Istri Yang Terlupakan

Istri Yang Terlupakan
BAB 72 Pertemuan dengan Al


__ADS_3

Di tengah kepanikan Zahra tak bisa lagi berikir dengan jernih, yang ada dalam pikiran nya saat ini adalah Nino telah di culik.


Zahra terus menangis sambil mengemudikan mobil dengan kecepatan sedikit lambat, dia mencoba menyusuri jalan sambil melihat ke kiri dan kanan, dia berharap bisa menemukan Nino di pinggir jalan.


"Kamu di mana nak?" gumam Zahra dengan air mata tak henti mengalir.


Zahra menepikan mobilnya di pinggir jalan, dia mengambil ponselnya lalu menghubungi Intan.


"Halo, Tan, Nino di culik Ta", ucap Zahra dengan suara bergetar, dia tidak mampu melanjutkan kata2 nya.


"Apa!? di culik bagai mana Ra?" tanya Intan terdengar panik.


"Bantu aku cari Nino Tan", ucap Zahra semakin tergugu.


"Kamu tenang dulu Ra, aku akan minta ijin dan segera pulang, aku juga akan meminta bantuan temanku". ucap Intan terdengar buru2.


Setelah cukup lama Zahra mencari Nino, Zahra memilih untuk pulang dia berharap Nino berada di rumah, kini waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore, Intan dan Irfan sudah berkeliling kemana-mana namun tak juga menemukan Nino, keduanya pun memilih pulang ke rumah Intan.


Zahra sampai terlebih dahulu dengan tampak sekali gurat kesedihan karna sampai saat ini belum menemukan Nino, Zahra terduduk lesu di atas sofa ruang tamu, air matanya tak henti mengalir.


Sungguh Zahra tak sanggup membayangkan jika harus kehilangan anak yang sangat ia sayangi.


Tiba2 Intan masuk dengan terburu-buru dan Irfan mengekor di belakang Intan, betapa terkejutnya Zahra saat melihat Irfan di belakang Intan begitupun dengan Irfan.


"Irfan".


"Nyonya", ucap mereka bersamaan.


Intan menatan Zahra dan Irfan bergantian, dia merasa heran pacar dan sahabatnya sudah saling kenal.


"Apa kalian sudah saling kenal?" tanya Intan tak percaya.


"Iya Tan, Irfan adalah asisten dari mas Aldi", jelas Zahra.


"Maaf nyonya, apakah Nino putra andan dengan Tuan?" tanya Irfan hati2.

__ADS_1


Lama Zahra untuk menjawab pertanyaan Irfan, hatinya di selimuti kebingungan yang mendalam, setelah cukup lama ahirnya Zahra mengangguk seraya berucap.


"Iya Fan, dia putraku darah daging Mas Al", ucap Zahra penuh keyakinan.


Irfan tersenyum mendengar jawaban Zahra, "Pasti tuan akan sangat bahagia jika tau dia sudah punya anak", ucap Irfan dalam hati.


"Bagai mana Nino bisa di culik, Ra?" tanya Intan penasaran.


"Kata ibu gurunya ada seorang pria yang mengaku sebagai papa Nino, sejak pagi dia menemui Nino dan sebelum Nino pulang sekolah dia sudah menunggu dan membawa Nino pergi", jelas Zahra dengan tangis pilunya.


"Apa boleh saya menelpon Tuan, Nyonya?" tanya Irfan hati2.


"Gak usah Fan, aku tidak mau merepotkan dia, apalagi dia berada di jakarta", ujar Zahra menolak dengan halus permintaan Irfan.


"Tapi saat ini Tuan ada di kota ini Nyonya, dia sedang ada urusan bisnis, makanya saya juga ada di sini", jelas Irfan.


"Aku hanya tidak ingin membuat dia khawatir apalagi dia belum tau kalau dia sudah punya anak, aku juga tidak ingin mengganggu rencana pernikahan dia, aku dengar dia akan menikah bulan ini dengan Serli", jelas Zahra dengan raut wajah sangan jelas menunjukkan kekecewaan dan penyesalan yang mendalam.


Irfan memicingkan matanya, dia tidak mengerti dengan maksud Zahra, "Siapa yang akan menikah Nyonya?" tanya Irfan lagi.


"Siapa lagi Fan kalau bukan Mas Aldi", ucap Zahra dengan mata berkaca-kaca.


"Jangan kan menikah, selama 6 tahun Tuan selalu menutup diri dari dunia luar, dia hanya menghabiskan waktu dengan bekerja dan selebihnya dia dirumah, tepatnya mengurung diri di dalam kamar, Tuan tidak pernah menghadiri sebuah pesta meski siapapun yang mengundang, dia tidak pernah mau hadir, dia sangat trauma dengan kejadian saat anda meninggal kan dia, saya sangat prihatin dengan keadaan nya sekarang.


"Kadang pembantu di rumah nya bilang mereka selalu mendapati batal tuan selalu masah dengan air mata, saya sendiri pernah melihat waktu Tuan tidur, Beliau tidur dengan memeluk photo anda dan di wajah nya masih sangat jelas dia habis menangis.


"Jika anda melihat kondisinya saat ini, anda pasti tidak akan tega meninggalkan Tuan sampai 6 tahun, tubuhnya sangat kurus rambutnya ia biarkan gondrong, saya mohon kembalilah pada Tuan dia sangat merindukan anda", jelas Irfan meyakinkan Zahra.


Sungguh Zahra tidak menyangka suaminya sangat tersiksa seperti dirinya selama ini, seketika tangis Zahra pecah dia tidak sanggup membayangkan kondisi suaminya saat ini.


"Apa kamu tidak bohong Fan?" tanya Zahra di sela tangisnya.


"Buat apa saya bohong Nyonya, jika Anda tidak percaya, silahkan hubungi orang tua anda dan tanyakan sendiri pada mereka", ucap Irfan sedikit kesal karna Zahra mengira dia bohong.


Seketika Zahra membeku dengan ucapan Irfan, dia berpikir kenapa dia begitu bodoh selama ini telah di bohongi oleh Adit, Zahra semakin tergugu dalam penyesalan nya, lalu dia teringat dengan ciri2 orang yang membawa pergi Nino, ciri2 nya sama persis dengan fisik Al saat ini.

__ADS_1


"Mungkinkah yang menjemput Nino, itu adalah Mas Al?" karna gurunya bilang orang nya kurus dan gondrong", ujar Zahra sambil terus menghapus air matanya.


"Mungkin saja Nyonya", jawab Irfan dengan keyakinan penuh.


Dari tadi Intan hanya mendengarkan semua yang Zahra dan Irfan bicarakan Intan tidak tau harus bertanya apa, karna Intan memang tidak tau tentang masalah Zahra, Sesekali Intan mengusap punggung Zahra untuk memberi ketenangan baginya.


"Saya akan menghubungi Tuan", ucap Irfan sambil merogoh saku celana nya.


"Tidak perlu", ucap seseorang di ambang pintu.


Semua menoleh kepada sumber suara, Betapa terkejut nya Zahra, jantung nya berpacu dengan sangat cepat, seketika air matanya luruh kembali saat pandangan keduanya bertemu.


Dia adalah Al yang berdiri kaku sambil menggendong Nino yang terlelap karna kecapean sehabis jalan2.


"Al memandang Zahra lekat, wanita yang selama ini ia cari dan sangat ia rindukan, entah kenapa air matanya tiba2 mengalir membasahi wajah tampan nya, begitu pula dengan Zahra yang tak sedikitpun mengalihkan pandangan nya dari sang suami yang selama ini ia ribdukan.


"Mas.! panggil Zahra dengan suara bergetar.


Zahra berjalan perlahan menghampiri Al yang masih berdiri kaku di tempat nya, kini posisi Zahra tepat di hadapan Al yang sedang berdiri sambil menggendong Nino.


Intan begitu terharu menyaksikan pertemuan Zahra dan suaminya hingga tanpa terasa ia meneteskan air mata, Irfan yang melihat Intan menangis, dia langsung memegang tangan Intan dan mengusap nya dengan lembut.


Setelah cukup lama Zahra dan Al saling pandan, ahirnya Al bersuara.


"Di mana aku akan membaring kan Nino?" tanya Al memecah keheningan antara dia dan Zahra.


"Di kamar Mas", jawab Zahra sambil mengajak Al untuk membaring kan Nino di kamar.


Al lansung mengikuti Zahra masuk ke dalam kamar, lalu mebaringkan Nino di atas ranjang kamar Zahra.


Saat Zahra berbalik mau keluar, dengan cepat Al memeluk Zahra dari belakang.


"Aku sangat merindu kanmu", ucap Al di belakang telinga Zahra, membuat jantung Zahra berdegup sangat kencang, Al semakin mengerat kan pelukan nya karna tak ada penolakan dari Zahra.


Dengan perlahan Zahra berbalik dan menatap Al yang kini menatap nya juga, "Aku sangat mencintai mu", ucap Al lagi, membuat Zahra seketika memeluk Al dengan sangat erat.

__ADS_1


"Maaf kan aku Mas,karna telah meninggal kan mu selama 6 tahu, aku sangat berdosa dan para malaikat akan melaknat ku, jangan kan surga bahkan bau nya pun aku tidak akan bisa mencium nya", ucap Zahra sambil memeluk Al.


"Tidak sayang kamu tidak bersalah, akulah yang bersalah karna tidak bisa menjaga diri dari perbuatan maksiat yang bisa membuat kamu sakit hati dan ahirnya meninggal kan aku", ucap Al sambil menghapus air mata Zahra dengan lembut.


__ADS_2