Istriku, Ga!Rah Cintaku

Istriku, Ga!Rah Cintaku
Hal Sepele


__ADS_3

"Nathan …"


"…"


"Suamiku tercinta, ayolah, jangan seperti ini."


"…"


"Jangan merajuk seperti anak kecil, kau akan menjadi seorang ayah."


"…"


Xia Vivian menggembungkan kedua pipinya kesal. Lama-lama ia merasa gemas dengan tindakan suaminya yang sedari tadi mendiaminya hanya gara-gara hal sepele.


Ia lirik penuh arti pada pria yang tengah fokus menyetir dengan kening yang mengerut, pertanda bahwa sang pria tengah berada pada kondisi di mana emosinya sedang ia tahan.


Merasa tak diperhatikan sama sekali, membuat Vivian mendengus. Pandangannya beralih pada perutnya yang masih belum menunjukkan sedikit pun tanda kehamilan, karena masih terlalu rata. Ia usap perutnya, di mana janin yang telah berumur hampir dua bulan itu berada.


"Sayang, kau lihat itu. Papamu tukang ngambek, dasar menyebalkan," ucapnya seraya mendengus.


Nathan menoleh dan menatap sinis pada istrinya. "Jangan mengatakan hal yang aneh pada anakku." Nathan tiba-tiba membuka suara sembari melirik Vivian dengan tatapan tajam.


Wanita itu mengangkat bahunya acuh. "Aku tidak mengatakan hal yang aneh!" sergah Vivian cepat. "Bisa-bisanya kau marah hanya gara-gara hal sepele seperti itu."


Nathan kembali terdiam, tak menggubris perkataan istrinya sama sekali. Vivian mendesah frustasi, pandangannya ia lempar ke luar jendela.


Daripada berhadapan dengan si tukang ngambek Nathan Qin, lebih baik dia menyegarkan matanya dengan melihat pemandangan kota. Namun, pikirannya malah melayang pada kejadian tadi di cafe. Kejadian yang membuat suaminya itu mendiaminya sampai saat ini.


.


.


Flashback:


"Vivian, kau Xia Vivian kan?" Seorang pemuda tiba-tiba menghentikan Vivian dan Nathan yang hendak meninggalkan kedai makanan. Pemuda itu bersikap seolah-olah dia sangat mengenal Vivian dengan sangat baik.


Wanita itu mengangguk. "Ya, aku Xia Vivian. Tapi maaf, apa kita pernah bertemu sebelumnya? Aku tidak mengenalmu sama sekali,"

__ADS_1


"Aku Aron, dari kelas musik. Dulu saat masih SMA aku sering mengirim bunga dan Coklat secara diam-diam padamu. Dulu kau bersekolah di salah satu sekolah terbaik di Kota London kan, apa kau sungguh-sungguh tidak mengingatku?"


Vivian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia sungguh tidak mengingat pemuda ini, memang benar dulu banyak yang mengirim bunga dan Coklat untuknya, tapi Vivian tidak mengenal mereka satu persatu.


Kemudian Aron mengeluarkan ponselnya dan bermaksud untuk meminta nomor ponsel Vivian. Tapi cengkraman pada pergelangan tangannya membuat perhatiannya teralihkan. Aron menoleh, Nathan tengah menatapnya dengan tajam.


"Sebaiknya jangan ganggu dia lagi, karena Vivian sudah bersuami dan saat ini ia sedang hamil!!" Ucap Nathan memperingatkan.


Aron menatap penampilan Nathan dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Kau siapa? Apa kau pengawal yang dikirimkan oleh suami Vivian untuk menjaganya?! Katakan padanya ya, jika Vivian akan pulang denganku malam ini. Aku akan mengantarkannya dengan selamat, bilang saja dia bertemu teman lamanya,"


"Aku bukan pengawalnya, tapi aku suaminya!!"


Aron menatap Nathan dengan sinis."Sungguh? Kenapa rasanya sangat lucu, Vivian yang seperti seorang Dewi malah mendapatkan pasangan seperti ini!!"


Bruggg...


Tubuh Aron tersungkur ke tahan setelah mendapatkan pukulan keras pada wajahnya. Tapi bukan Nathan yang melakukannya melainkan Vivian. "Vivian, apa-apaan kau ini?!" Bentak Nathan setelah melihat apa yang dilakukan oleh wanitanya itu.


"Memberi sedikit pelajaran padanya, jangan cemas, itu tadi tidak mamakai banyak tenaga kok. Sudahlah, ayo kita pulang."


"Kenapa kau sangat keras kepala dan tidak mau mendengarkan ku?! Bukankah sudah ku bilang supaya tidak bertidak ceroboh lagi, pikirkan janin di dalam perutmu itu!!"


.


.


Dan beginilah mereka sekarang.


Nathan terus saja mendiaminya. Jika dilihat kronologi kejadiannya, bukankah Vivian tak bersalah? Memangnya apa hal yang dia lakukan, sehingga membuat Nathan marah padanya? Padahal Vivian berusaha membela Nathan yang sedang di sudutkan.


Rasanya Vivian ingin berteriak dan memberitahu Nathan jika yang dia lakukan tadi itu untuk dirinya, tapi yang ada dia justru akan semakin marah padanya dan Vivian tidak mau jika Nathan sampai mendiaminya lebih lama lagi.


"Nathan, apa kau sungguh-sungguh marah padaku?" Tanya Vivian memecah keheningan.


Nathan tidak menjawab dan hanya menatap sekilas pada wanita itu. Tatapannya tetap dingin dan datar, Vivian kembali menghela napas. "Aku kan tidak bersalah, tadi aku hanya berusaha untuk melindungimu saja, apakah salah?"


"Tapi yang kau lakukan bisa membahayakan janin yang ada di perutmu. Apa kau lupa dengan apa yang dokter katakan, dan jika ada apa-apa dengan janin di dalam perutmu, mami bisa menyalahkanku karena tidak bisa menjagamu dengan baik!!"

__ADS_1


Vivian mempoutkan bibirnya. "Iya, iya aku yang salah. Tapi jangan ngambek lagi ya, apalagi mendiamiku seperti ini. Itu sangat menyebalkan!!"


Nathan mendengus berat. "Kali ini kau aku maafkan, sekali lagi kau ulangi, tau sendiri akibatnya!!"


-


-


Byurr...


Sekujur tubuh Aiden basah kuyup setelah disiram satu ember air oleh Arya. Membuat kesadarannya kembali. Aiden terkejut ketika mendapati dirinya terikat pada kursi tua disebuah ruangan yang gelap dan pengap.


Dia mengangkat wajahnya dan menatap tajam tiga orang yang berdiri di depannya. "Apa yang kalian lakukan padaku?"


"Ternyata benar, kau masih hidup!! Aku pikir Nathan hanya mengatakan omong kosong ketika memberitahu kami jika kau masih hidup, tapi ternyata kau benar-benar masih hidup!!" Ucap Sean.


"Itu bukan urusan kalian! Lepaskan aku atau kalian bertiga akan menanggung akibatnya!!" Ucap Aiden penuh ancaman.


"Jangan banyak permintaan, sebaiknya kau diam saja disini dan renungi semua kebodohanmu selama ini!!" Jawab Dio menimpali. Kemudian mereka bertiga meninggalkan Aiden begitu saja.


Tujuan mereka menculik Aiden dan menyekapnya adalah untuk mengingatkan dia pada peristiwa yang pernah terjadi dimasa lalu, dimana Nathan yang mati-matian mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan Aiden yang disekap oleh sekelompok gangster dengan menerobos kobaran api yang sangat besar.


Tapi membuat orang seperti Aiden bisa sadar dan menyadari semua kesalahannya tentu bukan perkara yang muda, mengingat jika hati dan pikirannya telah membeku menjadi batu


-


-


Rossa melebarkan senyumnya ketika akhirnya dia sampai di kota Seoul. Setelah mendapatkan telfon dari Vivian jika dia tengah hamil, Rossa langsung terbang ke Korea. Kebetulan dia juga sudah sangat merindukan suaminya, Kris, yang sekarang menjadi seorang dosen di kampus Vivian.


"Nyonya Rossa, saya adalah Tao, orang yang dikirim oleh Kris Ge untuk menjemputmu." Ucap Tao sambil membungkuk pada wanita itu.


Meskipun Rossa adalah istri dari sahabatnya, tapi dia tetap seorang Nona besar dari keluarga Xia, dan Tao harus menghormatinya. Rossa tersenyum. "Tidak perlu seformal itu, kau bisa memanggilku Kakak Ipar." Ucap Rossa dengan senyum yang sama.


Tao mengangguk. "Baiklah, Kakak ipar. Kalau begitu silahkan, saya akan membawamu pada Kris Ge dengan selamat." Rossa mengangguk. Kemudian dia masuk ke dalam mobil jemputanya tersebut. Rossa sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan suaminya.


-

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2