Istri Yang Terlupakan

Istri Yang Terlupakan
BAB 48 Rencana pernikahan


__ADS_3

Tuan Fatih duduk di ruang tamu menunggu anak dan istrinya yang tak kunjung selesai berdandan, dia melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul 7: 30 malam tapi anak dan istrinya tak kunjung tirun membuat ia kesal.


"Ma, ayo ma, kita sudah di tunggu!" teriak Tuan Fatih pada istrinya.


"Iya pa, sebentar...!" teriak Bu Siska, lalu ia turun dengan tergopoh-gopoh


"Al nya mana pa?"


"Mana papa tau!", ucap Tuan Fatih kesal


Bu Siska merengut lalu segera meninggalkan suaminya untuk memanggil anak kesayangannya, saat masuk kekamar Al dia begitu terkejut mendapati baju2 Al yang berserakan di mana2.


"Ya Allah Al..! kamu sedang apa nak?" tanya Bu Siska heran sambil geleng2 kepala melihat kamar Al yang penuh dengan baju di mana2.


"Aku bingung ma, mau pakai baju apa", jelas Al putus asa.


"Ini semua baju kamu kan bagus sayang", ucap Bu Siska sambil memilih baju buat Al


"Apanya yang bagus ma", kesal Al


"Coba baju ini", Bu Siska menyodorkan sebuah baju batik yang sangat bagus buat Al.


Awalnya Al ragu untuk mencoba tapi ahirnya ia coba juga karna dia sudah merasa lelah dari tadi memilih tapi tidak ada yang cocok.


"Lihat, kamu sangat tampan pakai batik ini", ucap Bu Siska sambil menatap anak kesayangannya.


Al berdiri di depan cermin memperhatikan penampilannya sendiri, seketika senyum tercetak di wajahnya, benar kata mamanya ia sangat tampan.


"Ayo ma, kita berangkat", ajak Al begitu semangat


Tidak butuh waktu lama, kini mereka sudah sampai di kediaman keluarga Wijaya.


"Assalamu alaikum"


"Wa'alaikum salam"

__ADS_1


Tuan Fatih dan Tuan Ilham berpelukan hangat sedangkan sang istri bercipika cipiki,


"Maaf ya Ta, kita terlambat, soalnya aku mesti dandanin Al", jelas Bu Siska yang sukses membuat semua orang tertawa renyah.


"Ayo silahkan duduk", ajak Tuan Ilham.


Tuan Fatih beserta istri dan anaknya kini telah duduk di sofa ruang tamu kediaman keluarga Wijaya, Al mengedarkan pandangannya mencari sosok pujaan hati yang sangat ia rindukan.


Tapi Zahra tak kunjung keluar, tapi setelahnya ia keluar membawa minuman serta camilang untuk di hidangkan pada keluarga calon mertuanya.


lalu Zahra mencium punggu tangan kedua calon mertuanya bergantian.


"Kamu cantik sekali malam ini sayang", puji Bu Siska, Zahra hanya tersenyum mendengar pujian calon mertuanya, lalu ia memilih duduk di samping mamanya dan berhadapan langsung dengan Al.


sesekali Al mencuri pandang melihat Zahra yang menunduk, dia begitu senang melihat Zahra berdandan sangat cantik malam ini, bahkan Al sempat tidak berkedip saat pandangan mereka berdua bertemu ada rasa rindu yang memuncah antara keduanya.


"Maksud kedatangan kami kesini adalah untuk membahas perihal pernikahan anak2 kita Ham", ucap Tuan Fatih mengutarakan maksud kedatangannya.


"Iya, Aku berharap mereka segera menikah, karna aku sudah tidak sabar untuk menggendong cucu", jawab tuan Ilham antusias, yang sukses membuat mereka semua tersenyum, termasuk Al dan Zahra.


"Aku setuju apa kata mu Tih, yang penting mereka berdua siap",


"Bagaimana Al, apakah kamu siap menikah satu bulan lagi?" tanya Tuan Fatih pada putranya.


"Jangankan satu bulan lagi, besokpun aku siap pa", jawab Al seenaknya


semua orang menatap Al tidak percaya lalu mereka tertawa bersama, mendengar Al yang sudah tidak sabar untuk menikah dengan Zahra.


"Menikah itu bukan perkara mudah Al, kamu harus siap lahir dan batin untuk menjadi imam bagi istrimu, kamu juga harus mencintai dan menyayanginya sepenuh hatimu", jelas Tuan Fatih yang langsung di anggukin oleh Al.


dari tadi Zahra hanya senyum sambil menunduk, karna mendengar Al yang sudah tidak sabar untuk menikahinya, dia juga merasakan hal yang sama ingin segera bersama dan membina rumah tangga yang bahagia dengan Al.


Tapi Zahra seorang wanita yang tidak akan pernah mengutarakan isi hatinya karna dia akan merasa malu jika ia mengatakan yang sebenarnya.


"Apa kamu setuju, sayang?" tanya nyonya Anita sambil mengusa-usap punggung Zahra.

__ADS_1


"Aku terserah kalian semua", ucapnya lirih, Membuat Al tersenyum bahagia setelah mendengar Zahra pasrah pada semua orang.


"Kalau begitu kita sepakat satu bulan lagi kalian akan menikah", ucap Tuan Fatih ahirnya, dan semua orang mengangguk setuju.


Semua orang merasa bahagia termasuk Al dan Zahra yang sudah tidak sabar untuk segera sah menjadi suami istri.


"Om, Tante, Apa boleh kalau saya bicara berdua dengan Zahra?" tanya Al meminta izin.


"Ya boleh lah, sayang, asalkan Zahra mau", jawab Nyonya Anita.


Al melihat Zahra untuk meminta persetujuan dan ahirnya Zahra mengangguk, keduanya berdiri lalu meninggalkan orang tua mereka setelah keduanya berpamitan.


Zahra mengajak Al untuk ke taman belakang yang terdapat gasebo, di sana mereka akan bicara dari hati ke hati, Zahra mulai duduk dan Al duduk di samping Zahra, Al menoleh lalu memandang wajah Zahra lekat.


Cukup lama keduanya terdiam hingga Al memulai pembicaraan terlebih dahulu.


"Apakah kamu siap dengan pernikahan ini Ra", tanya Al , lalu Zahra menoleh dan menatap wajah Al lekat, lalu ia tersenyum dan mengangguk, membuat Al tersenyum bahagia.


Al berdiri lalu duduk bersimpuh di hadapan Zahra, membuat jantung Zahra seketika berdebar karna Al tiba2 bersimpuh di hadapannya.


Al meraih kedua tangan Zahra lalu menciumnya cukup lama membuat Zahra memejamkan matanya karna merasa terharu atas tindakan Al yang tiba2.


"Ijinkanlah aku untuk mencintaimu dengan segala kekurangan dan kelemahanku tapi aku berjanji akan mencintaimu sepenuh hati meskipun diriku terdapat banyak kekurangan dan kelemahan, aku tidak punya apa2 selain cinta yang tulus untukmu", ucap Al sambil mendongak menatap Zahra yang kini wajah cantiknya telah basah oleh air mata.


"Kenapa kamu menangis, apakah kamu tidak bahagia atas rencana parnikahan ini?" tanya Al kawatir.


Zahra menggeleng sambil terisak, "Aku sangat bahagia dengan rencana pernikahan ini dan saya berharap anda sungguh2 dengan ucapan anda", jelas Zahra membuat Al semakin erat memegang tangan Zahra.


Al menghapus air mata Zahra dengan lembut, "Aku berjanji akan membahagiakanmu, kamu akan menjadi wanita yang paling bahagia di dunia ini, aku janji", jelas Al yang mampu membuat Zahra kembali menitikan air mata.


"Cukup, air mata ini tidak boleh keluar lagi, aku tidak akan membiarkan kamu menangis", ucap Al sambil menghapus air mata Zahra, membuat Zahra tersenyum bahagia.


Seandainya Zahra tidak akan menolak pastilah Al akan memeluk Zahra dengan erat saking bahagianya, tapi Al tidak akan melakukan itu semua sebelum ia sah menjadi suami istri.


"Ayo kita masuk, nanti keluarga kita mengira kita ngapa-ngapain", ajak Al sambil menari tangan Zahra agar berdiri dan masuk kedalam.

__ADS_1


Mereka berdua masuk sambil berpegangan tangan, tapi Zahra melepas pegangan tangannya setelah sampai di ruang tamu tempat keluarganya mengobrol, dia merasa malu jika sampai kedua orang tuanya melihat kemesraan antara dia dan Al.


__ADS_2