Istriku, Ga!Rah Cintaku

Istriku, Ga!Rah Cintaku
Sikap Dingin Vivian


__ADS_3

Setelah seharian berkutat dengan tumpukan dokumen yang membuatnya sakit kepala, akhirnya sekarang Nathan bisa bernapas lega. Ia baru saja menyelesaikan pekerjaan terakhirnya dan sekarang tengah bersiap-siap untuk pulang.


Pemuda itu beranjak dari kursinya dan menghampiri sosok wanita cantik yang saat ini sedang terlelap di sofa, tengah ruangan. Diperhatikannya wajah cantik itu dengan seksama, bahkan ketika sedang tidur pun Vivian terlihat sangat cantik.


Dengan lembut, Nathan menepuk lengan Vivian dan memintanya untuk bangun. Membuat kelopak mata itu perlahan terbuka dan menampilkan sepasang biner Hazel yang begitu indah.


"Em, sudah mau pulang ya?" Vivian menatap Nathan dengan wajah polosnya.


Pemuda itu mengangguk. "Kenapa? Masih ngantuk? Nanti lanjut lagi di mobil, ayo sekarang kita pulang," Nathan mengulurkan tangannya pada Vivian dan membantu wanita itu untuk bangkit dari posisinya saat ini. Vivian malah ketiduran di sofa setelah keasikan membaca novel di ponselnya.


Mereka melewati bilik-bilik yang sudah sepi, karena para pekerjaannya sudah pulang. Melihat kantor yang tak lagi berpenghuni membuat bulu kuduk Vivian langsung berdiri, seketika dia teringat pada film horor bertemakan perkantoran yang pernah dia nonton bersama Sania beberapa tahun lalu.


Sesekali Vivian menoleh kebelakang, memastikan jika tidak ada yang mengikutinya dan Nathan. Dan lorong benar-benar kosong, sikap aneh Vivian membuat Nathan kebingungan.


"Ada apa? Kenapa kau terlihat gugup dan berkeringat dingin?"


Sontak Vivian mengalihkan pandangannya pada Nathan. "Ketika sepi begini kantor agar terlihat menyeramkan ya, aku jadi ingat film kisah horor yang pernah ku tonton bersama Sania beberapa tahun lalu." Ujarnya.


Nathan terkekeh geli, ternyata Vivian ketakutan karena suasana berbeda ketika kantor sedang sepi. Padahal dia merasa biasa-biasa saja.


"Mana ada hal seperti itu. Kau terlalu banyak menonton film dan membaca novel. Sudah ayo cepat, aku sudah lapar." Ucap Nathan yang kemudian di balas anggukan oleh Vivian.


Keduanya meninggalkan gedung perkantoran dengan tenang. Dan Vivian tidak lagi ketakutan ketika sampai di loby dan melihat masih banyak orang yang berlalu lalang. Ia merasa lega sekarang.


Ternyata para karyawan masih belum pulang semuanya, karena sebagian dari mereka masih ada yang harus lembur malam ini.


.


.


Vivian dan Nathan meninggalkan cafe dan berjalan menuju parkiran. Dari jarak lima meter mereka berdua melihat sepasang suami-istri yang sedang ribut di parkiran. Mata Vivian memicing, sepertinya ia mengenali mereka berdua. Dan kedua matanya sontak membelalak sempurna.

__ADS_1


"Omo!! Bukankah itu kak Silvia dan kak Rio?!" Seru Vivian sambil menunjuk keduanya. Lalu Nathan menatap keduanya dengan seksama.


"Tapi apa yang terjadi? Kenapa mereka berdua sampai ribut begitu?"


Vivian menggeleng. "Aku sendiri tidak tau, tapi sepertinya penyakit kakakku kambuh lagi, kau tau sendiri bukan bagaimana merepotkannya dia selama hamil." Nathan mengangguk.


"Perlu kita hampiri mereka berdua?"


"Tentu saja perlu, ayo." Vivian menarik lengan Nathan dan membawanya menghampiri kedua orang itu yang pastinya adalah Silvia dan Rio.


Vivian tidak tau apa masalahnya sampai-sampai mereka berdua bertengkar seperti anak kecil.


Dan terkadang Vivian merasa kasihan juga pada kakak iparnya itu karena sikap dan kelakuan kakaknya yang kelewatan. Tapi dia juga tidak bisa menyalahkan Silvia karena mungkin itu adalah bawahan bayi di dalam perutnya.


"Kakak," seru Vivian dan menghentikan perdebatan pasangan suami-istri tersebut.


"Vivian, Nathan, kenapa kalian berdua ada disini?" Silvia menatap keduanya bergantian.


"Tanyakan saja pada kakak iparmu ini, sebagai suami dan calon ayah dia sangat keterlaluan. Masa iya dia menolak ketika aku memintanya memakan makanan pedas menggantikan ku, padahal itu bukan permintaanku tapi permintaan calon anaknya!!" Jelas Silvia.


Rio menggeleng. "Bukan begitu masalahnya. Aku sih setuju-setuju saja makan makanan pedas, tapi masalahnya makanan pedas itu adalah cabe utuh dan paling pedas di dunia. Parahnya lagi, dia memintaku memakannya sebanyak 1/4 kg." Terangnya.


Vivian mendengus berat. "Itu sih keterlaluan namanya. Kakak ipar, aku setuju denganmu, sebaiknya jangan di turuti saja. Dan kau Kak, bagaimana kalau Kakak ipar sampai sakit perut karena ulahmu?!"


"Yakk!! Sebenarnya kau ini adikku atau adiknya, kenapa kau malah membelanya?" Silvia memanyunkan bibirnya. Tidak adiknya, tidak suaminya, mereka sama-sama membuatnya kesal setengah mati.


Silvia mengambil napas panjang dan menghelanya. "Ya sudah, aku tidak jadi memintamu menakan cabe pedas itu. Ayo masuk ke dalam, aku sudah sangat lapar!!" Silvia menarik Rio menuju cafe tersebut. Dan Rio bisa menghela napas lega sekarang.


Nathan dan Vivian memandang keduanya dan menggelengkan kepala. "Sudah malam, ayo pulang," Vivian mengangguk.


-

__ADS_1


-


Aiden terus mondar-mandir di depan pagar rumah Vivian sambil sesekali melihat jam yang melingkari pergelangan tangannya. Sudah lebih dari satu jam dia menunggu, tapi yang ditunggu belum juga menampakkan batang hidungnya.


Sebelum mendapatkan maaf dari kakak kembarnya itu. Aiden tidak akan menyerah. Dia akan terus berusaha sampai Vivian mau memaafkannya meskipun itu agak sulit pastinya. Mengingat bagaimana Vivian kini sangat membencinya.


Deru suara mobil yang datang membuat senyum Aiden mengembang lebar. Itu adalah mobil Nathan, akhirnya orang yang dia tunggu pulang juga. Aiden menghampiri mobil itu yang berhenti di depan pagar.


Aiden mengetuk kaca pintu mobil milik Nathan. Tepat disisi Vivian berada. "Kak, lihatlah aku membawakanmu cake kesukaanmu. Kata kak Silvi, kau menyukai cake rasa coklat dan keju. Jadi aku membawakannya untukmu." Serunya dengan senyum lebar.


Vivian tak memberikan respon apapun. Dia hanya menatap Aiden dengan pandangan dingin. Lalu Vivian membuang muka kearah lain, wanita itu tidak turun meskipun Aiden terus mengetuk kaca pintu mobilnya.


"Kau tidak ingin turun dan menemuinya, sepertinya dia cukup lama berdiri disini menunggu kita. Lihatlah hidungnya yang memerah,"


"Aku tidak peduli. Jika kau ingin memintanya untuk masuk, lakukan saja. Aku tidak mau!!" Jawab Vivian.


Nathan menghela napas. Kemudian dia turun dari mobilnya dan menghampiri Aiden yang tampak kedinginan tersebut. "Masuklah, udara disini sangat dingin." Pinta pemuda itu dengan nada datar.


Aiden mengangguk. Kemudian dia masuk ke dalam mobil Nathan dan duduk di jok belakang. Kebetulan hari ini dia pergi ke kantor membawa mobil sedannya, bukan sport yang biasa dia pakai.


"Kak, ada film bagus di bioskop. Bagaimana kalau lain kali kita menonton sama-sama? Pasti akan sangat menyenangkan deh,"


Di dalam mobil, Aiden terus mencoba berbicara dengan Vivian meskipun diabaikan olehnya. Vivian tidak menanggapi satu pun ucapan pemuda itu dan terus memasang muka dingin tanpa ekspresi.


Dan hanya dari matanya saja semua orang pasti sudah tau, seberapa besar rasa benci yang Vivian untuknya.


-


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2