
"Kenapa sekarang kamu berubah Mas? kenapa badan kamu kurus dan rambut mu di biar kan gondrong seperti ini?" tanya Zahra samil mengusap pipi suaminya yang mulai di tumbuhi bulu2 halus.
"Aku gak ada waktu untuk mengurus diri ku sendiri, waktu ku hanya tersisa untuk memikir kan dirimu, untuk apa aku mengurus diri ku sementara orang yang aku cintai hilang entah kemana", ucap Al dengan nada suara yang lemah lembut, membuat Zahra seketika menitikan air mata untuk yang kesekian kalinya.
"Maaf kan aku Mas, karna ke egoisan ku kamu jadi menderita seperti ini, aku berjanji tidak akan pernah meninggal kanmu sebelum mendengar penjelasan dari mu yang sebenanya".
"Tidak sayang seharusnya aku yang meminta maaf, karna tidak bisa menemani mu saat kamu berjuang untuk melahirkan anak kita, bahkan nafkah yang aku kirim setiap bulan kamu tidak memakai nya sedikitpun, kamu berjuang sendiri untuk membesar kan Nino, sementara aku hanya tau saat Nino sudah besar, aku mohon maaf kan aku karna tidak bisa mendampingi mu saat kau berada dalam kesulitan", ucap Al dengan suara bergetar karna menahan sesak di dadanya akibat membayangkan hari2 yang Zahra lewati tanpa dia di sisinya.
Satu jari Zahra terulur mengusap bibir Al yang masih terus meminta maaf.
"Ssstt..." Tidak Mas, jangan terus menyalakan diri mu, karna akulah yang salah, aku pergi tanpa mendengar penjelasan dari mu, aku bukanlah istri yang baik, aku tidak bisa memberimu kebahagiaan yang selama ini kamu harap kan, aku akan terima apapun keputusan mu jika seandainya kamu ingin memilih untuk berpisah aku akan menerima dengan Ikhlas dan lapang dada", ucap Zahra sambil mundur satu langkah dari hadapan Al.
Zahra hanya takut suaminya kecewa dan ingin menggugat cerai padanya, Al yang melihat Zahra mundur dengan air mata yang mengalir tiada henti, sontak Al menarik Zahra dalam pelukan nya.
"Aku tidak akan pernah menceraikan mu walau apapun yang terjadi, aku hanya ingin hidup dan mati bersama mu, berjanjilah untuk tidak menuntut cerai dari ku, karna itu semua akan membuat aku sakit dan menderita", ucap Al dengan air mata berlinang, keduanya saling berpelukan untuk melepas rindu yang selama ini mereka rasakan, namun di luar kamar Intan dan Irfan merasa kawatir jika Zahra dan Al justru berdebat dan bertengkar.
"Mas bagai mana kalau mereka berdua bertengkar?" tanya Intan dengan suara terdengar kawatir.
"Tidak akan sayang, Tuan tidak pernah berlaku kasar apalagi membentak nyonya, mereka selalu mesra namun kesalah pahaman yang membuat mereka harus terpisah cukup lama", jelas Irfan.
Seketika raut wajah Intan berubah dari rasa kawatir sekarang terlihat lebih tenang.
Di dalam kamar, Al dan Zahra masih berpelukan mereka berdua meluapkan rasa rindu dengan saling berpelukan.
"Mas", panggil Zahra sambil melerai pelukannya.
"Kenapa sayang?" tanya Al lembut sambil memandang manik mata Zahra yang sembab akibat terlalu lama menangis.
__ADS_1
"Aku ingin kita menikah ulang".
"Menikah ulang?" tanya Al heran.
"Iya Mas, aku takut karna terlalu lama kita terpisah ahirnya pernikahan kita jadi putus, aku tidak ingin memulai hubungan yang nantinya kita akan terjerumus dan melakukan zina", jelas Zahra.
"Tapi aku tidak pernah menjatuhkan Talak pada mu, jika memang itu mau kamu aku gak masalah sayang, besok aku akan mengurusnya dan kita akan cepat menikah ulang karna aku sudah tidak sabar untuk bersama mu lagi", ucap Al sambil mengerlingkan matanya genit.
Reflek Zahra mencubit perut Al yang rata, "Awu..! sakit sayang", ucap Al pura2.
lalu keduanya tertawa cekiki kan sambil berpelukan, Di luar kamar Intan dan Irfan saling pandang karna mendengar Zahra dan Al saling tertawa.
"Kayak nya mereka berdua sudah baikan Mas".
"Sepertinya iya, karna selama 6 tahun Tuan tidak pernah tersenyu apalagi tertawa lepas seperti sekarang, aku ikut bahagia jika mereka bisa baikan", ucap Irfan berbinar.
"Oh ya Tan, kenalin ini suami ku", ucap Zahra memperkenalkan Al pada Intan.
Intan tersenyum lalu mengangguk, seraya menyatukan ke dua tangan nya di depan dada, "Intan", ucap Intan menyebutkan namanya sopan.
Begitu pula dengan Al langsung menyebut kan namanya, "Aldi", ucap Al tak kalah sopan, setelah berkenalan dengan Intan, Al langsung mengutarakan niatnya pada Irfan.
"Fan, aku ada tugas buat kamu, besok aku dan Zahra ingin menikah ulang dan aku ingin kamu urus segala keperluan untuk acara itu". ucap Al dengan senyum mengembang di wajah nya.
"Mas apa gak sebaik nya kita nikah ulang di jakarta aja", ucap Zahra tidak setuju karna terlalu terburu-buru.
"Mana bisa aku menunggu sampai kita di jakarta, kita sudah lama berpisah dan aku tidak mau menunggu lagi", ucap Al tak mau di bantah.
__ADS_1
"Terserah Mas aja", ahirnya Zahra mengalah dari pada berdebat dengan Al.
"Baik Tuan saya akan mempersiap kan segala keperluan nya", jawab Irfan patuh.
"Setelah acara besok aku akan langsung membawa Zahra pulang kejakarta dan aku harap kamu juga memesan tiket pesawat untuk kami", imbuh Al lagi yang langgsung di anggukin oleh Irfan.
Seketika raut wajah Intan berubah sendu, dia tidak rela jika harus berpisah dengan Zahra dan Nino, Intan sudah menganggap Nino seperti anak nya sendiri.
Zahra yang melihat raut wajah sedih dari sahabat nya, dia langsung mengerti, "Mas, bolehkah aku ngajak Intan ke jakarta?" bisik Zaha di dekat Al.
"Kenapa tidak sayang, nanti kita nikahkan dia dengan Irfan, bagaimana?" tanya Al juga dengan berbisik, Zahra sangat bahagia dengan jawaban suaminya.
"Tan, kamu segera urus surat resing dari perusahaan Adit dan ikut aku ke jakarta, aku tidak mau ninggalin kamu sendirian di sini", ucap Zahra tak mau di bantah.
"Tapi Ra", tolak Intan.
"Tidak ada tapi2an".
"Di sana kamu juga akan mendapat pekerjaan dan insyaallah lebih bagus dari pekerjaan di perusahaan Adit", jelas Zahra yang langsung di anggukin oleh Intan.
"Di sana kamu juga pasti mendapatkan jodoh yang sangat tampan dan mapan", ucap Zahra lagi.
Seketika raut wajah Irfan dan Intan berubah masam, "Hei, kenapa wajah kalian berubah apa kalian saling mencintai?" tanya Zahra pura2 tidak tau.
Intan dan Irfan seketika salah tingkah dengan pertanyaan Zahra.
"Ingat Fan, Kalian sudah lama berpacaran lebih baik kalian segera menikah, agar menghindari godaan setan yang nantinya merugikan kalian berdua".
__ADS_1
"Setelah kalian sampai di jakarta aku minta kalian segera menikah, untuk urusan tempat tinggal kalian tidak perlu kawatir, aku akan memberikan sebuah rumah sebagai kado pernikahan buat kalian berdua", jelas Al yang langsung di anggukin oleh Intan dan Irfan, keduanya tersenyum sumringah.