
Aiden menghampiri Nathan yang sedang duduk sendiri di depan ruang operasi sambil menundukkan kepalanya. Tangannya terkepal kuat dan wajahnya menunjukkan rasa bersalah yang teramat sangat besar.
Nathan mengangkat wajahnya, mata kirinya yang tajam menatap Aiden dengan penuh kebencian. "Mau apa lagi kau kemari? Apa belum cukup yang kau lakukan padaku, kenapa harus dia juga?!"
"Nathan, ba..bagaimana keadaan Vivian, a..apa dia baik-baik saja?!" Tanya Aiden terbata-bata.
Nathan bangkit dari duduknya lalu menghampiri Aiden. Dengan kasar dia menarik pakaian pemuda itu dan menatapnya dengan pandangan menusuk. "Aku tidak akan pernah melepaskanmu jika sampai terjadi apa-apa pada Vivian dan calon bayiku!!" Kemudian Nathan mendorongnya hingga Aiden tersungkur ke lantai.
Aiden hanya bisa menundukkan kepalanya. Jangankan Nathan, bahkan ia pun tidak mungkin bisa memaafkan dirinya sendiri jika sesuatu yang buruk terjadi pada mereka berdua. Dan Aiden sungguh menyesali apa yang terjadi.
"Nathan, bagaimana keadaan Vivian? Dan mata kananmu~" kaget Silvia melihat mata kanan Nathan yang sekarang tertutup perban.
"Mata kananku kembali mengalami pendarahan, aku sendiri yang kurang berhati-hati hingga syarafnya tertarik dan menyebabkan pendarahan ringan. Kondisi Vivian sendiri aku tidak tau, dia masih berada di ruang operasi," jelas Nathan menuturkan.
"Ya Tuhan," Silvia lalu berhambur ke pelukan Rio. Sungguh sedih hatinya saat mendengar bagaimana keadaannya.
Suara sepatu yang bersentuhan dengan lantai menggema di lorong kosong tersebut. Tampak Nyonya Rossa yang datang bersama Kris, Tao dan Marcell. Mereka langsung pergi ke rumah sakit setelah mendengar kabar jika Vivian mengalami pendarahan hebat.
Silvia melepaskan pelukan suaminya lalu memeluk sang ibu dengan erat. "Ma, Vivian, Ma, Vivian." Ucapnya sedikit terisak.
Nyonya Rossa menyeka air matanya dan mengusap kepala putrinya dengan lembut."Tenang, Silvi, yakin jika adikmu baik-baik saja. Tuhan pasti akan selalu melindunginya." Lalu pandangan Nyonya Rossa bergulir pada Nathan yang hanya menatap kosong ke depan.
Wanita itu memahami betul apa yang Nathan rasakan saat ini. Dari Nathan, lalu pandangannya bergulir pada Aiden yang sedang duduk sambil menekuk kakinya di lantai. Mata Nyonya Rossa membelalak melihat tanda lahir pemuda itu.
"Nathan, dia~"
Kemudian Nathan mengangkat wajahnya dan mengangguk membenarkan. "Ya, dia adalah saudara kembar Vivian, dan orang yang menyebabkannya mengalami pendarahan!!"
__ADS_1
"Apa?!" Pekik Silvia dan Nyonya Rossa secara bersamaan. Dan bagaimana mungkin mereka tidak terkejut, karena setahu mereka saudara kembar Vivian telah lama tiada dan tiba-tiba pemuda itu kini muncul dihadapan mereka.
"Bagaimana bisa, bukankah dia sudah~"
"Lain kali aku akan menceritakan yang sebenarnya terjadi pada kalian berdua. Ini bukan saatnya untuk membahas apapun, karena kita harus berdoa untuk keselamatan Vivian." Rossa dan Silvia mengangguk.
Nathan tidak mengatakan banyak hal tentang Aiden pada mereka berdua. Masalah yang menimpa Vivian biar dia sendiri yang mengatasinya. Nathan tidak mau melibatkan siapa pun.
Nyonya Rossa menghampiri Aiden lalu memintanya untuk berdiri. "Jangan duduk dibawah, Nak. Kau terlihat pucat, jangan takut aku adalah Bibimu dan juga orang yang merawat kedua kakakmu, dan ini Silvia saudari sulungmu." Nyonya Rossa memperkenalkan diri pada Aiden.
Aiden tak mampu berkata apapun lagi. Dia terdiam dan membisu, bibirnya tertutup rapat. Aiden benar-benar seperti tidak memiliki muka untuk menghadapi mereka berdua. Sivia mengusap kepala Aiden sambil tersenyum tipis.
"Kita adalah keluarga, selamat datang kembali di keluarga Xia adikku." Ucapnya lalu memeluk Aiden.
Dan disitu Aiden menangis sejadi-jadinya, dia sangat-sangat menyesali semua perbuatannya selama ini, terutama karena sudah membuat Vivian dalam bahaya. Jika saja dari awal dia percaya, mungkin saja tidak akan berakhir seperti ini.
Pintu ruang operasi terbuka. Nathan segera berdiri dan menghampiri dokter yang memimpin operasi Vivian. "Kabar buruk, kami tidak bisa menyelamatkan janinnya, pendarahannya terlalu hebat, dan saat ini Nona Vivian dalam keadaan kritis karena kehilangan banyak darah!!"
Lalu Nathan memandang Aiden, dia menghampiri pemuda itu dan langsung memukulnya. Membuat semua yang ada di sana terkejut melihatnya. "Nathan!!!" Seru mereka bersamaan.
"Bajingan, ini semua karena dirimu. Kau yang menyebabkan Vivian keguguran dan kritis. Aku tidak akan pernah melepaskanmu jika sesuatu yang lebih buruk menimpa Vivian."
Kris dan Rio menarik Nathan dan berusaha menenangkannya. Aiden lagi-lagi hanya menunduk sambil menitihkan air matanya, Silvia dan Nyonya Rossa semakin dibuat bingung dengan sikap Nathan. Kenapa dia bisa sampai lepas kendali dan menghajar Aiden.
Sebelumnya Nathan mengatakan jika Aiden-lah orang yang menyebabkan Vivian sampai mengalami hal buruk ini. Tapi mereka tidak tau apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka bertiga. Semua masih teka-teki dan misteri.
.
__ADS_1
.
Nathan menatap wajah pucat Vivian dengan sendu. Saat ini Nathan sedang berada di ruang ICU, air mata jatuh dari pelupuk matanya yang kemudian membasahi pipinya. Digenggamnya jari-jari yang terasa dingin itu.
"Bangun, Sayang. Sampai kapan kau akan menutup matamu seperti ini, bangunlah aku menunggumu disini," lirih Nathan setengah berbisik.
Legang...
Hanya keheningan dan suara detak jam dinding yang terdengar. Tak ada jawaban dan juga sahutan dari Vivian, bibirnya tertutup rapat seperti kedua matanya.
Nathan menutup matanya rapat-rapat. Hatinya seperti dicabik-cabik melihat keadaan Vivian saat ini. Sungguh hancur hati dan perasaan Nathan melihat kondisi Vivian, baru juga mereka merasakan kebahagiaan, dan secepat kilat Tuhan mengambil kembali kebahagiaan tersebut.
"Vivian, aku...takut," Nathan berbisik lirih. Bibirnya gemetar dan air matanya semakin deras membasahi pipinya. "Aku sungguh-sungguh takut kehilanganmu. Bagaimana aku harus melanjutkan hidupku jika kau sampai pergi dan meninggalkanku."
Nathan rela kehilangan segalanya. Harta dan semua yang dia miliki saat ini, tapi dia tidak bisa kehilangan Vivian. Karena Vivian adalah hidup dan matinya.
"Untuk itu bangunlah, Sayang. Aku merindukanmu, Vi. Aku merindukan senyummu, canda tawamu, sikap manjamu. Aku merindukan segala hal yang ada pada dirimu. Aku sungguh-sungguh merindukanmu, Sayang."
Tidak ada yang bisa menggambarkan bagaimana hancurnya perasaan dan hati Nathan saat ini. Ia baru saja kehilangan calon anaknya, dan sekarang Vivian mengalami kritis, sungguh besar cobaan yang Tuhan berikan padanya. Yang bahkan Nathan sendiri tidak tau apakah mampu menghadapinya atau tidak.
Mata kiri Nathan membelalak saat dia merasakan gerakan lembut dari jari jemari Vivian. Lalu pandangannya bergulir pada Vivian yang saat ini sedang terdiam sambil menatapnya dengan sendu. Lalu senyum tipis tersungging dibibir pucatnya.
"Kau terlalu berisik, sampai-sampai membuatku tidak bisa tidur dengan nyenyak!!"
"Vivian!!!"
-
__ADS_1
-
Bersambung.