Istri Yang Terlupakan

Istri Yang Terlupakan
BAB 77 Mengunjumgi orang tua


__ADS_3

"Terima kasih sayang", ucap Al sambil mencium kening Zahra cukup lama.


"Ini adalah kewajibanku mas", jawab Zahra sambil mengeratkan pelukan nya di tubuh Al yang sama2 polos tanpa sehelai benangpun.


Setelah kegiatan panas yang mereka lakukan cukup lama, kini rasa capek yang mereka rasakan ahirnya mereka berdua tidur dengan begitu pulas sambil berpelukan.


*****


Di pagi hari Zahra sudah sibuk di dapur membantu para asisten rumah tangganya, meskipun sudah ada tiga pembantu Zahra bukanlah sosok istri yang pemalas dia akan mengerjakan apa saja kewajiban seorang istri termasuk menyiapkan sarapan pagi untuk suaminya.


Setelah sarapan tertata dengan rapi di meja makan Zahra menuju ke kamar putranya, dia hanya ingin melihat apakah putranya sudah bangun atau tidak.


Zahra tersenyum melihat Nino putranya sudah bangun bahkan sudah mandi dan sekarang sudah memakai baju di bantu asisten rumah tangganya yaitu bik Asih.


"Wah... anak mama sudah tampan",


"Iya ma, kata bibik pagi ini Nino akan ke rumah nenek, benar gak Ma?" tanya Nino begitu antusias.


"Iya sayang nanti setelah sarapan kita langsung kerumah nenek".


"Hore....!! Nino punya nenek", Nino tampak sangat bahagia mendengar dia punya seorang nenek.


Zahra tersenyum bahagia melihat putranya begitu kegirangan.


"Nino sarapan dulu ya sama bibik, mama mau bangunin papa dulu, biar kita sarapan sama2", ucap Zahra sambil mencium pupi Nino gemas.


"Iya ma", jawab Nino antusias, dia terlihat begitu bahagia karna sebentar lagi akan bertemu dengan nenek dan kakek nya.


Setelah memastikan Nino pergi ke meja makan Zahra langsung menuju kamar nya sendiri untuk membangunkan Al yang masih setia di tempat tidur, pasalnya setelah sholat subuh berjemaah Al kembali tidur, dia beralasan sangat lelah karna sebelum sholat subuh Al dan Zahra sempat mengulang kembali kegiatan panasnya di atas ranjang.


"Bangun Mas, ini sudah siang, ayo kita sarapan sama2, kasian Nino udah nunggu kita", ucap Zahra sambil menggoyang- goyangkan tubuh Al.


"Hhmm.., iya sayang, aku masih ngantuk, sini kamu temenin aku dulu, aku pengen peluk kamu sayang", ucap Al sambil menarik tangan Zahra untuk berbaring di sampingnya.


"Mas, ini udah siang, kasian Nino nunggu kita", tolak Zahra sambil mencubit pipi Al.


"Kalau udah siang emang kenapa sayang?aku masih pengen", rengek Al sambil terus menarik Zahra untuk ia peluk.

__ADS_1


Sungguh Al benar sudah gila, bahkan lebih parah dari pengantin baru, "Mas, kita bukan lagi pengantin baru kan?"


"Emang pengantin baru aja yang harus bercinta siang dan malam, kita juga penganti baru sayang, cuma bedanya kita baru bertemu", ucap Al sambil terkekeh pelan.


Aneh nya Zahra tak bisa menolak setiap permintaan Al, yang tak pernah bosan untuk bercinta dengan nya padahal sebelum subuh tadi mereka sempat bercinta hingga hampir saja habis waktu subuh.


"Ayolah sayang, nanti setelah ini kita sarapan dan langsung ke rumah mama", Al semakin memaksa sambil mengeratkan pelukan nya.


"Tapi janji ya Mas, nanti malam gak usah",


"Iya, iya nanti malam Mas gak minta lagi, asalkan mas gak kepengen, tapi kalau mas kepengen lagi kamu harus mau, kalau gak mau kamu dosa sayang", ucap Al sambil tangan nya membuka baju Zahra dengan cepat.


Mungkin karna terlalu lama Al menahan segala hasratnya sehingga ia tak bisa sedikitpun untuk tidak bercinta dengan Zahra, begitu pula dengan Zahra yang tak mampu untuk menolak karna dia pun tak bisa memungkiri berada di dekat Al membuat keinginan bercintanya cukup besar.


Keduanya kembali bergelut dalam percintaan, seakan mereka berdua seperti tak punya rasa lelah.


******


Setelah selesai sarapan kini Al dan Zahra beserta Nino sudah berangkat menuju kediaman keluarga wijaya, tidak perlu waktu lama mereka sudah sampai di depan rumah tuan Ilham.


Zahra turun dengan perasaan berdebar, matanya mulai berkaca-kaca pasalnya dia sangat merindukan papa dan mamanya.


"Assalamualaikum",


"Waalaikum salam", jawab nyonya Anita sambil membuka pintu dengan perlahan.


Nyonya Anita tertegung melihat tiga orang di depan nya, tak ada sepatah katapun yang mampu ia ucapkan, hanya air mata yang tiba2 tanpa mengalir di komando, tak jauh berbeda dengan Zahra ia tak mampu untuk sekedar menyapa mamanya sendiri dia terlalu sibuk dengan perasaan dan dan bersalah semua itu berkumpul menjadi satu.


"Ma", Ahirnya satu kata itu lolos dari bibir Zahra setelah cukup lama mereka saling diam tanpa suara.


Zahra berhampur memeluk mamanya yang masih berdiri kaku di tempatnya, tangis keduanya seketika pecah saat nyonya Anita menyadari bahwa ini semua bukanlah mimpi.


"Zahra kangen mama",


"Kamu kemana aja sayang, kenapa kamu meninggalkan mama sama papa?" tanya nyonya Anita sambil tergugu dalam pelukan Zahra.


"Maaf kan Zahra Ma, Zahra begitu egois hanya mementingkan perasaan Zahra sendiri sedangkan Zahra tidak memikirkan mama dan papa",

__ADS_1


"Siapa yang datang Ma", sebuah suara yang membuat Zahra melepaskan pelukannya dari sang mama.


"Pa", panggil Zahra, suaranya begitu parau.


"Kamu kemana saja sayang, kenapa tinggalkan papa sama mama?" tanya tuan Ilham dan memeluk Zahra dengan erat.


Tuan Ilham sosok orang tua yang sabar dan tegar tapi saat ini entah kenapa dia begitu cengeng dia menangis sambil memeluk Zahra.


"Maaf kan Zahra pa",


"Ma, mereka siapa?" Nino tiba2 bertanya saat semua orang sibuk melepas rindu.


Sontak tuan Ilham dan nyonya Anita menoleh pada sumber suara yang ternyata seorang anak kecil dalam gendongan Al.


"Sini sayang", panggil Zahra pada Nino, dan beralih menggendong Nino.


"Ini Kakek ini Nenek sayang", jawab Zahra sambil menunjuk kedua orang tuanya.


Tuan Ilham dan nyonya Anita saling pandang,mereka berdua tidak mengerti kenapa tiba2 ada anak kecil yang sangat mirip dengan Al.


"Jelaskan siapa dia Nak?" tanya tuan Ilham meminta penjelasan.


"Dia Nino anak Zahra dengan mas Al, Pa, waktu aku pergi aku sedang mengandung, dan aku baru sadar saat aku sudah pergi jauh dari mas Al, maaf kan aku karna merahasiakan semua ini dari kalian semua", jelas Zahra sambil memandang kedua orang tuanya bergantian.


"Mau gendong Nenek sayang?" tanya Nyonya Anita sambil mengulurkan tangan nya untuk menggendong Nino.


Nino melihat Zahra dan Al bergantian untuk meminta apakah dia boleh di gendong orang lain, Zahra dan Al mengangguk bersamaan.


"Boleh Ma?" tanya Nino


"Iya sayang",


Segera Nyonya Anita mengambil alih menggendong Nino, "Ternyata cucuk nenek sudah besar", ucap nyonya Anita sambil terus mencium wajah Nino, tuan Ilham hanya mengusap kepala Nino dengan lembut.


"Emang gak mau ngendong sama kakek?"


"Mau", jawab Nino antusias. segera tuan Ilham mengambil Nino dari gendongan Istrinya.

__ADS_1


"Ayo sayang kita duduk dulu", ajak tuan Ilham pada Zahra dan Al.


__ADS_2