
"apa yang salah dengan ku, kenapa kau seperti menjauhiku Ra, apakah aku sudah berbuat salah padamu?" tanya Al dalam hati.
"Jika kamu capek istirahatlah, karna nanti malam masih ada acara resepsi", ucap Al masih terus memandang wajah Zahra yang sedingin salju.
"Aku akan duduk di sofa, kamu tidak perlu takut aku tidak akan menyentuhmu jika kamu memang tidak siap untuk aku sentuh, karna aku tau, aku bukanlah pria yang sempurna seperti yang kau inginkan", jelas Al yang sukses membuat hati Zahra bagai di remas.
tapi dia tetap tidak bergeming dari duduknya, hatinya sudah mengeras bagai batu yang sulit untuk di pecahkan, Zahra membaringkan tubuhnya di tempat tidur dia tidak perduli apapun tanggapan Al tentang dirinya, tapi tak bisa ia pungkiri bahwa ada perasaan bersalah yang ia rasakan tapi tak mampu ia tunjukkan.
Al hanya memandang punggung Zahra yang mulai terlelap, hatinya sakit saat sang istri harus menolak untuk sekedar ia cium padahal seharusnya bukan hanya ciuman yang ia dapatkan setelah sah menjadi suami istri melainkah seluruh jiwa dan raganya bisa ia dapatkan.
"Aku akan tunggu sampai kamu siap untuk ku sentuh", gumam Al yang masih bisa di dengar oleh Zahra, karna sebenarnya Zahra belum terlelap, dia hanya pura2 tidur agar Al tidak menyentuhnya lagi.
Seketika air mata meluncur dengan deras mendengar kata2 Al, dia merasa bersalah karna telah mengabaikan suaminya sendiri.
"*Maaf kan aku mas, aku tidak bermaksud untuk mengabaikanmu tapi sungguh aku tidak mampu melakukannya, bayanganmu dengan wanita itu selalu mengusikku saat kau mulai me*nyentuhku", ucap Zahra dalam hati.
Sesungguhnya ia sangat mencintai suaminya tapi video itu benar2 membuatnya takut, takut Al akan meninggalkannya setelah mendapatkan apa yang ia inginkan.
Setelah beberapa jam Zahra beristirahan kini merekan harus bersiap-siap untuk acara resepsi, Zahra menggunakan gaun pengantin yang begitu indah, membuat ia terlihat cantik dan anggun sesekali Al mencuri pandang sekedar ingin melihat sang istri yang kini hatinya sudah beku seperti es.
Beberapa teman Al mulai naik kepelaminan untuk memberikan selamat padanya dan juga Zahra, tak jarang dari antara teman wanita Al ada yang terang-terangan mencium bahkan memeluk Al dengan manja, itu jadi hal biasa bagi Al dan semua teman2nya.
__ADS_1
tapi berbeda dengan Zahra yang dari awal memang tidak suka dengan segala macam bentuk pergaulan bebas yang membebaskan bersentuhan fisik laki2 dan perempuan yang bukan muhrim.
Dia hanya diam memperhatikan suaminya di cium bahkan di peluk wanita lai di hadapannya, hatinya sakit melihat itu semua tapi dia tidak bisa berbuat apa2 karna tidak ingin mempermalukan suaminya sendiri.
"Selamat ya Al", ucap seorang wanita yang berpakaian seksi dan cantik, dia mencium pipi Al dengan manja lalu mengajaknya bersua foto, anehnya Al hanya diam tanpa menolak sedikitpun, membuat Zahra semakin kesal di buatnya.
Al melirik sebentar pada istrinya dia melihat Zahra seperti sedang menahan kesal dan marah tapi Al membiarkannya karna Al sengaja ingin membuat dia cemburu.
Zahra semakin sesak di dadanya kala melihat Serli mulai naik ke pelaminan untuk memberikan selamat padanya dan juga Al.
Zahra tersenyum sinis saat Serli mulai mendekan dan bersalaman dengannya.
"Selamat atas pernikahan kalian, semoga kamu bahagia", bisik Serli di telinga Zahra sambil tersenyum meremehkan.
"Hahaaa...!! Serli tertawa dengan pertanyaan Zahra karna menurutnya itu sangat lucu.
"Jangankan nomor ponselmu, membunuhmu pun aku bisa", jawab Serli tak kala sengit, setelah berucap sedemikian rupa Serli mulai mendekati Al yang sedang sibuk berbincang dengan teman2nya yang lain.
Zahra mengepalkan tangannya untuk mengusir segala rasa sakit dan sesak akibat ulah dan ucapan Serli dan tentunya gambaran video itu yang kembali muncul saat Serli mencium dan memeluk Al tepat di hadapannya.
"Al sayang, kau sangat tampan malam ini, tapi sayang yang bersanding denganmu bukan aku, wanita yang selama ini kamu inginkan, tapi jika kamu tidak bahagia aku tidak keberatan jika kamu mau kembali bersamaku", ujar Serli sambil mengelu-elus dada Al yang di balut dengan Jas.
__ADS_1
Al mendengus kesal karna perkataan Serli dia tidak mau Zahra semakin menjauh darinya karna ulah Serli, "Pergilah Ser, aku tidak akan mungkin kembali padamu meskipun aku tidak bahagia dengan pernikahanku", ucap Al kesal, Serli pergi meninggalkan Al dengan menghentakkan kakinya kesal.
Ada perasaan lega di hati Zahra karna Serli sudah pergi meninggalkan pesta, tapi raut wajahnya masih dingin tak tersentuh, pikirannya selalu mengingat video yang Serli kirim padanya.
"Apa yang kamu bicarakan dengan perempuan gila itu?" bisik Al di telinga Zahra.
"Tidak ada", jawab Zahra singkat, jawaban Zahra membuat Al semakin yakin jika ada sesuatu yang terjadi dan mengusik pikiran Zahra, Al terus berpikir keras hingga seseorang naik kepelaminan dan menyalami Zahra dengan penuh kekaguman.
Dia adalah Adit orang yang selalu mengagumi Zahra bahkan dia pernah berharap suatu saat bisa hidup bahagia dengan Zahra tapi harapannya sirna setelah ia tau jika Zahra adalah tunangan seorang Aldi bagaskara orang yang sangat berpengaruh di kalangan pebisnis muda.
"Selamat Ra, semoga kamu bahagia", ucap Adit tulus, dia menjabat tangan Zahra cukup lama hinggal Al melerai tangan mereka berdua.
"Apa perlu selama itu menjabat tangan istri saya", ujar Al kesal sambil menatap Adit penuh kebencian.
Adit terkekeh dengan ucapan Al, "Anda tidak perlu cemburu pada saya karna saya tidak akan mengambil milik orang lain tapi jika anda melepaskannya jangan harap saya tidak akan mengambilnya karna dengan senang hati saya pasti menerima dia meskipun itu bekas anda", jelas Adit begitu tenang tapi mengandung ancaman yang membuat Al meradang dan kesal.
lalu Adit segera turun setelah tersenyum manis pada Zahra yang di balas juga sebuah senyuman oleh Zahra, Al semakin kesal karna Zahra bisa tersenyum pada Adit sedangkan padanya hanya kekesalan yang ia tunjukkan.
"Aku tidak suka jika kamu tersenyum pada pria lain", ucap Al dengan nada mengancam.
"Lalu apakah saya suka melihat anda berciuman dan berpelukan di depat mata kepala saya sendiri?" tanya Zahra dengan sedikit kesal karna Al hanya mementingkan dirinya sendiri dan tidak perduli dengan perasaan Zahra.
__ADS_1
Al menoleh dan menatap Zahra lekat, ada perasaan senang mendengar Zahra cemburu karna dia berpelukan dengan wanita lain tapi Al juga tidak bisa menampik jika Zahra berubah bukan karna hal itu melainkan sesuatu yang terjadi dan Al sendiri tidak tau kenapa Zahra berubah menjadi dingin dan seakan menjauhinya.
Al terus mengingat-ingat terahir kali dia menghubungi Zahra, Zahra masih bersikap dan berkata manis bahkan ia selalu menunjukkan perhatiannya.