Istri Yang Terlupakan

Istri Yang Terlupakan
BAB 64 Kehilangan Zahra


__ADS_3

Dengan tidak sabar Al mandi dan berganti pakaian ia berniat menyusul Zahra ke rumah orang tua nya, Al akan mengajak Zahra untuk ikut pulang bersamanya.


Dengan langkah lebar Al berjalan melewati ruang tamu ia keluar dan masuk kedalam mobil, Al mengendarai mobilnya dengan sangat kencang, dia sudah tidak sabar ingin bertemu dan meminta maaf pada Zahra.


Tak perlu waktu lama kini Al sudah sampai di halaman orang tua Zahra, "Assalamua alaikum"


"Waalaikum salam", jawab nyonya Anita sambil membuka pintu.


"Loh, kok sendirian Al, mana Zahra?" tanya nyonya Anita karna melihat Al hanya sendiri, lalu Nyonya Anita mengajak Al masuk dan duduk di sofa ruang tamu.


Al salah tingkah dia tidak tau harus menjawab apa, "Apa Zahra ada di sini Ma?" tanya Al hati2.


"Apa maksud kamu Al?" tanya nyonya Anita heran.


Lalu Al menceritakan semua yang terjadi pada rumah tangganya tanpa ada satupun yang ia tutupi, nyonya Anita menangis setelah tau kenyataan bahwa putrinya pergi entah kemana.


"Berjanjilah kamu akan menemukan Zahra bawa dia kembali, Mama tidak mau kehilangan dia, cukup sudah Mama berpisah dengannya puluhan tahun", pinta Nyonya Anita sambil terisak.


Al maju menghampiri Nyonya Anita dia duduk di lantai di hadapan nyonya Anita, Al mengambil tangan ibu mertuanya dan mengusapnya dengan lembut.


"Aku berjanji Ma,aku akan mencari Zahra sampai ketemu, aku tidak akan membiarkan dia pergi jauh dari kita semua", ujar Al, dengan air mata yang sudah tak bisa lagi ia tahan, hatinya mendadak nyeri mengetahui bahwa Zahra tidak pulang ke rumah orang tuanya.


Ahirnya Al memilih pulang dan bertanya pada supir yang mengantar Zahra pergi, tak perlu waktu lama Al sudah sampai dan mencari keberadaan mang ujang supir pribadi keluarganya.


"Mang...! panggil Al dengan nada tidak sabar untuk bertanya tentang Zahra,Mang ujang berlari menghampiri Al yang tampak kesal dengan muka memerah.


"Kemana Mang Ujang mengantarkan istri saya?" tanya Al tegas.


Mang ujang menelan ludahnya susah payang, antara takut dan juga gugup, "jawab Mang!" bentak Al, dia sudah tidak sabar karna mang ujang tak kunjung bersuara.


"Begini Tuan, saya di minta untuk merahasiakan kemana nyonya pergi", jawab Mang ujang takut.


"Kamu pilih, ingin tetap bekerja apa aku pecat", gertak Al penuh emosi.


"Jangan Tuan,jangan pecat saya, saya akan memberi tau kemana nyonya pergi, Nyonya minta di antar ke terminal bus, saya menunggu samai Nyonya masuk kedalam bus,dari yang saya tau bus itu tujuannya ke pulau madura", jelas Mang ujang hati2 dia takut salah bicara dan ahirnya ia di pecat.

__ADS_1


"Madur", gumam Al.


"Iya Tuan, tapi Nyonya seperti sedang tidak sehat, beberapa kali saya lihat nyonya berlari ke toilet dia muntah2 Tuan", jelas Mang ujang lagi.


Al semakin merasa bersalah mendengar penjelasan Mang ujang, Al meremas rambutnya prustasi.


Al mengambil ponselnya dan menghubungi Irfan,


"Halo Fan",


"Iya Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya irfan dari sebrang sana.


"Untuk beberapa hari aku tidak bisa ke kantor karna aku ingin menyusul Zahra ke madura, urusan kontor aku serahkan sama kamu, dan ada satu lagi, ancam semua perusahaan yang menggunakan Serli sebagai model paroduk mereka, bilang pada mereka semua saya akan menarik semua infestasi di perusahaan mereka jika mereka tidak mau memecat Serli sebagai model dari produk2 mereka.


"Ambil apartemen yang Serli tempati karna itu atas nama ku,pastikan dia tinggal di jalanan!" ucap Al panjang lebar, dengan nada bicara penuh emosi.


"Baik Tuan, saya akan segera melaksanakan perintah Tuan", jawab Irfan patuh.


Al memang mudah membuat Serli hancur karna berkat Al lah Serli menjadi model, dulu Al mengancam beberapa perusahaan jika tidak mau memakai Serli sebagai model mereka, maka Al akan mencabut semua infestasi di perusahaan mereka, dan sekarang Al melakukan hal yang sama untuk menjatuhkan Serli.


Sebelum berangkat Al menelpon Rani untuk menanyakan di mana alamat Zahra di madura, tapi Al meminta agar metahasiskan dari kedua orang tuanya, Al kawatir mama dan papanya akan marah besar karna membuat Zahra pergi dari rumah.


******


Di dalam bus Zahra terus menangis hingga beberapa orang menanyai nya, tapi Zahra jelas tidak akan memeri tau pada orang yang belum ia kenal, beberapa kali Zahra bolak balik ke toilet karna rasa mual yang luar biasa, setelah beberapa jam perjalanan Zahra mulai tertidur di dalam bus.


Sebelum Zahra terlelap ia sempat berpikir untuk merubah tujuannya yaitu kota surabaya, Zahra yakin jika dia pulang ke madura pasti Al akan dengan mudah menemukannya karna Rani pasti memberi tau alamatnya di madura, kini tujuan Zahra adalah kota surabaya karna dia punya teman semasa kuliah yang tinggal dan bekerja di surabaya.


Zahra segera memberi tahu jika ia ingin turun di Surabaya karna ada keperluan mendesak, bohong Zahra pada supir bus.


******


Dengan langkah tidak sabar Al berjalan keluar dari bandara juanda surabaya, dia memesan taxi online untuk mengantar kannya ke madura, awalnya supir taxi itu ragu karna terlalu jauh namun Al memberikan banyak uang hingga supir itu mau mengantarkan ke madura.


Hanya perlu waktu sekitar 2 sampai 3 jam, Al sudah sampai di alamat rumah Zahra di madura, Al sampai di sana hampir tengah malam, Al langsungsung menuju rumah pak Lukman.

__ADS_1


"Assalamu alaikum", ucap Al di depan pintu rumah pak Lukman.


Cukup lama Al menunggu, Ahirnya pak Lukman keluar dengan wajah terlihat masih mengantuk, karna itu masih tengah malam.


"Waalaikum salam", jawab pak Lukman.


"Cari siapa ya Nak?" tanya pak Lukman karna tidak pernah melihat Al sebelumnya.


"Sebelumnya saya minta maaf karna menggangu bapak tengah malam begini, perkenalkan nama saya Aldi bagaskara saya suaminya Zahra keponakan bapak, dan maksud kedatangan saya ke sini, saya mau bertemu istri saya Zahra", ucap Al sopan, sambil menyalami pak Lukman.


Pak Lukman sedikit heran dan ahirnya dia bertanya.


"Apakah Tuan, majikannya anak saya Anton?" tanya pak Lukman.


"Iya pak, tapi tolong jangan panggil saya Tuan, karna saya suaminya Zahra, dan Zahra adalah keponakan bapak jadi otomatis saya adalah menantu bapak juga", jelas Al sopan.


"Terus kenapa Nak Al cari Zahra kesini, Zahra kan tinggal di jakarta", ujar Pak Lukman merasa heran.


Lalu Al menceritakan semua kejadian antara dia dan Zahra, pak Lukman mengangguk paham dan mengerti bahwa itu hanya kesalah pahaman Zahra terhadap suaminya.


Setelah menceritakan semuanya pak Lukman mengajak Al kerumah Zahra, karna rumah pak Lukman dan rumah Zahra hanya berjarak tiga rumah, pak Lukman berpikir jika Zahra datang maka langsung bertemu dengan suaminya.


"Jam berapa tadi Zahra berangkat kesini Nak?" tanya pak Lukman, setelah sampai dan duduk di ruang tamu rumah Zahra.


"Bus nya berangkat jam 10 pagi Pak"


"Oh kalau begitu besok pagi2 Zahra baru nyampek kesini, lebih baik Nak Al istirahat dulu di kamar Zahra, biar bapak tidur di kamar sebelahnya", ucap pak Lukman sambil menunjuk kamar Zahra pada Al, Al mengangguk lalu masuk ke kamar yang pak Lukman tunjuk.


Al mengedarkan padangannya keseluruh isi kamar, "kamar yang sederhana namun sangat bersih", itulah yang ada dalam pikiran Al saat ini.


Al duduk di ranjang Zahra, ranjang yang telah usang termakan usia, Al tersenyum lalu merebahkan tubuh nya di atas kasur yang sudah tidak empuk lagi, pandangan Al tertuju pada sebuah foto yang terpajang di dinding kamar.


Ada foto Zahra yang masih kecil sambil menggendong boneka besar ada juga foto Zahra saat remaja, Al bangun dari tidurannya lalu mengambil foto2 itu, Al tersenyum sambil mengusap foto2 Zahra yang masih kecil dan remaja.


"Saat kecil kau sangat lucu, dan setelah remaja kau benar2 sangat cantik sayang", ucap Al dengan air mata yang tak mampu lagi ia tahan, Al mendekap foto2 di dadanya, hatinya terasa sesak berpisah dengan Zahra padahal belum ada 24 jam, tapi Al sudah sangat merindukan Zahra.

__ADS_1


"Aku sangat merindukan mu sayang, aku tidak bisa hidup tanpa dirimu", gumam Al lirih matanya mulai sayu dan terpejam, ia terlelap sambil memeluk foto Zahra.


__ADS_2