi.
"Papa juga istirahan sama mama", lagi2 Zahra harus berbohong.
penguman novel baru.
__ADS_1