
Cukup lama Zahra meluapkan rasa sakit hati dengan menangis di lantai sambil bersandar di pinggir ranjang tempat tidurnya, Zahra mengusap air matanya dengan kasar dia merasa sakit hatinya saat ini adalah puncak dari segala penderitaan yang ia rasakan dalam hidupnya selama ini.
Zahra berdiri dan melangkah menuju lemari ia mengambil sebuah koper, Zahra mengambil beberapa baju dan memasukkannya kedalam koper Zahra juga mengambil sebuah bingkai foto yang berada di atas nakas di samping tempat tidurnya.
Cukup lama Zahra memandang foto itu lalu mendekapnya di depan dada ia menangis terisak sambil terus mendekap foto Al, lalu Zahra memasukkan foto itu kedalam kopernya juga.
Cukup lama Zahra memandang sekeliling kamar hatinya kembali sakit saat mengingat betapa mesranya antara dia dan Al selama ini dan kamar ini lah yang menjadi saksi cinta mereka, namun sekarang cinta dan kepercayaan itu telah terhempas oleh sebuah kenyataan yang sangat sulit Zahra terima meskipun seandainya Al meminta maaf dengan bersujut di kakinya.
Tekat Zahra sudah bulat dia akan pergi sebelum Al datang dan melarangnya, dengan langkah pelan Zahra keluar dari kamar sambil menarik kopernya, air mata tak henti membasahi wajah cantiknya.
******
Tepat jam 7 pagi Al terbangun, ia melihat sekeliling kamar dahinya berkerut beberapa kali ia mengusap wajahnya dengan kasar, kesadaran belum sepenuhnya kembali karna pengaŕuh obat bius yang Serli berikan.
"Kamu baru bangun sayang?" tanya Serli sambil keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang di lilitkan pada tubuhnya dan handuk itu hanya sebatas paha, Serli berharap Al akan tergoda dan kembali kedalam pelukannya.
Al begitu terkejut mendapati Serli berada satu kamar dengannya.
"Kenapa kamu ada di sini Ser?" tanya Al geram, dia sudah muak selalu melihat Serli apalagi berada satu kamar dengannya.
"Al sayang, kamu jangan marah2 dulu, tadi aja waktu aku melakukan panggilan video dengan Zahra kamu manggil2 aku sayang, tapi kenapa kamu berubah seerti ini?" ucap Serli sambil berjalan menghampiri Al.
Al begitu terkejut mendengar ucapan Serli, "Apa maksud kamu Ser?" bentak Al pada Serli.
__ADS_1
Serli tersenyum menyeringai, "Aku sudah membuat istrimu hancur,dan aku yakin pernikahanmu juga akan hancur", bisik serli sambil tersenyum licik.
"Kamu gila Serli", teriak Al, andaikan Serli seorang laki2 pasti Al sudah membunuhnya.
Dengan cepat Al memai bajunya asal bahkan tanpa mengancingnya dengan baik, "Ingat Ser,jika terjadi sesuatu dengan pernikahannku,aku pastikan kau akan menderita selamanya", ucap Al, matanya memerah menahan kesal, tangannya dengan kuat mencengkaram dangu Serli, hingga membuat Serli meringis menahan sakit di rahangnya.
Al keluar dengan membanting pintu dengan sangat keras hingga Serli terlonjak kaget, Serli tersenyum penuh kemenangan dia yakin kali ini pernikahan Al dan Zahra akan hancur untuk selamanya.
Al megendarai mobil dengan kecepatan sangat tinggi dia tidak perduli lagi dengan keselamatannya yang ada dalam pikirannya hanyalah Zahra.
Cukup lama Zahra duduk di ruang keluarga rumah yang lima bulan terahir ia tempati dengan Al, awalnya Zahra ragu untuk pergi karna sesungguhnya ia masih sangat mencintai suaminya, namun Zahra kembali sakit hatinya saat teringat Al memanggil Serli dengan sebutan sayang apalagi dalam keadaan bertelanjang di atas tempat tidur.
Tapi kali ini ia benar2 bertekat untuk pergi mencari ketenangan dan melupakan segalanya dengan cara berada jauh dari Al.
Dengan perlahan Zahra berjalan dan keluar, semua pembantu memandang iba pada Zahra, mereka tidak sanggup bertanya tapi mereka tau pasti ada sesuatu yang membuat majikannya harus pergi apalagi dengan kondisi Zahra yang terus menangis tiada henti.
Zahra memalingkan wajahnya, dadanya kembali sakit menyaksikan sang suami dalam keadaan berantakan dengan banyak tanda merah di dadanya.
"Kamu mau kemana sayang?" tanya Al,tangannya mencoba meraih tangan Zahra.
Zahra menepis tangan Al dengan kasar, "Tolong jangan sentuh aku, aku ingin pergi untuk menenangkan pikiranku", ucap Zahra tanpa melihat pada Al, padangannya kosong, begitu tampak penderitaan yang sangat is rasakan saat ini.
"Aku mohon jangan pergi sayang, aku minta maaf, aku hanya di jebak, aku tidak melakukan apa2", jelas Al dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya, dia bukan laki2 yang cengeng tapi keadaan yang membuat ia meneteskan air mata.
__ADS_1
"Biarkanlah aku keluar, beri aku waktu untuk menerima semua ini, aku mohon biarkan aku pergi", pinta Zahra sambil melipat kedua tangannya di depan dada, air mata terus saja membasahi wajah Zahra yang sudah terlihat rapuh dan lelah.
Al tak bisa lagi mencegah Zahra, Al ingin memberi waktu agar Zahra merasa tenang, dia membiarkan Zahra pergi karna Al tau Zahra pasti pergi ke rumah orang tuanya.
Al duduk di ambang pintu sambil terus melihat Zahra yang sudah masuk kedalam mobil, rasanya sangat berat bagi Al harus berjauhan dengan istri yang sangat ia cintai.
Di dalam mobil Zahra terus menangis hingga matanya terlihat bengkak.
"Kita mau kemana nyonya?" tanya sang supir.
"Terminal bus", jawab Zahra singkat.
"Baik nyonya"
Zahra dan sang supir sudah sampai di terminal bus, dia sampai pukul 8: 30, padahal bus yang akan Zahra tumpangin jadwalnya nanti jam 10:oo, jadi Zahra harus menunggu 1 jam 30 menit lagi.
"Pak, jika suami saya bertanya, bilang saja kalau saya turun di tengah perjalanan", pesan Zahra, karna dia tidak mau Al mengejarnya.
"Baik nyonya"
"Terima kasih pak", ucap Zahra lalu tersenyum pada supir itu, pak supir memandang Zahra iba, sesungguhnya dia tidak percaya dengan kenyataan majikannya akan bertekar karna yang dia lihat kedua majikannya sangan bahagia dan romantis selama ia bekerja di rumah itu.
Zahra masuk ke dalam terminal dengan langkah pelan, rasa mual dan pusing tiba2 ia rasakan namun Zahra tetap masuk, tekatnya sudah bulat dia ingin pergi ke madura untuk menenangkan diri, dia ingin melupakan masalah yang menimpa rumah tangganya, hatinya akan semakin hancur jika terus tinggal di rumah itu bersama Al.
__ADS_1
Zahra duduk menunggu jam keberangkatan, air mata terus saja membasahi wajahnya, berulang kali ia mengutkan hatinya agar rasa sesak yang ia rasakan sedikit berkurang namun Zahra tak dapat memungkiri jika hatinya terasa berat untuk meninggalkan sang suami yang sangat ia cintai, bahkan dalam hatinya ia yakin saat ini sedang mengandung benih cinta antara dirinya dengan sang suami.
Jam sepuluh Zahra sudah berangkat namu supir yang mengantarkan Zahra ke terminal tetap menunggu sampai Zahra berangkat, dia hanya ingin memastikan majikannya dalam keadaan baik2 saja karna ia sempat melihat beberapa kali Zahra berlari ke toilet untuk mengeluarkan semua isi perutnya, sang supir itu yakin jika majikannya sedang tidak sehat.