
Al tersenyum bahagia mendengar jawaban Zahra, yang katanya nanti malam dia akan mendapatkan haknya sebagai suami.
"Baiklah kali ini kamu selamat, karna aku masih ada urusan sama papa", ujar Al dengan tangan yang kini berada di pinggang sang istri yang hanya di balut dengan handuk.
Sebelum berlalu kekamar mandi Al sempat mencuri ciuman dari sang istri, membuat keduanya terkekeh pelan.
Al masuk kedalam kamar mandi dengan perasaan begitu bahagia, begitupun Zahra yang selalu tersenyum mengingat sang suami yang begitu bahagia mendapati dirinya telah menerima dan memaafkannya.
Al sudah tidak sabar menunggu nanti malam karna bagi Al, malam ini adalah malam yang sangat ia tunggu2 selama ini, hingga keduanya turun untuk sarapan pagi dan mereka mulai duduk untuk sarapan.
"Al, ada yang ingin papa bicarakan sama kamu", ucap tuan Fatih setelah mereka selesai sarapan.
"Iya Pa, ada perlu apa?" tanya Al dengan santai, mereka semua masih duduk di meja makan.
"Kantor cabang di singapura sedang ada masalah dan papa mau kamu berangkat pagi ini dengan Irfan, untuk mengurus dan menyelesaikan masalah di sana", jelas Tuan Fatih.
"Tapi pa", tolak Al.
"Tapi apa Al?" hanya kamu yang bisa menyelesaikan masalah di sana karna saat ini papa sedang kurang sehat, dan papa harap kamu mau, di sana kamu hanya tiga hari kok", jelas Tuan Fatih yang begitu berharap pada putra kesayangannya.
"Bagaimana Nak, apakah kamu tidak keberatan jika Al pergi untuk mengurus pemasalahan di singapura, kini Tuan Fatih bertanya pada menantunya Zahra.
Al menatap sang istri seakan meminta pendapat, tapi dalam hatinya ia sungguh tak rela jika harus meninggalkan sang istri meskipun hanya tiga hari.
Zahra mengangguk sambil menatap sang suami, sesungguhnya ia juga tidak rela harus di tinggal sementara, tapi dia tidak mau egois dia juga tidak mau mengecewakan mertuanya.
"Iya pa, aku gak keberatan", jawab Zahra setelah cukup lama saling pandang dengan sang suami.
Al menghela nafas sebelum menjawab, apakah dia mau atau tidak.
"Iya Pa, aku akan berangkat pagi ini, jawab Al dengan wajah menunjukkan keterpaksaan.
"Kemasi barang2 mu dulu, sebentar lagi Irfan akan datang menjemputmu", ujar Tuan Fatih, seraya berdiri dari duduknya dan meninggalkan Al dan Zahra.
__ADS_1
"Ayo sayang", ajak Al sambil menarik tangan Zahra, Zahra mengikuti langkah suaminya dengan perasaan tidak rela, ia begitu enggan untuk di tinggalkan apalagi hubungannya dengan sang suami sudah mulai menghangat.
Al membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, pikirannya melayang mengingat nanti malam istrinya akan memberikan haknya sebagai suami, namun apalah daya dia tidak bisa menolak permintaan papanya karna kantor cabang di singapura memang ada masalah.
Zahra hanya berdiri menatap sang suami yang kelihatan begitu banyak pikiran.
"Berapa baju yang ingin anda bawa?" tanya Zahra memecah keheningan di antara mereka.
Al bangun dari tempat tidur ia melihat istrinya sudah memasukkan beberapa kemeja dan jas serta celana kedalam koper, dengan langkah gontainya Al menghampiri sang istri yang sedang sibuk memasukkan baju2nya kedalam koper.
"Apakah kamu tidak apa2, aku tinggal sebentar?" tanya Al tanpa semangat , Zahra hanya menggeleng lalu tersenyum, hanya itu jawaban yang ia berikan.
"Lalu bagai mana dengan nanti malam?" tanya Al, kini posisi mereka sudah sangat dekat.
"Masih banyak waktu untuk melakukan itu", jawab Zahra tertunduk malu2.
"Bagaimana kalau sekarang?"
Seketika Zahra mendongak menatap sang suami tidak mengerti.
Al tak lagi perduli dengan keraguan Zahra, dengan penuh gairang ia mencium bibir istrinya tanpa ampung, membuat Zahra meleguh tak tertahan, perlakuan manis dan tiba2 dari sang suami membuat akal sehat dan kesadarannya seakan lenyap entah kemana.
Zahra menerima setiap sentuhan yang Al lakukan tanpa penolakan sedikitpun, rasa yang sempat hilang kini kembali memuncah saat keduanya benar larut dalam hasrat yang menggila.
Al seakan lupa dengan jatwal pesawat yang akan ia tumpagi, dia menanggalkan pakaianya satu persatu tanpa perduli dengan waktu, hingga sebuah ketukan pintu membuat ia teringat bahwasanya ia harus berangkat.
"Tok....tok...tok...!!
"Al..! Irfan sudah datang Nak", panggil Bu Siska dari luar kamar Al.
Al mendengus kesal, dengan malas ia menjawab panggilan mamanya penuh kekesalan.
"Iya Ma, sebentar lagi aku keluar, jawab Al tanpa semangat.
__ADS_1
Sebelum Al bagun dari tubuh sang istri ia memandang sosok Zahra penuh kekecewaan, belum sempat mereka menyatu, lagi2 ketukan pintu menggagalkan mereka.
Al mengusap bibir Zahra yang terlihat bengkak, semburat rasa kecewa terpancar dari wajah mereka berdua karna belum sempat menyatukan diri dan cinta mereka.
"Setelah aku pulang dari singapura, kita akan pindah dari rumah ini, karna aku tidak mau kegiatan kita seperti ini akan kembali terganggu", ucap Al sambil kembali mencium bibir sang istri, zahra hanya tersenyum menanggapin kekesalan sang suami.
"Zahra mendorong pelan dada Al agar ia segera bersiap-siap.
"Nanti Mama manggil lagi", ujar Zahra sambil menarik bajunya yang sudah berserakan di lantai, lalu Al berdiri hanya memakai ****** ***** yang masih tersisa di tubuh atletisnya.
"Kenapa harus ada masalah", omel Al sambil memakai kemeja dan celana, Zahra tersenyum melihat suaminya mengomel tidak jelas apalagi dengan muka di tekuk.
Setelah selesai memakai baju Zahra menghampiri sang suami untuk membantunya memakaikan dasi, "Tidak perlu kesal, kita masih bisa melakukannya lain waktu", ucap Zahra menenangkan sang suami.
"Mungkin kamu bisa menahannya, tapi aku tidak", jawab Al kesal sambil terus memperhatikan sang istri yang membantunya memasangkan dasi.
"Aku berangkat dulu, kamu hati2 di rumah", ujar Al sambil mencium puncak kepala Zahra.
Zahra hanya mengangguk sebagai jawaban.
Al mulai mengambil koper dan berjalan, sampai di ambang pintu Al berhenti karna Zahra tiba2 memanggilnya.
"Mas..!, panggil Zahra dengan air mata yang tak mampu lagi ia tahan, Membuat Al menoleh karna Zahra memanggilnya dengan sebutan MAS.
Seketika tubuh Al membeku mendapati sang istri menangis karna ia ingin pergi, dengan langkah cepat Zahra berhambur memeluk Al dengan sangat erat.
"Aku mencintai mu", ucap Zahra di sela tangisnya,
"Aku juga mencintaimu", jawab Al semakin erat memeluk sang istri, "Jaga dirimu baik2, aku berangkat", pamit Al setelah melerai pelukannya.
Al menatap wajah sang istri sesaat lalu mencium keningnya, dia segera berlalu meninggalkan sang istri yang terus menangis, Al tidak sanggup melihat sang istri yang terus menangis, jika dia tidak lekas berangkat dia sendiri kawatir akan membatalkan keberangkatannya.
"Ayo Fan", ajak Al setelah sampai di lantai bawah.
__ADS_1
"Iya Tuan", jawab Irfan seraya berjalan sambil membawa koper Al.
Al berangkat dengan perasaan sedih di tidak rela meninggalkan sang istri dalam keadaan menangis, hatinya sakit melihat Zahra begitu sedih tapi dia tidak mungkin membatalkan keberangkatannya.