
"Ma, Pa, ada yang Al mau omongin sama kalian berdua", ucap Al setelah sebelumnya membahas tetang anak.
Tuan Fatih dan Bu Siska seketika menoleh dan menatap Al penuh tanya.
"Kamu mau bicara apa,Al?" tanya Tuan Fatih
"Aku dan Zahra berniat pindah rumah dan rumah itu sudah aku beli sejak kami berdua masih di singapura", jelas Al.
"Apa kalian akan pindah dari rumah ini?"
"Iya Pa", jawab Al hati2
"Apa alasan kamu pindah dari rumah ini Al, Papa dan Mama kamu sudah tua, Papa ingin kita berkumpul seperti ini", ujar Tuan Fatih merasa berat hati atas keputusan Al.
"Aku ingin mandiri Pa, aku ingin membangun keluarga kecilku tanpa bergantung pada kalian berdua", jelas Al, ia merasa takut kedua orang tuanya tidak mengijinkan ia pindah.
Tuan Fatih menghela nafas panjang, sepertinya ia begitu berat melepas anak dan menantunya untuk tinggal berjauhan.
"Di kawasan mana kamu akan tinggal?"
"Rumah yang aku beli tidak jauh dari kawasan ini, mungkin kira2 1 kilometer jarak dari sini", jelas Al yang langsung di anggukin oleh Tuan Fatih dan Bu Siska.
"Baiklah jika itu keputusan kalian", dengan berat hati Tuan Fatih mengijinkan putra dan menantunya untuk pindah darih rumah mereka.
"Tapi ingat Al, jangan sekali-kali kamu menyakiti istrimu, jaga dia dengan baik, mama tidak mau mendengar kamu menyakiti ataupun membuat dia menangis, ingat itu", ancam Bu Siska pada putranya.
"Iya Ma aku janji, tidak akan pernah menyakiti apalagi membuat dia menangis", jawab Al penuh keyakinan, dari tadi Al dan Zahra berpegangan tangan sesekali Al mencium tangan Zahra.
Zahra merasa sangat bahagia mempunyai suami dan mertua yang sangat menyayanginya, dia merasa sangat beruntung bisa memiliki mereka semua.
__ADS_1
******
Ke esokan harinya Al dan Zahra sudah bersiap untuk pindah ke rumah barunya, mereka di antar oleh mertua dan juga orang tua Zahra sendiri,tadi malam setelah Al mengutarakan pada orang tuanya sendiri, Al juga langsung menelpon orang tua Zahra untuk memberi tau tentang kepindahannya ke rumah baru.
Mereka semua sudah sampai di depan rumah baru milik Al dan Zahra, rumah yang Al beli sangat besar dan megah, Zahra sempat tidak percaya suaminya akan membeli rumah yang begitu besar dan megah padahal hanya dia dan suaminya yang akan tinggal.
"Apa gak terlalu besar rumah ini Mas?" tanya Zahra setelah orang tua mereka pada pulang setelah cukup lama ngobrol di ruang tamu rumah baru Al.
"Tidak sayang, kita akan punya anak yang banyak yang bisa membuat rumah ini rame dan ceria", ucap Al sambil menatap sang istri lekat.
"Terima kasih Mas", jawab Zahra, tangannya terulur mengusap pipi Al dengan sangat lembut seketika cairan bening mengalir dari pelupuk matanya, dia begitu terharu atas kasih sayang dan perhatian yang Al berikan.
"Kenapa kamu nangis sayang?" tanya Al merasa heran karna sang istri yang tiba2 menangis di saat ia sedang bahagia.
"Ini tangis bahagia Mas", jawab Zahra sambil menghapus air matanya.
"Aku tidak ingin melihatmu menangis lagi sayang", ucap Al sambil menarik Zahra dalam pelukannya.
Zahra semakin erat memeluk Al, keduanya begitu bahagia hingga lupa jika manusia hanya bisa berencana tuhanlah yang menentukan segalanya, mereka tidak tau entah apa yang akan terjadi di kemudian hari dan bagaimana kisah cinta mereka, berahir bahagia ataukah sebaliknya.
*******
5 bulan sudah pernikahan Al dan Zahra , keduanya melewati hari2 penuh dengan kebahagiaan, keromantisan selalu menjadi bumbu dalam rumah tangga mereka, sudah lima bulan mereka menikah tapi Zahra tak kunjung memberi kabar tanda2 kehamilan.
Al sempat berpikir apakah istrinya mandul ataukah ia sendiri yang tidak bisa memberikan keturunan namu Al menepis semua itu karna tidak ingin sang istri tau tentang kekawatirannya.
Seperti biasa sebelum Zahra berangkat ke kantor dia akan menyiapkan sarapan untuk Al terlebih dahulu, meskipun ada tiga pembantu di rumah itu tapi Zahra tidak bisa melupakan kewajibannya sebagai seorang istri.
Dia akan tetap menyempatkan diri untuk menyiapkan segala keperluan Al termasuk sarapannya di pagi hari.
__ADS_1
"Sayang nanti jam makan siang kamu jangan kemana2 karna aku mau makan sama kamu", ucap Al sambil memakan sarapannya.
"Iya Mas", jawab Zahra lembut, tak lupa ia selalu menampilkan senyum terbaiknya untuk sang suami, itulah yang membuat Al semakin hari semakin mencintai Zahra.
Zahra selalu menjadi istri yang penurut dan perhatian, dia tidak pernah mengeluh meski harus melayani Al setiap malam bahkan Al tak kan puas hanya sekali dalam berhubungan badan, Zahra selalu menurut meskipun ia merasa lelah akibat pekerjaan di kantornya seharan.
Tutur kata dan perilakunya yang lemah lembut membuat Zahra di sukai para tetangga di komplek itu, Zahra tidak segan meluangkan waktu untuk mendatangi panti asuhan untuk memberi donasi setiap bulan bagi anak yatim yang kurang beruntung.
Al semakin merasa beruntung mempunyai istri seperti Zahra, bahkan dalam hatinya ia berjanji tidak akan meninggalkan Zahra meskipun seandainya Zahra tidak bisa memberikan keturunan untuknya.
"Ayo sayang kita berangkat", ajak Al setelah mereka selesai sarapan.
Keduanya berangkat ke kantor dengan Al yang selalu mengantar kan Zahra, saat pulang pun Al akan menjemput Zahra di kantornya, bahkan Zahra merasa seprti punya supir pribadi.
Hingga pada suatu hari Al harus menghadiri sebuah pesta namun Zahra menolak untuk menemaninya ke pesta dia menolak karna merasakan kepalanya pusing luar biasa.
"Sayang kalau kamu tidak mau ikut,aku juga tidak jadi ke pesta,aku akan menemanimu di sini, aku takut terjadi apa2 sama kamu", ucap Al, begitu kawatir terhadap keadaan Zahra.
"Gak Mas, aku tidak apa2, Mas berangkat aja, aku hanya sedikit pusing, setelah minum obat pasti sembuh dengan sendirinya", cegah Zahra, karna Al sepertinya tidak jadi datang ke pesta,Zahra hanya merasa tidak enak jika dia dan Al sama2 tidak datang.
"Ya sudah sayang, Mas berangkat, kalau ada apa2 kamu langsung telpon aku", ucap Al, dia mulai mendekat ke arah Zahra yang sedang berbaring di atas tempat tidur.
Cukup lama Al mencium kening Zahra lalu menatap wajah Zahra lekat ada perasaan aneh yang menjalar di hatinya ia begitu berat untuk meninggalkan sang istri, entah perasaan apa itu Al hanya berpikir mungkin karna dia terlalu mencintai Zahra maka dari itu ia tidak rela jika harus meninggalkan Zahra meski hanya sebentar.
"Sayang, aku mencintaimu, aku tidak ingin kehilangan kamu", ucap Al sebelum berangkat, entah kenapa kata2 itu yang keluar dari mulut Al, padahal ia hanya sebentar untuk menghadiri pesta, Al hanya takut tidak bisa bertemu lagi dengan Zahra.
Ikuti terus kisah cinta mereka, entah apa yang akan terjadi pada Al dan juga Zahra.
*****
__ADS_1
Di kala tangan tak sampai berjabat ku inginkan maaf yang tak terikat hanya kata dan sebuah kalimat tulus maaf ingin aku dapat di hari yang fitrih ini mari kita rendahkan hati ringankan tangan tuk saling memaafkan MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN