
Sudah dua hari Al di singapura tapi tak ada satupun pesan ataupun panggilan yang tertuju untuk Zahra, saking sibuknya Al hingga tidak ada waktu untuk sekedar mengirim pesan singkat pada sang istri.
Sudah dua hari pula Zahra hanya melamun dan terus memikirkan sang suami yang tak kunjung memberi kabar, tadinya dia ingin menghubungi sang suami namun di urungkan karna dia merasa seharusnya sang suamilah yang memberi kabar.
Hingga sebuah dering ponsel membuyarkan lamunannya, Zahra dengan malas melihat siapa yang menelponnya pagi2, seketika matanya berbinar melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
"Halo, Assalamualaikum, Mas", jawab Zahra dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.
"Wa'alaikum salam, Sayang", jawab Al dari sebrang sana, "Maaf sayang, baru hari ini aku hubungin kamu, aku di sini sangat sibuk sampai tidak ada waktu buat nilpon kamu", jelas Al merasa bersalah.
"Gak apa2 Mas, yang penting kamu gak kenapa-napa.
"Aku kangen kamu sayang"
"Aku juga Mas",
"Doa kan aku biar cepat pulang, karna sepertinya 3 hari di sini masalahnya belum kelar"
"Jadi berapa hari lagi, Mas di sana?" tanya Zahra
"Entahlah sayang,aku juga belum tau"
"Ya sudah sayang, Aku mau berangkat ke kantor dulu, kamu hati2 di ruma", pesan Al sebelum menutup panggilan.
"Iya Mas"
"Assalamualaikum, sayang"
"Wa'alaikum salam"
Ahirnya sambungan terputus, Zahra begitu senang karna telah mendapat telepon dari sang suami yang dua hari ini sangat ia rindukan.
Di ruang keluarga, Tuan Fatih sedang bersantai membaca surat kabar, sedang kan Bu Siska berada di samingnya bersama Aira yang sedang bermain.
"Pa!" panggil Bu Siska
"Hmm", jawab Tuan Fatih, hanya berdehem.
"Papa tau gak?" mama perhatikan menantu kita si Zahra, dua hari ini selalu melamun", jelas bu Siska
Tuan Fatih menaruh korang yang ia pegang lalu menoleh pada sang istri yang duduk di sampingnya.
"Maksud mama, melamun bagaimana?" tanya Tuan Fatih tidak mengerti.
"Ya melamu pa, seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu gitu"
Tuan Fatih mengangguk paham, "Gimana kalau kita suruh aja di nyusul Al ke singapura", saran tuan Fatih pada sang istri.
__ADS_1
"Iya juga, ya pa!" jawab Bu Siska berbinar.
Ahirnya Bu Siska segera menghampiri Zahra yang sedang duduk di taman belakang, Dia melamun sambil memandang ikan yang berda di dalam kolam.
"Kamu lagi apa sayang?" tanya Bu Siska lembut.
Zahra menoleh dan menatap ibu mertuanya dengan rasa terkejut.
"Eh Mama", ucap Zahra gelagapan, "Ada apa Ma?" Zahra bali tanya.
"Kamu lagi ngapain sayang", ulang Bu Siska.
"Gak, gak ngapa-ngapain Ma, aku cuma liat ikan aja"
"Gini sayang, Mama mau kamu nyusul Al ke singapura karna dia sepertinya akan lama di sana", jelas Bu Siska.
"Tapi Ma", tolak Zahra.
"Gak ada tapi2an, karna kalian belum sempat bulan madu, jadi sekaranglah waktunya, Mama akan urus semua keperluan kamu dan keberangkatanmu sore ini", jelas Bu Siska tidak mau di bantah.
"Apa Mas Al tau tentang ini Ma?"
"Ini adalah kejutan buat dia, biar dia merasa senang dengan kehadiran kamu di sana, gimana?" tanya Bu Siska antusias.
Tanpa pikir panjang Zahra mengangguk setuju karna sebenarnya dia sangat merindukan sang suami.
Bu Siska tersenyum, "Ya sudah, sekarang kamu kemasi baju2 yang mau kamu bawa", titah Bu Siska yang langsung di anggukin oleh Zahra.
Zahra dengan semangat mengemasi baju2nya yang akan dia bawa untuk menyusul sang suami, dia nampak sangat bahagia mengingat beberapa jam lagi akan bertemu dengan suami yang sangat ia rindukan.
Jatwal penerbangan yang Zahra tumpagi masih jam 3 sore nanti, tapi Zahra sudah tidak sabar menanti pukul 3 sore seolah-olah ia ingin memutar waktu agar cepat mempertemukan nya dengan sang suami.
"Sayang ...! panggil Bu Siska
"Iya, Ma!"
"Apa kamu sudah siap sayang?" panggil Bu Siska dari lantai bawah.
"Iya Ma..!!"jawab Zahra dari dalam kamarnya.
Lalu Zahra turun untuk segera berangkat menuju bandara dengan perasaan begitu senang.
Zahra beserta Tuan Fatih dan Bu Siska sudah sampai di bandara, Zahra tinggal menunggu waktu keberangkatan.
Tak perlu waktu lama Zahra sudah sampai di bandara Changi singapura, dia di jemput oleh Irfan karna Bu Siska sudah mengabari Irfan bahwa Zahra akan menyusul Al ke singapura dan menyuruh Irfan agar merahasiakannya dari Al.
Irfan tersenyum kala melihat istri bosnya, dia merasa senang mungkin dengan kedatangan Zahra di singapura bosnya tidak akan murung lagi.
__ADS_1
"Selamat datang nyonya", sambut Irfan sambil membungkuk.
Zahra tersenyum melihat kesopanan Irfan, Irfan termasuk orang yang sopan serta bisa di andalkan jadi tidak heran jika Al sangat percaya untuk mengurus segala hal pada Irfan, dia termasuk asisten yang cekatan dan cerdas.
"Silahkan nyonya", Zahra di persilahkan untuk masuk ke dalam mobil oleh Irfan.
Zahra tesenyum lalu segera masuk karna sudah tidak sabar untuk bertemu dengan suami yang sangat ia rindukan.
"Bagaimana dengan suami saya Fan?" tanya Zahra di tengah perjalanan kota singapura.
"Tuan baik2 saja nyonya", jawab Irfan sambil melihat Zahra dari kaca sepion, "Tapi Tuan sering melamun, sepertinya beliau sangat merindukan Anda", jelas Irfan sambil melirik Zahra dari kaca sepion mobil.
Zahra tersenyum atas penuturan Irfan.
"Kamu bisa aja Fan", jawab Zahra dengan senyum tak lepas dari wajahnya.
Setelah cukup lama ahirnya mobil yang di kemudikan oleh Irfan telah terparkir di sebuah apartemen mewah, tepat di tengah2 kota singapura.
"Kita sudah sampai nyonya", Irfan segera turun untuk membukakan pintu bagi Zahra, dan langsung mengabil koper Zahra di dalam bagasi.
"Ayo silahkan nyonya", ajak Irfan sambil berjalan di depan Zahra, sebagai penunjuk jalan menuju apartemen yang Al tinggali.
Zahra terus mengikuti Irfan sampai di sebuah pintu yang menurut Zahra pasti tempat suaminya tinggal.
"Ini adalah apartemen milik Tuan, Nyonya", tunjuk Irfan sambil membuka pintu apartemen itu, karna Irfan sudah tau kode apartemen milik Tuannya.
"Silahkan nyonya", Tuan berada di kamar sebelah kanan", tunjuk Irfan setelah sampai di depan kamar Al.
"Terima kasih Fan", jawab Zahra.
"Kalau begitu saya undur diri", pamit Irfan sambil mbungkuk.
"Iya" jawab Zahra singkat.
Zahra melihat sekeliling apartemen yang begitu mewah dan megah, lalu beralih pada pintu yang Irfan tunjuk tadi, jantungnya berdetak dengan cepat, rasa rindu yang memuncah membuat ia gugup setengah mati.
perlahan Zahra membuka pintu dan masuk dengan lankah nyais tak terdengar, ia mengedarkan pandangannya keseluruh kamar namun Zahra tak menemukan sosok yang sangan ia rinduka.
Namu setelah Zahra melihat ke balkon kamar ternyata suaminya berdiri melihat pemandangan kota singapura dari ketinggian apartemennya.
Dengan langkah pelan Zahra menghampiri suaminya yang tidak sadar akan kehadirannya, Zahra memeluk suaminya dari belakang dengan sangat erat.
"Mas..!" ucap Zahra sambil memeluk Al.
Al terlonjak kaget dengan kehadiran seorang wanita yang tiba2 memeluknya dari belakang, tapi seketika keterkejutannya berubah setelah mendengar suarang yang selama ini ia rindukan.
Dengan perlahan Al melerai pelukan Zahra, dan berbalik untuk melihat sang istri yang kini berdiri di hadapannya.
__ADS_1
"Sayang", panggil Al setelah mereka saling berhadapan.