
Nathan melangkahkan kakinya masuk melewati pintu utama Qin Empire, para pegawai yang sedang hilir mudik segera menundukkan kepalanya, mengucapkan salamnya pada sang-CEO muda, meskipun dapat diketahui secara pasti kalau salamnya tak akan pernah direspon.
Putra pemilik perusahaan itu terkenal sangat dingin dan berperangai keras, sekali ia memberi perintah, tak ada pilihan lain selain menurutinya. Bahkan sikap Nathan jauh lebih keras dari sang ayah, yakni Luis Qin.
Dan untuk orang-orang yang tidak sesuai dengan Kriteria para pegawainya, tak akan segan ia pecat.
Selain itu, sang CEO itu pun memiliki mulut yang sangat tajam, ia tak akan setengah-setengah memarahi orang yang melanggar peraturan atau bila kinerjanya yang kurang sesuai dimatanya, entah itu laki-laki atau perempuan.
Namun hal itu tidak mengurangi pesona seorang Nathan Qin, lelaki jenius nan tampan itu digilai oleh hampir semua pegawai perempuannya.
Sudah pasti ia sangat digilai dan dikejar-kejar oleh para perempuan yang haus akan wajah rupawan, belum lagi ia memiliki harta kekayaan yang cukup sulit untuk di deskripsikan, mengingat betapa kayanya seorang Nathan Qin.
"Apa saja agendaku hari ini?" Tanya Nathan pada pria bermata panda yang berjalan mengekor di belakangnya.
Tao membuka buka agendanya yang selalu ia bawa dan memeriksa jadwal bosnya. "Hari ini ada rapat penting yang harus Anda datangi, Presdir," Ujar Tao.
Ceo muda itu mengangguk. "Hn." Seringai tipis muncul disudut bibir Nathan. "Akan ku pastikan, kerjasama itu jatuh ke tangan kita." Gumamnya angkuh.
Ting...
Pintu lift pun terbuka, Nathan dan Tao segera masuk kedalam lift. Ada dua pegawai perempuan yang ada di lift itu. Mereka menunduk sekilas pada Nathan, namun tidak direspon baik oleh pria angkuh nan dingin tersebut.
Nathan masuk ke dalam ruangannya. Sedangkan Tao pergi untuk menyelesaikan sesuatu. Dan di dalam ruangan itu sudah ada Vivian yang sedang asik bermain game di ponselnya. Sampai-sampai dia tidak tau jika suaminya sudah kembali dari bertemu klien.
"Sayang," panggil Nathan namun tak ada respon sama sekali dari Vivian. Dia terlalu asik dengan dunianya. Nathan mendengus dan menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya. "Asik sekali kelihatannya, sampai-sampai tidak merespon saat aku memanggilmu."
Sontak Vivian mengangkat wajahnya dan terkejut mendapati wajah Nathan yang begitu dekat dengannya. "Nathan!!" Seru Vivian, dan detik itu juga bibirnya berada di dalam pagutan bibir Nathan. Nathan mel*mat dan memagut bibir Vivian selama beberapa detik.
"Kenapa terkejut melihatku?"
"Karena aku pikir kau hantu, tiba-tiba muncul dihadapan ku dan membuatku terkejut!!"
Nathan menyentil kening Vivian dengan gemas. "Kau ini, bagaimana bisa menyamakan suamimu sendiri dengan hantu. Memangnya ada hantu setampan dan secool ini?"
__ADS_1
Vivian menyikut pelan perut Nathan sambil menatapnya sebal. "Dasar narsis!!" Nathan terkekeh, kemudian dia mengambil tempat disamping Vivian. "Aku lapar, bisakah kau memesankan makanan dari luar?" Rengek Vivian sambil menatap Nathan penuh harap.
Nathan mengusap kepala Vivian. "Kau ingin makan apa?"
"Apa saja yang penting pedas dan segar. Aku juga ingin makan ice cream kacang merah dan beberapa potong buah-buahan segar."
"Baiklah, tunggu sebentar. Aku akan pesan sekarang." Vivian mengangguk.
Setelah memesankan makanan untuk Vivian. Nathan kembali ke meja kerjanya untuk menyelesaikan beberapa pekerjaannya yang sempat tertunda. Sedangkan Vivian kembali sibuk dengan ponselnya.
-
-
"Luis, menurutmu lebih bangus yang mana? Yang merah atau yang hitam?" Jesslyn menunjukkan dua gaun pada suaminya dan meminta bantuan Luis untuk memilihnya.
Luis menatap kedua gaun itu bergantian lalu menggeleng. "Keduanya sama-sama tidak cocok. Pilih yang lain saja, maksudku warna dan modelnya juga. Itu terlalu muda dan sedikit terbuka."
Luis menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Istrinya marah besar dan itu sangat tidak baik untuknya dan Luis harus segera mencari cara untuk membujuk Jesslyn supaya tidak marah lagi.
"Oh, jadi untuk menantu kita ya. Kalau begitu ambil keduanya saja, atau kau mau menambahkan yang lain juga? Aku akan membayar semuanya, sekalian dengan tas, sepatu dan perhiasan yang cocok dengan gaun-gaun itu. Bagaimana?" Usul Luis.
Senyum Jesslyn mengembang lebar. "Ide yang bagus. Baiklah kalau begitu, aku akan membeli beberapa helai gaun untuk menantuku, aku rasa tas dan sepatu tidak perlu, karena Vivian sudah pasti punya banyak di rumahnya. Perhiasan saja sudah cukup." Ucapnya.
Luis mengusap dadanya dan menghela napas lega. Akhirnya dia bisa membujuk Jesslyn supaya tidak marah lagi, kemudian dia membantu Jesslyn memilih ini dan itu yang hendak dia beli. Dan Jesslyn tidak hanya membelikan oleh-oleh untuk menantu kesayangannya saja tapi untuk semua orang yang tinggal di rumahnya.
Saat ini pasangan suami-istri itu sedang berada di Sidney, bukan perjalanan bisnis sebenarnya, melainkan liburan atas nama pekerjaan. Karena Luis ingin memiliki lebih banyak waktu bersama istri tercintanya ini.
-
-
Aiden menghentikan motor besarnya saat tanpa sengaja dia melihat segerombol pemuda mengganggu seorang gadis. Wajah gadis yang diganggu itu terlihat tidak asing, dan Aiden merasa sedikit familiar meskipun baru satu kali saja bertemu dengannya.
__ADS_1
Pemuda itu menghampiri mereka lalu menghentikan salah seorang pemuda yang hendak berbuat tak sen*noh pada si gadis. Membuat perhatian pemuda berandalan itu teralihkan padanya.
"Hanya pengecut yang beraninya mengganggu perempuan!!" Ucapnya sambil menatap mereka bergantian.
"Siapa kau, sebaiknya tidak usah ikut campur apalagi berusaha menjadi pahlawan kesialan!!" Nasihat salah satu dari kelompok itu.
Aiden menyeringai sinis. "Kau tanya siapa aku?! Sepertinya tatto ini bisa menjelaskan pada kalian!!" Aiden menunjukkan tatto berbentuk burung Phoenix di pergelangan tangannya.
Melihat tatto itu membuat mereka menjadi gentar dan ketakutan, karena kelompok gangster 'Black Phoenix' yang dipimpin langsung oleh Nathan dikenal sangat sadis dan tidak pernah mengenal kata ampun. Itu adalah tato lama yang Aiden buat ketika dia masih menjadi bagian dari 'Black Phoenix'.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Aiden pada gadis itu.
Gadis itu itu menggeleng. "Aku tidak apa-apa. Terimakasih atas bantuannya."
"Apa yang kau lakukan disini malam-malam begini?" Tanya Aiden pada gadis itu yang tak lain dan tak bukan adalah Tasya.
"Aku mau berangkat bekerja. Rumahku ada di belakang tempat ini, dan harus berjalan kaki dulu untuk sampai di halte." Jelasnya.
Di belakang tempat ini? Artinya rumah gadis ini berada di kawasan kumuh, dan Tasya yang Aiden temui malam ini sangat berbanding balik dengan Tasya yang dia temui di club' malam beberapa hari yang lalu.
"Baiklah, aku akan mengantarmu."
"Apa tidak merepotkan?" Tasnya menatap Aiden tidak enak.
Aiden menggeleng."Hm, kebetulan aku juga dalam perjalanan ke club' tempatmu bekerja. Jadi kita berangkat sama-sama saja." Ucapnya. Kemudian Tasya mengangguk dan menerima tawaran Aiden.
"Baiklah."
-
-
Bersambung.
__ADS_1