
Jam pertama telah usai, Vivian dan Nathan sekarang berada di kantin untuk makan siang. Tentu tidak hanya berdua saja karena ada Sania, Gio dan si trio. Sania dan Gio memperhatikan Vivian dengan seksama dan mereka merasa jika sahabatnya itu agak kurusan, wajahnya juga agak pucat.
Mereka berdua memang tidak tau perihal musibah yang baru dialami oleh Nathan dan Vivian. Kehamilan dan keguguran yang dialami Vivian hanya diketahui oleh keluarga mereka saja. Kecuali Arya cs yang mengetahui secara langsung dari Aiden.
"Vi, apa kau sedang kurang enak badan? Kau terlihat agak pucat dan tubuhmu agak kurusan," ucap Sania menyampaikan rasa penasarannya.
Vivian menggeleng. "Aku tidak apa-apa, hanya kurang istirahat saja, kebetulan nafsu makanku sedikit menurun beberapa hari ini." Ujarnya.
"Kalau begitu kau harus makan yang banyak dan jangan terlalu banyak begadang. Ini, aku berikan laukku untukmu," Sania memberikan daging miliknya pada Vivian begitu pula dengan Arya, Sean dan Dio.
"Punyaku juga untukmu saja, kau harus banyak memakan makanan yang bergizi." Ucap Arya.
"Kalian ini apa-apaan, dan bagaimana aku bisa memakan semua daging-daging ini? Ini terlalu banyak!!"
"Kalau kau tidak mau, buat aku saja," Gio mengambil dua potong daging milik Vivian lalu memakannya.
Sementara itu... Nathan yang sedari tadi melihat tingkah teman-temannya hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala. Tapi dia merasa terharu dengan sikap teman-temannya, mereka begitu peduli pada Vivian. Dan hal itu bisa mempercepat pemulihan mentalnya yang sempat terguncang pasca keguguran.
.
.
Usai makan siang, Nathan membawa Vivian pergi ke atap gedung untuk menikmati pemandangan kota Seoul dari ketinggian. Nathan sengaja mengunci pintu penghubung antara atap gedung dan tangga supaya tidak ada yang datang mengganggu mereka berdua.
Nathan memeluk Vivian dari belakang dengan dagu yang bertumpu pada bahu kanannya. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir Vivian maupun Nathan. Mereka sama-sama diam dalam keheningan. Nathan tau jika Vivian tak ingin berbicara apapun sekarang.
Ting...
Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel milik Nathan dan sedikit menyita perhatiannya, sementara Vivian tak bergeming apalagi merespon pesan itu dengan bertanya siapa yang mengirimnya. Vivian hanya melihat sekilas ketika Nathan membaca pesan tersebut.
"Aiden meminta untuk bertemu, aku tidak tau apa lagi yang dia inginkan sekarang. Kau mau ikut?"
__ADS_1
Vivian menggeleng. "Aku tidak mau bertemu apalagi melihat batang hidungnya, pembunuh itu!! Dia yang membuatku kehilangan calon anakku, kau pergi sendiri saja. Aku tidak sudi melihat mukanya!!" Jawab Vivian menimpali.
Nathan tidak mengatakan apapun lagi, rupanya kebencian Vivian pada Aiden sudah terlalu dalam. Akan sangat sulit bagi Aiden untuk mendapatkan maaf dari Vivian apalagi kasih sayangnya jika sudah seperti ini. Karena Nathan sendiri tau jika Vivian adalah tipe orang yang sangat pendedam.
"Kenapa kau melamun? Apa yang kau pikirkan?" Tanya Vivian melihat kediaman Nathan.
Pemuda itu menggeleng. "Tidak apa-apa, hanya berpikir untuk apa Aiden mengajakku bertemu. Sepertinya juga sangat penting," jawabnya.
"Kalau begitu aku akan ikut denganmu. Kalau dia berani macam-macam lagi, akan kupatahkan lehernya. Dia tidak boleh menyakitimu lagi, apalagi menempatkan mu dalam bahaya!!"
Nathan mengusap kepala Vivian. "Baiklah terserah kau saja," ucapnya sambil tersenyum tipis.
"Ayo turun, pasti mereka mencari kita. Aku tidak mau membuat Sania mencemaskanku terus menerus," ucap Vivian yang kemudian dibalas anggukan oleh Nathan.
"Baiklah,"
Vivian memeluk lengan terbuka suaminya. Keduanya kemudian meninggalkan atap gedung. Baik Vivian maupun Nathan sudah mengenal betul bagaimana sikap Sania yang super cerewet itu.
Pasangan suami-istri itu saling bertukar pandang saat melihat Sania berlari-lari sambil berlianangan air mata. Vivian dan Nathan buru-buru menghampiri Sania untuk mencari tau apa yang terjadi.
Tanpa menghiraukan Nathan dan Sania. Vivian pergi ke gedung belakang kampus. Melihat amarah istrinya yang meledak-ledak membuat Nathan tentu tidak tinggal diam, sepertinya Vivian masih menyimpan dendam pada Reno setelah dia tau dialah orang yang memberikan video tentang masa lalu Nathan pada Raffi.
Dan Nathan tidak bisa membayangkan bagaimana nasib Reno dan teman-temannya jika Vivian sudah bertindak. Mungkin saja mereka bisa mati, mengingat betapa bar-bar dan brutalnya Vivian ketika menghajar mereka yang berani menempatkan orang-orang terdekatnya dalam bahaya.
"Vivian, tunggu!!"
-
-
Tubuh Gio tersungkur dengan berlumur darah yang berasal dari pelipis, hidung dan mulutnya. Gio yang memang tidak menguasai tehnik bela diri tentu saja tidak mampu menghadapi mereka berlima.
__ADS_1
Gio mengangkat kepalanya dan menatap Reno dengan tajam. "Apa yang kau inginkan dariku?" Tanya Gio pada pemuda itu.
"Inilah akibatnya jika kau tidak mau mendengarkan ku dan menjauhi Sania, dia itu milikku, seharusnya kau tau hal itu. Tapi kenapa kau masih berani-berani mendekatinya!!" Bentak Reno emosi.
Bruggg...
"Aaahhhh, kepalaku!!" Reno tiba-tiba berteriak histeris sambil memegangi kepalanya yang mengucurkan darah segar setelah sebuah batu berukuran kepalan orang dewasa menghantamnya. "Betina, apa yang kau lakukan padaku, hah?!" Bentaknya marah.
"Hanya pengecut yang beraninya main keroyokan, kalau kalian memang memiliki nyali besar, ayo maju dan lawan aku. Jika takut sendiri-sendiri, maju semua biar sekalian aku patahkan leher kalian!!"
Melihat Vivian yang seperti seekor singa betina yang sedang kelaparan membuat keempat teman Reno menjadi ketakutan. Mereka tampak ragu, tak ingin babak belur ditangan Vivian mereka pun memilih untuk melarikan diri.
Tapi sungguh na'as, karena kemunculan Arya cs yang menghadang langkah mereka berempat. Nathan juga ada di sana, semakin tersudutkanlah mereka. Sania segera menghampiri Gio lalu membawanya ke ruang kesehatan untuk mendapatkan perawatan.
"Ini belum selesai, ingat Xia Vivian, aku pasti akan membalasmu suatu saat nanti!! Ingat itu," Reno meninggalkan mereka sambil memegangi kepalanya dengan langkah sedikit terhuyung. Darah segar terus mengalir dari kepalanya yang terhantam oleh batu.
Vivian mengejar Reno lalu menendang punggungnya hingga dia tersungkur ke tanah. Wanita itu hendak menghajarnya, tapi segera dihentikan oleh Nathan. "Vivian, tahan emosimu!!"
"Tidak bisa, Nathan. Bajingan ini berani mengancamku dan aku akan memberikan pelajaran padanya, jadi lepaskan aku!!" Bentak Vivian emosi.
"Sebaiknya kau pergi sebelum aku sendiri yang menghabisimu!!" Perintah Nathan pada Reno.
Nathan segera menenangkan Vivian yang sedang dikuasai emosi, dendam kesumat yang Vivian miliki pada Reno sepertinya sudah mendarah daging. Reno adalah orang yang memberikan tekanan masa lalu Nathan pada Raffi, dan dia belum diadili.
"Nathan lepaskan aku!!"
"VIVIAN, CUKUP!!" Bentak Nathan emosi. Vivian pun langsung diam. "Kita pulang saja!!"
Kemudian Nathan membawa Vivian meninggalkan kampusnya, wanita itu sedang dikuasai emosi dan Nathan tidak ingin jika hal itu sampai mempengaruhi mentalnya. Karena kondisi Vivian saat ini benar-benar belum stabil.
-
__ADS_1
-
Bersambung.