
Sikap manja Vivian semakin hari semakin menjadi. Dan kesabaran Nathan benar-benar harus diuji dari sini. Sering kali Vivian membuatnya kesal setengah mati, tapi Nathan tidak bisa marah, yang bisa dia lakukan hanyalah bersabar dan mengelus dada.
Pagi ini contohnya. Kesabaran Nathan benar-benar diuji oleh Vivian. Wanita itu mengatakan ingin makan nasi goreng buatan Nathan, tapi ketika nasi goreng itu matang Vivian malah tidak mau memakannya dan meminta ramen. Karena Vivian terus merengek akhirnya Nathan pun menurutinya.
Senasib dengan nasi goreng tadi, Vivian juga tidak mau memakannya malah meminta makanan yang lain, dan Nathan menurutinya, lagi-lagi dia tidak mau memakannya. Sedikitnya ada 5 makanan berbeda yang harus Nathan masak pagi ini, tapi tak satu pun ada yang disentuh oleh Vivian. Karena wanita itu lebih memilih memakan salad buah.
"Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa kau ingin menelanku hidup-hidup?" Ucap Vivian dengan polosnya.
Nathan menggeleng. "Tidak apa-apa, makan pelan-pelan saja. Tidak perlu terburu-buru, sebaiknya tidak usah kelayapan keluar, tunggu aku pulang bekerja." Ujar Nathan menasehati.
Vivian memanyunkan bibirnya. "Tapi bagaimana jika aku bosan karena di rumah sendirian? Aku ikut saja ya," rengeknya memohon.
Nathan menggeleng. "Sebaiknya kau di rumah saja, aku tidak ingin jika kau sampai terlibat keributan lagi dengan karyawanku dan membahayakan janinmu!!"
"Terserah!!" Vivian meletakkan mangkuk salad buahnya dan pergi begitu saja.
BRAK..
Nathan menutup matanya dan menghela nafas berat. Dan begitulah Vivian jika sudah marah, hobinya membanting pintu dan mengurung diri di kamar. Sejak dinyatakan hamil, emosi Vivian menjadi mudah turun naik.
Tokk.. Tokk.. Tokk..
Nathan mengetuk pintu kamarnya, dan meminta Vivian untuk membukanya. "Vi, buka pintunya. Baiklah kau boleh ikut ke kantor, tapi dengan satu syarat, tetap di ruangan dan jangan kelayapan kemana-mana." seru Nathan. Lagi-lagi Nathan memilih untuk mengalah daripada membuat Vivian semakin kesal.
Pintu dibuka dan Vivian berdiri di depannya dengan wajah sumringah. "Benarkah?" Nathan mengangguk. Kalau begitu aku siap-siap dulu," ucapnya lalu kembali ke dalam.
Nathan mengambil nafas panjang dan menghelanya. Sedikit banyak, Nathan mulai frustasi menghadapi sikap Vivian yang semakin hari malah semakin menjadi.
-
-
"Untuk apa semua barang-barang itu?" Luis menatap bingung istrinya yang seperti orang kalap ketika membeli perlengkapan bayi.
__ADS_1
Jesslyn menoleh dan menatap suaminya dengan kesal. "Kau ini bagaimana? Apa kau lupa, sebentar lagi kita akan memiliki cucu, dan aku ingin membeli sedikit perlengkapan untuk menyambut kedatangannya," tutur Jesslyn.
"Apa ini tidak terlalu awal, usia kandungan Vivian baru memasuki bulan kedua, apa tidak lebih baik nanti saja membelinya?!"
"Kau ini tahu apa, sebaiknya kau diam saja dan Jangan menggangguku. Biarkan aku konsentrasi memilih mana yang harus aku beli dan yang tidak!!"
Luis menghela napas berat. Akhirnya dia memilih mengalah dan tidak berkata apa-apa lagi, karena jika diteruskan, pasti Luis akan kalah jika berdebat dengan Jesslyn.
Tetapi Luis juga tidak bisa menyalahkan sikap Jesslyn. Itu adalah cucu pertama mereka, jadi wajar jika istrinya begitu bersemangat menyambut kedatangan calon anggota baru di keluarga Qin.
-
-
"Aiden!!"
Tubuh Aiden ambruk begitu saja dan membuat terkejut teman-temannya. Tidak ada luka sedikitpun di tubuhnya, tapi dia terlihat sangat pucat dan sedikit demam.
Dengan sigap, teman-teman Aiden mengangkatnya dan membawanya masuk ke dalam. Setelah bersusah payah, akhirnya Aiden berhasil melarikan diri dari penyekapan Arya cs.
"Tapi Aiden sangat benci rumah sakit. Bisa-bisa dia kabur saat sabar nanti," sahut si rambut merah. Lalu pandangan keduanya bergulir pada pemuda yang duduk disamping Aiden.
"Lalu kita harus bagaimana, Dan? Atau begini saja, kita beri dia obat seadanya. Aku akan pergi ke apotek untuk membeli obat turun panas," ucap si merah.
Danni mengangguk. "Itu lebih baik, daripada harus pergi ke rumah sakit. Sekalian beli kompres penurun panas untuk orang dewasa,"
"Aku mengerti, tapi mana uangnya? Aku tidak memegang uang sama sekali," si merah menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Danni berdecak dan menatap temannya itu dengan sebal. Kemudian dia mengeluarkan dompetnya dan memberikan lembaran won pada temannya itu.
"Makanya kalau punya uang, jangan hanya dipakai menyewa kucing liar, pikirkan juga untuk kondisi darurat seperti ini!!"
"Baiklah, lain kali sedikit menyimpannya untuk keadaan seperti ini. Aku pergi dulu dan jaga Aiden baik-baik," ucapnya dan pergi begitu saja.
__ADS_1
Tanpa diminta pun, Danni pasti akan menjaga Aiden dengan baik. Aiden masih belum sadarkan diri, jadi dia tidak bisa bertanya apapun padanya sekarang. Harus menunggu sampai Aiden dari pingsannya.
Danni meninggalkan Aiden bersama si rambut hitam di kamar itu, dia pergi ke dapur untuk membuat bubur.
-
-
"YEEE.. AKU MENANG LAGI!!"
Nathan mengangkat wajahnya setelah mendengar seruan keras Vivian. Pemuda itu menggelengkan kepala. Saat ini Vivian sedang bermain kartu dengan Tao.
Wajah Tao sudah tidak bisa dikondisikan lagi, karena penuh dengan coretan bedak dan lipstick. Sesuai kesepakatan, yang kalah akan mendapatkan satu Coretan di wajahnya. Dan sialnya Tao selalu kalah dari Vivian.
"Nona Bos, pasti kau bermain curang ya? Kenapa dari tadi Paman kalah terus!" Protes Tao yang tidak terima karena terus-terusan dikalahkan oleh Vivian.
"Enak saja, jelas-jelas paman yang payah dan tidak bisa bermain malah sembarangan menuduhku bermain curang," Vivian tidak terima dituduh bermain curang oleh Tao.
"Tapi buktinya Paman kalah terus darimu, padahal Paman ini adalah dewa jud!. Saat masih muda dulu, Paman sering ikut perlombaan dan mendapatkan juara satu dari belakang!!" Ujar Tao.
Vivian mendecih sinis. "Nomor satu dari belakang, sama saja dengan kalah, dasar payah. Sudahlah aku tidak mau bermain lagi, sebaiknya Paman keluar dan selesaikan pekerjaanmu sendiri!!" Vivian bangkit dari duduknya dan menghampiri Nathan yang sedang berkutat dengan dokumen-dokumennya.
Pemuda itu mengangkat wajahnya dan menatap sang istri dengan lembut. "Ada apa, apa sudah lelah bermain kartunya?" Vivian mengangguk. "Terus sekarang kamu mau apa?" Tanya Nathan dengan nada yang sama.
"Sesuatu yang dingin dan segar, bisakah kau memesankan es kacang merah untukku?" Vivian memohon.
Nathan mengangguk. "Baiklah, tunggu sebentar, akan segera kupesankan." Ucapnya dan membuat senyum dibibir Vivian mengembang lebar.
"Aku ke ruang istirahat dulu. Jika sudah sampai segera beri tahu aku." Ucapnya dan pergi begitu saja.
Tiba-tiba Vivian mengantuk dan matanya tidak bisa diajak kompromi lagi, sambil menunggu, tidur sebentar sepertinya tidak ada salahnya. Nathan nanti bisa membangunkannya setelah ice kacang merahnya sudah sampai.
-
__ADS_1
-
Bersambung.