Istriku, Ga!Rah Cintaku

Istriku, Ga!Rah Cintaku
Kekonyolan Vivian


__ADS_3

"OMO!! KAU SIAPA?!"


Vivian memekik kaget saat mendapati seorang lelaki asing di kamarnya. Dan yang ditanya terlihat menghela napas. Kemudian ia berbalik lalu menghampiri Vivian dan menjitak keras kepala coklatnya.


"Buka matamu lebar-lebar dan lihat baik-baik siapa yang ada di depanmu ini!!" Pinta lelaki itu.


Vivian tampak kebingungan. Suara dan parasnya terdengar tidak asing. Tapi kenapa dia malah tidak mengenali sosok di depannya ini?! Dia begitu tampan dan dewasa. "Kenapa suaranya terdengar tidak asing ya, mukamu juga mirip dengan suamiku." Ucapnya.


"Ck, kenapa kau belum sadar juga," lelaki itu berdecak sebal.


Kedua mata Vivian membulat sempurna ketika dia menyadari sesuatu. "Omo!! Jangan bilang jika sebenarnya kau ini adalah hantu yang merebut rupa suamiku ya?!" Tebak Vivian dengan asal.


Alhasil satu jitakan lagi mendarat dengan mulus di kepalanya. "Aduh, sakit!! Kenapa kau menjitakku terus?!" Protes Vivian sambil mengusap kepalanya yang dijitak oleh lelaki asing itu.


"Salahmu sendiri asal bicara. Mana ada hantu yang mengambil alih suara dan rupa. Apa hanya karena aku berpakaian rapi seperti ini jadi kau tidak mengenali suamimu sendiri?!" Bentak Nathan kesal.


Vivian langsung memasang wajah polosnya sambil menatap lelaki di depannya ini yang ternyata adalah suaminya. "Jadi, kau adalah Nathan suamiku? Tapi kenapa kau terlihat sedikit aneh?"


Nathan menyentak tangan Vivian dan berdecak sebal. "Ck, dasar kau ini. Aku berpenampilan seperti ini karena mulai hari ini akan bergabung di perusahaan. Posisi CEO kosong karena Daddy akan pergi berlibur ke luar negeri, dan untuk sementara posisi itu aku yang mengisinya." Jelas Nathan panjang lebar.


Wanita itu terkekeh lalu melompat ke pelukan Nathan. Kedua kakinya melingkari pinggang lelaki itu sambil memeluk lehernya. "Kau sangat tampan dalam balutan pakaian formal ini, sampai-sampai aku pangling dan tidak mengenalimu." Ujar Vivian sambil menatap mata Nathan.


"Jadi selama ini aku tidak tampan?"


"Tentu saja tampan, tapi juga mengerikan. Tapi melihatmu yang seperti ini membuatku semakin cinta ya meskipun agak sedikit aneh, mungkin karena belum terbiasa." Ujarnya.


"Lalu mana hadiah untukku?"


Tau hadiah apa yang Nathan maksud, Vivian mengarahkan bibirnya pada bibir Nathan lalu mel*matnya. Namun ciuman tersebut segera diambil alih oleh Nathan, karena dia yang tidak suka didominasi.


Ciuman itu hanya berlangsung beberapa detik saja. Mereka harus segera sarapan karena Nathan tidak ingin terlambat dihari pertamanya berkerja.


Ketika mereka menuruni tangga, tiba-tiba Vivian teringat sesuatu ketika di makam Aiden kenari.


Vivian berhenti. "Oya, aku ingat sesuatu. Kemarin saat di-makam Aiden, aku tidak sengaja bertemu dengan orang aneh. Dia menginterogasi ku tentang hubunganku dengan Aiden, dia memaksa dan aku menolaknya."

__ADS_1


Mata Nathan memicing. "Siapa?"


Vivian menggeleng "Aku sendiri tidak tau, dia memakai masker jadi wajahnya tidak terlihat dengan jelas. Tapi sepertinya dia berhubungan dengan Aiden." Terang Vivian.


Nathan terdiam setelah mendengar apa yang Vivian katakan. Entah kenapa ia merasa jika orang itu kemungkinan adalah Aiden, dan cerita Vivian memperkuat keyakinannya jika dia tidak salah lihat. Yang ia lihat di lampu merah benar-benar Aiden.


Dan yang menjadi pertanyaan Nathan, jika memang Aiden masih hidup, lalu kenapa dia tidak pernah datang menemuinya? Lalu apa alasan Aiden selama ini pura-pura meninggal. Dan Nathan harus segera mencari tahunya.


-


-


Puluhan karyawan berbaris menyambut kedatangan CEO baru mereka. Telah diinformasikan sebelumnya jika perusahaan akan dipimpin sementara oleh putra dari sang CEO utama selama beberapa Minggu ke depan.


Sebuah sedan hitam berhenti di depan pintu masuk perusahaan. Seorang lelaki muda keluar dari mobil tersebut. Wajah tampannya datar tanpa ekspresi, rupanya isu jika CEO baru mereka adalah pria yang dingin dan minim ekspresi ternyata bukan isapan jempol belaka.


"Ya Tuhan, rasanya aku mau pingsan. CEO baru kita terlalu tampan,"


"Meskipun harus lembur setiap hari aku sih tidak masalah asal bisa terus melihat wajah tampannya."


"Jantungku tidak baik-baik saja."


Nathan mendengus di tengah langkahnya. Telinganya yang tajam menangkap bisikan-bisikan dari para pegawai perempuannya. Sepertinya mulai hari ini dia harus terbiasa dengan tingkah para karyawannya.


.


.


Tokk.. Tokk.. Tokk..


Ketukan pada pintu mengalihkan perhatian Nathan dari tumpukan dokumen di depannya. Pintu terbuka dan seorang perempuan muda masuk ke dalam ruangan. Dia membawa beberapa dokumen yang harus Nathan tanda tangani.


Wanita itu meletakkan dokumen-dokumen tersebut diatas meja. "Presdir, ini adalah beberapa dokumen yang harus Anda tandatangani." Ucap wanita itu.


"Kau keluarlah dulu, biar Paman Tao yang menyerahkan padamu setelah selesai aku tandatangani. Dan satu lagi, sebaiknya benahi penampilanmu jika masih ingin bekerja disini, karena ini kantor bukan rumah bordir!!"

__ADS_1


Jleb...


Wanita itu tertohok oleh kata-kata Nathan yang luar biasa menusuk. Niatnya awalnya untuk menggoda CEO pengganti itu, tapi yang dia dapatkan adalah sebuah tamparan keras. Wanita itu membungkuk sebelum meninggalkan ruangan atasannya.


Nathan berdecak sebal. Dia paling muak pada wanita yang selalu menonjolkan tubuh dan kecantikannya untuk menjerat lawan jenisnya.


Dan mereka tentu saja berhadapan dengan orang yang salah, karena Nathan bukanlah pria mata keranjang yang akan tertarik pada wanita hanya berdasarkan fisiknya saja. Lagipula Nathan sudah memiliki seseorang yang sangat-sangat dia cintai.


"Paman Tao, ke ruanganku sekarang." Pinta Nathan melalui sambungan telfon.


Selang beberapa menit Tao datang dan menghampiri pemuda itu. "Tuan Muda, Anda memanggil saya?"


"Terapkan peraturan baru di kantor ini. Umumkan pada karyawan wanita agar mulai besok mereka tidak memakai pakaian yang kurang bahan. Pastikan semua karyawan memakai celana dan pakaian yang lebih sopan, mereka disini untuk bekerja bukan menjual diri. Jika ada yang tidak mematuhinya maka langsung pecah saja!!"


Tao menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Jika peraturan baru itu diterapkan, itu artinya dia tidak bisa cuci mata lagi. Tapi jika tidak dilakukan, bisa-bisa dia yang mendapatkan masalah dari Nathan.


"Baik, Tuan Muda. Akan segera dilaksanakan!!" Tao menjawab dengan tegas.


Selama Nathan memimpin di perusahaan, Tao adalah orang yang akan membantunya. Karena dia menolak asisten wanita dan Nathan sendiri yang menunjuk Tao sebagai asisten pribadinya.


"Paman boleh keluar,"


"Tapi, Tuan Muda. Bisakah kau meminjamkan uang padaku? Tidak banyak, hanya 500 ribu saja. Kau bisa memotong dari gajiku nanti."


Mata Nathan memicing. "Untuk apa?"


Tao menggaruk kepalanya. "Ano, sosis beruratku beberapa hari tidak mendapatkan asupan vitamin,"


Tanpa penjelasan yang mendetail pun tentu Nathan tau vitamin apa yang Tao maksud. Kemudian dia memberikan uang yang dia minta dan Nathan mengatakan itu bukan hutang tapi bonus di depan. Tentu saja Tao sangat kegirangan.


"Terimakasih, Tuan Muda. Paman keluar dulu," ucapnya dan pergi begitu saja.


Nathan melepas kaca matanya dan menghela napas. Belum genap satu hari dia bekerja, tapi rasanya sudah seperti berbulan-bulan saja. Dan waktunya masih panjang. Andaikan saja saat ini Vivian ada disini bersamanya, mungkin harinya akan terasa lebih baik.


-

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2