
"Tapi menurutku sebaiknya kamu memberi tau Al tentang kehamilanmu, dia berhak tau karna anak yang ada di dalam perutmu itu adalah darah danging nya, tidak seharusnya kamu merahasiakan ini semua dari suami kamu", ucap Adit menasehati Zahra.
"Maaf kan aku Dit, aku benar2 tidak bisa, aku akan menjaga dan membesarkan anak ini sendiri, jika waktunya sudah tepat aku akan memberi taunya, aku akan mempertemukan mereka berdua", jelas Zahra sambil mengusap perutnya yang sudah besar.
"Jika memang itu keputusanmu, aku tidak bisa berbuat apa2, jika kamu butuh sesuatu kamu jangan sungkan karna aku akan siap membantumu kapan saja", ucap Adit dengan senyum tulusnya.
"Terima kasih Dit"
******
6 bulan berlalu, 6 bulan pula Al menutup dirinya dari dunia luar, dia hanya bekerja dan selebihnya ia di rumah bahkan dia sering mengurung dirinya dalam kamar.
Kehidupan Al berubah drastis, setelah di tinggalkan oleh Zahra, sikapnya yang dulu ramah, kini berubah dingin bahkan ia jarang bicara dengan siapapun bahkan dengan orang tuanya saja Al tak pernah bicara apalagi menemui mereka.
Karna sejak kepergian Zahra, kedua orang tuanya begitu murka hingga melarang Al untuk datang kerumahnya kecuali membawa Zahra pulang, karna itulah sejak kepergian Zahra Al tak pernah mengunjungi rumah kedua orang tuanya.
Bahkan Al terlihat seperti mayat hidup, kerjaannya hanya melamun, beberapa pembantu di rumahnya memandang Al iba, mereka sangat kasihan melihat majikannya sangat terpuruk tapi tak ada yang bisa mereka lakukan kecuali melayani apapun yang menjadi kebutuhannya.
******
6 Tahun kemudian.
"Mama....!!" panggil seorang anak kecil, ia belari dan memeluk mama nya, dia begitu senang karna mamanya sendiri yang menjempunya ke sekolah karna biasanya hanya tantenya yang datang menjemput.
Ya dia adalah putra Zahra yang bernama Nino arya bagaskara umurnya baru jalan 5 tahun dan dia sudah masuk sekolah di taman kanak2 di kota surabaya.
Zahra mencium gemas pipi gebil putranya, "kok mama gak kerja?" tanya Nino polos.
"Iya sayang, hari ini mama lagi libur", jawab Zahra sambil mengusap kepala putranya.
Nino arya bagaskara, itulah nama yang Zahra berikan pada puranya, Nino sangat mirip dengan ayahnya, wajahnya sedikit bule namun Nino juga mirip Zahra, bahka Nino menjadi pusat perhatian saat Zahra mengajaknya jalan2 atau keluar sebentar.
"Ma, minggu depan ada acara lomba memasak di sekolah, kata ibu guru semua peserta wajib di dampingi sama papa dan mamanya", beritau Nino dengan muka menunjukkan kesedihan.
"loh, Nino kok sedih sayang?" tanya Zahra sambil mengusap-usap pipi putranya.
"Kapan papa pulang Ma, Nino kagen papa, Nino pengen papa ikut lomba nemenin Noni sama Mama, setiap hari mama bilang kalau papa akan segera pulang, tapi kapan ma?" tanya Nino dengan mata mengembun, air matanya siap jatuh, Nino selalu mendapatkan jawaban yang sama saat bertanya tentang papanya.
__ADS_1
Zahra selalu menjawab, Papa akan segera pulang, hanya kata itu yang terus Nino dengar, membuat ia berpikir, bahwa dia tidak punya ayah.
"Kenapa papa sampai saat ini belum juga datang, padahal mama bilang papa akan segera datang, apakah aku tidak punya papa, Ma?" tanya Nino sendu.
Seketika Zahra menarik Nino dalam pelukannya, "Tidak sayang, kamu punya papa, bahkan papa kamu sangat tampan, tapi sekarang papa lagi sibuk kerja di jakarta", jelas Zahra, berharap anaknya bisa mengerti kondisinya saat ini.
"Berarti papa tidak sayang sama Nino, papa cuma sayang sama pekerjaannya, Nino benci papa!" teriaknya sambil berlari masuk kedalam mobil.
Zahra tak bisa lagi menahan laju air matanya, dalam hatinya dia ingin sekali mempertemukan Nino dengan papa nya tapi Zahra tidak yakin bahwasanya Al akan menerima Nino, karna saat Zahra pergi dari rumah, Al belum taujika dia sedang hamil, Zahra kawatir Al tidak mau mengakuinya dan ahirnya menyakiti hati Nino.
Zahra menyusul putranya ke dalam mobil, Zahra masuk dan duduk di kursi kemudi, dia memandang wajah putranya dari samping namun sedikitpun Nino tidak mau menatap mamanya, Nino merasa kesal karna mamanya hanya memberikan harapan palsu.
"Gima kalau kita beli es krim dulu", ajak Zahra pada Nino, Zahra berharap putranya tidak marah lagi.
"Gak mau", tolak Nino sambil memalingkan mukanya kesal, Zahra tersenyum sambil mengusap kepala putranya.
"Ya udah, kita pulang aja", ucap Zahra sambil melirik Nino dari kaca sepion.
Tapi Nino tetap tidak perduli, biasanya dia akan sangat senang jika di ajak membeli es krim, tapi saat ini ia benar2 kecewa pada mamanya, karna setiap dia bertanya tentang papanya dia akan mendapatkan jawaban yang sama yaitu, papa mu akan segera pulang, itulah kata2 yang selalu Nino dengar dari mamanya.
Ahirnya Zahra pulang mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, melihat Nino terdiam dan cemberut membuat hati Zahra merasakan sakit yang teramat dalam, dalam hati kecilnya dia juga rindu pada suami yang selama ini ia tinggalkan.
Setelah 25 menit mereka sampai di kontrakan Intan, Nino langsung keluar dari mobil dan berlari masuk tanpa memperdulikan Zahra sama sekali.
Nino mendapati Intan yang sedang duduk santai di sofa, segera Nino memeluk Intan dan menangis sesegukan, seketika intan terkejut dan membalas pelukan Nino sambil mengusap punggung nya agar ia lebih tenang.
"Jagoan tante kok nangis?" tanya Intan lembut.
"Mama bohong tante", jawab Nino di sela tangisnya.
"Bohong kenapa sayang?"
Tiba2 Zahra masuk sambil menenteng tas Nino, Inta menoleh menatap Zahra yang baru masuk dan bertanya dengan mengunakan mata dan alisnya.
Zahra tersenyum lalu duduk di dekat Intan dan Nino, "Nino kenapa?" bisik Intan lagi.
"Biasa, dia ingin bertemu sama papanya",jawab Zahra sambil bersandar di sandaran sofa, setiap kalimat yang Zahra ucapkan mengandung betapa berat beban batin yang ia hadapi saat ini.
__ADS_1
******
"Jam berapa kita akan berangkat ke surabaya?" tanya Al pada Irfan.
"Jam 9 pagi Tuan"
"Berapa hari kita di sana?"
"Mungkin satu minggu Tuan"
"Baiklah persiapkan segala keperluanku", ucap Al seraya pergi meninggalkan Irfan, begitulah sifat Al setelah di tinggal Zahra, tak ada lagi senyum yang selalu menghiasi wajah tampan nya, dia bersikap dingin pada siapapun termasuk Irfan.
Seketika Irfan menghubungi pacarnya yang ada di surabaya.
"Halo sayang", sapa Irfan setelah panggilan di angkat.
"Hai,,aku kangen sama kamu sayang", jawab seorang wanita dari sebrang telepon.
"Aku juga sayang, dan hari ini aku akan terbang ke surabaya bersama bos ku karna ada urusan bisnis", jelas irfan dengan menampilkan senyum manisnya.
"Yang benar Mas", tanya wanita itu antusias.
"Iya sayang, nanti kalau aku sudah sampai, akan aku kabari", acap Irfan tak kalah senang, karna sudah beberapa bula dia tidak bertemu dengan pujaan hatinya.
Sudah 8 tahun hubungan Irfan Intan terjalin namun keduanya sama2 setian dan bersabar, Pacar Irfan adalah Intan sahabat Zahra yang sekarang tinggal satu atap dengan Zahra.
******
Setelah selesai menerima panggilan dari Irfan, Intan kembali membujuk Nino yang masih kesal dengan mama nya.
"Udah ya ngambeknya, besok tante ajak jalan2, gimana mau Enggak?" ujar Intan membujuk Nino.
Seketika Nino menoleh dan menatap Intan lekat, "Tante gak bohong kan?" tanya Nino menyelidik.
"Enggak sayang, tante gak bohong, hari ini pacar tante datang ke surabaya rencananya besok tante ketemuan sama dia dan tante mau ngajak kamu",bisik Intan di telinga Nino.
"Iya aku mau tante", jawab Nino antusia.
__ADS_1
"Tapi ingat jangan bilang2 sama mama, ok"
"Oke..! jawab Nino dengan mata berbinar.