
Sinar matahari pagi menyorot masuk kedalam jendela kaca. Udara yang semula dingin berubah hangat serta nyaman. Kicau burung masih setia bersautan walau di iringi dengan deru kendaraan yang mulai mendominasi.
Hari sudah menjelang siang, jadi tak heran jika beberapa kendaraan berlalu lalang di jalan. Manik coklat milik seorang pria mengerling malas pada dinding kaca, lebih tepatnya pada pemandangan yang terpampang di sana.
Melihat orang-orang berlalu lalang serta asap kendaraan membuatnya jengah. Ini adalah Seoul, setidaknya ia tahu, kota yang ia tinggali selama ini adalah kota yang terkenal sibuk. Setidaknya ini lah realita kehidupan sebagian orang Korea. Bekerja dan bekerja.
Nathan mengalihkan pandangan kearah langit. Ia ingin menjernihkan pikiran untuk sesaat saja. Akhir-akhir ini ia sering kali merasa frustasi karena ulah Vivian. Istrinya itu sering kali membuatnya frustasi dan putus asa. Tetapi Nathan tidak bisa melayangkan protesnya apalagi sampai membuat perhitungan dengannya.
"Nathan,"
Pemuda itu mengangkat wajahnya dan mendapati sang istri menghampirinya."Perutku mulas, sepertinya aku sudah mau melahirkan." Ucap perempuan itu sambil memegangi perutnya.
"Apa? Bukannya usia kandunganmu baru delapan bulan lebih dua Minggu, kenapa sudah mau melahirkan?" Heran Nathan.
Vivian menggeleng. "Aku juga tidak tau, kemarin Kak Sil melahirkan juga belum genap 9 bulan," ucapnya.
Silvia melahirkan satu bulan yang lalu di usia kandungannya yang baru delapan bulan lebih tiga Minggu. Dan sekarang Vivian mulai kontraksi diusia kandungannya yang baru delapan bulan lebih dua Minggu.
"Terus apa sudah ada tanda-tanda lainnya? Aku tidak pernah melahirkan jadi tidak paham,"
Vivian mengangguk. "Beberapa kali muncul bercak, aku juga jadi lebih sering buang air kecil dan besar. Kata mama itu adalah salah satu tanda mau melahirkan," ucapnya.
"Bagaimana kalau kita ke rumah sakit saja? Aku juga tidak paham sama sekali soal tanda-tanda persalinan. Dokter pasti akan lebih tau dan lebih paham," terang Nathan.
"Ya, itu juga yang aku pikirkan," Vivian menganggukkan kepala, menyetujui usulan Nathan. Bagi yang awam soal persalinan, memang sebaiknya pergi menemui dokter secara langsung daripada harus menerka-nerka.
.
.
"Bagaimana dok, apa istri saya benar-benar sudah waktunya melahirkan?" Kevin menatap dokter itu penasaran. Dia bertanya dan memastikan.
"Sudah pembukaan empat, hanya butuh beberapa jam saja bayinya akan lahir. Sebaiknya temani istri Anda, dia sedang mengalami kontraksi hebat."
__ADS_1
"Tapi usia kandungannya belum genap 9 bulan,"
"Tidak semua bayi lahir diusia kandungan yang ke 9 bulan, ada juga yang 7 bulan sudah lahir. Setiap bayi tidak sama dan sudah menentukan hari lahirnya sendiri," jelas dokter itu memaparkan. Dokter itu paham karena ini adalah yang pertama bagi Nathan maupun Vivian.
.
.
Semakin lama, kontraksi yang Vivian alami semaki hebat. Perutnya kembali terasa begitu keram, diikuti dengan pinggulnya yang teramat nyeri. Vivian mencengkeram jari-jari Nathan yang menggenggam tangannya.
Vivian sungguh tidak pernah membayangkan jika wanita yang sedang mengalami kontraksi rasanya akan sesakit ini.
"Uhh, Nathan, sakit sekali." Keluh Vivian dengan dahi mengernyit.
"Jangan panik, Sayang. Aku ada disini bersamamu. Aku akan menemanimu disini sampai kau melahirkan anak kita, jangan takut aku tidak akan meninggalkanmu kemana-mana." Ucap Nathan sambil mengusap peluh dikening Vivian.
Sepuluh menit berlalu dan Vivian kembali merasakan kontraksi itu. Dan rasanya semakin hebat dari kontraksi sebelumnya.
"Jangan tegang, ada aku di sini, dokter yang siap membantumu melahirkan." Bisiknya menenangkan. Vivian hanya tersenyum kecil kearah Nathan.
"Lebih baik ganti pakaianmu dengan yang lebih nyaman," ucap Nathan kemudian membantu melepas baju terusan berwarna biru muda yang dikenakan oleh Vivian.
Saat wanita itu hanya mengenakan bra dan cel*na d*lam, Nathan memegang perut buncit istrinya dengan kedua tangannya. "Perutmu sudah kencang, anak kita juga sudah benar-benar turun," ucapnya tersenyum kecil sambil mengusap memutar perut Vivian. Nathan kemudian menatap wajah istrinya dengan senyum lebar. "Kau wanita yang hebat, Vi."
Vivian tertawa kecil mendengar pujian dari suaminya. "Aww..."
Nathan ikut mengernyit saat merasakan perut Vivian bergerak-gerak. "Sstt.. anak Papa, jangan nakal, Mamamu kesakitan," ucapnya pada sang cabang bayi.
Dokter datang menghampiri Vivian untuk mengecek pembukaannya. Ternyata sudah pembukaan ke sembilan dan air ketuban juga sudah pecah. Kemudian dia meminta para tim medis untuk bersiap, karena sudah dapat dipastikan jika Vivian akan segera melahirkan.
Sementara itu...
Jesslyn dan Luis baru tiba di rumah sakit. Mereka langsung pergi setelah mendapatkan telfon dari Nathan jika Vivian akan segera melahirkan. Rossa dan Kris juga ikut datang, mereka semua sangat mencemaskan Vivian apalagi Nathan mengatakan jika istrinya sangat-sangat kesakitan.
__ADS_1
"Bagaimana, apa jabang bayinya sudah lahir?" Tanya Rossa, dia baru saja tiba.
Jesslyn menggeleng. "Aku sendiri juga tidak tau. Karena aku dan Luis baru sampai," ucapnya.
Beberapa perawat terlihat sangat sibuk. Mereka berlarian keluar masuk ruangan. Dari sela-sela pintu yang sedikit terbuka. Di dalam sana Vivian sedang berjuang keras untuk melahirkan anaknya dengan Nathan yang menemaninya. Wanita itu tampak sangat kesakitan dan itu membuat Rossa maupun Jesslyn menjadi tidak tega.
"Semoga dia dan janinnya baik-baik saja." Ucap Luis yang ikut lemas setelah ikut mengintip kedalam. Dia ingat ketika Jesslyn melahirkan Lovely dulu. Dia sama kesaktiannya seperti Vivian saat ini.
.
.
Oeee... Oeee.. Oeee...
Suara tangis bayi memecah dalam heningnya suasana malam ini. Luis dan Jesslyn segera bangkit dari kursinya begitu pula dengan Rossa dan Kris. Mereka berempat tampak begitu bahagia, anak Nathan dan Vivian telah lahir dengan selamat, yang artinya mereka sudah menjadi nenek dan kakek.
Baik Jesslyn maupun Luis, mereka sudah sangat tidak sabar untuk segera melihat cucu mereka. Tapi belum ada satu pun dokter maupun perawat yang keluar dari dalam sana.
Di dalam ruangan. Bayi mungil itu baru saja dibersihkan, sekarang sedang dipakaikan pakaian dan di bedong oleh seorang perawat agar merasa hangat sebelum akhirnya diserahkan pada Nathan.
Nathan segera membawa anak itu ke pelukan ibunya. Ia juga terharu melihat wanita yang dicintainya berjuang sekuat tenaga untuk melahirkan buah hatinya. Sampai-sampai Nathan tak kuasa menahan air matanya.
"Terima kasih, Sayang," ucap Nathan sambil mengecup bibir Vivian sebentar. "Kau sudah membuatku menjadi seorang ayah. Aku mencintaimu." Bisiknya pelan.
Tangis Vivian semakin kencang saat mendengar ucapan suaminya. Ia mendekap tubuh mungil anaknya dengan penuh sayang."Terima kasih sudah hadir di kehidupan kami." Bisik Vivian lalu mengecup pipi bayinya.
Kehidupan baru menanti keluarga kecil tersebut dengan hadirnya satu makhluk mungil di sana. Mahluk mungil berjenis kelamin laki-laki yang kemudian di beri nama Steven Qin.
-
-
Bersambung.
__ADS_1