Istriku, Ga!Rah Cintaku

Istriku, Ga!Rah Cintaku
Pergi Berbelanja


__ADS_3

Vivian dan Sania memasuki sebuah pusat perbelanjaan. Hari ini Lotte mall sedang mengadakan diskon besar-besaran, dan Sania yang notabenenya adalah pecinta fashion jadi tidak bisa melewatkannya.


Karena malas pergi sendirian, akhirnya ia mengajak Vivian untuk menemaninya.


Melihat barang-barang branded dengan harga selangit banting harga membuat Sania menjadi kalap. Jika harga normal hanya bisa mendapatkan satu helai baju saja, tapi hari ini dia bisa mendapatkan empat helai baju sekaligus. Jadi bagaimana mungkin Sania melewatkan kesempatan bagus seperti ini?!


Berbanding balik dengan Sania, Vivian justru terlihat tidak begitu berminat, dia hanya berputar-putar saja sambil melihat-lihat. Dan sejauh ini, belum ada satupun baju maupun tas dan sepatu ada yang menarik perhatiannya.


"Vi, menurutmu lebih bagus yang mana? Hitam atau putih?" Sania menunjukkan dua gaun pada Vivian dan meminta wanita itu untuk membantunya memilih.


"Keduanya juga bagus, lagian modelnya juga tidak sama, kenapa tidak kau ambil keduanya saja?" usul Vivian.


Sania tersenyum lebar dan mengangguk. Akhirnya dia mengikuti saran Vivian dan mengambil kedua gaun tersebut.


"Kau memang yang terbaik dalam urusan fashion. Tidak sia-sia aku mengajakmu, dan sebagai rasa terima kasihku, aku akan membelikanmu baju. Jadi pilih manapun yang kau suka biar aku yang membayarnya," ucap Sania sambil tersenyum lebar.


"Kedengarannya tidak buruk," ucap vivian menimpali.


Setelah berkeliling lagi, ada satu dress dan satu blus berbahan brokat yang langsung menyita perhatiannya. Kemudian Vivian meminta pegawai toko untuk mengambilkan dress dan blus tersebut.


"Yang ini, Nona. Silakan Anda coba dulu," pinta pelayan itu.


Vivian menggeleng. "Tidak perlu, aku langsung ambil yang ini saja. Oya, satu lagi. Tolong carikan rok yang cocok dengan blus ini," pinta Vivian pada pelayan tersebut.


"Baik, Nona."


Bukan hanya pakaian dan perlengkapan wanita saja yang diskon hari ini, tapi pria juga. Dan Vivian berencana membelikan beberapa helai atasan untuk Nathan.


"San, aku kesebelah sana dulu ya. Siapa tahu aku menemukan pakaian yang cocok untuk Nathan," ucap Vivian yang kemudian dibalas anggukan oleh Sania.


"Baiklah, tapi jangan lama-lama."


"Iya, iya, dasar bawel."


Bruggg...

__ADS_1


Saat hendak memasuki butik laki-laki, tanpa sengaja Vivian bertabrakan dengan seseorang dan membuatnya nyaris terjatuh. Orang itu pun segera membantu Vivian untuk berdiri sambil meminta maaf padanya.


"Nona, apa kau tidak apa-apa? Maaf aku tidak sengaja, apa kau terluka?" tanya orang itu memastikan, dia seorang laki-laki.


Vivian menggeleng, meyakinkan padanya Jika ia baik-baik saja. "Aku tidak apa-apa dan baik-baik saja," ucapnya dan pergi begitu saja. Vivian tidak terlalu suka berinteraksi dengan orang asing, apalagi orang itu adalah seorang pria.


-


-


"NATHAN, AKU PULANG!!"


Nathan meninggalkan kamarnya setelah mendengar teriakan Vivian dari ruang tamu. Wanita itu pulang sambil membawa beberapa paper bag di kedua tangannya. Belanjaan Vivian lumayan banyak hari ini.


Tanpa banyak berkata-kata, Vivian langsung berhambur ke pelukan suaminya. "Hari ini aku sangat lelah, Sania benar-benar menyiksaku, dia membawaku berkeliling dan memasuki banyak toko," ucapnya mengadu.


Nathan mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Vivian. "Tapi kau bersenang-senang kan hari ini?" Vivian mengangguk. "Lalu apa yang kau keluhkan?"


"Hm, benar juga." Vivian mengangguk pelan.


"Sebanyak ini?!"


"Hari ini Lotte mall mengadakan diskon besar-besaran. Dan barang-barang ini aku dapatkan dengan harga murah. Lagi pula aku belum pernah, membelikan sesuatu untukmu, sedangkan kau sering memberikan hadiah. Kan jadi tidak adil," ujar Vivian.


Nathan tersenyum lebar, diusapnya kepala Vivian dengan penuh sayang. "Baiklah, aku akan menerimanya dengan senang hati, karena ini adalah pemberian wanita tersayangku. Terimakasih, Sayang." ucapnya lalu mengecup kening istrinya.


Vivian ikut tersenyum juga. "Sama-sama, senang kau menyukainya." Ucapnya lalu memeluk Nathan.


Sebagai seorang istri, tentu saja Vivian tau fashion seperti apa yang Nathan sukai. Tidak seperti kebanyakan pria di luaran sana, yang menyukai penampilan sempurna, rapi dan berkelas. Nathan justru menyukai penampilannya saat ini yang sedikit serampangan.


Nathan adalah pria yang selalu apa adanya, penampilan memang penting. Tetapi baginya kenyamanan dalam berpakaian juga sangat penting. Dia masih muda dan belum memiliki anak, ia akan merubah penampilannya ketika si buah hati telah hadir diantara mereka nanti.


Kemudian Nathan melepas pelukan Vivian lalu menaikkan kedua kaki wanita itu dan meletakkan di atas pahanya. Membuat Vivian sedikit terkejut. "Nathan, apa yang kau lakukan?!" kaget wanita itu.


"Kau lelahkan, jadi biarkan aku memijit kakimu."

__ADS_1


Vivian menggeleng. "Kau tidak perlu melakukan ini," dia hendak menarik kakinya dari pengakuan Nathan, namun tidak diizinkan oleh pemuda itu.


"Biarkan aku melakukannya, toh ini bukan pekerjaan yang sulit dan berat. Jika hanya memijit begini saja aku juga bisa, dan setelah aku memijit kakimu. Kau tidak akan merasakan lelah lagi, percaya padaku."


Vivian tersenyum lebar. Dia tidak tau harus berkata apa lagi sekarang, Nathan selalu membuatnya terharu dan tersentuh. Pria dingin itu selalu menunjukkan seberapa besar cinta dan kasih sayang yang dia miliki untuknya.


"Baiklah. Dan aku tidak akan melarangmu lagi,"


-


-


Sania mendatangi rumah sakit tempat Gio dirawat. Sudah tiga hari, tapi pemuda itu belum diizinkan pulang oleh rumah sakit, luka-lukanya masih membutuhkan perawatan intensif.


Senyum di bibir Gio mengembang lebar saat melihat kedatangan Sania. Tahu Gio dan Sania membutuhkan ruang hanya untuk berdua, ayah Gio pun memutuskan untuk keluar.


"Sania titip Gio ya,"


Sania tersenyum seraya mengangguk. "Baik Paman,"


Dan selepas kepergian ayah Gio. Di ruangan itu hanya menyisakan Gio dan Sania. Kemudian Sania duduk di dekat Gio. "Aku membawakan banyak buah-buahan segar untukmu. Mau aku kupaskan?" Tawar Sania.


Gio menggeleng. "Aku baru makan dan masih kenyang, nanti saja. Seharusnya kau tidak perlu repot-repot membawa ini dan itu."


"Hanya buah dan cake saja. Tidak repot sama sekali. Oya, kata dokter kapan kau boleh pulang?" Tanya Sania.


"Besok, kenapa? Apa kau akan datang menjemputmu?" Canda Gio.


"Boleh juga, mungkin Paman juga sangat sibuk. Apalagi setelah dia kembali ke perusahaan, pasti sangat sibuk. Aku akan membawa trio gila itu untuk menjemputmu." Ucapnya yang kemudian dibalas anggukan oleh Gio.


Sejak ia dan Nathan berdamai, Gio merasa jika hidupnya jauh lebih baik, karena semua teman-temannya berdiri di pihaknya dan selalu ada ketika membutuhkan bantuan dari mereka semua.


-


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2