Istriku, Ga!Rah Cintaku

Istriku, Ga!Rah Cintaku
Rasa Penasaran Vivian


__ADS_3

Vivian pergi ke rumah sakit untuk menuai Raffi. Dia pergi sendiri tanpa ditemani oleh Nathan. Vivian teramat sangat penasaran sebenarnya dari mana Raffi mendapatkan video tersebut. Apalagi kejadian itu sudah lumayan lama.


Saat tiba di ruangan Raffi, kebetulan tidak ada siapa pun selain pemuda itu. Orang tuanya adalah orang yang sibuk dan hanya bisa menemaninya saat sore hari. Dan kedatangan Vivian tentu saja mengejutkannya, sekaligus membuat Raffi senang bukan main.


"Vivian, apa kau datang untuk menjengukku? Akhirnya kau sadar juga, aku tau kau adalah perempuan yang bijak. Sehingga kau bisa menilai mana yang baik dan mana yang buruk. Dan akhirnya kau sadar juga jika sebenarnya berandalan itu bukanlah pemuda baik-baik,"


"Jangan salah paham!!" Vivian menyentak tangan Raffi dengan kasar. "Aku tidak akan berbasa-basi, katakan dengan jujur dari siapa kau mendapatkan rekanan video itu?"


Raffi memicingkan matanya. "Maksudmu?"


"Jangan pura-pura bodoh!!" Bentak Vivian emosi. "Beritahu aku darimana kau mendapatkan video itu, atau ku pecahkan telormu!!" Ancam Vivian bersungguh-sungguh.


"Aku benar-benar tidak mengerti apa yang kau katakan. Video, memangnya video yang mana? Oh, atau jangan-jangan video tentang semua kebusukan berandalan itu ya? Kenapa kau ingin tau dan sangat penasaran?" Raffi memicingkan matanya.


"Bukan urusanmu!! Jangan bertele-tele, katakan saja darimana kau mendapatkan video itu!!" Pinta Vivian menuntut.


Raffi menyeringai. "Oke, aku akan memberitahumu tapi dengan satu syarat. Kau harus menciumku terlebih dulu, dan tulis disosial mediamu jika aku adalah pria yang paling kau cintai, baru aku akan memberitahumu."


Vivian mendekati Raffi yang sedang mengukir seringai lebar di bibirnya. Raffi sudah sangat yakin jika Vivian mau menuruti kemauannya. Vivian membelai wajah Raffi dengan senyum dibibir tipisnya, namun senyum itu berubah menjadi seringai yang sangat mengerikan.


"Aaahhh," Raffi meringis kesakitan ketika Vivian mencengkram rahangnya. Matanya membulat ketika Vivian meninju telornya dengan sangat keras. "Aarrkkk~" dan baru saja Raffi ingin berteriak, tapi Vivian menutup mulutnya dengan sapu tangan.


"Jangan coba-coba menguji kesabaranku. Sebaiknya katakan sebelum aku memecahkan telormu yang satu lagi!!" Lengan kiri Vivian menakan leher Raffi sementara tangan kanannya mencengkram rahangnya. Tak lupa dia membuka sapu tangan yang menyumpal mulutnya.


"Ja..Jangan, ba...baik akan aku katakan. Aku mendapatkan video itu dari seorang laki-laki yang aku sendiri tidak mengenalnya. Tapi dia mengenal Nathan dengan baik, sama sepertiku, dia juga ingin menghancurkan kekasihmu itu."


"Dia bukan kekasihku, tapi dia suamiku!! Katakan dimana kau dan laki-laki itu bertemu?"


"Bukan aku, tapi Reno yang bertemu dengannya. Aku meminta bantuan padanya agar mencaritahu tentang masa lalu Nathan lalu dia bertemu dengan laki-laki itu." Tutur Raffi.

__ADS_1


Vivian melepaskan cengkeraman dan kunciannya pada rahang dan leher Raffi lalu melenggang pergi. Setidaknya dia sudah mendapatkan informasi penting, targetnya selanjutnya adalah Reno. Karena Vivian harus tau siapa orang yang memberikan video itu.


-


-


Bosan karena di rumah sendirian, Nathan memutuskan untuk keluar mencari angin segar, sekalian mencari Vivian yang belum pulang sampai sekarang, padahal dia bilang cuma mau pergi sebentar.


Nathan mengendarai motor besarnya dengan kecepatan sedang. Dia tidak ingin mengambil resiko apalagi membahayakan dirinya sendiri, karena sebelah matanya masih tertutup perban.


Laju motor Nathan tiba-tiba berhenti saat lampu lalu lintas berganti warna. Dari balik kaca helmnya, dia memperhatikan sekelilingnya, dan pada saat itu dia melihat siluet seorang pemuda yang wajahnya sangat tidak asing baginya mengendarai motor besar berwarna hitam.


"Aiden," serunya setengah bergumam.


Tanpa menghiraukan lampu rambu-rambu yang belum berganti warna, Nathan menghidupkan kembali mesin motornya dan melajukannya kearah Utara.


Nathan mencoba mengejar dan mencari motor tersebut tapi dia malah kehilangan jejak. Ia hanya ingin memastikan apakah yang dia lihat benar-benar Aiden atau mungkin ia hanya salah lihat saja.


Ponsel milik Nathan yang ada disaku celananya tiba-tiba berdering menandakan ada panggilan masuk, dan itu dari Vivian. Dan ia pun segera mengangkatnya. "Ada apa, Vi?"


"Kau dimana? Aku ketinggalan dompet dan belanjaanku belum kubayar. Bisa tidak kau datang kemini market langganan kita?"


Nathan mendengus geli. Dia heran kenapa penyakit pikun istrinya tidak berkurang sedikit pun malah bertambah setiap harinya. "Dasar kau ini!! Kalau begitu tunggu sebentar,"


"Oke."


Nathan melihat kebelakang sebelum menghidupkan kembali mesin motornya. Dan saat dirasa aman, ia segera tancap gas, motor besar itu melaju kencang menuju mini market tempat Vivian berbelanja.


.

__ADS_1


.


Vivian tersenyum lebar melihat kedatangan suaminya. Dia segera menghampiri Nathan dan mengambil dompet milik pemuda itu lalu membawanya ke kasir. Barang belanjaannya harus segera di bayar.


"Apa hanya ini yang kau beli?" Vivian mengangguk. "Ya Tuhan, Vi. Hanya beberapa barang-barang ini saja dan kau malah menghabiskan waktu sampai berjam-jam?!" Ucap Nathan sambil menatap wanitanya tak percaya.


Vivian berdecak sebal. "Itu karena kau tidak mengenal wanita dengan baik!! Bukan aku saja yang seperti ini, hampir semua wanita itu sama saja jika sudah urusan berbelanja. Aku lapar, ayo temani aku makan siang." Vivian memeluk lengan terbuka suaminya dan mereka pergi ke cafe yang letaknya bersebelahan dengan mini market tempat Vivian berbelanja.


Kedatangan mereka di cafe langsung menyita perhatian banyak mata. Beberapa pasang mata tertuju pada Nathan dan sebagian lagi tertuju pada Vivian, melihat tatapan para pria itu membuat Nathan merasa muak. Begitu banyak wanita cantik di cafe ini, tapi kenapa mereka malah tertarik untuk menatap istrinya?!


Nathan akui, pesona Vivian memang tidak main-main, dan hal itulah yang membuat banyak kaum Adam yang tergila-gila padanya. Dan Nathan sungguh tidak rela jika istrinya menjadi pusat perhatian banyak pasang mata.


"Lain kali tidak usah pergi ke tempat seperti ini. Lihatlah tatapan mereka padamu, mereka seolah-olah ingin menerkammu hidup-hidup!!"


Vivian terkekeh. Ternyata suami tampannya ini sedang kesal dan cemburu padanya. Vivian kembali memeluk lengan terbuka suaminya dengan begitu mesra, agar semua orang tau jika dia sudah ada yang punya.


"Apa ini cukup?"


"Hn,"


"Dan bukan aku saja yang menjadi pusat perhatian, tapi kau juga. Lihatlah mata para perempuan itu yang seperti ingin lepas saat melihatmu masuk tadi. Penampilanmu terlalu membuat mereka bernafsu, Tuan Muda Qin!!" Ujar Vivian panjang lebar.


"Ck,"


Bagaimana tidak, Nathan hanya memakai singlet putih press body dan jeans belel hitam. Budaya barat sepertinya masih melekat pada dirinya sampai saat ini, itulah yang membuat dia sering berpergian dengan pakaian lengan terbuka, bahkan ketika pergi kuliah.


Meskipun begitu, Vivian tidak pernah menegur apalagi memarahinya. Dia tidak akan merubah Nathan menjadi orang lain, karena cinta yang Vivian miliki pada pemuda itu tulus apa adanya.


-

__ADS_1


-


Bersambung


__ADS_2