Istriku, Ga!Rah Cintaku

Istriku, Ga!Rah Cintaku
Hampir Pingsan


__ADS_3

Aiden tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya ketika Vivian menghubunginya dan mengajaknya untuk bertemu. Saat ini Aiden sedang menunggu kedatangan Vivian, mereka berjanji bertemu di-cafe.


Lonceng diatas pintu cafe berbunyi, menandakan ada pelanggan yang datang. Senyum dibibir Aiden semakin lebar saat melihat kedatangan Vivian.


"Aku sudah menunggumu dari tadi, aku pikir kau tidak akan~"


"Aku kembalikan bunga dan coklat-mu. Sebaiknya mulai sekarang jangan menggangguku lagi apalagi mengusik ketentraman rumah tanggaku dan Nathan, atau kau akan menanggung akibatnya!!"


Aiden menahan pergelangan tangan Vivian ketika dia hendak pergi. "Jadi kau mengajakku bertemu hanya untuk ini?" Dia menatap Vivian tak percaya.


"Memangnya apa yang kau pikirkan saat aku mengajakmu bertemu? Jangan berharap terlalu tinggi, karena jika jatuh rasanya akan sangat menyakitkan. Sedikit peringatan untukmu, berganti mencari gara-gara dengan Nathan, karena aku tidak akan pernah tinggal diam!!"


Aiden mengepalkan tangannya dengan kuat, saking kuatnya sampai-sampai membuat kuku-kukunya memutih.


Ternyata dia salah menduga dengan maksud Vivian mengajaknya bertemu, dia pikir wanita itu berdiri di pihaknya karena mereka bersaudara, meskipun Aiden sendiri belum terlalu yakin dan mempercayainya. Dan sikap Vivian semakin membuat Aiden ingin menghancurkan Nathan.


Dia tidak akan pernah bisa hidup dengan tenang sebelum melihat Nathan hancur ditangannya. Karena tujuan Aiden adalah membuat hidup Nathan hancur berantakan.


-


-


Nathan sedang berkutat dengan dokumen-dokumennya ketika mendengar suara pintu ruangannya dibuka dari luar. Terlihat sosok jelita berparas Barbie berjalan menghampiri mejanya. Ditangannya menggenggam sebuah kotak makanan yang dibungkus oleh kain berwarna merah.


"Kau datang," ucap Nathan seraya bangkit dari kursinya.


"Aku datang mengantarkan makan siang untukmu. Aku tau kebiasaan burukmu itu, kau sering melewatkan makan siangmu dan Paman Tao yang memberitahuku."


"Dia mengadukanku padamu?" Nathan memicingkan matanya.


Vivian menggelengkan kepalanya. "Lebih tepatnya aku yang mencari taunya, dan dia memberikan informasi yang aku butuhkan." Jawabnya.


"Kau tidak sedang sibuk kan?" Vivian menggeleng. Bahkan dia tidak memiliki kerjaan sama sekali. "Tetaplah disini, nanti kita pulang sama-sama. Aku akan menyelesaikan pekerjaanku dengan segera."

__ADS_1


"Tapi kau harus membawaku jalan-jalan terlebih dulu," Nathan mengusap kepala coklat istrinya dan mengangguk.


"Tentu."


Vivian berhambur ke pelukan Nathan dan memeluknya dengan erat. Sikap manja Vivian yang seperti ini membuat Nathan semakin mencintainya hari demi hari. Bahkan cinta yang dia miliki pada Vivian saat ini lebih besar dari cinta diawal hubungan mereka tercipta.


"Kenapa kau semakin manja saja, hm." Ucap Nathan sambil mengusap kepala Vivian dengan gerakan naik-turun.


Vivian mengangkat wajahnya dari pelukan Nathan dan mengunci manik matanya. "Kalau bukan padamu, lalu aku harus manja pada siapa? Apa kau rela jika aku sampai manja pada orang lain?" Ucapnya, alhasil sebuah jitakan mendarat mulus pada kepala coklatnya.


"Berani melakukannya, aku akan menggantungmu hidup-hidup!!" Bukannya tersinggung, Vivian malah terkekeh geli melihat ekspresi suaminya. Dia hanya bercanda tapi kenapa Nathan menyikapinya dengan begitu serius?!


Wanita itu tersenyum. "Aku hanya bercanda, mana mungkin aku melakukannya disaat aku sudah menemukan seseorang yang sangat aku cintai. Dan hanya bersamamu aku ingin melewati masa tuaku. Karena kau adalah segalanya bagiku. Jadi jangan pernah meragukan kesetiaan dan ketulusanku padamu." Ucapnya.


Nathan menggeleng. Dia mengeratkan pelukannya. "Tidak akan pernah!! Kalau kau lelah, pergilah ke ruang istirahat, setelah ini kita makan siang sama-sama."


Vivian mengangguk. "Baiklah," Vivian meninggalkan Nathan sendiri di ruangannya dan pergi ke ruangan tersembunyi yang berada di balik rak buku. Dia akan istirahat di sana sambil menunggu jam makan siang tiba.


.


.


Guratan lelah terlihat jelas pada raut mukanya. Nathan tidak tau apa yang membuat istrinya begitu sibuk akhir-akhir ini, Vivian sering pergi namun tidak memberitahunya kemana dia pergi. Vivian hanya mengatakan ingin mencari angin segar.


"Eungghhh..."


Lengkuhan panjang keluar dari bibir wanita itu karena usapan Nathan pada kepalanya. Mata Vivian terbuka perlahan memperlihatkan sepasang hazel yang menawan. "Sudah jam berapa ini? Kenapa tidak membangunkan ku?" Ucap wanita itu seraya bangkit dari berbaringnya.


"Kau terlihat sangat pulas dan lelah, jadi aku tidak tega untuk membangunkanmu," jawab Nathan.


"Kau pasti sudah lapar, ayo kita makan sekarang," ucap Vivian dan dibalas anggukan oleh Nathan.


Baru juga hendak melangkahkan kakinya, tiba-tiba Vivian merasakan pusing yang luar biasa. Pandangannya berkunang-kunang dan apa yang dia lihat menjadi dua. Wanita itu sedikit sempoyongan dan menubruk dada Nathan.

__ADS_1


"Vivian, kau kenapa?" Nathan menatapnya dengan cemas.


Vivian menggeleng. "Aku tidak apa-apa hanya sedikit pusing saja." Jawabnya meyakinkan.


"Duduk dulu, sebaiknya kita makan siang disini saja. Tunggu, aku ambil makanannya dulu." Nathan meninggalkan Vivian sendiri di ruangan itu untuk mengambil makan siangnya.


Vivian tidak tau apa yang terjadi pada tubuhnya. Akhir-akhir ini dia sering merasa lelah dan kurang bertenaga, terkadang pusing dan mual ketika pagi hari dan kepalanya pusing setiap kali mencium aroma yang menyengat, seperti parfum dan bumbu dapur.


Wanita itu menoleh saat mendengar derap langkah kaki yang datang. Nathan memasuki ruangan sambil membawa bingkisan yang dia bawa tadi. "Kau terlihat pucat, Vi. Bagaimana kalau setelah ini kita pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisimu?"


Vivian menggeleng. "Tidak perlu, aku tidak apa-apa dan baik-baik saja. Hanya kelelahan saja, istirahat sebentar kondisiku juga pasti membaik." Ujarnya.


"Baiklah, setelah makan siang sebaiknya kau istirahat saja. Aku benar-benar tidak mau jika kau sampai jatuh sakit, Vi." Vivian mengangguk, dia tidak mau membuat Nathan cemas.


-


-


Gio menoleh kebelakang saat merasa jika dia sedang diikuti, dan benar saja. Sedikitnya ada lima motor yang mengikutinya, itu adalah Reno dan teman-temannya. Dan Gio tau apa yang menjadi akar permasalahannya.


Gio menambah kecepatan pada motornya, motor-motor itu juga semakin cepat. Gio yang memang dasarnya tidak pandai berkelahi tau kemana harus pergi dan mencari bantuan. Dia mengarahkan motornya menuju pos polisi yang hanya berjarak 50 meter lagi.


"Ada apa anak muda, kenapa kau terlihat panik?" Tanya seorang polisi yang bertugas.


"Saya sedang diikuti dan ingin meminta perlindungan."


Lalu ketiga polisi lalulintas yang berjaga mengikuti arah tunjuk Gio, dan mereka melihat sedikitnya 5 motor yang sedang berputar arah. Tapi mereka sudah mencatat nomor plat motor tersebut untuk kemudian ditindak.


"Sudah aman, kau bisa pergi sekarang. Kami sudah mencatat plat nomor kelima motor yang mengikutimu."


Gio membungkuk dan mengucapkan terimakasih. Setelah dipastikan aman, Gio pun melanjutkan perjalanannya lagi. Dia ada janji untuk menemani Sania ke toko buku.


-

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2