Istriku, Ga!Rah Cintaku

Istriku, Ga!Rah Cintaku
Ingin Berdamai


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul 08.30. Suasana pagi di Seoul University seperti hari-hari sebelumnya. Di kantin juga cukup lenggang.


Kantin yang nyaman dengan tata letak taman. Banyak pohon maple rindang yang menaungi beberapa meja.  Maklum saja, Seoul University mendapat predikat Green School. Angin bertiup tak terlalu sepoi, tidak terlalu kencang juga tidak terlalu pelan


Beberapa mahasiswa dan mahasiswi terlihat mulai memadati kantin untuk sarapan. Karena sebagian besar dari mereka pasti belum sempat sarapan ketika berangkat tadi.


Seorang mahasiswa yang dikenal cukup berprestasi terlihat menghampiri salah satu meja yang dihuni oleh dua perempuan dan beberapa pemuda.


"Vivian, bisa kita bicara sebentar. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu," ucap pemuda itu sambil menunduk malu-malu di depan Vivian.


"Soal apa, kalau ingin bicara disini saja." Jawab Vivian.


Pemuda itu menggeleng. "Tidak bisa, kita bicara di tempat lain saja, aku tidak ingin orang lain sampai mendengarnya." Ucap pemuda itu.


Nathan berdiri dan menatap tak suka pada orang yang mengganggu istrinya. "Pergilah, sebaiknya jangan ganggu Vivian." Pinta Nathan sambil menyentak tangan pemuda itu dari lengan Vivian.


Pemuda itu menatap Nathan dengan pandangan menantang. "Memangnya kau siapa berani mengaturku?! Vivian saja tidak keberatan kenapa malah kau yang tidak mengijinkannya?!"


"Sebaiknya kau pergi saja dan jangan cari gara-gara." Arya ikut angkat bicara.


"Kalian semua berani sekali menindasku. Apa kalian tidak tau siapa aku ini?! Aku adalah mahasiswa paling berprestasi dan para dosen sudah mengakui kemampuanku. Kalau kalian bersikap seenaknya padaku, aku bisa melaporkan kalian semua." Ucap pemuda itu memberi ancaman.


"Lakukan saja, kau pikir kami takut. Jangan hanya karena kau itu mahasiswa berprestasi, lalu kita-kita takut padamu. Sudah pergi sana, menurunkan selera makanku saja!!" Ucap Sean setengah menggerutu.


Bukannya pergi, pemuda itu malah kembali mengganggu Vivian. Dia memohon supaya perempuan itu mau bicara empat mata dengannya. Tapi Vivian tetap menolaknya dan meminta dia mengatakan saja di depan semua orang.


Pemuda itu menghela napas panjang. Sepertinya dia memang tidak memiliki pilihan selain mengatakannya sekarang dan di depan semua orang.


"Vivian, aku mohon padamu, terima cintaku. Aku sudah menyukaimu sejak aku pertama kali masuk kampus ini. Tapi aku tidak berani, kau terlalu sempurna sementara aku seperti ini. Aku mohon padamu, terima cintaku dan tinggalkan berandalan ini!!"


"Kau~" Nathan bangkit dari duduknya dan hendak memukul pemuda itu tapi dihalangi oleh Vivian.


Vivian menatap pemuda itu dengan serius."Kau, pergilah dan jangan harapkan apapun dariku. Mulai detik ini berhenti menggangguku, jujur saja kau membuatku muak!!"

__ADS_1


"Vivian, kau~!!" Pemuda itu menggantung kalimatnya dan tidak melanjutkan ucapannya.


"Kau tidak tuli kan, Vivian sudah mengusirmu jadi sebaiknya kau pergi saja dari sini!!" Pinta Dio pada pemuda itu. Teman-teman Nathan dan Vivian juga merasa muak dengan pemuda itu.


Karena pemuda itu tetap tidak mau pergi, akhirnya Vivian yang memilih pergi. Bersama Nathan dan yang lainnya, Vivian pergi meninggalkan kantin. Dari pada ngurus pemuda itu, lebih baik pergi ke perpustakaan untuk mencari materi.


Sementara itu. Kesal diabaikan, pemuda itu pun berlari sambil menangis. Dia sedih dan patah hati karena cintanya di tolak oleh Vivian padahal dia tulus dan sungguh-sungguh. Tapi Vivian lebih memili Nathan dan itu sangatlah menyebalkan.


-


-


"REINA!!"


Tuan Yamanaka berteriak histeris saat dokter mengatakan jika nyawa putrinya tidak bisa diselamatkan. Reina mengalami luka yang sangat parah terutama pendarahan dikepalanya. Setelah bertahan selama satu hari satu malam, akhirnya dia meninggal juga.


Tidak ada yang bisa dia lakukan dan mintai pertanggung jawaban. Karena di CCTV terlihat jelas jika Reina mengalami kecelakaan tunggal.


Luis adalah rekan kerja Tuan Yamanaka. Luis menyetujui pengajuan rencana kerjasama dengan perusahaan pebisnis asap Jepang tersebut. "Terimakasih, Tuan Qin. Saya sungguh sangat kehilangan dia, apalagi Reina adalah putri kesayangan, saya." Ucap Tuan Yamanaka.


Rencananya Tuan Yamanaka akan membawa mayat putrinya kembali ke Jepang. Keluarga besarnya meminta supaya Reina di makamkan di sana agar bisa memberikan penghormatan terakhir pada perempuan itu.


"Saya akan kembali ke Jepang malam ini juga, keluarga besar meminta supaya Reina dibawa pulang agar mereka bisa memberikan penghormatan terakhirnya."


"Maaf, Tuan Yamanaka. Saya tidak bisa membantu banyak, gunakan jet pribadi milik keluarga Qin, agar lebih privasi." Ucap Luis penuh ketulusan.


"Terimakasih, Tuan Qin."


Niatnya untuk menjodohkan Putra keluarga Qin dengan putrinya gagal total karena Reina sudah tidak ada lagi, dia meninggal dalam sebuah kecelakaan tunggal.


-


-

__ADS_1


Vivian memeluk leher Nathan dengan mesra. Saat ini keduanya sedang berada di atap gedung kampus. Karena kuliah di jam kedua kosong, mereka memutuskan untuk bersantai di atap gedung.


"Kau sudah dengar belum, Reina meninggal dunia. Aku pikir semalam dia meninggal di tempat, ternyata hanya sekarat."


Nathan menarik ujung hidung Vivian. "Kau ini!! Orangnya sudah tidak ada kenapa masih dibicarakan juga, apa kau masih begitu dendam padanya?"


Vivian mengangguk. "Ya, sedikit. Habisnya semasa hidupnya dia begitu menyebalkan, siapa suruh dia berusaha bersaing denganku untuk mendapatkanmu. Memangnya perlu ya, bibit pelakor seperti dia dikasihani," ucap Vivian sambil mengunci sepasang manik mata Nathan.


Benar kata ayahnya, jika wanita itu adalah mahluk pendendam. Buktinya saja Vivian masih menyimpan dendam kesumat pada Reina meskipun orangnya sudah tidak ada lagi.


"Ayo pulang saja, toh tidak ada kelas juga. Sekalian jalan-jalan, sekalian pergi ke pusat perbelanjaan. Persediaan bulanan di rumah sudah mulai menipis." Ujar Vivian.


Nathan kemudian membantu Vivian turun dari pagar pembatas. Keduanya berjalan beriringan meninggalkan atap kampus. Kebetulan Nathan juga sedang malas dan ingin pergi. Memang lebih baik menemani Vivian berbelanja dari pada harus berhadapan dengan para fans berat istrinya. Karena itu teramat sangat menyebalkan.


.


.


Nathan menghentikan mobilnya di sebuah pusat perbelanjaan. Vivian turun lebih dulu diikuti Nathan setelahnya, kemudian mereka berjalan beriringan memasuki mall terbesar di kota Seoul tersebut.


Vivian mengambil troli lalu membawanya menuju deretan buah dan sayur. Baru ke rak berikutnya dan berikutnya. Karena bagi Vivian sayur dan buah lebih penting dibandingkan dengan daging dan sejenisnya.


"Bukankah kau tidak suka semangka dan melon, tapi kenapa malah memasukkannya ke dalam troli?" Nathan menatap Vivian penuh tanya.


"Aku sudah memutuskan untuk berdamai dengan Aiden. Dia sangat menyukai semangka dan melon, jadi aku pikir tidak ada salahnya membeli buah kesukaannya." Ucap Vivian.


Vivian merenungkan selama beberapa malam. Memang tidak seharusnya dia membenci Aiden. Karena apa yang menimpanya hari itu bukan sepenuhnya salah dia, mungkin memang Tuhan belum mempercayainya dan Nathan untuk memiliki momongan.


-


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2