
Pagi hari yang begitu cerah, secerah senyuman Zahra pagi ini, entah apa yang ia pikirkan hingga sebuah senyuman yang menghias wajah cantiknya tak hilang dari sejak keluar kamar hingga memasak di dapur.
Beberapa pembantu di rumahnya merasa heran dengan tingkah majikan nya yang seolah-olah tak perduli dengan sekitar.
"Mungkin nyonya sedang bahagia hari ini", bisik salah satu pembantu di rumah Zahra, setelah saling bisik mereka tertawa cekikikan.
"Mungkin tuan yang buat nyonya senyum2 seperti ini".
"Ya ialah emang siapa lagi, beda sama kita yang tidak punya suami, duh, nyonya itu sangat beruntung ya punya suami tampan dan setia seperti tuan, mereka memang pasangan yang serasi", ucap salah satu dari mereka, semakin sip bergosip tentang majikan nyasendiri.
"Hus, pagi2 kalian sudah bergosip, sana kerja!" bik Asih membuyarkan gosip mereka, karna bik Asih tidak mau sampai ketahuan sama majikan nya.
Keduanya hanya cengengesan karna ketahuan bergosip di pagi hari, mereka berdua juga tidak akan berani melawan bik Asih, karna bik Asih lah yang membawa mereka dari kampung untuk bekerja di rumah mewah ini.
Pagi ini Al mulai masuk kantor karna sudah beberapa hari dia tidak kekantor, apalagi Irfan belum datang dari surabaya dan kabarnya hari ini Irfan dan Intan akan sampai di Jakarta.
Kini Al dan Zahra serta Nino sudah duduk untuk sarapan, mereka sarapan dengan di selingi celotehan Nino yang ingin tau segala sesuatu yang ia lihat,seperti pagi ini yang menanyakan dari mana telur berasal karna pagi ini ia sarapan dengan nasi ngoreng dan telur mata sapi.
Namu pandangan Al tak pernah lepas dari wajah istrinya yang pagi ini terlihat begitu cantik, entah kenapa menurut Al semakin hari istrinya semakin cantik saja, padahal memang begitulah kenyataan nya.
"Sayang, aku gak jadi ke kantor ya".
"Loh, emang kenapa Mas?" tanya Zahra begitu kawatir bahkan sampai mengecek kening Al, dia takut Al tiba2 panas.
"Aku cuma malas ke kantor sayang, aku gak rela ninggalin kamu, aku pengen sama kamu terus, kalau lihat kamu secantik ini mana bisa aku betah di kantor", ucap Al sambil mendekat untuk memeluk Zahra, untung saja Al dan Zahra sekarang sedang ada di kamar, kalau tidak pasti Nino akan bertanya tentang yang ia lihat dan ia dengar.
"Mas, udah lama kamu gak ke kantor, apalagi Irfan belum datang, bagai mana kalau ada masalah di kantor?" ucap Zahra sambil merapikan dasi Al.
"Okey, aku akan berangkat ke kantor asalkan jam makan siang nanti kamu harus ke sana bawain aku makan siang, kalau tidak, aku gak jadi berangkat", ancam Al.
"Iya Mas, aku pasti ke sana, emang mau di bawain makanan apa?"
"Apa aja yang kamu bawa pasti aku makan, termasuk makan kamu juga", ucap Al sambil berusaha untuk mencium Zahra.
__ADS_1
"Kapan kamu berangkatnya kalau begini terus mas", tolak Zahra dengan menjauhkan wajahnya karna Al seakan tak pernah puas untuk menciumnya.
"Berikan aku sekali lagi ciuman, maka aku akan langsung berangkat",
Zahra benar2 tidak habis pikir dengan tingkah suaminya, dia hanya geleng2 kepala lalu segera mencium Al, niatnya hanya sekilas namun Al langsung menahan tengkuk nya, membuat Zahra hanya pasrah dalam ciuman yang tadinya sekilas namun kini berubah semakin menuntut.
Al mengusap bibir Zahra dengan jarinya, bibir itu terlihat bengkak karna ulahnya.
"Sungguh cinta mu membuat aku gila sayang", bisik Al di telinga Zahra.
Wajah Zahra bersemu merah mendengar ucapan Al yang membuat hatinya benar2 berbunga-bunga pagi ini.
"Jangan lupa nanti siang", ucap Al lagi sebelum keluar dari kamar dengan terburu-buru.
"Iya Mas".
Setelah Al berangkat Zahra menyibukkan diri dengan merapikan kamar nya yang sempat berantakan karna pergulatan panasnya tadi malam dengan Al suaminya, dia mengganti seprai yang sudah terkena cairan bekas bercinta tadi malam dia menggantinya dengan yang baru.
Tiba2 ada yang mengetuk pintu.
"Nyonya, di bawah ada tamu", panggil bik Asih dari luar.
"Iya Bik saya segera turun".
Zahra segera turun untuk melihat siapa yang datang, Zahra begitu senang melihat siapa yang sedang diduk di sofa di ruang tamu.
"Intan...", panggil Zahra sambil mendekat.
Zahra berhambur memeluk Intan yang juga terlihat begitu senang bertemu dengan sahabatnya yang beberapa hari ini tidak bertemu.
"Gimana kabar kamu Ra?" tanya Intan setelah melepaskan pelukan nya.
"Alhamdulillah aku baik Tan, kamu sendiri gimana?"
__ADS_1
"Aku juga baik Ra".
"Ya Allah Ra, rumah kamu gede banget, ini seperti istana yang sering aku baca di nove2", uca Intan sambil melihat seisi rumah Zahra yang sangat mengangumkan menurutnya.
"Kamu ada2 aja Tan, kayak gak pernah lihat rumah besar aja".
"Aku serius Ra, mana pernah aku lihat dan masuk kedalam rumah segede dan semewah ini".
"Kamu mengingatkan aku dulu waktu pertama kali masuk ke rumah mas Al sebagai nguru ngaji buat keponakan nya, aku sama seperti kamu begitu kagum dan heran melihat rumah yang begitu indah dan mengah".
"Jadi dulu kamu pernah bekerja di rumah suami kamu sebagai guru ngaji?"
"Ia Tan, di situlah aku dekat dengan mas Al, dan di situ pula aku bertemu dengan kedua orang tua kandungku".
Intan mengangguk paham, "Oh ya, Nino di mana Ra?" tanya Intan karna tidak melihat Nino dari tadi.
"Nino sedang bermain sama Mang Ujang di taman belakang Tan".
"Bik..! panggil Zahra pada bik Inah.
"Iya Nyonya", jawab bik Inah, menghampiri Zahra yang sedang ngobrol dengan Intan di ruang tamu.
"Bik, tolong bersihin kamar tamu dan sekalian bawain koper intan ke kamar tamu, karna mulai hari ini dia akan tinggal di sini". jelas Zahra yang langsung di angguki oleh bik Asih.
"Enak sekali kehidupan kamu Ra, tapi kenapa kamu malah kabur salama enam tahun, padahal kamu persis seperti ratu yang tinggal perintah".
Zahra terkekeh dengan ucapan Intan, "Kamu belum tau bagai mana rasanya punya keluarga dan kamu juga belum tau sakitnya di hianati, harta ini tidak menjami sebuah rumah tangga bahagia karna sejatinya bahagia itu sederhana".
"Ra, uang memang bukan sumber kebahagiaan tapi tanpa uang sulit untuk bahagia, meskipun punya cinta tapi harta juga penting dalam kehidupan berumah tangga, karna tidak mungkin kita hanya makan cinta setiap hari".
"Emang cinta bisa di makan?" tanya Zahra sambil terkekeh.
"Gak tau", jawab Intan cengengesan.
__ADS_1
"Semua orang akan mendapatkan harta bila di takdirkan, tapi harta tidak akan merubah takdir seseorang, aku tidak memungkiri jika harta ini memang penting, tapi karna harta ini lah justru banyak orang yang telah mengusik rumah tanggaku, bahkan mereka rela melakukan hal yang menjijikkan untuk mendapatkan harta dan suamiku", jelas Zahra.